Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kringgggggggg
Bel berbunyi nyaring menandakan jadwal pulang sekolah. Dena langsung keluar dari kelas begitu guru yang mengajar meninggalkan kelas.
Flashback on
"Gue---"
"Maaf, Fik."
"Na?"
"Lo pasti tau kan jawaban dari perkataan gue tadi. Maaf, kalo jawaban itu bikin lo sakit hati."
"Oke. Gue tau kok. Gue cuman mau ungkapin perasaan gue aja selebihnya itu keputusan lo mau nerima apa enggak."
"Huuuuuuuuuuu..." sorakan ramai mereka dapatkan. Setelah melakukan penolakan, Dena langsung kembali ke kelasnya.
Flashback off
"Langsung pulang, Non?" tanya Pak Haryo begitu Dena masuk ke dalam mobil.
"Hmmm iya, Pak."
"Baik, Non."
Selama menempuh perjalanan pulang, Dena tidak banyak berbicara. Gadis itu hanya diam sembari menyandarkan kepalanya.
"Sudah sampai, Non." ujar Pak Haryo memberitahu, kini mereka sudah berada di pekarangan rumah Dena.
"Iya, Pak, makasih. Dena masuk dulu." balasnya lalu keluar dari mobil. Perlahan memasuki rumah megah itu, lalu disambut oleh para pelayan. Dena sempat mengernyit saat melihat mobil Papanya terparkir indah di halaman rumah.
"Bik, mobil Papa kok ada?" tanya Dena sempat berhenti melangkah.
"Tuan sudah pulang, Non. Ada di atas di kamarnya lagi istirahat."
"Di kamar? Tumben banget Papa udah pulang jam segini." gumamnya lalu menaiko anak tangga menuju kamar Papanya.
Rumah megah itu memiliki dua tangga. Tangga pertama terletak berdekatan dengan ruang tengah sedangkan tangga yang kedua itu berdekatan dengan dapur. Dena menempati tangga yang berdekatan dengan dapur sedangkan Papanya menempati tangga berdekatan dengan ruang tamu.
Dengan langkah pasti Dena membuka pintu kamar Papanya. Kepalanya menyembul sedikit melalui celah-celah pintu yang terbuka.
Sedikit penasaran Dena perlahan melangkahkan kakinya masuk. Ia melihat Papanya yang sedang tertidur di kasur dengan selimut tebalnya.
Pelan-pelan Dena mendudukkan bokongnya ke sisi kasur, mengamati lekuk wajah sang Papa yang terlihat sayu.
Tangannya tergerak menyentuh dahi sang Papa yang ternyata sangat panas. "Papa sakit?" ucapnya pelan.
Ia turun kembali ke bawah, meminta pelayan menyiapkan air hangat di dalam baskom. Lalu kembali naik sambil membawa handuk kecil di tangannya.
Tas yang ia kenakan pun masih terpasang di punggungnya. Saking khawatirnya, ia sampai lupa untuk mengganti seragam sekolahnya dan juga makan siang. Gadis itu tertidur seusai mengompres Papanya dengan posisi terduduk dan kepala di atas kasur.
Merasakan tangan panas menyentuh wajahnya, Dena menjadi terbangun. Sayup-sayup ia membuka matanya perlahan dan melihat Papanya yang sudah terbangun.
Tangannya terarah menyentuh dahi sang Papa, ternyata kompresnya sudah dilepas.
"Papa gak pa-pa kok." ujar Wira tetap tersenyum.
Dena hanya diam, melihat Papanya cukup lama dan akhirnya bangkit berniat keluar.
"Mau ke mana, Sayang?"
"Ke kamar, Pa, ganti baju." balas Dena.
Wira hanya mengangguk, sebentar ia menunggu kemudian Dena sudah kembali lagi dengan pakaian santainya.
"Papa udah minum obat?" tanya Dena mendekat.
"Udah kok tadi."
"Kalo sakit kenapa masih ke kantor, Papa?"
"Tadi baik-baik aja kok. Tapi pas udah siang kok jadi panas. Yaudah Papa balik trus kerjaan Papa suruh Om Steve."
"Besok gak usah kerja dulu, Pa. Oh ya, Papa ada nomor ponsel Kakak itu gak?" tanya Dena teringat akan sesuatu.
"Kakak siapa?" Wira balik bertanya.
"Itu loh, Pa. Yang waktu itu pingsan trus Papa bawa ke ruangan Papa."
"Owh itu. Gak ada kayaknya. Kamu tanya Om Steve aja."
"Pinjam ponsel Papa lah."
"Ada tuh, di saku jas Papa yang digantung. Ambil aja."
Dena menurut, ia merogoh saku jas Papanya dan menemukan ponsel milik Papanya.
Tuttt tuttt
"Iya, Tuan?"
"Ini Dena, Om."
"Oh, Nona. Kenapa?"
"Dena mau tanya, Om. Om ada nomor ponsel Kakak-kakak yang kerja dibagian administrasi gak?"
"Siapa, Non? Yang mana nih?"
"Itu loh, Om. Yang karyawan baru."
"Cahya Nabila dari bagian administrasi?"
"Iya itu, Om. Ada gak?"
"Bentar ya? Om cari dulu. Rasa-rasanya ada."
"Oke, Om. Nanti langsung dikirim ya?"
"Iya."
Panggilan Dena putuskan. Ia menyimpan ponsel Papanya di atas nakas.
"Kenapa tanya-tanya soal karyawan Papa?"
"Gak pa-pa, Pa. Itu kan temen Dena. Masa gak ada nomor ponselnya sih?"
"Temenan kok sama orang tua? Emangnya kamu gak ada teman yang lain apa sampai-sampai mau temanan sama orang tua?"
"Jangan ngejelekin. Papa juga udah tua jadi gak usah jelek-jelekin orang." balas Dena tanpa perasaan.
Wira terlihat kelabakan. Ucapannya sendiri menjadi boomerang untuk dirinya.
"Maksud Papa tuh bukan gitu loh, Sayang."
"Apa? Mau larang Dena temanan?"
"B-bukan gitu, Sayang."
"Yaudah. Papa diam aja. Noh, Om Steve udah ngirim nomor ponselnya. Papa diem aja jangan nyaut."
"I-iya i-i-ya."
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..