Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orientasi yang Mengecewakan
Bara tidak pernah membayangkan bahwa kematian akan terasa begitu... birokratis.
Ia berdiri di tengah lorong Apartemen Griya Asri, Blok Z, Lantai 4. Di tangannya tergenggam erat sebuah clipboard transparan yang berkilau samar-samar, dan di lehernya tergantung kartu identitas magang bertuliskan: BARA – CALON HANTU PENUNGGU (STATUS: PROBATION).
"Oke, Bara. Tarik napas. Oh tunggu, kamu sudah mati. Kamu nggak butuh napas," gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan detak jantung hantunya yang justru berdebar lebih kencang daripada saat masih hidup.
Ini adalah hari pertama magangnya. Tugasnya sederhana: menghuni Unit 404 dan menciptakan suasana mencekam bagi penghuni baru. Targetnya? Indeks Ketakutan Penghuni (IKP) minimal 15% di minggu pertama. Jika gagal, ia akan dicap sebagai "Hantu Gagal" dan ditugaskan menjaga toilet umum di terminal bus—posisi paling memalukan di hierarki alam gaib.
Bara melirik jam tangan hantunya. Pukul 23.59 WIB. Waktu yang sempurna untuk grand entrance.
Ia merapikan jubah putihnya yang sedikit kusut karena perjalanan panjang dari Alam Perantara, lalu melayang perlahan menembus pintu kayu Unit 404. Ia sudah menyiapkan skenario: muncul di cermin kamar mandi, mengeluarkan darah dari mata, dan berteriak lirih "Keluaaar..."
Namun, saat ia masuk ke dalam apartemen, pemandangan yang ia temukan bukan kamar mandi mewah atau tempat tidur empuk.
Apartemen itu berantakan. Kotak-kotak kardus berserakan di lantai. Kabel-kabel charger menjalar seperti ular plastik di atas karpet. Dan di tengah ruangan, duduk seorang wanita dengan rambut diikat asal-asalan, memakai kaus oblong longgar, sambil menatap layar laptop dengan ekspresi datar yang menakutkan.
Itu Dinda. Penghuni barunya.
Dinda sedang mengunyah keripik kentang dengan suara kriuk-kriuk yang sangat keras di keheningan malam. Matanya berkantung hitam tebal, tanda kurang tidur kronis.
Bara ragu sejenak. Apakah ini momen yang tepat? pikirnya. Dia kelihatan stres banget. Kalau aku ngejutin dia sekarang, jangan-jangan dia malah pingsan. Nggak lucu kalau korban pingsan sebelum sempat takut.
Tapi, deadline sudah di depan mata. Bara memberanikan diri. Ia melayang lebih dekat, memastikan suaranya bergema dengan efek reverb alami yang telah ia latih selama tiga bulan di akademi.
"Huuuiiiiii..."
Suara itu keluar dari tenggorokan Bara, dingin dan menyeramkan. Lampu di ruang tamu berkedip-kedip sesuai instruksi manual hantu pemula.
Dinda tidak menoleh. Ia bahkan tidak mengangkat alis. Jemarinya tetap menari di keyboard laptop.
Bara bingung. Ia mencoba lagi, kali ini lebih dekat, tepat di belakang telinga Dinda. "Aku... akan... mengambil... nyawamu..."
Dinda akhirnya berhenti mengetik. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh perlahan. Tatapannya kosong, tapi bukan karena kesurupan. Itu tatapan seseorang yang baru saja menyadari bahwa WiFi-nya putus.
"Eh," kata Dinda datar. "Kamu bisa benerin router nggak? Lampu indikatornya kedip-kedip terus dari tadi. Aku kira itu efek khusus dari film horor yang lagi aku tonton, ternyata beneran rusak."
Bara terpaku. Jubah putihnya seolah kehilangan angin. "Apa?"
"Router," ulang Dinda, menunjuk ke sudut ruangan di mana sebuah kotak hitam kecil berkedip merah. "Kalau kamu hantu, kan kamu bisa manipulasi energi listrik gitu, nggak? Bantu dong. Deadline konten aku sejam lagi. Kalau nggak upload, algoritma bakal membunuhku lebih cepat daripada kamu."
Bara menelan ludah (meski secara teknis ia tidak punya air liur). Ini tidak ada di buku panduan. Di Bab 3 Etika Penampakan, disebutkan bahwa manusia seharusnya berteriak, lari, atau setidaknya gemetar. Tidak ada pasal tentang permintaan perbaikan infrastruktur internet.
"Aku... aku hantu penunggu, bukan teknisi IndiHome," jawab Bara gugup.
Dinda mendecakkan lidah. "Yaelah. Sia-sia deh aku bayar uang muka mahal-mahal buat apartemen 'bernuansa mistis' ini. Katanya sih ada spiritual energy-nya, ternyata cuma hantu magangan yang nggak berguna."
Kata "magangan" menusuk hati Bara lebih tajam daripada belati perak. Harga dirinya sebagai calon hantu profesional terluka.
"Aku bukan nggak berguna!" protes Bara, suaranya naik satu oktaf, menghilangkan efek seramnya. "Aku baru mulai! Dan aku punya target KPI! Kamu harus takut sama aku!"
Dinda akhirnya menatap Bara lekat-lekat. Ia memiringkan kepala, lalu mengangguk pelan. "Oh, jadi kamu butuh validasi? Sama kayak aku butuh views."
Tiba-tiba, Dinda tersenyum. Senyum yang tidak membuat Bara merasa lega, justru membuatnya waspada.
"Gini aja," kata Dinda sambil membuka aplikasi kamera di ponselnya. "Kita bikin deal. Kamu bantu aku bikin konten horor yang viral. Aku bakal pura-pura takut setengah mati di depan kamera. Kamu dapat poin ketakutan palsu buat laporan ke atasanmu, aku dapat konten bagus. Win-win solution."
Bara mengerjap. "Itu... itu penipuan! Itu melanggar Kode Etik Hantu Pasal 7 Ayat 2: Dilarang Memalsukan Data Teror!"
"Terserah," kata Dinda sambil kembali menatap layarnya. "Kalau nggak mau, silakan pergi. Atau tinggal diam di pojok sana, tapi jangan ganggu lighting. Wajahku kelihatan kusam kalau kena bayangan kamu."
Bara berdiri kaku di tengah ruangan. Ia melihat clipboards-nya. Target 15% IKP. Ia melihat Dinda yang sudah kembali sibuk mengetik, seolah-olah hantu berbaju putih di depannya hanyalah hiasan ruangan yang agak mengganggu.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya (dan kematiannya), Bara merasa benar-benar terjebak. Bukan oleh mantra pengusir setan, tapi oleh ketidakpedulian generasi milenial.
Dengan berat hati, Bara melayang ke sudut ruangan. Ia tidak pergi. Ia juga tidak menyerang. Ia hanya duduk di atas lemari es, melipat tangan, dan menunggu.
Mungkin, pikirnya, aku bisa mulai dengan menyembunyikan chargernya besok pagi. Itu cukup jahat, kan?
Di luar jendela, hujan mulai turun. Di dalam apartemen, dua jiwa yang tersesat—one dead, one barely alive—memulai hubungan kerja yang paling aneh di Jakarta Selatan.