Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Matahari siang kota Chicago bersinar begitu terik, namun pendingin udara di dalam butik pengantin eksklusif La Sposa de L'Amour berhasil menjaga suasana tetap sejuk dan menenangkan.
Butik yang terletak di kawasan premium Michigan Avenue ini telah dikosongkan total sejak pagi.
Tidak boleh ada pelanggan lain, tidak boleh ada kilatan kamera paparazi.
Martin Luther Stone telah memesan seluruh tempat ini secara privat hanya untuk menantu kesayangannya, Suzanne Klatten.
Aiden Hayes Stone duduk di atas sofa beludru hitam di ruang tunggu utama.
Pemuda delapan belas tahun itu tampak gelisah.
Kakinya yang panjang tidak berhenti mengetuk lantai marmer, sementara jemarinya sesekali melonggarkan kerah kemeja kasualnya.
Sifat dominan dan angkuh yang tadi pagi ia tunjukkan saat menghancurkan harga diri Aleonie Bethman di koridor sekolah kini menguap tanpa sisa.
Di ruangan ini, ia hanyalah seorang berondong yang sedang dirayapi rasa tidak sabar yang teramat sangat untuk melihat wanitanya dalam balutan gaun pengantin.
Di sebelahnya, Dr. Nora Amelie duduk dengan tenang sambil menyesap teh chamomile hangat. Sang mommy sesekali melirik putra tunggalnya dengan senyuman geli yang menghiasi bibirnya.
"Bisa tenang sedikit, Aiden? Kau membuat Mommy pusing karena terus bergerak laksana cacing kepanasan," tegur Nora dengan nada santai yang elegan.
Aiden mendengus, menyandarkan punggung tegapnya ke sofa namun matanya tetap lurus menatap tirai beludru abu-abu besar di depannya yang masih tertutup rapat.
"Mereka sudah di dalam selama hampir satu jam, Mom. Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan hanya untuk mencoba sebuah gaun? Pengumuman kelulusanku sudah keluar tadi pagi, itu artinya tidak ada lagi penghalang. Aku ingin pernikahan ini terjadi besok jika memungkinkan."
Nora tertawa renyah, menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkat kemesuman dan ketidaksabaran anaknya yang sudah berada di ambang batas.
"Menikah bukan hanya soal mendaftarkan nama di gereja, Tuan Muda Stone. Suzanne berhak mendapatkan pernikahan termegah di abad ini untuk membayar semua penderitaan yang ia alami dulu. Jadi, bersabarlah."
Tepat setelah kalimat Nora selesai, seorang desainer ternama asal Italia yang sengaja diterbangkan langsung oleh keluarga Stone keluar dari balik tirai. Ia tersenyum lebar ke arah Aiden.
"Tuan Muda Stone, Nona Suzanne sudah siap. Silakan dinilai," ucap sang desainer dengan aksen Eropa yang kental sembari memberi isyarat kepada dua asistennya untuk menarik tali tirai beludru tersebut.
Sreeek.
Tirai besar itu terbuka perlahan, dan detik itu juga, seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Aiden seolah ditarik paksa keluar.
Pemuda itu seketika bangkit berdiri dari sofanya dengan mata yang melebar sempurna tanpa berkedip.
Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam dadanya dengan ritme yang liar.
Di atas podium bundar berlampu temaram, Suzanne Klatten berdiri dengan keanggunan yang sanggup menghentikan waktu.
Wanita itu mengenakan sebuah gaun pengantin bergaya off-shoulde dengan potongan A-line yang terbuat dari kain sutra sutra Prancis premium berwarna putih murni.
Bagian dadanya dihiasi oleh rajutan brokat rumit bertabur manik-manik berlian kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak.
Gaun itu melekat sempurna, mengekspos bahu bulatnya yang mulus, leher jenjangnya yang indah, serta lekuk pinggangnya yang matang dan seksi.
Rambut hitam Suzanne yang biasanya dicepol asal kini ditata bergelombang lembut, jatuh di satu sisi bahunya.
Sepasang matanya yang jernih menatap Aiden dengan tatapan malu-malu, sementara rona merah jambu yang teramat manis perlahan menjalar di kedua belah pipinya.
"Aiden..." panggil Suzanne pelan, suaranya yang lembut bergetar karena rasa canggung yang luar biasa ditatap seintens itu.
"Bagaimana? Apa... apa gaun ini terlihat aneh di tubuhku?"
Aiden tidak menjawab. Langkah kakinya bergerak maju laksana ditarik oleh magnet tak kasat mata.
Sepasang mata elangnya menggelap, memancarkan binar pemujaan dan gairah yang begitu pekat. Ia melangkah menaiki podium kecil itu, berdiri tepat di hadapan Suzanne hingga wangi aroma lavender khas tubuh wanitanya berbaur dengan wangi kain gaun baru.
Tangan besar Aiden yang hangat naik menangkup pipi Suzanne, mengusap kulit lembut itu dengan ibu jarinya yang bergetar karena emosi yang membuncah.
"Aneh, katamu?" bisik Aiden dengan suara bariton yang mendadak berubah menjadi sangat serak dan rendah.
Ia menundukkan wajahnya, menyatukan kening mereka hingga Suzanne bisa merasakan embusan napas hangat Aiden yang memburu.
"Kau terlihat seperti seorang dewi yang turun dari langit, Anne. Kau begitu cantik... sangat cantik hingga rasanya aku ingin mengunci tempat ini sekarang juga dan merobek gaun ini untuk memilikimu detik ini juga."
"Aiden! Jaga bicaramu, ada Momm—"
Kalimat protes Suzanne seketika tertelan kembali ke dalam tenggorokannya saat Aiden tanpa aba-aba langsung mengecup bibir manis itu kecupan teramat dalam dan penuh perasaan.
Kecupan itu tidak liar seperti biasanya, melainkan sebuah pagutan yang sarat akan janji suci, kepemilikan yang mutlak, dan rasa syukur yang tak terhingga karena wanita ini akhirnya benar-benar menjadi miliknya.
Suzanne melenguh pelan, memejamkan matanya erat-erat sembari mengalungkan kedua lengan rampingnya di leher kokoh Aiden, membiarkan dirinya kembali terbuai ke dalam pesona berondong Stone yang selalu tahu bagaimana cara membuatnya bertekuk lutut.
Di sofa tunggu, Dr. Nora hanya bisa berdehem keras sambil melipat kedua tangannya di dada, meskipun sebuah senyuman penuh haru tidak bisa disembunyikannya dari wajah cantiknya.
"Ehem! Aiden, Mommy ingatkan sekali lagi, sewa butik ini hanya sampai jam dua siang. Simpan tenaga ranjangmu untuk minggu depan setelah pemberkatan!"
Mendengar teguran telak dari ibunya, Aiden perlahan melepaskan tautan bibir mereka, namun ia tetap tidak membiarkan ada jarak di antara tubuh mereka.
Lengan kekarnya justru semakin erat memeluk pinggang Suzanne, merapatkan tubuh wanita itu ke dada bidangnya.
Aiden menoleh ke arah ibunya dengan seringai nakal yang teramat tampan.
"Tenagaku tidak akan pernah habis hanya untuk istriku, Mom. Mommy tidak perlu khawatir tentang itu."
"Kau ini benar-benar tidak tahu malu!" cibir Nora sambil tertawa, beranjak dari duduknya untuk mendekati pasangan serasi tersebut.
Nora menatap Suzanne dengan binar mata yang hangat. "Gaun ini sangat cocok untukmu, sayang. Kau akan menjadi pengantin wanita tercantik keluarga Stone."
"Terima kasih, Mommy," jawab Suzanne dengan wajah yang sudah merah padam laksana kepiting rebus akibat ucapan vulgar Aiden sebelumnya.
... * * *...
Setelah sesi fitting gaun yang penuh dengan romansa dan komedi kecemburuan hormon remaja Aiden selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke penthouse.
Hari beranjak sore, dan langit Chicago mulai bergradasi menjadi warna jingga yang keemasan.
Di dalam mobil sport Bugatti miliknya, Aiden menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Suzanne di atas paha wanitanya.
Sesekali ia membawa punggung tangan Suzanne ke bibirnya, mengecup cincin berlian yang melingkar di sana dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari profil samping wajah Suzanne.
"Ada apa, Aiden? Kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya Suzanne geli, menoleh menatap kekasih berondongnya yang tampak begitu posesif hari ini.
"Aku hanya sedang memastikan bahwa hari ini bukan mimpi, Anne," jawab Aiden jujur, binar matanya melembut, memancarkan kedewasaan yang melampaui usianya yang baru delapan belas tahun.
"Seminggu lalu kau masih berada di apartemen itu, menangis karena ancaman bajingan Daendels. Dan minggu depan... kau akan resmi tidur di pelukanku setiap malam dengan nama belakangku di belakang namamu."
Suzanne tersenyum manis, ia memajukan tubuhnya sedikit lalu memberikan satu kecupan lembut di pipi tegas Aiden.
"Ini bukan mimpi, Aiden. Aku nyata, dan aku ada di sini bersamamu."
"Sial, Anne. Kau memancingku di saat aku sedang menyetir. Jika kita sampai di apartemen nanti, jangan harap kau bisa keluar dari kamar utama sebelum pagi."
Suzanne hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, tahu bahwa berdebat dengan tingkat kemesuman Aiden Stone adalah hal yang sia-sia.
... * * *...
Sementara itu, di sudut lain kota Chicago yang tidak terjangkau oleh kemewahan dinasti Stone, kondisi yang bertolak belakang sedang terjadi di depan gedung kantor pusat Daendels Group yang kini telah disegel oleh garis kepolisian.
Willem Daendels berdiri di tepi jalan dengan pakaian yang teramat berantakan. Wajah tampannya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan kini tampak kusam, dipenuhi oleh janggut tipis yang tidak terawat.
Di tangannya, ia memegang sebuah surat pemberitahuan resmi dari pengadilan yang menyatakan bahwa seluruh rekening pribadinya telah dibekukan, dan besok pagi ia harus menyerahkan diri ke Kejaksaan atas kasus penggelapan dana kesehatan.
Ia telah kehilangan segalanya. Perusahaannya hancur, kekasih setianya yang ternyata bekas ayahnya sendiri telah pergi meninggalkannya setelah menguras sisa uangnya, dan yang paling menyiksa jiwanya adalah fakta bahwa ia telah membuang Suzanne—satu-satunya wanita yang dengan tulus menjaga kehormatannya selama pernikahan palsu mereka.
Willem menatap layar papan digital raksasa di pusat kota yang saat itu sedang menayangkan berita mengejutkan tentang konfrontasi Aleonie Bethman di sekolah tadi pagi, lengkap dengan foto Aiden Stone yang sedang merangkul mesra Suzanne Klatten yang mengenakan cincin pertunangan mewah.
"Suzanne..." bisik Willem dengan air mata penyesalan yang luruh deras membasahi pipinya yang cekung.
Rasa sakit, cemburu, dan kehancuran moral berbaur menjadi satu rasa frustrasi yang menyiksa jiwanya laksana berada di dalam neraka jahanam.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Suzanne..."
Penyesalan Willem telah terlambat. Berlian yang dulu ia sia-siakan kini telah berada di tangan sang raja muda dari dinasti Stone, siap dijaga dengan seluruh kekuatan raksasa finansial terbesar di kota ini.
Alur takdir telah bergeser sepenuhnya, membawa Suzanne menuju puncak kebahagiaan yang hakiki, meninggalkan para pecundang yang membusuk di dalam penyesalan mereka sendiri di bawah bayang-bayang ketukan palu pengadilan yang absolut.