Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 33
Reni dan Brian berencana ingin menemui Rere dan Gabriel anak dari hubungannya dengan Zai. Tentu saja, Reni sudah membicarakannya dengan suaminya. Brian tidak mempermasalahkan hal itu. Dirinya mendukung apapun keinginan istrinya itu dan akan menemani kemanapun dia pergi.
Disinilah sekarang, Reni dan Brian. Berada di rumah orang tua Zai, mantan mertua Reni.
"Sayang. Aku sangat gugup dan takut mereka akan menolak kedatanganku," ujar Reni merasa was-was.
"Tenang. Tidak mungkin mereka akan menolakmu. Itu kan sudah berlalu. Mereka pasti akan memahami," kata Brian berusaha menenangkan istrinya.
Reni berusaha mengatur hatinya dan sekuat tenaga untuk tegar menghadapi apapun yang terjadi nanti.
"Ayo turun, Sayang."
Reni dan Brian turun dari mobil. Kemudian menekan bel yang di dekat pagar rumah. Tak lama pintu pagar terbuka dan Bu Erna pun terkejut dengan kedatangan Reni bersama lelaki yang di duganya adalah suaminya.
"Kamu..."
"Selamat sore, Bu." sapa Reni seraya tersenyum.
"Selamat sore juga. Ada apa kamu datang kesini?" tanya Bu Erna yang masih merasakan sakit hati saat mengingat Reni dulu.
"Maaf, Bu. Apakah anak-anak ada, Bu?" tanya Reni yang merasa sedih dengan tatapan mantan mertuanya itu.
"Kamu masih ingat dengan anak-anakmu. Selama ini kamu kemana aja, hah. Bukannya kamu sudah memilih hidup dengan laki-laki yang ada disampingmu," jawab Bu Erna dengan ketus.
"Maaf, Bu. Kami kesini datang dengan niat, hanya ingin bertemu dengan anak-anak. Apakah itu salah? "sahut Brian ikut menyela obrolan mereka.
"Sudah dibilang, anak-anak tidak ada dirumah. Mereka pergi dengan Zai dan calon menantuku," kata Bu Erna.
"Oh. Mas Zai gimana kabarnya Bu?" tanya Reni berusaha bersikap ramah.
"Zai, alhamdulillah baik. Bulan depan dia akan menikah."
"Oh, selamat kalau begitu untuk Mas Zai. Ya sudah, Bu. Kalau begitu saya permisi,"
"Hmmm."
Reni dan Brian pun meninggalkan rumah itu. Dan Bu Erna langsung menutup pintu pagar itu.
Reni tidak menyangka, mantan mertuanya masih menaruh sakit hati terhadap dirinya. Padahal dirinya datang dengan niat baik hanya ingin bertemu anak-anak saja.
"Sabar, Sayang. Lain kali kita datang lagi kesini ya?" kata Brian sambil mengusap bahu istrinya.
Saat baru membuka pintu mobil, datang sebuah mobil dari arah barat dan berhenti di depan rumah mantan mertuanya. Lalu, keluarlah sosok dua anak yaitu Rere dan Gabriel.
"Rere...Gabriel!" teriak Reni saat melihat anak-anaknya.
Rere dan Gabriel terpaku melihat sosok wanita di depannya. Dengan cepat Reni berlari menuju mereka yang terdiam terpaku melihatnya. Begitu juga dengan Zai yang terkejut dengan kedatangan Reni disini.
"Sayang. Mama kangen dengan kalian. Mama rindu, Nak." Reni memeluk dan mencium kening dan pipi mereka bergantian.
"Kalian sudah tumbuh dengan cepat. Maafkan Mama baru bisa menjenguk kalian."
Brian pun datang menghampiri mereka dan menyapa pada Zai. "Selamat sore, Tuan Zai." kata Brian mengulurkan tangannya.
"Selamat sore, Tuan," Zai menyambut uluran tangan lelaki itu.
"Brian."
"Oh, baik Tuan Brian. Anda adalah suami Reni?"
"Ya, saya adalah suaminya."
"Mari masuk dan bicarakan di dalam," ajak Zai.
"Tidak, Mas. Hari sudah semakin sore. Takutnya Jordan nyariin nanti," kata Reni menolak halus untuk masuk ke rumah.
Sedangkan Rere dan Gabriel hanya diam saja saat dipeluk Reni. Kedua anak tersebut tak tahu harus berbuat apa. Rasa rindunya terhadap mamanya sudah tergantikan oleh wanita lain yang sebentar lagi akan menjadi mama baru mereka.
"Oh, gimana kabarmu dan Jordan?"
"Kabarku baik dan Jordan juga baik, Mas."
"Ya sudah, kami permisi dulu, Mas. Aku kesini karena kangen anak-anak."
"Oh ya, ini oleh-oleh untuk kalian." Reni menyerahkan dua paper bag pada Rere dan Gabriel.
"Terimakasih, Ma."
"Sama-sama sayang." Reni kembali mencium pipi keduanya bergantian.
"Mama, pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik ya," pamit Reni pada kedua anaknya.
"Aku pergi dulu Mas." pamit Reni pada mantan suaminya.
"Baik. Salam buat Jordan."
"Hmmm."
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah tersebut dan masuk mobil. Di dalam mobil, Reni hanya bisa menahan air matanya agar tidak menangis di hadapan suaminya.
Mobil melaju menuju jalanan dan Brian ingin mengajak istrinya jalan-jalan agar tidak terus menerus sedih akan kejadian tadi.
mampir y