NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 | Masa Lalu?

Langit malam Silver Oak menyisakan hawa dingin yang menusuk. Di dalam kamar VIP 404, Orion baru saja menyelesaikan makan malamnya. Nampan stainless steel berisikan piring yang sudah bersih ia geser perlahan ke tepi meja.

​Mata abu-abunya menatap kosong ke arah dinding putih. Otaknya yang biasanya dipenuhi kalkulasi dingin dan strategi manipulasi, malam ini mendadak hening. Pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan satu orang.

Rellunae Keller.

Rasa manis dari lip tint wanita itu seolah masih tertinggal di lidahnya, membakar ingatan Orion tentang bagaimana bibir itu gemetar dan pipinya memerah di bawah kendalinya tadi siang.

Tok tok tok!

Pintu kamar terbuka. Fiona, perawat kepala bangsal VIP, melangkah masuk membawa mangkuk kecil berisi dua butir pil dan segelas air putih. ​"Pasien Orion, waktunya minum obat," ujar Maya dengan nada profesional yang dijaga sebaik mungkin.

Orion tidak langsung merespons. Ia melirik dua butir pil di mangkuk kecil itu dengan tatapan dingin. Dulu, ia selalu membuang, menyembunyikan di bawah lidah, atau memuntahkan semua obat yang diberikan dokter-dokter sebelumnya. Bagi Orion, obat-obatan itu hanyalah racun kimia yang dirancang untuk melumpuhkan pikirannya.

​"Ini resep baru dari Nanae?" tanya Orion rendah, suaranya berat dan serak.

​Fiona agak terkejut mendengar Orion menyebut nama Luna, namun ia segera mengangguk. "Iya. Dokter Luna yang menyesuaikan dosisnya siang tadi setelah sesi evaluasi anda."

Mendengar nama Rellunae disebut sebagai orang yang meresepkannya, sudut bibir Orion terangkat tipis. Tanpa bantahan, tanpa gestur melawan yang biasa ia tunjukkan, Orion mengambil dua pil itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia meneguk air putih hingga kandas, lalu membuka mulutnya lebar-lebar di hadapan Fiona.

​"Sudah," ucap Orion santai.

​Mata perawat itu sedikit membelalak, tidak percaya betapa penurutnya pasien paling berbahaya di Silver Oak ini jika sudah menyangkut nama dokter Luna. "B-baik. Terima kasih atas kerja samanya, Orion. Jika anda ingin jalan-jalan sebentar di area taman sebelum jam istirahat malam, pintu akses taman sudah dibuka."

Orion hanya berdeham pelan. Begitu Fiona membereskan nampan dan keluar dari kamar, Orion bangkit dari ranjangnya. Efek obat itu mulai membuat kepalanya agak berat, namun ketenangan yang langka perlahan merayap di dalam dadanya.

Ia melangkah keluar kamar, menyusuri koridor bangsal VIP yang sepi, lalu melintasi pintu kaca menuju area taman RSJ Silver Oak. Udara malam langsung menyapu wajah pucatnya.

​Taman itu sepi, hanya diterangi beberapa lampu taman bernuansa kuning hangat. Orion melangkah lambat, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku kaos hitamnya. ​Di salah satu sudut taman dekat area rawat anak, pandangan Orion terhenti.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun, pasien anak yang sedang menjalani terapi pemulihan trauma sedang duduk di atas bangku taman. Anak itu memegang sebuah buku cerita tebal bertema astronomi, berjuang membaca di bawah remang lampu sambil mengusap matanya yang berat.

​"Kalau dibaca sambil mengantuk kayak gitu, ceritanya ngga akan masuk ke dalam kepalamu," ujar Orion dingin, menghentikan langkahnya beberapa meter dari bangku tersebut.

Anak kecil itu mendongak kaget. Melihat postur Orion yang tinggi menjulang dengan aura seram, anak itu refleks mencengkeram bukunya lebih erat. "T-tapi aku mau lihat bintangnya... kata dokter cantik, kalau aku baca buku ini sampai selesai, aku bisa melihat bintang paling terang di langit malam ini."

Tubuh Orion mendadak membeku. Dokter cantik.

​"Dokter cantik?" ulang Orion, suaranya melunak tanpa ia sadari. "Siapa nama doktermu itu?"

​"Dokter Luna!" sahut anak kecil itu polos, binar di matanya seketika menyala terang hanya dengan menyebut nama itu. "Dokter Luna tadi sore mengusap kepalaku dan bilang kalau aku harus jadi anak pintar. Dia bilang, bintang yang paling indah itu selalu tersembunyi di balik malam yang paling gelap."

Orion tertegun di tempatnya berdiri. ​Angin malam berembus pelan, menerpa rambut hitam Orion yang berantakan. Kalimat anak kecil itu menghantam bagian terdalam dari jiwa Orion yang selama ini hancur dan gelap.

Bintang paling indah selalu tersembunyi di balik malam yang paling gelap...

​Bayangan Luna seketika berputar di dalam kepalanya. Senyuman tipis wanita itu saat menatapnya, matanya yang memerah menahan tangis namun tetap enggan melepas kasusnya, hingga kehangatan tubuh Luna saat Orion mendekapnya dari belakang tadi siang.

Rellunae adalah bintang itu. Bintang yang secara tidak sengaja jatuh ke dalam kegelapan dunia Orion. Wanita itu tidak hanya sekedar seorang dokter atau psikiater baginya. Tapi dirinya adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di dalam neraka tempat Orion tinggal selama ini.

Anak kecil itu kembali menunduk membaca bukunya, tidak mempedulikan Orion yang masih mematung.

​Orion mendongakkan kepalanya, menatap langit malam Silver Oak yang terhampar luas tanpa batas. Kepalan tangannya di dalam saku kaos makin mengetat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa posesif dan obsesi yang tadi siang membakar dadanya kini bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih pekat dan berbahaya. ​"Kamu memang bintangku, Nanae..." bisik Orion pelan pada angin malam, matanya yang abu-abu berkilat tajam di bawah kegelapan. "...dan aku tidak akan pernah membiarkan pria manapun, bahkan kakak polisimu itu mengambil cahayamu dariku."

☆☆☆

Setibanya di rumah setelah diantar Xabiru, Luna langsung mengurung diri di kamar. Obrolan intens atau lebih tepatnya interogasi penuh nada protektif dan kata-kata obsesif dari Xabiru di dalam mobil benar-benar menguras sisa energinya. Otak Luna serasa mau pecah memikirkan dua pria yang sama-sama berbahaya dalam hidupnya: Orion yang liar dan mendominasi di RSJ, serta Xabiru yang posesif di balik seragam polisinya.

Luna melirik jam di dinding, pukul delapan malam. Mumpung papahnya belum pulang dari perjalanan bisnis luar kota dan Xabiru sudah pamit kembali ke markas, ini kesempatan emas untuk melarikan diri sejenak.

​Dengan cepat wanita itu mengganti bajunya dengan kaus hitam santai, celana jins, dan jaket kulit kesayangannya. Tanpa membuat suara, ia merogoh kunci motor dari laci, menuruni anak tangga, dan berjalan perlahan menuju garasi samping.

Brumm... BBRRUMMM!

​Raungan mesin Kawasaki Ninja hitam-hijau kesayangannya membelah keheningan malam. Begitu gerbang otomatis terbuka, Luna melesat cepat menembus dinginnya angin malam.

​Membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi di atas motor sport adalah satu-satunya terapi yang sanggup mengusir beban di kepalanya. Luna terus menancap gas tanpa tujuan yang jelas. Ia sengaja tidak melihat navigasi, membiarkan roda dua itu membawanya pergi sejauh mungkin dari bayang-bayang RSJ Silver Oak dan rumahnya.

Tak terasa, hampir satu jam Luna berkendara hingga tiba di pinggiran kota. ​Sorot lampu warna-warni dan alunan musik meriah dari pengeras suara menarik perhatiannya. Sebuah pasar malam yang ramai dan meriah berdiri di atas lapangan luas. Dipicu rasa penasaran dan keinginan untuk melebur di tengah keramaian orang asing, Luna memarkirkan Ninjanya di tempat parkir, melepaskan helm full-face-nya, lalu melangkah masuk.

Aroma harum arum manis, telur gulung, dan beberapa jajanan yang tampak menggiurkan menyambutnya. Untuk pertama kalinya seharian ini, Luna bisa menghembuskan napas lega dan sedikit tersenyum.

​Saat sedang berjalan santai di dekat deretan stan permainan lempar gelang, langkah Luna terhenti. ​Mata cokelatnya menangkap sosok anak perempuan balita dengan gaun merah muda dan pita renda di rambutnya. Anak itu berdiri sendirian di tengah lalu lalang pengunjung, memegang sebuah boneka kelinci lusuh sambil terisak pelan dengan air mata yang menetes di pipi tembamnya.

Insting keibuannya seketika menyala. Luna memangkas jarak dan berlutut di tumpuan kakinya agar sejajar dengan tinggi anak kecil itu.​"Hai, sayang..." panggil Luna lembut, menyunggingkan senyum sehangat mungkin agar anak itu tidak takut. "Kenapa menangis? Papah atau Mamahnya dimana?"

​Anak kecil itu mengusap matanya dengan jemari mungilnya, menatap Luna polos. "P-papah... hilang..." bisiknya sesenggukan.

Luna terkekeh pelan mendengar kepolosannya. "Bukan papahnya yang hilang, tapi kamunya yang terlepas ya? Jangan menangis, ya. Kakak temani di sini sampai Papah atau Mamah kamu datang mencari, okey?"

​Anak itu mengangguk pelan. Luna meraih jemari mungil itu dan menuntunnya berdiri di pinggir jalur stan yang agak sepi dan aman dari desakan pengunjung. Luna dengan sabar mengusap air mata si anak, mengajak ngobrol ringan tentang boneka kelincinya untuk mengalihkan rasa takut anak tersebut.

Sekitar lima belas menit mereka menunggu, tiba-tiba terdengar suara teriakkan panik seorang pria dari arah belakang kerumunan.

​"Aira! Aira! Kamu dimana, Aira?!"

​Anak kecil di samping Luna seketika menoleh dan berseru nyaring, "Papah! Aila di sini!"

Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja yang agak kusut menerobos ke kerumunan pengunjung dengan napas memburu dan raut wajah yang penuh ketakutan. Begitu melihat anak perempuan itu, pria tersebut langsung berlutut dan merengkuh si kecil Aira ke dalam pelukannya dengan sangat erat.

​"Astaga, Aira... Papah panik setengah mati carinya. Jangan terlepas lagi dari pegangan Papah, ya?" bisik pria itu lega, mengusap kepala anaknya.

​"Tadi Aila ditungguin sama tante cantik..." cicit Aira sambil menunjuk ke arah sampingnya.

​Pria itu langsung mendongak, bermaksud mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada wanita yang telah menjaga putrinya. "Terima kasih banyak ya, Mbak, sudah–"

​Kalimat pria itu terputus seketika di udara.

​Waktu seolah membeku di antara mereka berdua. Luna yang semula tersenyum ramah perlahan melenyapkan senyumannya. Matanya membelalak kaget saat mengenali garis wajah pria di hadapannya. Pria itu pun membeku kaku di tanah, menatap Luna dengan raut syok yang tak tertahankan.

​"L-Luna...?" bisik pria itu lirih, seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

​"Julian...?" balas Luna lambat, suaranya nyaris tenggelam oleh bisingnya musik pasar malam.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!