Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Meski awalnya terasa berat namun semakin hari semakin terbiasa mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing. Tak terkecuali dengan Mentari, walau pun sesekali ia masih saja menggerutu.
"Mah, aku dan Bintang ke pasar agak lama karena mau belanja untuk pesanan pesta pernikahan. Nanti tolong sotonya di buat sekalian ya, Mah. Bumbunya sudah aku siapkan di kulkas. Untuk bahan-bahan pelengkapnya nanti Mba Ika dan Caca yang menyiapkan," ucap Cindy sebelum ia dan Bintang pergi.
"Hmmm.." Mentari hanya berdeham, ia tahu ia tak bisa menolak apa yang Cindy perintahkan kepadanya.
"Terima kasih ya, Mah." Cindy mengelus bahu ibu mertunya sekilas, barulah ia melangkah keluar dan pergi meninggalkan kediamannya bersama adik iparnya.
Menatap sop buntut dalam wajan, mengingatkannya pada Nadi yang sering membuatkan sop buntut untuknya dan anak-anaknya. Dulu ia bisa dengan mudah menyuruh Nadi membuat sop buntut, tapi sekarang Mentari membuat sendiri dan sop itu untuk di jual demi menyambung hidup.
Sungguh suatu ironi yang menyakitkan bagi Mentari. 'Seandainya saja Surya tidak menceraikan Nadi,' batin Mentari. 'Tapi wanita licik itu pasti akan menertawakanku, jika tahu aku membuat sop buntut.' Mentari bergegas menyelesaikan tugasnya agar ia bisa cepat-cepat istirahat, sudah sejak subuh tadi Mentari sibuk di dapur.
Tepat pukul 10.30 Mentari selesai mengerjakan semua tugasnya, urusan melayani pelanggan yang datang ia serahkan sepenuhnya pada dua pegawai Cindy. Baru saja Mentari meluruskan kakinya di ruang keluarga, tiba-tiba saja Surya datang dan menyerahkan Lisa kepada Mentari. "Mah tolong jaga Lisa sebentar, aku mau antar pesanan di komplek sebelah."
"Hei, apa-apan ini Surya!" belum sempat ia protes, Surya sudah pergi meninggalkan Lisa di pangkuannya. "Iihhh anak kurang ajar," gerutunya. Mentari mengangkat Lisa tinggi-tinggi, ia mencium bau ompol dari bokong bayi itu. "Mana pake ngompol segala lagi ini anak."
Dengan sangat terpaksa, Mentari mengganti popok Lisa. Sembari mengganti popok, Mentari mengamati lekat-lekat wajah Lisa dengan cermat. "Kenapa wajahnya sama sekali tak mirip dengan Surya? Apa jangan-jangan ini bukan anak Surya ya? Biasanya kan anak perempuan mirip dengan ayahnya, walau pun tidak semua. Tapi Lisa benar-benar jauh sekali, dia terlihat mirip orang Cina." Mentari terus mengamati Lisa.
Ketika Surya kembali, Lisa sudah tertidur di kasurnya. "Terima kasih ya mah," ucapnya sembari tersenyum lega, tadinya ia pikir Lisa akan rewel di pegang ibundanya.
Mentari menatap Surya dengan tajam, hal ini membuat Surya bingung. "Ada apa mah?"
"Jawab jujur pertanyaan mama," pintanya. "Apa Lisa bukan anak kandungmu?"
Surya sama sekali tak terkejut dengan pertanyaan ibundanya, ia justru malah menilai bahwa ibundanya sangat tidak peka karena baru menyadarinya sekarang. "Dia putriku," jawab Surya dengan tenang.
"Jangan bohong kamu Surya. Jelas-jelas wajah kalian berbeda. Mama juga bisa merasakan jika tidak ada ikatan batin mama dengannya padahal dengan ketiga keponakanmu, mama bisa merasakannya."
Surya menatap Mentari lekat-lekat. "Berasal dariku atau tidak, Lisa tetap anakku!"
Butuh waktu beberapa saat bagi Mentari untuk mencerna ucapan Surya, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Katakan Surya, apakah kau memiliki masalah dengan spermamu?" akhirnya Mentari menceritakan sewaktu bayi Surya mengalami masalah dengan kromosomnya.
Surya mengangguk, ia sudah lelah terus-menerus berpura-pura menutupi kekurangannya di depan ibundanya. Mentari menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka dampak dari masalah kromosom itu sampai mengganggu kesuburan putranya.
"Tapi jika dia bukan anakmu, untuk apa kau menikahi Cindy? Lalu bagaimana dengan ayahnya?"
Akhirnya Surya bercerita jika ia menikahi Cindy hanya untuk menutupi kemandulannya, sementara Cindy menikah dengannya untuk mendapatkan legalitas anaknya sebab kekasihnya tak mau bertanggung jawab. "Awalnya aku berencana menceraikannya setelah anak itu lahir, tapi karena semua kejadian yang menimpaku belakangan ini dan hanya Cindy satu-satunya orang yang tetap bertahan dan merawatku dengan baik, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan ini." Surya meraih tangan ibundanya dan menggenggamnya erat.
"Ini keputusanku, tolong mama jangan lagi mencampuri urusan rumah tanggaku," pintanya. "Aku tidak meminta mama untuk menerima Cindy, Alin dan Lisa. Aku hanya minta mama tidak mengganggu mereka bertiga, seperti mama mengganggu Nadi."
Mentari tak menjawab apa pun, ia pergi pergi ke halaman depan untuk berpikir. Apa yang di katakan Surya memang ada benarnya, dan jika mereka bercerai belum tentu akan ada wanita yang mau menerima kekurangan putranya, selain itu Mentari pun takut di usir sehingga tak ada pilihan lain baginya selain menghargai keputusan Surya.
...****************...
Sementara itu ketika sedang sibuk berbelanja, Bintang nampak penasaran dengan siapa yang memesan sebanyak itu kepada kakak iparnya. 5.000 porsi tentu bukan orang sembarangan karena biasanya orang biasa undangannya di bawah 2.500 orang. Tapi jika bukan orang sembarangan mengapa orang itu sampai tahu sop buntut kakak iparnya sebab kediaman kakak iparnya hanya di terletak komplek kecil.
"Kak Cin, memangnya siapa sih yang pesan sop buntut sebanyak ini?" akhirnya Bintang memberanikan diri untuk bertanya, sebab dari minggu lalu Cindy hanya mengatakan untuk pesanan pernikahan saja tanpa menyebutkan siapa yang mau menikah.
"Nadi," jawabnya dengan santai dan berjalan menyusuri lorong pasar.
Mulut Bintang menganga saat mendengar Nadi-lah yang memesan sop buntut ke kakak iparnya, ia berjalan lebih cepat untuk menyusul Cindy. "Kok bisa? Bukankah...??"
Cindy mengajak Bintang sedikit menepi agar tak menghalanhi orang yang berlalu-lalang, ia menceritakan secara singkat pertemuan Alin dengan Nadi, dan bagaimana Nadi membantu dirinya hingga bisa berjualan sop buntut termasuk memberinya resep sop buntut tersebut.
"Pantas saja, rasanya persis dengan yang biasa Kak Nadi buat," gumam Bintang. "Tapi ngomong-ngomong dia menikah dengan siapa?" ia berharap Nadi tidak menikah dengan pria idamannya.
Namun sayangnya harapan itu pupus saat Cindy menyebut nama. "Aaron."
Bintang hampir menjatuhkan barang belanjaan di tangannya. "A-aron...?" ucapnya terbata-bata.
"Iya Aaron, CEO Global Group. Kalau tidak salah kamu pernah kerja praktek di sana deh. Kata Mas Surya."
Bintang memegang kepalanya, mendadak kepalanya pusing. "Tidak mungkin.."
"Loh kenapa tidak mungkin, setahuku mereka sudah lama dekat." Sejak project pembangunan mall itu Cindy tahu Nadi dekat dengan Aaron. "Jadi wajar saja mereka menikah," sambungnya.
"Tapi pak Aaron itu gebetanku kak.. Hiks.. Nadi jahat."
"Memangnya kamu kenal betul siapa Aaron? Dia itu duda loh, kamu ngurus keponakan aja enggak mau apa lagi ngurus anak orang. Sudahlah, lebih baik cari yang sama-sama single." Cindy mengelus lengan Bintang dengan lembut sebetulnya dia tak bermaksud merendahkan status Aaron, toh Cindy juga sadar bahwa Surya menikahinya dengan membawa anak bawaan pernikahannya terdahulu. Cindy mengatakan hal itu agar Bintang tidak menggagu Aaron.
"Nanti kamu bantu kakak di stand ya, sama Mba Ika dan Mba Caca," pinta Cindy. "Kakak tidak bisa jaga stand, Kak Nadi meminta kakak jadi pengiring pengantin."
Bintang terdiam untuk beberapa saat. "Di sana pasti ada pak Harry, dia kan single. Tak dapat Pak Aaron, Pak Harry pun jadi."
Cindy menggelengkan kepalanya. "Pak Haryy juga akan menikah. Dia menikah dua hari setelah Nadi menikah, dia akan menikahi sahabat Nadi."
Bintang setengah berteriak. "Mengapa Nadi begitu beruntung hidupnya? mengapa semua yang aku mau dia mendapatkannya?"
Cindy menarik Bintang ke warung kopi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, ia memesan dua gelas kopi susu dan dua porsi mie instan. "Dari pada kau mengkhayal punya suami orang kaya, mengapa tidak kau menghayal dan berusaha menjadikan dirimu yang kaya?" Cindy memulai obrolannya ketika mereka menunggu pesanan makanannya jadi. "Kita hidup bukan di negeri dongeng, dek. Mencari pasangan itu harus yang seimbang, kalau kau pintar dan sukses Insyaallah pasanganmu juga pintar dan sukses karena sejatinya pasangan adalah cerminan."
Cindy menjeda kalimatnya ketika pesanan mie instannya datang. "Terima kasih," ucapnya pada pelayan, kemudian ia kembali mentap Bintang. "Jika kau membandingkan hidupmu dengan Nadi, aku rasa Nadi pantas mendapatkan Aaron karena dia memang wanita yang bukan hanya cantik tapi pintar," Cindy menceritakan secara singkat bagaimana Nadi mampu memenangkan project-project besar. "Pasangan yang seimbang bukan?"
Bintang terdiam, ia memandangi kakak iparnya melahap mie instan dengan lahap. "Apa kita bisa kaya?"
"Bisa, kalau kita berusaha," jawab Cindy. "Pernikahan Nadi adalah kesempatan kita untuk melebarkan sayap usaha kita, jadi jangan sampai kita sia-siakan kesempatan ini."