Sesion 1
Gadis itu bernama lee Renzai, dia adalah putri ketiga dari seorang jenderal di istana, tetapi dia juga seorang jenderal di masa lalu yang kejam, yang berasal dari kerajaan Ochtosk.
Karena kekejamannya, dia akhirnya berubah menjadi buih karena meminum air keramat yang berasal dari sungai kyusu, siapapun orang yang kejam dan meminumnya akan menghilang bersama derasnya air sungai.
Mampukah Sang jenderal untuk merubah takdirnya, akankah dirinya yang kejam akan berubah ketika dia terlahir kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 33
Jenderal Geem masuk ke dalam istana, dan bermaksud menemui sang raja. Kasim istana memberitahukan kepada pelayan istana dalam, bahwa jenderal Lee gem ling telah tiba.
"Oh, Jenderal Geem kau datang, masuklah !" Ucap sang raja senang.
"Hormatku yang mulia."
"Ayo, duduklah Jenderal Geem, aku baru saja ingin menyuruh para pengawal untuk memanggilmu, ada urusan sangat penting yang ingin aku bicarakan." Ucap sang raja.
"Kalau hamba boleh tahu, apa itu yang mulia?" tanya jenderal geem.
Garis depan di benteng Jamyoung telah kita lumpuhkan sepenuhnya, aku ingin kau berangkat bersama putra mahkota ke perbatasan malam ini, aku akan tenang jika jenderal berangkat bersama pangeran.
"Berapakah prajurit dan pasukan militer kerajaan yang ingin anda berangkatkan yang mulia?" tanya jenderal.
Sang raja berpikir sebentar, dia kemudian menatap jenderal Geem. " Kau saja yang memutuskan Jenderal, pilihlah prajurit-prajurit yang terbaik."
"Baik yang mulia."
🌿
Malam semakin larut, pasukan kerajaan yang terpilih berjumlah tiga ratus orang, mereka telah berada di dermaga. Sedangkan kelima Akai telah ada di sana sejak siang hari.
Jenderal dan putra mahkota telah ada di atas kapal, mereka akan berangkat ke benteng Jamyoung.
Benteng Jamyoung adalah sebuah perbatasan dari kerajaan Gamyung, masing-masing kerajaan selalu berebut benteng perbatasan itu untuk di kuasai. Sehingga Kerajaan Hanjang yang merupakan kerajaan yang berbatasan langsung dengannya, akan turut mengambil alih benteng itu, karena jika kerajaan lain yang mengambilnya, mereka akan berbatasan langsung dengan kerajaan Hanjang dan itu snagat berbahaya bagi teritorial kerajaan.
🌿
Kapal yang mengantar perbekalan, telah tiba langsung di barak perkemahan para prajurit Hanjang, berderet-deret tenda prajurit terpasang di sana, ratusan prajurit melakukan aktivitas di perkemahan itu, banyak prajurit-prajurit yang terluka, Cuma 15 perawat yang ada di sana sejak pertempuran di mulai. Renzai berjalan di belakang mereka semua sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
"Siapa dia?" Tanya seorang wakil kapten kepada tabib Jang.
"Informasi yang kudengar, hanya empat orang perawat saja yang akan dikirim ke barak utama, yang di bawa dari istana. Tabib jang memperhatikan Renzai dari kejauhan sambil tersenyum.
"Dia bukan seorang perawat, jangan khawatir, mengenai gadis itu, biar aku yang akan mengurusnya." Ucapnya sambil menepuk bahu wakil kapten yang bertampang serius itu.
Empat orang perawat mendatangi renzai, mereka melipat kedua tangannya sambil menatap mencela kepada Renzai. "Hei, hei kau !" Ucap salah satu perawat itu, matanya membelalak karena renzai tidak berbalik juga padahal jarak mereka sangat dekat.
"Terserah kau mendengar ini atau tidak, tapi tabib jang memanggil kita semua untuk berkumpul." Ucapnya sambil mendelikkan matanya kepada Renzai.
Renzai berdecak, "Apa lagi kali ini?" ucapnya,
Dia kemudian berjalan malas menuju tempat di kumpulkannya puluhan perawat, sekitar 20 orang lebih berada di dalam tenda itu, renzai masuk, tak ada yang memperhatikannya masuk, beruntung renzai tidak mengenakan pakaian yang mecolok layaknya seorang Nona dari keturunan bangsawan. Ia mengenakan pakaian panjang selutut, berwarna biru kehitaman, di padu dengan celana panjang berwarna hitam, bentuknya terlihat seperti rok panjang tetapi sebenarnya dia sedang memakai celana panjang.
Dia berdiri di barisan paling belakang, sambil menyandarkan tubuhnya di tiang tenda, Tabib jang sedang berdiri di samping tabib kerajaan istana yang sedang membagi-bagikan tugas kepada para perawat, sementara dia sedang memperhatikan renzai dari kejauhan.
"Kepada para perawat, yang akan dibagi menjadi lima kelompok sesuai dengan jumlah tabib yang akan memandu kalian semua, kita harus bekerja cepat, pasukan Gamyung bisa saja menyerang kita setiap saat, kita sekarang ini berada di perbatasan perang, tiap-tiap kelompok akan mendapatkan giliran untuk berangkat ke garis depan." Ucap sang tabib.
Tabib itu kemudian pergi, setelah menyusun beberapa kelompok, dan renzai di tempatkan di kelompok tabib Choi, renzai melirik dan mendapati tabib jang yang sedang berbicara kepada tabib Choi.
"Aku sudah berbicara kepada tabib choi agar kau masuk dalam timku," Ucap tabib itu sambil tersenyum, renzai tidak berkata apapun, dia tetap mengikuti tabib Choi ketika mereka berangkat.
"Renzai, hei renzai." Panggilnya. "Kau tidak mendengarku? kau sekarang berada di dalam kelompokku. Renzai memandangnya dengan tatapan tajam.
"Minggir." Ucap renzai, dia tetap berjalan dengan keras kepala mengikuti tabib choi. "Pria itu betul-betul tidak sayang nyawanya." Ucap renzai yang berjalan sambil mengikuti tabib choi beserta perawat lainnya, ternyata kelompok tabib choi adalah kelompok pertama yang akan di berangkatkan ke garis depan, di tenda-tenda darurat tempat mereka semua mengobati prajurit yang terluka.
Tabib Jang berlari di belakangnya, dan mendapati tabib Choi beserta perawat lainnya, "Aku harus berbicara kepada perawat itu." Ucapnya, tabib choi kemudian mengangguk.
Dia menghampiri renzai, dan melipat kedua tangannya. "Apa kau tahu tabib choi adalah kelompok pertama yang akan berangkat ke medan perang?" Renzai hanya memandangnya lalu mengerutkan alisnya.
"Lalu?" Jawab renzai tidak mengerti.
"Kau bilang lalu?" Tabib jang tertawa tidak percaya, "Kau bahkan belum berpengalaman bagaimana merawat orang-orang yang terluka, dan langsung di kirim ke medan peperangan?"
"Itu bukan urusanmu, lagi pula saya bukanlah tanggung jawab anda tabib, jadi kau tidak perlu repot-repot memperingatiku." Ucap renzai, dia kemudian bersiap kembali ke tenda.
Tabib Jang hanya memandang renzai, dia kemudian pergi, dan berjalan cepat karena kesal, tiba-tiba dia berhenti dan berbalik memandang renzai sambil berteriak di tengah-tengah banyaknya orang di barak itu.
"BAIK ! KALAU SESUATU TERJADI PADAMU, ITU URUSANMU LEE RENZAI, AKU SUDAH MEMPERINGATIMU !"
Semua orang memandang ke arah tabib jang dan renzai, dia tertunduk sambil mendengus. "Aku betul-betul akan membunuh tabib itu !" ucap renzai kesal.
🌿
Perjalanan menuju ke tenda darurat menempuh jarak cukup jauh dan berliku, waktu yang dibutuhkan 2 jam perjalanan saja dari perbatasan, sekitar 150 prajurit tambahan dengan berbaju besi dan pedang yang tersampir di pinggangnya, mereka siap berangkat ke medan pertempuran. Enam orang perawat termasuk renzai dan seorang kepala tabib berangkat malam ini ke sana. Mereka harus melewati perjalanan yang berliku-liku selama dua jam penuh, mereka melewati hutan dan pohon-pohon yang gelap, untuk mencapai tenda darurat, agar perjalanan mereka aman dan selamat, mereka mengambil jalanan itu untuk menghindari resiko penyerangan musuh yang tiba-tiba.
Mereka telah menempuh perjalanan selama 30 menit, Hutan itu terlalu sunyi, sangat sunyi, renzai mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
"Terlalu sunyi." Ucap renzai sambil memperhatikan sekelilingnya dengan waspada, hutan yang lebat, pepohonan itu seakan menutupi jejak-jejak mereka, lalu secara mendadak terjadi serangan dari pasukan Gamyung, mereka bersembunyi di balik pepohonan, dan menyerang mereka dengan panah dan pedang, mereka memanah membabi buta, renzai cepat-cepat memegang pedang Tetsunya yang selalu di bawa di belakangnya.
"SERAAAANG."
Teriak prajurit dari musuh tersebut, mereka di kepung, sekitar 200 prajurit Gamyung menyerbu mereka yang tidak siap, para perawat dan tabib berlari melindungi diri mereka dan berlari di belakang prajurit. Tetapi sayang sekali beberapa perawat terkena panah dan pedang dari musuh sehingga mereka tewas.
Wakil Kapten yang mengepalai kelompok itu, berada di depan para prajuritnya yang kini tinggal puluhan orang saja, sambil melangkah ragu-ragu, dia memegang pedangnya, dan menghadapkan kepada pasukan Gamyung. Mereka semua tertawa, karena musuh tahu tidak ada harapan bagi seluruh pasukan Hanjang itu untuk bertahan hidup.
Matanya berubah menjadi merah, pedang tetsunya menginginkan darah, "Bangunlah jenderal, bangunlah ! biarkan aku mencicipi kembali, rasa pertempuran di medan perang, bangunlah ! kembalilah ke jati dirimu yang sebenarnya.
ditunggu season 2 nya😁😁
Sehat selalu 🙏🙏
Semoga dikehidupan nanti mereka berubah menjadi lebih baik👍🙏
Semangat terus berkarya Outhor, Qutunggu cerita2x yg lainnya💪🙏👍
Dan apakah Jendral Geem ayah dari Renzai tidak bisa membuat anaknya kembali menjadi baik🤔? Semangat Up dan sehat selalu buat Outhor💪🙏
Semangat terus ya Thor🙏👍
Semangat selalu outhor💪🙏
Lanjut Up dan Up, semangat 💪🙏