Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 33
Gadis itu benar-benar berwajah suram kali ini, wajah cantik yang terbiasa terlihat begitu manis dan cerah berubah sejak sampai di rumah Oma-nya. Tidak seperti cuaca sejuk di salah satu kota di Jogja ini, walaupun jika sudah siang hari sama panasnya dengan ibukota tetapi pagi ini lumayan dingin. Berpakaian layaknya berada di daerah negara yang memiliki iklim dingin, Aletha duduk disebuah ayunan sederhana yang letaknya ditaman belakang rumah yang usianya sudah tua itu.
Gadis itu menendang-nendang udara kosong didepannya, kesal. Tentu saja, laki-laki yang membujuknya agar ikut ke Jogja justru menempel terus dengan Oma-nya seakan lupa umur. Atau hanya ingin pamer dengan Aletha, Elang bisa bermanja-manjaan dengan Oma. Sedangkan Aletha hanya seperti sebuah nyamuk yang beterbangan disekitar mereka bahkan Oma-nya tidak segan untuk mengusir gadis itu.
"Nyebelin! Ngapain coba jauh-jauh ikut ke sini kalo cuma dicuekin sama orang-orang. Mending dirumah bisa nonton drakor sepuasnya". Gadis itu mengerutu sambil meremas kuat ujung bajunya, tanpa gadis itu sadari Elang sudah berdiri di belakangnya terkekeh pelan.
"Emang berani dirumah sendiri?".
Aletha sedikit berjengit karena terkejut dengan suara Elang yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya, walaupun rasanya begitu malas berbicara dengan Elang yang sudah melupakannya sejak bertemu dengan wanita kesayangannya itu. Oma yang selalu menjadi kebanggaan Elang.
"Berani lah! Daripada disini, dicuekin terus nggak enak tau kak!".
Tangan kekar Elang mendorong lembut ayunan yang hanya diam tanpa gerakan tadi, membuat Aletha terayun dengan teratur kedepan dan kebelakang.
"Maaf deh, kakak nggak lupa kok sama kamu. Cuma lagi kangen aja sama Oma!".
"Tapi kesel tau, kesini cuma liat kakak nempel terus sama Oma udah kaya prangko aja".
"Kamu pengen manja-manjaan sama kakak?".
"Enggak!".
"Beneran?".
Hem, gadis itu sudah paham jika Elang akan terus menggodanya. Jadi ia hanya berdeham menjawab pertanyaan terakhirnya. Mereka terus diam, menikmati suasana sejuk didaerah rumah Oma-nya. Keluarga mereka memang jarang berlibur bersama, lebih tepatnya Elang dan Gean yang tidak pernah pergi berlibur. Hanya pekerjaan yang mereka pikirkan, terkadang mereka meninggalkan pekerjaan jika terlalu jenuh.
"Nanti malam ada acara makan malam, dengan teman jauh Oma".
"Yah, isinya nanti nenek-nenek semua ya kak? Aletha dirumah ajalah tidur".
Elang menggelengkan kepalanya kuat, menolak keinginan Aletha yang ingin dirumah saja. Bagaimana mungkin Elang akan membiarkan gadisnya dirumah sendirian sedangkan dirinya dan yang lain pergi ke luar. Dengan sikapnya yang lagi-lagi kembali pada Elang yang pemaksa, membuat gadis yang masih duduk terayun pelan itu mendesah pelan. Apalagi selain harus pasrah.
Malam harinya, ketika gadis itu bersiap ibunya tiba-tiba masuk ke kamarnya. Memberikan sebuah kebaya berwarna biru muda yang terlihat begitu cantik, dan sepertinya itu harus dipakai oleh Aletha.
"Loh ma, palingan acara makan malam kenapa harus pake kebaya? Boleh nggak Aletha pake dress aja?".
"Enggak boleh! Harus pake ini".
"Ma, ribet!".
Gadis itu sedang merengek meminta kepada ibunya yang terus menolak dan mencoba mendandani putri bungsunya itu, membuat gadis yang sekarang terlihat lebih cantik. Walaupun hanya diberikan bedak tipis dan olesan lipstik yang ringan tetapi mampu menambah kecantikan pada wajah Aletha yang semakin lama terlihat berbeda dengan Renata.
"Apanya yang ribet?". Aletha mengkerut layu, Oma-nya tiba-tiba saja datang dan mendengar rengekan Aletha yang tidak mau memakai kebaya.
"Kalo kamu tidak suka lebih baik tidak usah ikut saja! Kebaya itu Oma sendiri yang memilih dan sengaja Oma kasih buat kamu! Tapi memang dasar anak pembawa sial, sudah diberi hati malah minta jantung!".
"Sudah Oma, wajarlah Aletha kan anak muda pastilah agak ribet kalau pakai Kebaya".
"Tetap saja Ren, kebaya itu budaya Jogja. Kalau mau tetap jadi cucuku ya harus menghormati kebudayaan leluhurku. Buat orang kesal saja, kalau sudah siap cepatlah berangkat. Jangan sampai terlambat karena gadis itu!".
"Iya Oma."
"Maaf ma". Lirih Aletha yang nyaris hanya berbisik, ucapan Oma-nya membuat gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya. Walaupun enggan, tetapi Aletha tetap saja memakai kebaya biru itu dan disempurnakan dengan sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi.
"Ribet tau pake kaya gini, acara makan malam atau kondangan sih?".
"Ini tuh udah bukan jaman kerajaan, masih aja acara-acara pake kebaya. Jangan-jangan Papa dan kakak disuruh pake pakaian adat juga?".
Gadis itu terus mengerutu sambil berjalan keluar dari kamarnya, Renata yang mendengar lirih hanya terkekeh pelan dan melengkungkan bibirnya keatas. Diruang tamu yang hampir semuanya terbuat dari kayu yang dipelitur, para laki-laki sedang duduk menunggu Renata dan Aletha yang tampak baru saja keluar dari kamar berpintu kayu yang diukir dengan sangat detail dan menghasilkan pintu dengan karya yang begitu indah.
Elang tersenyum puas melihat Aletha yang terlihat sangat cantik dengan kebaya biru muda itu, walaupun ingin sekali laki-laki itu tertawa keras. Aletha tampak kesal dan berjalan dengan memegangi rok miliknya yang didesain mirip dengan bawahan kebaya. Bermotif batik berwarna cokelat muda. Apalagi sekarang ekspresinya semakin membuat laki-laki itu gemas, entah apa saja gerutu yang keluar dari mulutnya itu tetapi sungguh membuat Elang ingin sekali tertawa.
"Wah, cantik banget calon kakak!".
"Nggak usah ngeledek kak, ini demi menghormati Oma yang katanya sudah milih sendiri buat Aletha".
"Jangan kepaksa gitu dong, ya udah yuk!".
Elang merangkul pinggang Aletha dengan lembut, menuntun gadis yang berjalan sedikit kesulitan itu keluar dari rumah berarsitektur Jogja. Mobil Elang yang sudah mengkilap seperti baru saja dicuci itu terparkir rapi dipekarangan rumah, tidak terlalu jauh dari pintu depan. Mereka berjalan sambil saling menggoda dan mengejek, walaupun tepatnya Aletha yang diejek oleh Elang.
🍃
Gedung bertingkat yang begitu mewah dengan kelap-kelip lampu putih didalam kaca membuat gadis itu terpesona, ia kira acara makan malam mereka berada di sebuah rumah makan sederhana yang tidak ada kursinya alias lesehan. Ternyata gadis itu salah, acaranya berada disebuah restoran berbintang salah satu tempat mewah. Banyak sekali orang yang datang, dan walaupun pakaian yang mereka kenakan rata-rata kebaya dan yang laki-laki sama dengan Elang memakai jas resmi.
Dan Aletha semakin terpesona tatkala melihat hampir semua dekorasi ruangan yang sudah ditata seperti acara yang jauh dari kata hanya makan malam itu, penuh dengan bunga mawar yang bermacam-macam warna. Ada juga bunga pukul empat sore yang palsu , tertempel pada kayu yang sengaja dibentuk lengkungan. Bunga kesukaan Aletha itu, mengelilingi dengan sempurna panggung mini yang mungkin dibuat untuk pengisi acara nanti.
Keluarga nya dan tentu saja Oma, menyusul di belakang mereka. Mereka tampak bahagia melihat gedung itu, seperti puas dengan hasil karya perancang dan penata ruangan.
Seorang pengisi acara mulai membacakan acaranya, dan benar sekali yang menjadi dugaan gadis itu. Jika ini bukanlah hanya acara makan malam, tetapi ternyata acara pertunangan. Aletha merasa begitu takjub, pertunangan siapa yang dilakukan dengan begitu mewah
"Kita sambut pemilik acara malam hari ini yang akan bertunangan dengan kekasihnya! Erlangga Narendra Wijaya dengan gadis cantik yang bernama Aletha Maudy".
"Kak?", Entah apa yang dirasakan oleh gadis itu saat ini. Terkejut juga ia merasa begitu bahagia, acara yang mampu membuatnya terpesona ini adalah acara pertunangannya? Dan keluarganya sudah merencanakan ini semua tanpa sepengetahuan Aletha, dan lebih lagi Oma yang selalu ia benci dan takuti itu menjadi salah satu bagian dari acara ini.
"Mau gak?".
"Memangnya Aletha bisa nolak kak?". Gadis itu mengangguk dengan antusias, bahkan ia lupa jika banyak yang menyaksikan mereka saat ini. Mereka tertawa lirih, dan bahkan ada yang dengan terang-terangan menggoda mereka berdua.
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????