Hati Zara Aurora dibuat tak berdaya akan pesona Affan Zayendra. Semua tak akan menjadi masalah andai pria itu bukan putra dari wanita yang diperistri ayahnya.
Wajah yang rupawan serta kebaikan hati yang pria itu miliki membuat hati Zara sulit berpaling, namun siapa yang menyangka diam-diam Affan menyimpan luka yang dalam. Sebuah peristiwa membuat semuanya berubah. Pria penuh kasih itu berubah menjadi sosok tak berperasaan yang bahkan tega menjadikan Zara sebagai budak hasratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
"Ingat pesanku Zara, jangan sampai kamu termakan rayuan pacar norak kamu itu. Jangan lupa pada tanda yang aku tinggalkan di leher dan dada mu" ucap Affan saat Zara akan turun dari mobil Affan.
"Iya bang Zara tau, walaupun nggak ada tanda itu pun Zara nggak mungkin menyerahkan diri pada pria lain. Meskipun Zara sudah tidak suci lagi bukan berarti Zara akan mengobral tubun Zara ke semua pria" Zara memberanikan diri menatap pada Affan. Ia merasa sedih tiap kali Affan meragukan dirinya, Affan seolah menuduh dirinya perempuan murahan yang akan melemparkan diri pada pria manapun. Tapi Zara juga sadar diri mungkin karena ia begitu mudah menyerahkan diri pada Affan, sehingga pria itu meragukan dirinya.
"Baiklah aku percaya padamu" ucap Affan.
"Zara turun dulu bang" pamit Zara sembari mengulurkan tangannya.
"Nanti pulangnya aku jemput, kamu nggak usah naik bus. Kalo kerjaan aku uda beres aku langsung ke sini lagi" Zara mengerutkan keningnya, gadis itu menatap khawatir pada Affan.
"Nggak usah bang, Zara naik bus aja. Nanti abang kecapean kalo jemput Zara" Zara bahagia atas niat Affan namun ia menepisnya, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kakak tirinya.
"Jangan keras kepala Zara, kalo aku bilang pulang bareng aku ya nurut aja" Ucap Affan ketus.
"Iya bang" Zara mengangguk sebelum gadis itu turun dari mobil Affan.
Zara menghela nafas lelah ketika ia mendapati Yuda yang berjalan tergesa ke arahnya sementara Affan belum melajukan mobilnya. Ia yakin Affan akan kembali mencecarnya nanti.
"Kamu kenapa baru datang Za, acara uda dimulai dari 20 menit yang lalu. Bahkan pembagian kelompok juga sudah selesai" Ucap Yuda sambil menggenggam tangan Zara, pria itu tampak gusar.
"Zara kelelahan jadi bangun nya kesiangan. Zara memang nggak boleh terlalu capek" Entah kapan Affan turun dari mobil Zara juga tak menyadarinya. Zara segera melepaskan tangannya dari genggaman Yuda. Ia menatap takut pada Affan, benar saja pria itu tengah menatap sinis dirinya.
"Oh gitu, maaf bang aku cuma khawatir terjadi sesuatu pada Zara. Aku coba telfon dari tadi tapi nggak ada respon" Ucap Yuda pada Affan.
"Oh mungkin saat kamu telfon Zara sedang sibuk menghangatkan tubuh di kamar mandi" Ucap Affan sambil menatap penuh arti pada Zara, gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah. Darahnya berdesir, bayangan kegiatan panas yang ia lakukan bersama Affan di kamar mandi memenuhi benaknya membuat tubuh nya terasa panas.
"Maksudnya?" Tanya Yuda bingung.
"Ya maksudnya Zara sedang berendam air hangat di kamar mandi karena cuaca dingin juga untuk merelaksasi tubuhnya yang lelah" Zara menghela nafas lega, Untung saja Affan memberikan alasan yang masuk akal, ia kira Affan akan berbicara yang tidak-tidak.
"Oh ya kira-kira jam berapa kegiatan hari ini selesai? kegiatannya apa saja?" tanya Affan sebelum Yuda sempat merespon ucapannya.
"Hari ini outbond bang mungkin sebelum jam 4 sore uda selesai karena berdasarkan jadwal jam 5 sore kita uda berangkat pulang" jawab Yuda.
"Emang tujuan kegiatan kayak gini buat apa sih, ada relasinya nggak sama kegiatan pengenalan lingkungan kampus?" tanya Affan lagi. Zara menghela nafas nya berulang kali, ia takut Yuda akan merasa tersinggung atas pertanyaan Affan yang terkesan meremehkan.
"Nggak usah dijawab, aku cuma bercanda" Ucap Affan terkekeh saat Yuda baru akan menjawab pertanyaan darinya.
"Nanti Zara aku jemput, maaf dia nggak bisa ikut naik bus. Takut Zara kecapean dan sakit, yasudah aku pergi dulu. Zara jaga diri baik-baik" Affan mengusap rambut Zara sebelum meninggalkan tempat itu tanpa menunggu jawaban dari Yuda.
"Ya udah yuk Za, gabung sama yang lain. Kamu satu kelompok sama Chelsea" Ucap Yuda menyadarkan Zara dari keterpakuan nya menatap mobil Affan yang bergerak menjauhi mereka.
"I-iya kak" Jawab gadis itu, Zara merasa lega karena Yuda tidak mempermasalahkan sikap Affan terhadapnya.
🍁🍁🍁
"Kamu pasti nggak pernah ngikutin kegiatan kayak gini ya Za?" Tanya Yuda sambil membantu Zara menyeberangi sungai kecil dengan banyak bebatuan yang cukup licin. Sejak tadi pria itu selalu mengikutinya hingga membuat gadis itu merasa tak enak hati pada anggota kelompoknya juga kelompok lainnya.
"Iya Zara nggak pernah jalan ke hutan kayak gini kak, Zara taunya cuman jalan-jalan ke mall" Timpal Chelsea sambil tertawa.
"Kamu juga sama Chel, di tempat kita mana ada hutan kayak gini" Balas Zara.
"Iya juga sih" jawab Chelsea sambil menyeringai, terlihat menyebalkan di mata Zara.
"Iya cukup kali ini aja kamu jalan ke hutan kayak gini. Kakak nggak tega lihat kamu kecapean, kakak juga khawatir kamu sakit. Abang kamu bilang kamu nggak boleh kecapean kan?" ucap Yuda, pria itu berniat mengusap keringat yang memercik di wajah Zara namun gadis itu mengelak cepat. Namun sial hal itu membuat Zara tidak seimbang hingga gadis itu terpeleset jatuh.
"Zara!" Teriak Chelsea dan Yuda bersamaan. Pria itu gagal menangkap tubuh Zara.
"Yang mana yang sakit?" Yuda membantu Zara bangkit, karena Zara terjatuh ke sungai baju gadis itu basah kuyup. Untung saja sungai itu dangkal dan tidak berarus.
"Kaki aku sakit" Ringis Zara karena merasakan sakit di pergelangan kakinya ketika ia mencoba berdiri.
"Jangan-jangan Zara keseleo kak" Ucap Chelsea panik.
"Di bagian sini ya yang sakit?" tanya Yuda sambil memegang pergelangan kaki Zara. Gadis itu mengangguk.
"Za lepas dulu syalnya, basah kan pasti berat" Chelsea berniat melepaskan syal di leher Zara yang terlihat mengganggu.
"Jangan Chel, biarin aja. Ini nggak berat kok" Elak Zara panik. Ia tak mau Chelsea dan Yuda juga anggota kelompoknya melihat tanda merah di lehernya akibat perbuatan Affan.
Zara meringis ketika Yuda memijat pergelangan kakinya.
"Kayaknya kamu beneran keseleo Za. Kita kembali ke tenda aja" ucap Yuda. Gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kakak pamit sama panitia yang lain dulu, kamu tunggu di sini. Kalian lanjut aja jalannya, Chelsea temenin Zara sebentar di sini" Ucap Yuda pada anggota kelompok Zara sebelum menemui panitia lain untuk memberitahu kondisi Zara dan meminta izin kembali ke tenda.
"Beruntung banget sih punya pacar kayak kak Yuda, uda ganteng, pintar, berwawasan luas perhatian lagi" Ucap Chelsea saat hanya tinggal berdua dengan Zara.
"Ya uda kamu pacarin sana kak Yuda nya" balas Zara.
"Cie cemburu ya aku muji-muji pacarnya? tenang aja Za, aku nggak naksir kak Yuda kok. Kak Yuda buat kamu aja, kalo kamu mau ngasih pacar kasih aja abang kamu buat aku" ucap Chelsea yang membuat Zara memelototkan matanya.
"Nggak boleh!" jawab Zara cepat, ia tak akan pernah rela Affan bersama gadis lain meski itu sahabatnya sendiri.
"Loh kenapa? kan seru tuh kalo kita jadi ipar"
"Nggak mau, pokoknya nggak boleh" ucap Zara tegas.
🍁🍁🍁