Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.
Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.
Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
“Pemain cello asal Rusia. Ia memuja… rantai emasku.”
Mulut Jenson ternganga, tapi Cuma sesaat. “Short-stop Yasmine yang tahun lalu membukukan 304?”
“Yupz.. Betul sekali. Kau mungkin memperhatikan gelang perak yang dikenakannya di pergelangan tangan kanannya. Aku membuatkan untuknya bulan Maret lalu. Dia sepertinya berpikir bahwa benda itu bisa membuat pukulannya jadi lurus atau semacam itulah.” Rachel mengangkat kotak biru-keemasan itu dan mengguncangnya dengan lembut. “Dia seseorang yang sangat baik sekali.”
“Oooh begitu.” Jenson mengamati seluruh kotak hadiah yang Rachel dapatkan dari teman-temannya dengan tatapan penuh cemburu. “Sepertinya hadiahmu kebanyakan dari pria.”
“Sungguh?” Rachel sendiri turut mengamati. “Tampaknya hadiah-hadiahmu juga sebagian besar dari seorang wanita. Chi-Chi?” tanyanya sambil memungut Sebuah kotak berpita besar berwarna merah jambu.
“Dia seorang biolog kelautan,” ungkap Jenson seraya menjulurkan lidah.
“Menakjubkan. Dan kubayangkan Magda seorang pustakawan.”
“Pengacara Mishel,” ucapnya polos.
“Hmm. Well, siapa pun yang mengirim ini pasti seorang pemalu.” Diambilnya sebotol sampanye berpita merah berkilap. Di kartunya tertulis “Selamat Natal, Jenson,” dan tidak lebih dari itu.
Jenson memandangi label itu sambil mengiyakan. “Beberapa orang tidak ingin mengiklankan kemurahan hati mereka.”
“Bagaimana denganmu?” Rachel memiringkan kepalanya. “Lagi pula, ini kan hanya sebotol. Apa kau akan berbagi?”
“Dengan siapa aku harus berbagi?”
“Seharusnya aku tahu kau ini adalah makhluk serakah dan kikir.” Rachel mengambil sebuah kotak bertuliskan namanya. “Karena itu aku akan memakan seluruh isi kotak cokelat impor ini sendirian.”
Jenson memelototi kotak itu. “Bagaimana kau tahu isinya cokelat?”
Rachel hanya tersenyum. “Hendra selalu menghadiahiku cokelat.”
“Impor?”
“Swiss.”
Jenson mengulurkan tangan. “Berbahagia-lah dan bagilah dengan rata.”
"Kau mencontek kalimat Kekek Robert," Rachel mengambil anggur dan coklat yang di perolehnya untuk ia dinginkan di kulkas.
Berjam-jam kemudian, ketika hujan turun lagi dan api menyala di perapian, Rachel menyalakan bola-bola lampu di pohon natal. Seperti Jenson, ia tidak merindukan kerumunan itu, pesta gila-gilaan di club malam. Ia berada di tempat yang ia inginkan. Ia hanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk menyadari bahwa keterikatannya kepada gemerlap kehidupannya dulu tidaklah sebesar anggapannya dahulu. Robet's adalah rumah baginya. Bukankah memang selalu begitu? Tapi apa jadinya jika ia harus tinggal di Rober's sendirian?
Jenson tidak akan tinggal terus di sini, meski memang benar pria itu pemilik separuh Rober's dalam beberapa bulan yang akan datang, namun hidup Jenson termasuk kehidupan sosialnya yang aktif berada di perkumpulan teman-temannya. Jenson tidak akan tinggal, pikir Rachel lagi, dan mendapat dirinya sendiri jengkel oleh rasa penyesalan. Mengapa Jenson harus tinggal? Biarkan saja pria itu pergi bersama para penari molek, gumamnya pada diri sendiri, sambil berjalan berkeliling, lalu menyodok-nyodok api yang sudah menyala di perapian. Bagaimana bisa Jenson tinggal? Mereka tidak bisa terus tinggal bersama tanpa batas waktu. Cepat atau lambat Rachel harus mendiskusikan hal ini dengan Jenson termasuk kapan mereka akan bercerai. Tidak mudah memang, namun ia tetap berterima kasih pada kakek Robert karena lelaki tua itu melakukan sesuatu yang dahulu dibenci Rachel. Merumahkannya. Rachel mungkin terpaksa berhubungan dengan Jenson dalam jangka waktu harian, tapi dalam beberapa bulan ia menjalaninya, hidupnya menjadi penuh energi dan minat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Hal itulah, batin Rachel, yang benci ia tinggalkan.
Ia akan menangani ketertarikannya pada Jenson. Kenyataannya, Jenson bukan tipenya seperti halnya ia bukan tipe Jenson. Dipukulnya keras-keras sebatang kayu bakar. Dari semua yang diketahuinya, Jenson memilih wanita tipe flamboyan, tipe yang eksotis. Aktris, penari, model. Sementara Rachel sendiri, di lain pihak mencari pria yang lebih intelek dan rimantis. Para pria yang bisa menghabiskan waktu untuk mendiskusikan novelis-novelis Prancis tak terkenal dan mengapresiasi naskah-naskah kecil yang hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu. Kebanyakan dari mereka tidak akan bisa membedakan apakah Logan’s Run itu nama serial televisi atau kah nama rumah makan di Citayem.
Kenyataan bahwa ia memiliki semacam hasrat primitif terhadap Jenson hanyalah kehebohan yang tak berarti. Rachel tersenyum saat memindahkan alat pengorek api. Ia tak dapat menyangkal bahwa kadang-kadang ia menikmati kehebohan itu.
Ketika mendengar sesuatu menyalak di belakangnya, Rachel berbalik tak percaya. Seekor anjing putih kecil dengan kaki besar melintasi ruangan itu, berguling-guling di karpet Aubusson, lalu menghantam meja. Menyalak ribut, anjing itu berguling sebanyak dua kali, menegakkan tubuhnya, kemudian melaju ke arah Rachel, melompat setengah hati seraya menjulurkan lidah. Merasa terhibur, Rachel membungkuk dan berbahagia tak kala anak anjing itu melompat ke pangkuannya dan menjilati wajahnya.
“Kau datang dari mana?” Sambil tertawa dan membela diri semampunya, Rachel menemukan kartu yang disangkutkan pada pita merah di sekeliling leher anak anjing itu. Di situ terbaca: Namaku Bruno. Aku ini anjing jelek kejam yang sedang mencari seorang lady untuk dibela.
“Bruno, huh?” Tergelak lagi, Rachel membelai telinga panjang anjing itu. “Seberapa kejamnya dirimu?” tanyanya ketika si anjing menghadapinya dengan cara menjilati dagunya.
“Dia akan dengan senang hati menyerang saudara tercinta kita yang mengganggu.” Jenson mengumumkan hal itu saat mendekat sambil membawa baki berisi buket bunga, es dan sampanye. “Dia sudah dilatih untuk mengejar siapa pun yang mengenakan setelan Brooks Brothers”
“Kita bisa memakaikannya sepatu.”
“Aku setuju.”
Anjing itu bergerak-gerak dengan hebatnya, Rachel memusatkan perhatian pada anak anjing itu. Ia tak punya ide sama sekali tentang bagaimana berterima kasih pada Jenson tanpa membuat dirinya sendiri terlihat bodoh “Anjing ini sungguh mengagumkan, Jenson,” gumamnya.
Rachel membenamkan wajahnya ke bulu anak anjing itu selama beberapa saat. “Dari mana kau mendapatkannya?”
“Toko hewan.” Memandangi Rachel, Jenson merobek kertas timah penutup sampanye. “Minggu lalu waktu kita pergi untuk membeli persediaan dan aku mencampakkanmu di pasar swalayan.”
“Aku pikir kau pergi ke suatu tempat untuk membeli majalah porno.”
“Kalau aku terangs*ng,memangnya kamu mau memberi?” ucap Jenson lirih. “Aku pergi ke toko hewan dan berjalan menyusuri kandang-kandangnya. Bruno menggigit anjing lain di bagian sensitifnya demi bisa sampai ke kandang lebih dulu. Lalu dia menyeringai padaku tanpa harga diri sama sekali. Aku tahu dialah yang tepat.”
Sumbat botol itu terlepas dengan ributnya dan sampanye meruah ke atas kemudian tumpah ke lantai. Bruno melompat dari pangkuan Rachel dan menjilatinya dengan serakah. “Mungkin sopan santunnya sedikit kurang,” Rachel mencermati. “Tapi seleranya, selera kelas satu.” Ia bangkit, namun menunggu sampai Jenson selesai menuangkan sampanye ke dua buah gelas. “Itu hal yang manis untuk dilakukan, sialan.”
Jenson menyeringai dan menawarkannya segelas. “Terima kasih kembali.” Disentuhkannya gelasnya ke gelas Rachel.
selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰