Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Hary dan Bara sampai rumah ketika adzan maghrib berkumandang. Setelah meletakkan semua oleh-oleh yang dibawanya ke dapur, mereka berdua kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat Maghrib.
Sebelum keluar dari mobil terlebih dahulu Bara membuang semua alat penyadap di mobilnya. Ini sudah menyalahi aturan. Dia tidak suka dimata-matai begini. Dia tidak suka kehidupannya diusik. Dia tidak suka ada orang yang mengganggu kehidupannya.
Bara harus segera menyelidiki tentang siapa yang berani melakukan hal tersebut. Dia yakin pasti di ruangannya pun dipasang juga alat tersebut. Besok dia harus membersihkan semuanya dan harus segera bisa menemukan pelaku nya.
Bara masuk ke kamar mandi. Dia ingin berendam untuk menetralisir semua rasa yang dia rasakan saat ini. Namun dia belum melaksanakan sholat maghrib sedang waktu sudah semakin mendesak.
Akhirnya Bara mandi ala kadarnya. Yang penting bersih saja sudah cukup tidak perlu berlama-lama. Dia tidak mau ketinggalan sholatnya.
Setelah sholat Maghrib dan diteruskan sholat Isya, Bara. Merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia merasa lelah dan juga mengantuk.
" Ponsel di mana ya..."
Bara bangkit lagi. Dia mencari ponselnya. Dia lupa tadi di letakkan di mana.
" Apa masih di mobil ya. Mungkin di kantong jaket.."
Bara mengambil jaketnya yang dia taruh di sofa. Dia merogoh saku jaket tersebut. Namun tidak menemukan ponselnya. Dia meraba saku yang lainnya. Namun tidak juga menemukan ponselnya. Tapi dia terkejut ketika dia menemukan benda lain di dalam kantong jaket tersebut.
" Apa ini..."
Bara mengeluarkan barang yang dia pegang. Dia heran dengan benda yang dia temukan. Sebuah bungkusan kain putih seukuran lima cm.
" Apa ini ya, Atau punya Abah. Atau memang sengaja beliau taruh di saku ya.."
Bara mencoba membuka bungkusan tersebut. Dia melihat secarik kertas. Kemudian dia ambil kertas itu dan dia buka. Ternyata ada tulisan dari huruf Al-Qur'an di dalamnya.
" Mungkin ini jimat dari Abah. Apa perlu benda seperti ini. Seharusnya benteng itu dari diri kita sendiri. "
Bara mengembalikan kertas itu ke bentuk semula dan memasukkan lagi ke dalam bungkusan tersebut dan kemudian menyimpannya ke dalam almari.
" Nanti biar aku tanya pada Abah saat berkunjung. Kalau lewat telepon kayaknya kurang sopan.."
Bara menyimpan bungkusan kecil itu di laci lemari. Takut tercecer. Karena dia tidak tahu itu milik siapa. Dia akan menanyakannya nanti.
Bara mengambil ponselnya yang berada di saku lainnya. Kemudian dia menyalakan ponselnya. Ada beberapa pesan. Dia buka satu persatu. Dia terkejut dengan salah satu pesan dari nomer yang tidak dikenal.
"Tolong saya, Aa."
Pesan itu sangat singkat dan Bara sangat mengenali bahasa pengirim chat tersebut.
" Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.."
Bara menggelengkan kepalanya. Dia merasa pesan itu sangat mustahil di kirim oleh orang yang ada dalam pikirannya.
" Ini bahasa Arin, tapi dia sudah meninggal. Lalu siapa yang mengirim pesan ini."
Bara bangkit dari duduknya. Dia berjalan mondar-mandir. Sungguh sesuatu yang sangat mustahil. Orang yang sudah meninggal bisa mengirim pesan.
" Tapi ini gaya bahasa dia. Apa ada orang yang sengaja menggunakan gaya bahasanya untuk mengacau pikiran saya."
Bara masih mondar-mandir. Tangan kirinya memegang pinggang dan tangan kanannya mengusap dagunya.
" Atau mungkin dia masih hidup dan benar dalam bahaya.."
Bara semakin pusing memikirkan semuanya. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk. Bara buru-buru mengambil ponselnya. dia segera membuka aplikasi WhatsApp. Ternyata ada pesan masuk dari Ustadz Zakaria.
"Assalamu'alaikum, cucuku. Apa sudah sampai rumah? Abah yakin kamu pasti sudah menemukan bungkusan kecil itu. Bukan apa-apa dan jangan disebut jimat. Itu hanya kertas. Tapi jaga baik-baik ya siapa tahu suatu saat nanti bisa berguna."
Bara membaca dengan seksama pesan tersebut. Dia pikir nomer tak di kenal itu yang mengirim pesan lagi. Ternyata dari Abah.
Bara kemudian membalas pesan dari Ustadz Zakaria. Dia ingin menyampaikan beberapa pertanyaan tentang benda tersebut.
" Abah, boleh Bara bertanya. Apa guna benda tersebut. Bara hanya ingin suatu petunjuk tentang yang Bara alami. Lalu benda itu hanya semacam jimat bukan."
Itu yang ditulis Bara. Jujur Bara memang tidak mau menggunakan benda apapun sebagai penolongnya. Karena Bara yakin bahwa pertolongan sesungguhnya hanya datang dari Yang Maha Kuasa.
Tak lama terdengar bunyi notifikasi lagi. Dan Bara cepat-cepat membuka pesan tersebut. Walaupun Bara sebenarnya lebih berharap pesan dari nomer yang tidak dikenal tadi .
" Abah tahu maksud kamu. Itu bukan jimat mau pun penangkal. Itu hanya sebuah benda yang mungkin bisa membantumu suatu saat nanti."
" Baiklah Abah akan saya simpan baik-baik benda tersebut. Terima kasih Abah telah perhatian kepada saya."
Itu balasan chat dari Bara . Setelah itu tidak ada lagi pesan masuk dari Ustadz Zakaria.
Bara masih menimang ponselnya. Dia masih menunggu chat dari nomer yang tidak dikenal tadi. Dan benar tidak berapa lama terdengar notif pesan masuk lagi. Bara sengaja membedakan bunyi notif nomer tersebut agar mudah mengenalinya.
" Aa tolong saya.."
Bara memandangi pesan tersebut. Dadanya berdebar dengan kencang. Dia merasa bahwa benar ini adalah dari Arin. Bara segera menuliskan balasan.
" Kamu di mana..?"
Bara segera mengirimkan pesan balasan tersebut. Dia ingin segera mendapatkan balasan. Dia ingin segera bisa menemukan orang tersebut.
Namun ditunggu beberapa lama tak ada satu balasan pun. Bara mulai merasa putus asa. Walaupun sebenarnya Bara tidak yakin itu dari Arin, namun Bara berharap pesan itu bisa membuka segala teka-teki di kepalanya.
Bahkan sampai malam Bara masih saja memandangi ponselnya. Dia sangat berharap mendapatkan balasan. Dia ingin segera tahu apa yang sebenarnya.
Akhirnya karena lelah dan mengantuk Bara tertidur juga dengan masih menggenggam ponselnya. Dan tidak berapa lama setelah Bara tertidur ponsel itu berbunyi. Bahkan bunyi panggilan bukan hanya sekedar notifikasi pesan.
Namun karena Bara sudah pulas dia tidak mendengar suara nada panggilan tersebut. Berulang kali berbunyi dan akhirnya mati sendiri karena baterai ponsel tersebut habis.
💐💐💐
Pagi itu Ran berangkat bekerja dengan mata yang sedikit menghitam. Tanda dia kurang tidur. Tapi memang benar. Dia tidak bisa benar-benar tidur dan hanya memejamkan mata. Dia hanya bisa tidur dini hari dan sudah bangun subuh hari. Paling dia hanya tidur dua jam sehari.
Tadi ayah juga bunda sudah melihat keadaan Ran. Bahkan ayah melarang Ran untuk bekerja hari ini. Ayah ingin Ran beristirahat. Ayah tidak mau Ran sakit. Ayah tidak mau terjadi apa-apa dengan Ran. Ayah dan bunda sangat khawatir pada Ran.
" Iya Ran. Kamu istirahat saja. Ijin tidak masuk kerja dulu kan tidak apa-apa. Dari pada kamu nanti sakit."
Itu ucapan Nia tadi pagi. Nia kakak perempuan Arin satu-satunya, terlihat sangat penuh perhatian pada Ran. Nia tentu senang ada Ran di rumah karena pekerjaan rumahnya sangat terbantu sekali.
" Iya kak. Kakak seperti panda. Lucu. Hahahaha.. " Itu yang diucapkan Rama. Rama juga terlihat sangat perhatian pada Ran. Semua anggota keluarga sangat menerima Ran di rumah itu.
Tapi tetap saja Ran merasa ada keganjilan. Seperti ada sesuatu namun tidak tahu itu apa. Ran belum menemukan hal ganjil itu. Beberapa kejadian dan percakapan dari anggota keluarga Ran rekam dalam otaknya. Dia ingin segera mendapatkan petunjuk atas semua kejadian yang dia alami.
Walaupun di larang untuk bekerja, namun Ran tetap nekad. Karena dia memang harus berangkat bekerja. Ran merasa ada suatu petunjuk di tempat dia bekerja. Apalagi kalau bukan karena bungkusan kain yang dia temukan dalam tasnya itu.
Sesampainya di tempat kerja, Suasana masih sepi. Baru dia sendiri yang datang. Mbak sari belum terlihat batang hidungnya. Warung sebelah pun masih sepi. Mungkin Ran datang kepagian.
Ran melirik arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Seharusnya temannya sudah datang. Ran melihat ke sekeliling ruangan. Tampak redup. Beberapa lampu belum dinyalakan. Mungkin petugasnya lupa.
Ran mendekati meja di mana bungkusan itu dia temukan. Ran duduk di salah satu kursi yang ada. Ran mengambil bungkusan itu dari dalam tasnya. Kemudian dia timang-timang. Dan dia letakkan di atas meja.
" Mungkin lebih baik di kembalikan. Ini bukan punya gue. Nanti malah salah kalau gue simpan."
Ucap Ran dalam hati. Dia tidak mau mengambil resiko. Sekarang saja dia sudah banyak mengalami masalah dan tidak ingin menambahnya lagi. Ran meletakkan benda tersebut di atas meja . Kemudian masuk ke kiosnya untuk memulai pekerjaannya.
Dia harus fokus bekerja agar semua yang di kerjakan bisa maksimal hasilnya. Ran tidak mau sembarangan. Ran selalu mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati.
Siang itu warung sangat ramai. Bahkan banyak pengunjung yang Ran tidak kenal. Mungkin mall tersebut sedang banyak dikunjungi orang sehingga berimbas juga pada kiosnya. Dan ini sebuah berkah bagi Ran karena dia pasti akan mendapatkan bonus dari sang pemilik.
Dan waktu terasa begitu cepat berlalu bagi Ran. Bahkan adzan Maghrib sudah berkumandang. Ran merasa sangat lelah tentunya, Namun terbayar dengan bonus yang dia dapatkan. Sore itu warung tutup lebih awal.
Ran pulang sehabis sholat Maghrib. Ketika selesai sholat tempat tersebut sudah sepi. Mungkin karyawan yang lain memilih sholat di mushola lain. Karena mereka semua tahu kalau malam hari tempat itu sangat sepi dan menyeramkan.
Ran berjalan perlahan ke arah lift. Namun langkahnya terlihat ragu. Ran merasa ada langkah di belakangnya. Ran berhenti. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Tidak ada siapa-siapa." Gumamnya.
Dia melanjutkan langkahnya. Perasaannya mulai merasa tidak enak. Dia harus segera keluar dari tempat tersebut.
Ran berdiri di depan pintu lift yang ternyata lift itu sedang naik. Dan Ran harus menunggu beberapa saat.
Tiba-tiba Ran meraba tengkuknya yang merinding. Ran sudah merasakan dari tadi. Dan Ran yakin setelah ini waktunya akan terasa sangat panjang. Ran tidak berani melihat ke manapun . Pandangan nya hanya lurus ke depan di pintu lift.
Dan ketika pintu terbuka, Ran ragu mau masuk, karena dia yakin dia akan mengalami hal yang sama seperti kemarin. Namun tubuhnya seperti ada yang mendorong untuk masuk ke dalam lift. Dan pintu langsung tertutup.
Keadaan di dalam lift terasa dingin. Ran memeluk tubuhnya sendiri. Setelah memencet tombol di lantai mana dia keluar, Ran menundukkan pandangan. Dia tidak ingin melihat sesuatu yang dia rasakan ada persis di sebelahnya.
" Tolong.. Tolooooooong.."
Suara itu terdengar lagi. Sebenarnya Ran sudah menduganya. Dia sudah merasakan dari tadi. Namun tetap saja dia terkejut.
" Mau apalagi. Katakan terus terang. Jangan mengikuti gue terus.."
Teriak Ran dengan berurai air mata sungguh dia merasa sangat lelah menghadapi semuanya. Seberapa dia tidak sanggup.
Tiba-tiba suasana jadi hening dan bisu. Seperti sepi. Bahkan suara nafas Ran pun terdengar begitu keras.
Bersambung
Weh ada apa ini. Semakin seram dan mencekam. Semoga petunjuk pun segera datang.
Terima kasih untuk yang sudah mampir . Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Love untuk kalian semua ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya