NovelToon NovelToon
Object Of Desires

Object Of Desires

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pengganti / Crazy Rich/Konglomerat / Pengantin Pengganti / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elin Rhenore

Takdir kejam menuntutnya menjadi pengantin pengganti demi menebus sebuah kesalahan keluarga. Dan yang lebih menyakitkan, ia harus menikah dengan musuh bebuyutannya sendiri: Rendra Adiatmaharaja, pengacara ambisius yang berkali-kali menjadi lawannya di meja hijau. Terjebak dalam pernikahan yang tak pernah ia inginkan, Vanya dipaksa menyerahkan kebebasan yang selama ini ia perjuangkan. Bisakah ia menemukan jalan keluar dari sangkar emas Rendra? Ataukah kebencian yang tumbuh di antara mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elin Rhenore, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STEPED BY KARMA

Tiga hari berlalu akhirnya Vanya bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa, bukan karena perempuan itu sudah membuka matanya dan kembali menghadapi dunia, tapi karena ia telah melewati masa kritisnya dan tanda vitalnya dinyatakan stabil.

Satu jengkal pun Rendra tidak pernah meninggalkan sisi Vanya, ia selalu berada di ruang yang sama dengan istrinya. Dirinya masih sama seperti tiga hari lalu, pakaian yang digunakannya masih sama, seolah waktu berhenti baginya sejak kecelakaan Vanya terjadi.

Ya, baginya tanpa Vanya waktu memang berhenti, dunianya tak lagi bekerja, tak ada lagi kebisingan dalam hidupnya, semua hampa, semua tak berarti. Karena selama ini ... sorotnya selalu berpusat pada Vanya, hidupnya hanya berporos pada perempuan yang dikenal nakal sejak masa kecilnya itu.

Tapi keadaannya sudah lebih baik dibanding tiga hari yang ia lalui bak neraka itu. Sejak pertama kepindahan Vanya ke ruang perawatan biasa ia bisa lebih leluasa untuk bicara dengan istrinya itu. Seperti yang dilakukannya hari ini, ia membuka ponselnya dan mencari bacaan dari aplikasi novel online.

Satu rumah dengan perempuan ini, ia tahu kebiasaan-kebiasaan kecil Vanya. Perempuan itu sangat hobby sekali membaca, apapun itu, koran yang diantar setiap pagi, buku-buku yang ada di dalam ruang kerjanya, novel-novel yang sering dibeli di gerai buku, dan bacaan di aplikasi online. Mungkin karena kakaknya adalah seorang penulis, itu sebabnya ia juga gemar membaca.

Kali ini Rendra membuka novel berjudul Lost In Time, karangan sang kakak yang sebenarnya sudah lama terbit dan menjadi novel best seller pada masanya. Pelan-pelan Rendra membacakan paragrap demi paragrap untuk sang kekasih yang masih tidak sadarkan diri. Sampai dia memberi jeda pada bacaannya.

"Kamu dengar, 'kan? Sebenarnya kenapa dia harus pergi dan meninggalkan semua di belakangnya?" Rendra mengkritik tokoh utama perempuan dalam novel tersebut. Tapi tidak ada sahutan dari pendengarnya. Si pendengar itu masih setia dengan mata yang tertutup mendengarkan dirinya.

"Jika saya menjadi dia, saya tidak akan meninggalkan apapun yang sudah saya gapai. Saya akan perjuangkan meski harus mati. Apalagi jika kesalahan itu tidak ada pada saya." Sungguh gayanya memang seorang Rendra Adiatmaharaja, tidak mudah mengakui kesalahan karena memang bukan prinsipnya.

Sebagai seorang yang tumbuh dengan banyak pengalaman pahit, mati-matian ia mempertahankan prinsip bahwa rasa bersalah tidak menandakan mereka bersalah. Seseorang yang benar-benar bersalahlah yang harus meminta maaf dan meminta pengampunan pada dunia ini.

Lantas Rendra terus membacakan kembali isi novel tersebut, sesekali ia berhenti jeda untuk memberi dirinya minum dan memberikan setetes kepada bibir Vanya yang mulai kering menggunakan alat khusus.

"Bagaimana rasanya tidur nyenyak seperti ini, Anantari?" bisiknya saat ia mengusapkan air ke bibir Vanya. Selesai dengan air, Rendra mencium kening sang istri lalu kembali duduk di kursinya.

Novel itu kembali terbuka, ia membaca bagian selanjutnya dari novel tersebut. Terdiam agak lama dirinya setelah membaca bagian itu. Ada sekelebat bayangan masa lalu kembali menggelayuti pikirannya. Pertemuan pertamanya dengan Vanya yang sangat-sangat tidak diduga olehnya.

Saat itu perempuan yang sedang terbaring lemah ini tidak terlihat lemah sama sekali, ia bahkan bisa memanjat tembok tinggi meski akhirnya ia terjatuh. Rendra ingat betul, waktu itu ia hanya mengamati gerak-gerik Vanya dan tersenyum karena ulah perempuan ini. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, gadis nakal itu tetap tumbuh jadi perempuan yang nakal tapi menawan.

Penyesalan kini merongrong hati pria itu, tiap detik ia menyeret Vanya duduk di depan penghulu bagaikan pisau tajam menyayat ke dalam hatinya. Ia harus menjadi sosok yang tak bisa dilawan untuk membuat perempuan itu masuk ke dalam sangkar perlindungan yang ia buat.

Rendra menghela nafasnya, tampaknya tak ada gunanya menyesali semuanya. Apa yang terjadi tidak bisa diubah bagaimana pun caranya. Yang bisa ia lakukan hanya membuat bubur yang enak untuk dimakan.

"Setelah kamu bangun, kita akan menikah dengan lebih terhormat. Kamu adalah istri saya selamanya, Anantari." Ia berjanji, memberikannya pada Vanya dan juga pada dirinya sendiri.

Tangan Rendra terulur meraih tangan Vanya, mengarahkannya pada wajahnya. Menyayanginya dengan sepenuh hati. Ia menciumi tangan itu

"Jadi kamu harus segera bangun, mengerti?" bisiknya pelan.

Terdengar suara ketukan di pintu, Rendra meletakkan tangan Vanya dengan hati-hati lalu beranjak pergi untuk melihat siapa gerangan yang hendak masuk ke dalam ruang rawat Vanya. Saat membuka ia melihat ada sosok Shouta berdiri di balik pintu.

Di sisi lain, melihat bosnya yang biasanya sangat rapi dan wangi menjadi sosok yang tampak seperti tinggal di gua benar-benar membuat Shouta hampir tidak mengenalinya. Apalagi ada jambang yang membingkai dagu Rendra, membuatnya tampak sangat asing. Lingkaran hitam di sekitar matanya menunjukkan bahwa Rendra belum melepas penat dengan memejamkan matanya.

"Saya datang untuk memeriksa anda, Bang."

"Saya baik-baik saja," ujar Rendra.

"Tidak begitu bagi saya." Lantas Shouta menyerahkan barang bawaannya pada Rendra.

Rendra menerima itu dengan acuh tak acuh, lalu beralih lagi ke sisi Vanya. Hatinya tidak tenang untuk meninggalkan Vanya meski hanya sesaat saja.

Shouta sungguh merasa prihatin dengan apa yang terjadi, ini juga pertama kalinya ia melihat kondisi bosnya seperti ini, terpuruk seperti tidak memiliki harapan. Sejak pertama kali mendengar tentang kecelakaan itu, Shouta langsung pergi untuk menemui Rendra. Namun, Rendra tidak bisa dihubungi, tapi ia melihat pria itu melangkah gontai ke arah ruang ICU saat malam hari.

Saat itu Shouta ingin mendekat tapi tidak bisa, hatinya memintanya untuk berhenti dan membiarkan Rendra berada di sisi Vanya. Selama tiga hari berturut-turut ia mengunjungi rumah sakit dan masih melihat Rendra berada di posisi yang sama. Sungguh, ia tidak pernah melihat hal yang seperti ini.

"Jika kamu sudah selesai pergilah."

"Bang, saya sudah menyiapkan pengawal. Mereka diam-diam menjaga di sisi kalian, ini untuk berjaga-jaga." Shouta jelas tahu apa yang terjadi dengan Vanya, siapa dalangnya, dan sebagai orang yang telah mengikuti Rendra sejak awal karirnya sebagai pengacara ia tahu apa yang dibutuhkan oleh Rendra saat ini.

"Terima kasih."

"Anda juga harus makan, Bang."

"Selagi istri saya belum makan, bagaimana saya bisa menelan makanan, Shouta." Rendra membalasnya tanpa melepaskan pandangan matanya dari sosok yang saat ini masih betah untuk tidur.

Dan ... sesaat kemudian, mata Rendra menangkap gerakan ringan pada mata Vanya. Seolah berusaha untuk terbuka tapi begitu kesusahan. Ada pula gerakan dari ujung jarinya yang langsung ditangkap oleh Rendra.

"Shouta panggil dokter segera! Vanya bangun!" serunya dengan perasaan yang membuncah hebat.

"Sayang ... kamu bangun, kamu sadar ... syukurlah ... kamu akhirnya sadar."

Tidak ada kebahagiaan yang melebihi sadarnya Vanya Anantari dalam hidup Rendra. Cahaya yang semula redup kini berkobar-kobar memenuhi setiap relung jiwanya. Ia meraih tangan Vanya dengan penuh kasih, menciuminya penuh rasa rindu yang tidak tertahankan.

*

Hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa Vanya baik-baik saja, semua tanda vitalnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya perlu lebih diperhatikan karena sebelumnya mengalami benturan yang cukup keras di kepala hingga mengalami gegar otak.

Rendra sangat bersyukur mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Vanya. Namun ada yang aneh ketika Vanya melihatnya. Sorot mata yang ditujukan untuknya itu tampak kebingungan, berkali-kali Vanya ingin duduk tapi Rendra melarangnya untuk banyak bergerak.

"Sebenarnya aku kenapa dan kenapa Mas Rendra ada di sini?" tanya Vanya dengan suara lemah. Sejak pertama kali membuka matanya ia terlihat sangat bingung dengan situasinya. Apalagi berkali-kali Rendra membantunya untuk tetap berbaring di tempatnya, Rendra yang begitu perhatian dengannya, sungguh ia tidak bisa mencerna informasi yang sedang terjadi karena kepalanya masih sangat sakit.

"Tentu saja menjaga istriku, kamu benar-benar membuatku takut, Anantari."

"Istri?" Vanya tidak mengerti apa maksud ucapan Rendra, mengapa pria itu menyebut tentang istri. Oh, mungkin istrinya juga dirawat di rumah sakit yang sama dan kebetulan Rendra ada di sini. Mungkin kakaknya menitipkan dirinya kepada Rendra, tidak mustahil karena mereka bersahabat sejak kecil. "Istri Mas Rendra juga dirawat di rumah sakit ini?" tanyanya lemah.

Deg.

Rendra yang sedang membetulkan letak selimut Vanya itu langsung berhenti. Perlahan tapi pasti matanya menyasar pada wajah Vanya yang saat ini benar-benar tampak kebingungan. Tidak hanya Rendra, bahkan Shouta yang mendengarnya pun ikut merasa bingung dengan situasinya.

"Kamu adalah istri saya, Vanya Anantari. Tidak ada yang lain." Rendra berusaha menjawab dengan sabar, meski hatinya bergejolak penuh kebingungan. Apa yang terjadi sebenarnya pada Vanya. Mengapa setelah sadar ia terlihat linglung, bahkan sekarang seolah-olah lupa siapa dirinya sendiri.

"Tidak mungkin. Sejak kapan kita menikah? Kita kan baru saja menjalani persidangaerghh..." Vanya mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Saat menggerakkan tangannya pun rasa sakit semakin merongrong tubuhnya.

"Jangan bergerak, sudah jangan dipikirkan. Kamu istirahat dulu, nanti saya jelaskan." Rendra membelai wajah perempuan itu dengan lembut, namun Vanya menghindar meski harus menahan sakit.

Mendapatkan sikap Vanya yang menghindarinya seperti ini sesungguhnya membuat hati Rendra tercubit. Tapi sudahlah, Vanya baru saja sadar, ia memakluminya.

"Baiklah, saya akan menemui dokter. Kamu beristirahatlah. Ada Shouta di sini, jika membutuhkan sesuatu kamu bisa minta dia, ya?"

Vanya tidak memberikan jawaban atas ucapan Rendra. Setelah itu langsung melipir untuk menemui dokter yang menangangi Vanya. Dalam ruangan dokter itu, Rendra menjelaskan apa yang baru saja ia alami, mengatakan bahwa Vanya seolah-olah melupakan statusnya sebagai istri Rendra dan hanya mengingat kejadian saat mereka terakhir menjalani persidangan bersama di Nusantara beberapa bulan yang lalu.

"Apa yang terjadi pada istri saya, dok?"

"Nyonya Vanya tampaknya mengalami amnesia retrograd parsial. Berdasarkan keterangan Bapak Rendra, kehilangan memori yang terjadi terutama menyangkut ingatan terbaru. Kondisi seperti ini kerap muncul pada pasien dengan benturan kepala. Bapak tidak perlu khawatir, sebagian besar kasus dapat menunjukkan pemulihan bertahap selama otak kembali stabil. Untuk saat ini biarkan prosesnya berlangsung alami. Mengingat adanya sisa trauma pascacedera, kami juga perlu mengantisipasi kemungkinan munculnya nyeri kepala yang lebih intens."

"Saya mengerti dokter, terima kasih atas penjelasannya."

Penjelasan yang diberikan dokter sebenarnya tidak membuat perasaan Rendra menjadi lega. Ia justru bingung sendiri, jika Vanya hanya mengingatnya sebatas sampai pengadilan, lantas apa yang harus dirinya perbuat kini. Ia juga tidak bisa memaksakan Vanya untuk mengingat apa yang terjadi di antara mereka.

Sebenarnya ini seperti dua permukaan koin, di satu sisi jika Vanya tidak mengingat apapun berarti setidaknya ia tidak perlu mencemaskan persoalan kematian ayahnya dan berusaha untuk membalas dendam. Tapi di sisi lain, Rendra tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ingatan Vanya yang terbatas ini.

Rendra menghela nafasnya, lantas ia mengambil ponselnya. Pertama kali yang ia hubungi adalah saudara iparnya, Saga—suami Kakak Vanya. Satu-satunya sahabat yang ia miliki di dunia ini. Mungkin dengan mencurahkan isi hatinya pada Saga, ia akan menemukan ketenangan.

"Hallo?"

"Hallo, Ga ... ini gue."

"Gue tahu ... kenapa lagi, kenapa sama suara lo? Berantem lagi sama Vanya?"

Lebih dari itu! Jika hanya sekedar bertengkar dengan Vanya itu adalah makanan sehari-harinya. Ia tidak akan sekalut ini.

"Saat ini Vanya dirawat di rumah sakit karena kecelakaan tiga hari lalu, lo jangan kasih tahu Miray, gue takut dia shock."

Ada jeda dalam panggilan tersebut. Rendra tahu betul jeda ini menunjukkan badai yang akan menghantamnya.

"Emang gila lo ya!" semprot Saga dari ujung saluran. "Kenapa lo baru kasih tahu sekarang? Gimana keadaan dia sekarang? Di rumah sakit mana?" Kini suaranya tergantikan oleh kepanikan.

"Di rumah sakit yang sama dengan Miray."

"Sumpah lo emang gila! Tiga hari dan lo baru kasih tahu sekarang? Sinting! Kasih tahu di mana kamarnya!"

"Ruang VIP 809, tapi Saga ...." Lemah sekali suara Rendra.

"Ada apa?" Suara Saga mulai melembut, kemarahannya perlahan menguap.

"Vanya hilang ingatan."

"Apa?!"

"Kata dokter dia hilang ingatan sebagian, terakhir ingatannya adalah saat menjalani persidangan sama gue di Nusantara."

Kembali ada jeda, Saga sepertinya sedang berusaha untuk mencerna informasi terkait hal ini. Terdengar helaan nafas di ujung saluran.

"Dia nggak inget kalau gue suaminya."

"Kayanya itu karma lo. Udah gue mau ke sana sekarang."

"Jangan kasih tahu Miray."

"Nggak perlu diingetin."

Sambungan itu terputus. Rendra menyandarkan punggungnya di dinding, kepalanya tertunduk lesu. Mungkin memang benar perkataan Saga, saat ini dirinya sedang diinjak-injak oleh Karma.

Selama ini ia selalu berbuat seenaknya, seolah ia tahu apa yang terbaik untuk Vanya tanpa melibatkan perempuan itu dalam setiap prosesnya. Menutupi segala-galanya dari perempuan itu berharap bahwa ia akan baik-baik saja tanpa mengetahui apapun. Melindunginya dan menumbuhkan perasaan yang kini berakar kuat pada hatinya.

Saat perasaan itu telah tumbuh badai yang disebut karma menginjak-injaknya bagai kotoran. Meski begitu ...

Meski begitu setidaknya ia masih diberikan kesempatan ke dua untuk menebus semua kesalahannya kepada Vanya. Selain karma, mungkin ini bisa ia jadikan sebagai jalan untuk meraih kepercayaan dan cinta Vanya seutuhnya.

Rendra tersenyum, senyumnya semakin lebar sampai tubuhnya bergetar karena tawa ...

Karma?!

Bullshit, Karma!

*Bersambung*

OBJECT OF DESIRES | 2025

1
Alya
semangattt kakk😁
Alya: iyahh
total 2 replies
BiruLotus
Halo kak aku mampir... kalau berkenan bantu like dan komen juga di ceritaku yaa✨️ makasii✨️
Elin Rhenore: terima kasih kak
total 1 replies
Nur Laela
sebuah karya yang sangat bagus..tata bahasa yang apik, alur nya bagus, tokohnya kuat.. keren banget
Moonroe Vivienne
Awalan yang bagus. Berat, tapi pemilihan katanya sangat rapi. Semangat ya.
Blueberry Solenne
Kok takut sih Annisa, kenapa gak lari aja!
Mei Saroha
kak.. ditunggu banget loh bab terbarunyaaa... seumangattt ya kakakkkk
" Kak. saran aku, lebih baik satu bab itu jumkatnya jangan terlalu banyak. nanti bisa di pisah ke bab selanjutnya supaya para pembaca tidak merasa jengah . dan ya, jangan lupa untuk menambahkan foreshadow dan clifthanger yg mampu membuat pembaca untuk kembali datang ke cerita kakak. terima kasih 🙏
Elin Rhenore: terima kasih atas sarannyaa /Drool//Drool/
total 1 replies
Shin Himawari
aahh aku suka banget dark romance kaya gini ☺️
Shin Himawari
kaaakk aku mampir, asli seru banget aku bacanya sinematik persidangan
sukses terus yaaa karyamu bagus ☺️
Elin Rhenore: terima kasih yaaaa..... semoga suka terus /Scream//Scream//Scream//Scream//Scream//Scream/
total 1 replies
scd
Keren banget kak, semangat update nya ya🤗
scd: sama-sama🙏🏻
total 2 replies
Elin Rhenore
udah ada alasannya kak.
d_midah (Hiatus)
cie bang Rendra terpesona🥰🥰
d_midah (Hiatus): hehehe halal ini, lanjuttin aja terpesona nya🤭🤭
total 2 replies
d_midah (Hiatus)
selain cantik, yang aku bayangin pipinya yang gemoy☺️☺️🤭
Tulisan_nic
sidangnya siaran langsung apa gimana Thor?
Elin Rhenore: sidangnya siaran langsung, karena sifatnya terbuka untuk umum.
total 1 replies
Tulisan_nic
Baca bab 1 udah keren banget,aku paling suka cerita lawyer² begini.Lanjut ah
Elin Rhenore: terima kasih yaaa, semoga sukaa
total 1 replies
Ayleen Davina
😍
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025
Hallo Kak. Semangat berkarya ya 🫶
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: seru ceritanya 🫶
total 2 replies
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
"istri saya" kulanjutin dah😂
Mei Saroha
ayooo kakak othorr lanjutkaann... yukkk bisa yuukkk
Elin Rhenore: sabar yaaaa hehehehe
total 1 replies
Mei Saroha
rendra bertekad untuk lindungi Vanya..
Elin Rhenore: bener banget kak... /Frown//Frown/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!