Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sesaat sebelum sampai di pintu keluar, Zylva berbalik dan menatap Raka yang masih diam di tempat menatap dirinya. "Satu lagi. Jangan suka sama gue. Karena gue ibarat ular berbisa yang jinak. Suatu saat Lo pasti mati terkena bisa ular itu jika dia kembali liar." ucap Zylva. Kemudian pergi dari kedai tersebut.
"Dan gue nggak peduli hal itu." jawab Raka lirih.
Raka meninggalkan sejumlah uang untuk membayar es krim miliknya. Kemudian segera pergi dari kedai itu menuju kantor mamanya. Dia akan berusaha untuk melindungi mamanya, dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
"Mama!" panggil seorang cowok kepada wanita yang baru saja keluar kantor.
"Kamu? Kenapa bisa disini?"
"Mah, Raka mohon mama segera pulang ke rumah. Jangan kemana-mana." pinta Raka.
Mamanya mengerutkan keningnya. "Tidak bisa! Saya ada meeting penting dengan klien dari Jepang." tolak mamanya mentah-mentah.
"Mah, Raka takut mama kenapa-kenapa."
"Kamu pikir saya lemah? Saya tidak selemah itu bodoh!" ucap mamanya sambil menyingkirkan Raka dari hadapannya. Kemudian wanita itu langsung masuk ke mobil dan pergi dari sana.
Raka mengepalkan tangannya. Cowok itu berlari mengambil motornya yang ada di seberang jalan dan segera mengejar mobil mamanya. Cowok itu berniat menjaga mamanya tersebut. Dia tidak akan membiarkannya terluka.
*
"Kak Matt."
Mendengar namanya dipanggil Matthew langsung melihat ke arah pintu utama. Zylva baru saja datang. Penampilannya sedikit berubah. Tatanan rambutnya berubah, Zylva yang biasa menggerai atau menguncir rambut di tengah rambutnya saat ini malah di gerai dengan kepangan di sampingnya. Pakaiannya bahkan tidak seperti biasanya. Celana jeans berwarna biru, blouse putih berenda.
"Ada apa dengan rambutmu hm?" tanya Matthew dengan nada dingin. Dia tahu jelas ini bukan style rambut seorang Zylva.
"Sorry, tadi pengen kepang rambut." ucap Zylva sambil melepas jepit rambut yang menahan kepangan rambutnya. Seketika rambutnya langsung tergerai.
"Duduk!" perintah Matthew.
Zylva hanya menurut. "Dimana Bang Varrel, Reygan, sama Gibran?" tanya Zylva.
"Gue suruh ngatur penculikan nyokapnya si Kampret."
"Sekarang?" Zylva terperanjat. Dia pikir nanti malam mereka akan beraksi.
"Why? Gak mau bunuh dia?"
Zylva menggeleng. "Gue akan bunuh mereka apapun yang terjadi."
"Good girl. Terserah dia mau suka Lo atau nggak. Tujuan kita kembali hanya untuk balas dendam. Ingat itu!"
"Iya. Gue ingat."
"Ganti pakaian Lo. Ini bukan style Zylvanca Jjoxaviel Keyvara." perintah Matthew.
Zylva melihat pakaiannya sendiri. Kemudian beranjak ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Sedikit catatan, Zylva biasanya tidak jauh dari warna hitam. Jika dipadukan dengan warna lain pasti putih yang dipilih. Gadis itu akan memakai Hot pant hitam dan kaos putih saat dirumah. Jika ke acara formal dia biasanya memakai dress panjang berwarna hitam. Jika keluar akan memakai celana jeans hitam, kaos hitam atau putih yang selalu polos, dan jaket kulit kebanggaan mafia The Blood Moon. Jadi sudah jelas blouse bukan style Zylva.
*
Setelah mengganti pakaiannya Zylva dan Matthew pergi ke markas. Rupanya disana sudah ada Varrel, Reygan, dan Gibran.
"Bagaimana?" tanya Matthew.
"Wanita itu pergi ke bar xx untuk bertemu kliennya." jawab Varrel.
"Tapi Raka bahkan menunggui di depan bar itu. Gimana kita mau nyuliknya?" tanya Gibran.
"Punya otak dipakai! Jangan ngehaluin Shizuka sama Lisa mulu!" semprot Reygan.
"Yeu, serah gue lah."
"Gue udah suruh anak buah gue buat ngecoh perhatian Raka." ucap Varrel.
"Gorok, atau tusuk?" tanya Zylva. Kali ini jiwa psikopat Zylva benar-benar keluar.
"Kayak dia bunuh Zelva dan Felly." jawab Matthew.
Zylva beralih ke salah satu dinding di ruangan tersebut. Tangannya menekan sebuah patung kecil. Dan terbukalah sebuah ruangan rahasia yang berisi berbagai macam senjata. Mulai dari pisau, belati, pedang, pistol, busur dan anak panahnya, granat, racun, cambuk bergerigi, dan banyak lagi lainnya.
Zylva berjalan memutari ruangan tersebut. Tangannya mengambil sebuah pisau. Gadis itu menggoreskan ke telapak tangannya. Tetapi tidak tergores sama sekali.
"Kurang tajam." ucap Zylva kemudian meletakkan pisaunya lagi.
Beberapa kali Zylva mencoba pisau ke telapak tangannya sendiri tetapi tetap tidak mempan. Hal itu mengundang perhatian Matthew dan para sepupunya untuk mendekat.
"Percuma, pelindung yang Lo pakai gak bakal bisa kegores pisau setajam apapun." ucap Matthew sambil mengambil pisau yang dipegang Zylva kemudian menggoreskan ke ujung jari telunjuknya.
"Lo udah gila?!" Zylva langsung merebut pisau yang dipegang kakaknya.
"Pisau itu sudah tajam." ucap Matthew sambil memperhatikan jarinya yang mengeluarkan darah.
"Lagian tumben pengen pisau yang tajam?" tanya Reygan.
"He'em, biasanya juga demen pakai yang tumpul?" tanya Gibran juga.
"Karena Raka bunuh Zelva dan Felly menggunakan pisau tajam." jawab Varrel sambil memberikan tisu kepada Matthew untuk mengelap darahnya.
"Darimana Lo tahu itu?" tanya Gibran.
"Kelihatan dari bekas sayatan di leher mereka rapi. Artinya pisau yang dia gunakan tajam." jawab Zylva.
"Jangan pernah coba-coba ngelukain diri sendiri lagi!" perintah Matthew.
"Kenapa?"
"Baby..."
"Haha iya iya, nanti gue sayatin ke lion aja." ucap Zylva. Lion yang dimaksud adalah singa peliharaan kesayangan Matthew.
"Mau gue masukin ke kandangnya Lo?" tanya Matthew mengancam.
"Makasih tawarannya, tapi nggak deh." Jawa Zylva. "Ayo keluar, kerjain tugas kita masing-masing." ucap Zylva mengintruksi saudara-saudaranya.
Mereka keluar markas bersama menggunakan motornya masing-masing. Tetapi dengan tujuan yang berbeda-beda. Zylva dan Matthew pergi ke lokasi tempat mereka akan menghabisi mama dari Raka. Gibran dan Reygan bertugas menculik wanita tersebut. Sedangkan Varrel seperti pada penculikan Cainsley kemarin, dia meretas sistem keamanan dan lalulintas agar tidak diketahui penculikan tersebut serta melancarkan jalannya rencana mereka.
...***...
...Bersambung......