Kisah Andira Gracelia Prastika Putri dan Axello Arkana Marvellyo yang dijodohkan kedua orang tua mereka dengan alasan untuk menjaga Dira.
"Dira, Bangun, Dir!" Ucap Axell pelan sambil menepuk pelan pipi Dira.
"Hey... Dira, Bangun!" Ucap Axell lagi sambil kembali mencoba menyadarkan Dira. Tak ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda Dira akan sadar.
Axell lalu menggendong Dira untuk ia letakkan diatas ranjang. Tak lupa ia melepas sepatu yang masih gadis itu kenakan. Lalu merogoh ponselnya dari dalam saku guna menelepon seseorang.
"Halo, om. Bisa datang ke apartemen Axell sekarang. Lantai 7 nomor 071?"
"(....)."
"Cepat, ya, om! Axell tunggu!"
Tuutt...
Axell lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan...
"Aarghh...!" Teriak Axell frustasi sambil mengacak rambutnya kasar. Ia mengerutuki kesalahannya sendiri karena gagal menjaga gadis yang berstatuskan istrinya.
"Sorry, Dir! Gue...
Apakah mereka akan bertahan dengan pernikahan mereka atau malah berpisah? Bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iu.rahma93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Ganggu banget.
"Sorry, kak. Lama." Ucap Dira sesaat setelah masuk mobil Axell. Axell diam, hanya menatap sekilas ke arah Dira. Ia tak habis pikir dengan gadis itu. Kenapa hanya untuk sekedar masuk ke dalam mobilnya, iya harus menunggu dulu sampai keadaan benar-benar sepi? Apa sebegitu tak maunya orang lain tahu, kalau mereka berangkat dan pulang sekolah bersama? Begitu pikir Axell.
Masih betah dengan diamnya kini Axell mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir sekolah. Saat di tengah jalan tiba-tiba ponsel Axell berbunyi karena adanya panggilan masuk.
Drrtt... drrtt...
📲 Bunda is calling...
"Halo, Bun."
"(....)."
"Sudah, Bun. Ada apa?"
"(....)."
"Kebetulan ini Axell juga mau ke sana, Bun."
"(....)."
"Baik, Bun."
Tuutt...
Telepon dari Bunda Resti itu pun berakhir. Untuk sejenak keheningan menyapa keduanya, sampai akhirnya Axell membuka suara. "Dapat salam dari bunda." Ucap Axel tiba-tiba dan seketika membuat Dira menoleh ke arahnya.
'Eh...'
"Bunda?" Ulang Dira.
"iya... Em... Dir, gue boleh nanya sesuatu sama Lo?" Tanya Axell pada gadis di sampingnya itu.
"Mau tanya apa, Kak? Tanya Dira balik.
"Sebelum Lo nikah sama gue, Lo udah berapa kali ketemu sama Bunda?" Tanya Axell sambil fokus menyetir. Axell penasaran Dira terlihat mudah berbaur dengan bundanya.
Dira diam seraya berpikir, berapa kali ia bertemu dengan Bunda Resty sebelum ia menikah dengan Axell. "Cuma tiga kali, Kak." Jawab Dira yang mendapat angkutan kepala dari Axell.
"Ketemu di mana?" Tanyanya lagi.
"Di Mall, di rumah, sama...
"Di butik waktu itu?" Tebak Axell sambil memotong apa yang akan Dira ucapkan.
"Iya, kak. Tapi, kak... kita mau ke mana?" Tanya Dira ingin tahu ke mana Axell membawanya saat ini. Karena jalan yang dilewatinya bersama dengan Axell sekarang berbeda dengan arah menuju ke apartemen.
"Pulang." Jawab Axell singkat.
"Pulang. Tapi kok lewat sini?" Tanya Dira lagi. namun Hening, Axell enggan menjawab apa yang Dira tanyakan padanya. Sampai pada akhirnya mobil yang mereka naiki memasuki kawasan perumahan elit The Royal palace.
Tiinn... tiinn...
Bunyi klakson mobil yang meminta pada pak Udin untuk membukakan pintu gerbang untuknya. Setelah pintu gerbang terbuka dengan sempurna, Axell kembali menjalankan mobilnya dan memasuki garasi.
Saat Axell dan Dira turun dari mobil mereka langsung disambut oleh Bunda Resty. "Hai sayang, bagaimana sekolahmu hari ini?" Tanya bunda Resti sambil memeluk menantunya itu.
"Baik, Bun. Bunda gimana kabarnya?" Tanya Dira sembari melepaskan pelukannya dengan bunda Resty.
"Bunda baik, sayang. Apalagi kalau ketemu sama kamu. Dira tahu tidak, Bunda kangen sekali sama kamu, sayang?" Ucap bunda Resty sambil mengusap rambut Dira dengan sayang.
"Dira juga seneng bisa ketemu sama bunda?" Jawab Dira yang terlihat bahagia bisa bertemu kembali dengan mertuanya itu.
Sementara itu, Axell menarik kedua sudut bibirnya setelah menyadari satu hal. Ternyata Dira, istrinya itu bisa sedekat ini dengan bundanya. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Berbeda jika dengan dirinya yang setiap hari bertemu bahkan tinggal bersama. Tapi entah mengapa Axell merasa seperti ada sekat di antara mereka.
Jika Axell sepertinya sudah mulai bisa untuk menerima keberadaan Dira di hidupnya, tapi entah dengan gadis itu. Apakah ia juga sudah mulai bisa menerima Axell atau bahkan belum sama sekali? Entahlah, Axell tidak tahu. Mungkin, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Cukup lama Axell memperhatikan keduanya, sampai akhirnya Axell memilih untuk pergi ke kamarnya. "Axell ke kamar dulu ya, bun." Ujar Axell lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Tunggu, boy!" Cegah bunda Resty yang menghentikan putranya itu.
"Ada apa, Bun?" Tanya Axell yang mengurungkan langkahnya untuk menaiki tangga.
"Istrinya di ajak, dong! Masa di tinggalin gitu aja?" Ucap bunda Resty yang mengingatkan putranya itu.
Axell mengernyitkan dahinya bingung sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Bukankah bundanya dan Dira tadi asyik ngobrol berdua bahkan sampai melupakan Axell yang juga ada di antara mereka.
"Perasaan dari tadi Axell di cuekin!" Protes Axell pada bundanya.
Bunda Resty tersenyum mendengar apa yang Axell katakan, "Maaf, boy. Tadi bunda saking senengnya kamu ajak menantu bunda kesini. Ya sudah, sekarang kamu ajak Dira ke kamar, gih. Kalian istirahat, pasti capek, kan?" Titah bunda Resty.
"Baik, Bun. Kalo gitu, Axell ke atas dulu ya, Bun." Pamit Axell sambil berbalik dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Iya. Jangan gangguin Dira dulu, boy. Biarin Dira istirahat dulu!" Titah bunda Resty.
Mendengar apa yang di katakan bunda Resty, mendadak angkah kaki Axell pun seketika terhenti saat sudah sampai di pertengahan tangga. Tak lama kemudian Axell mengangkat satu jempolnya sebagai jawaban.
'Emangnya gue mau ngapain sampai harus gangguin Dira?' Batin Axell bertanya.
Jangan tanyakan Dira, gadis itu kini tengah menahan malu karena apa yang baru saja di katakan oleh Bunda Resty tadi.
"Dira ke atas dulu ya, Bun?" Pamit Dira pada mertuanya itu.
"Iya, sayang. Kamu istirahat dulu, ya!" jawab bunda Resty.
...***...
Dira berjalan pelan menaiki anak tangga. Sampai akhirnya di lantai atas, gadis itu menjumpai banyaknya pintu. Dira jadi bingung sendiri, dimana letak kamar Axell.
"Gue masuk ke kamar yang mana?" Tanya Dira bingung sendiri. Sampai akhirnya terdengar salah satu dari pintu kamar itu terbuka dan menampilkan Axell yang sudah mengganti bajunya.
Ceklek...
Untuk sepersekian detik pandangan keduanya pun bertemu sampai akhirnya Axell kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara Dira hanya diam mematung di depan pintu. Dira bingung, harus masuk atau tidak.
Axell yang kembali masuk merasa Dira yang tak kunjung mengikutinya ke kamar pun kembali keluar.
"Nungguin apa? Masuk sini!" Ucap Axell memerintah. Dira lalu mengikuti langkah Axell untuk masuk ke kamar milik laki-laki itu yang sekarang juga menjadi kamarnya.
"Baju-baju Lo ada di lemari." Ucap Axell lalu membanting tubuhnya ke ranjang dengan posisi tengkurap.
Dira menganggukkan kepalanya lalu meletakkan tas sekolah yang sedari tadi masih melekat di punggungnya itu di atas sofa lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Dira memutuskan untuk mandi setelahnya.
Saat Dira membuka lemari, gadis itu terperangah melihat begitu banyaknya baju dan gaun yang sudah tertata dengan rapi didalamnya.
"Itu semua bunda yang siapin. Pakai yang menurut Lo nyaman!" Ucap Axell dengan mata terpejam. Dira kembali menganggukkan kepalanya. Tangan gadis itu lalu mengambil satu piyama dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Axell hampir tertidur sepenuhnya, ia mendengar ponsel milik Dira berdering. Awalnya Axell tak tertarik untuk melihat ponsel gadis itu. Tapi karena ponsel itu terus berdering, dan Dira tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi, jadilah Axell terpaksa bangun untuk melihat siapa yang menelepon Dira terus menerus sekarang ini.
📲 Arfen🙂 is calling...
Axell menarik satu alisnya saat mengetahui ternyata Arfen yang sedang menelpon Dira saat ini. Cowok yang Nayla sebut sebagai sahabat Nayla dan Dira tersebut. Ralat, bukan hanya sahabat. Melainkan sahabat tapi suka, itu versi yang pas menurut Axell.
Memang dari dulu hubungan keduanya agak kurang baik. Bahkan jauh sebelum Axell mengenal Dira. Tapi kenapa sekarang rasa tak suka Axell terhadap Arfen semakin bertambah akhir-akhir ini? Apa mungkin karena Axell yang kembali teringat masalah yang dulu? Atau karena Arfen yang sering menghubungi Dira yang notabene istrinya itu? Entahlah, Axell tak tau. Kenapa ia semakin memberi Arfen sekarang ini.
'Ck. Ganggu banget!' Batin Axell berdecak kesal. Tanpa membuang waktu, Axell lalu menggeser tombol hijau pada layar ponsel yang menyala tersebut.
"(....)."
Axell masih dia mendengarkan sembari membiarkan orang di seberang sana mengutarakan maksudnya. Sampai pada akhirnya ia berkata, "Sorry, salah sambung." Dan...
Tuutt...
Dengan sengaja Axell memutus sepihak sambungan telepon dari Arfen tanpa membiarkan orang di seberang sana bertanya, dengan siapa ia berbicara?
Dengan cepat, sebelum Arfen kembali menelpon ponsel Dira, Axell langsung menon-aktifkan ponsel gadis itu agar Arfen tidak kembali menghubungi Dira untuk beberapa saat. Axell lalu kembali meletakkan ponsel tersebut di atas meja lalu kembali berbaring seperti semula.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Dira yang sudah selesai membersihkan diri. Terlihat begitu segar dan...
'Cantik.' Batin Axell.
Dira menyisir rambutnya sejenak dan berjalan menuju ke ranjang yang sama dengan Axell lalu berbaring di sana. Gadis itu memutuskan untuk tidur sebentar.
Sementara Axell, laki-laki itu menarik satu sudut bibirnya mengetahui Dira yang tak berniat melihat ponselnya yang sudah Axell nonaktifkan tadi.
"Selamat tidur."
aku senang sekali kk update lagi🎉🎉
Terima kasih kak🙏