Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Sikap Adrian Aneh
Nadia dan Adrian memang bekerja di firma hukum yang sama.
Namun berbeda dengan anggapan banyak orang, posisi Nadia justru berada di atas Adrian.
Di usia yang masih tergolong muda, Nadia sudah berhasil menjadi salah satu partner termuda di firma hukum tersebut. Rekam jejaknya nyaris sempurna. Ia dikenal tajam saat berdebat di ruang sidang, teliti dalam menganalisis kasus, dan hampir tidak pernah kalah dalam perkara besar yang ditanganinya.
Namanya bahkan lebih sering disebut media dibanding Adrian.
Karena itulah banyak klien besar yang datang khusus meminta Nadia sebagai kuasa hukum mereka.
Sementara Adrian berada satu tingkat di bawahnya.
Meski memiliki kemampuan yang baik, bayang-bayang nama besar keluarga Mahendra selalu mengikuti setiap langkahnya.
Banyak orang beranggapan Adrian berada di firma itu karena koneksi dan uang keluarganya.
Rumor tersebut beredar cukup lama.
Sebagian orang bahkan terang-terangan mengatakan bahwa tanpa nama Mahendra, Adrian mungkin tidak akan mencapai posisinya sekarang.
Hal itu tentu membuat Adrian tidak menyukainya.
Terlebih ketika orang-orang mulai membandingkannya dengan Nadia.
"Kalau bukan karena istrinya, nama Adrian nggak bakal sebesar sekarang."
"Partner terbaik tetap Nadia."
"Klien datang karena Nadia, bukan karena Adrian."
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar di lingkungan firma.
Meskipun tidak diucapkan langsung di hadapan mereka.
Awalnya Nadia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
Ia justru selalu membela Adrian.
Baginya, suaminya tetap pria yang cerdas dan pekerja keras.
Namun semakin lama, Nadia mulai menyadari perubahan sikap Adrian.
Pria itu menjadi lebih sensitif ketika namanya dibandingkan dengannya.
Setiap kali media memuji keberhasilan Nadia memenangkan kasus besar, Adrian terlihat tidak nyaman.
Setiap kali firma memberikan penghargaan kepada Nadia, senyum Adrian tampak semakin dipaksakan.
Dan setiap kali ada klien yang lebih memilih Nadia daripada dirinya, sorot mata Adrian berubah dingin meski hanya sesaat.
Suatu sore, firma mengadakan acara penghargaan tahunan.
Para partner, pengacara, dan klien penting hadir memenuhi ballroom hotel mewah tempat acara berlangsung.
Saat nama Nadia diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini, ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan meriah.
Nadia berdiri dari kursinya.
Gaun hitam elegan yang dikenakannya membuatnya tampak anggun dan berwibawa.
Ia melangkah ke atas panggung dengan tenang.
Di antara kerumunan tamu, Nadia sempat mencari sosok Adrian.
Pria itu memang bertepuk tangan.
Tersenyum.
Namun entah mengapa senyum tersebut tidak sampai ke matanya.
Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Sesuatu yang perlahan tumbuh menjadi jurang di antara mereka.
Dan Nadia belum menyadari bahwa rasa rendah diri yang selama ini dipendam Adrian akan menjadi salah satu alasan terbesar yang mendorong pria itu menjauh darinya.
Nadia berdiri di atas panggung sambil menerima plakat penghargaan dengan senyum profesional yang selama ini selalu ia tunjukkan di depan publik. Tepuk tangan masih terdengar memenuhi ballroom mewah itu, namun perhatian Nadia justru tertuju ke arah kursi yang ditemati Adrian.
Kosong.
Nadia mengernyit pelan.
Beberapa menit yang lalu Adrian masih duduk di sana.
Ia bahkan sempat melihat suaminya ikut bertepuk tangan ketika namanya diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini.
Lalu ke mana pria itu pergi?
Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dadanya.
Bukan karena penghargaan. Bukan karena acara.
Melainkan karena akhir-akhir ini Adrian sering menghilang tanpa penjelasan.
Setelah acara selesai, banyak rekan kerja dan klien yang menghampiri Nadia untuk mengucapkan selamat.
Namun senyumnya mulai terasa dipaksakan.
Matanya terus mencari sosok Adrian di antara kerumunan tamu.
Tidak ada.
Nadia akhirnya mengambil ponselnya.
Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan.
"Mas, kamu di mana?"
Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian hanya centang dua.
Tidak dibaca.
Nadia menggigit bibir bawahnya.
Mungkin Adrian sedang menerima telepon penting.
Namun semakin waktu berlalu, rasa khawatir itu justru semakin besar.
Hampir setengah jam kemudian ponselnya akhirnya bergetar.
Pesan dari Adrian.
"Ada urusan mendadak. Aku pulang duluan."
Hanya satu kalimat.
Tanpa penjelasan lebih lanjut.
Tanpa ucapan selamat atas penghargaan yang baru saja diterimanya.
Tanpa menunggu Nadia yang merupakan istrinya sendiri.
Perasaan aneh kembali menyelinap ke hati Nadia.
Ia menatap layar ponsel cukup lama.
Dulu Adrian adalah orang pertama yang akan memeluknya setiap kali ia meraih prestasi.
Orang pertama yang merasa bangga.
Orang pertama yang merayakannya.
Namun sekarang...
Suaminya bahkan pergi tanpa pamit secara langsung.
Malam itu Nadia pulang seorang diri.
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.
Lampu-lampu kota terlihat berkilauan di balik jendela, tetapi pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.
Yang Nadia rasakan justru kekhawatiran.
Ia takut Adrian sedang menghadapi masalah.
Takut tekanan pekerjaan membuat suaminya terpuruk.
Takut semua komentar dan perbandingan dari orang-orang selama ini melukai harga diri Adrian.
Karena sekeras apa pun Adrian terlihat di luar, Nadia tahu suaminya tetap manusia biasa.
Pria yang juga bisa merasa lelah. Pria yang juga bisa terluka.
Dan sebagai istri, Nadia merasa mungkin dirinya terlalu sibuk hingga tidak menyadari apa yang sedang dirasakan Adrian.
Sesampainya di apartemen, Nadia langsung mencari suaminya.
Nadia kembali melihat pesan terakhir yang dikirim pria itu.
"Aku pulang duluan."
Kalimat sederhana yang kini terasa janggal.
Jika Adrian pulang lebih dulu...
Lalu kenapa pria itu belum ada di rumah?
Jantung Nadia berdegup sedikit lebih cepat.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa khawatirnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang belum berani ia beri nama.
Karena jauh di dalam hatinya...
Nadia takut jika jawaban dari semua kejanggalan ini adalah hal yang paling tidak ingin ia ketahui.
Nadia menatap layar ponselnya untuk kesekian kali malam itu. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan dari Adrian. Jam di dinding bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Ruang apartemen yang biasanya terasa hangat kini terasa begitu sunyi.
Ia duduk sendirian di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Jas kerja masih melekat di tubuhnya karena sejak pulang ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk berganti pakaian.
Dan sering kali tampak memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.
Sebagai istri, Nadia tentu menyadari perubahan itu.
Hanya saja ia selalu menganggapnya sebagai tekanan pekerjaan.
Bagaimanapun juga, dunia hukum bukanlah dunia yang mudah.
Nadia menghela napas panjang lalu menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di rak ruang tamu.
Foto itu diambil tepat setelah akad selesai.
Saat itu Adrian tersenyum begitu lebar sambil menggenggam tangannya erat.
Tatapan mata pria itu penuh cinta Penuh kebanggaan.
Seolah Nadia adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Mengingat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena semakin ia mengingat Adrian yang dulu, semakin jelas perbedaan pria yang kini pulang larut malam hampir setiap hari. Ponselnya kembali ia buka.
Jemarinya bergerak menghubungi nomor Adrian.
Tetap tidak ada jawaban.
Nadia menggigit bibirnya pelan.
Ia mulai merasa gelisah. Mungkin Adrian sedang menyetir. Mungkin baterai ponselnya habis.
Atau mungkin sedang berada dalam rapat mendadak.
Nadia mencoba mencari berbagai alasan yang masuk akal.
Namun entah kenapa hatinya tetap tidak tenang.
Tepat pukul setengah dua belas malam, suara pintu apartemen akhirnya terdengar.
Nadia yang sejak tadi menunggu langsung bangkit dari sofa.
Adrian masuk sambil melepas jasnya Wajah pria itu tampak lelah Sedikit pucat.
Namun yang paling membuat Nadia memperhatikan adalah aroma parfum asing yang samar menempel di pakaiannya.
Bukan parfum Adrian.
Dan bukan aroma yang pernah Nadia gunakan.
Perasaan aneh kembali muncul.
Meski begitu, Nadia segera menepis pikiran buruk yang mulai muncul.
Mungkin aroma itu berasal dari klien.
Atau rekan kerja.
Ia tidak ingin berpikir macam-macam.
Belum.
"Kamu belum tidur?" tanya Adrian saat melihat Nadia masih berada di ruang tamu.
Nadia tersenyum kecil.
"Aku nunggu kamu."
Untuk sesaat, Adrian terlihat terdiam.
Tatapan pria itu melembut sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Kamu nggak perlu nunggu sampai malam begini."
Nada suaranya terdengar biasa.
Namun entah mengapa kalimat itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.
Dulu Adrian selalu senang jika Nadia menunggunya pulang.
Dulu pria itu akan memeluknya dan meminta maaf karena membuatnya menunggu.
Sekarang...
Semuanya terasa berbeda.
Dan Nadia mulai takut bahwa perubahan ini bukan lagi sekadar karena kesibukan atau pekerjaan.
Melainkan karena ada sesuatu yang perlahan mengambil tempatnya di hati Adrian.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah