NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa / Tamat
Popularitas:824.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Seasons 1:

Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.

Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?


Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :


Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 33

Zafran tidak henti-hentinya mengecup pucuk kepala gadis yang berada di rangkulannya itu. Sejak Zafran memberitahukan bahwa dirinya akan ditugaskan ke luar kota, sejak saat itu dia tidak mau menyia-nyiakan waktu yang tersisa.

"Hari ini jadi ke rumah aku?" tanya Zafran sembari melihat Ceisya.

"Terserah Om. Kan yang ngajakin itu Om." jawab Ceisya pasrah.

"Tidak mau menginap? Besok kan weekend."

"Jangan deh."

"Kenapa? Mama di rumah sudah nungguin kamu main lho. Memangnya kamu tidak kangen dengan Kak Emi. Sekarang perutnya sudah membuncit." pancing Zafran. Saat dia memberitahu Mama Tina, saat itu juga sang Mama sudah menyuruhnya untuk mengajak Ceisya berkunjung ke rumah mereka.

"Lihat saja nanti ya, Om." balas Ceisya.

"Huummm... baiklah."

"Om, rambutku jangan dimainin dong. Berantakan tau." protes Ceisya karena sedari tadi Zafran terus memainkan rambut Ceisya, sesekali didandannya, diputar, dicium.

"Wangi. Aku suka." ujar Zafran tersenyum membuat Ceisya memutar bola matanya.

Saat ini mereka berada di sebuah restoran di ruang VVIP.

"Lepas ih, Om." ujar Ceisya seraya menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Zafran.

Tapi, usahanya sia-sia. Zafran tetaplah Zafran. Pria itu menggeser tubuhnya mendekati gadis itu.

Ceisya hanya menghela nafasnya panjang. Percuma dia bergeser menjauh. Lah, pria disebelahnya itu sangat kekeuh tidak mau dijauhi.

"Jangan jauh-jauh. Sudah cukup nanti 2 bulan kita berjauhan." ujar Zafran yang kini mulai menggombal. Entah sejak kapan jiwa gombalnya itu ada. Dan panggilan mereka pun sudah berubah menjadi aku-kamu. Terkadang Zafran memanggil Ceisya sayang.

"Lebay, Om, lebay."

"Tidak kok. Ini tuh naluri. Memangnya nanti kamu tidak kangen sama aku?"

"Tidak sama sekali." balas Ceisya sedikit ketus.

"Ih! Kok gitu sih kamunya." rengek Zafran.

"Apa?" tanya Ceisya tanpa dosa.

Langsung saja Zafran membaringkan kepalanya di paha Ceisya yang saat itu duduk di sofa panjang. Pria itu meluruskan kakinya agar tidak kaku nantinya.

Sontak saja Ceisya mengangkat keduanya tangannya ke atas. "Om, ngapain sih!? Bangkit dong." protes Ceisya.

"Baring sebentar." dengan santai Zafran memejamkan kedua matanya. Tangannya terulur mengambil tangan Ceisya lalu dia letakkan di atas kepalanya. "Elus-elus." pinta Zafran tanpa membuka matanya.

Dengan ragu Ceisya mengelus kepala pria yang terbaring di atas pahanya. Membelai rambut pria itu yang tidak terlalu panjang.

Tersirat rasa rindunya kalau membayangkan pria itu akan bertugas. Karena selama ini kehidupannya sedikit berwarna dengan kehadiran pria itu. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu melamun hingga dia dikejutkan oleh tangan Zafran yang memegang tangannya, menghentikan elusan dikepalanya.

Zafran, pria itu sudah membuka kedua matanya entah sejak kapan.

"Kenapa, hmm?" pria itu membawa tangan Ceisya untuk dikecupnya.

"Tidak, Om."

"Beneran?"

"Iya."

"Itu makanannya tidak dimakan?" tanya Zafran mengingat gadis itu hanya memakan makanannya sedikit. "Mau dipesankan yang baru? Soalnya itu sudah dingin." tawar pria itu.

"Jangan, Om. Aku sudah kenyang."

Zafran hanya mengangguk pasrah, tidak mau memaksa.

"Baiklah."

Zafran kembali memejamkan matanya. Kali ini dia tidak meminta Ceisya untuk mengelus kepalanya. Namun, rupanya itu dia gantikan. Pria itu membenamkan kepalanya tepat di perut Ceisya hingga membuat gadis itu memekik kegelian karena Zafran terus menduselkan kepalanya.

"Geli, Om. Jangan gini ih!" Ceisya sedikit tertawa kegelian.

"Gimana? Gini?" bukannya menghentikan, pria itu malah semakin menjadi.

"B-bukan gitu. Om, geli... hahahaa. Lepas, Om!" pinta Ceisya sekali lagi, dia tidak tahan dengan rasa geli yang menyerangnya.

"Oke, oke. Aku berhenti." ujar Zafran karena tidak tega melihat gadis itu tertawa sampai-sampai mengeluarkan air mata.

"Cengeng banget sampai nangis gini." tangan Zafran terulur menghapus sudut mata Ceisya yang mengeluarkan air mata.

Zafran bangkit dari barangnya, pria itu mengambil segelas air dan meminumnya.

Dia kembali menyamping, mendempetkan badannya lebih dekat. Menatap intens gadis itu. Ceisya yang ditatap seperti itu seketika gugup dan sedikit salting.

"Jauhan dikit, Om." pinta Ceisya sambil tangannya mendorong sedikit pria itu, berharap Zafran sedikit menjauh. Tapi, bukannya menjauh malah pria itu semakin mendekat.

"Semakin kamu menjauh, maka aku akan semakin mendekat."

"Jangan tegang. Kamu makin cantik kalau lagi tegang gitu." ujar Zafran seraya menjauh membuat Ceisya mengelus dadanya pelan.

Mendekatnya pria itu membuat Ceisya sedikit waspada. Jantungnya menjadi tidak normal.

"Mau ke mana lagi? Langsung ke rumah saja ya?"

"Boleh." jawab Ceisya.

Sebelum pergi, Zafran terlebih dahulu membayar makanan mereka baru setelah itu mereka pulang.

"Sini!" Zafran merebut seatbelt yang dipegang Ceisya. Lalu dia memasangkannya ke tubuh gadis itu.

"Om, singgah dulu ke supermarket."

"Mau ngapain?" tanya Zafran bingung.

"Mau beli buah tangan dulu. Masa mau main bawa tangan kosong."

"Tidak perlu. Cukup kamu datang Mama sudah senang."

"Iya deh." jawab Ceisya pasrah.

"Pinter. Jadi makin sayang." Zafran sempat-sempatnya mengelus kepala Ceisya saat dirinya tengah fokus mengemudi.

"Kalau tidak pintar?"

"Ya, sama saja. Mau kamu pintar atau tidaknya asal aku sayang."

"Huekk..." Ceisya berpura-pura muntah saat mendengar perkataan pria itu.

"Kenapa, Sayang? Mabok yah?" tanya Zafran sedikit terkekeh.

"Iya, mabuk!" sungut Ceisya.

"Jangan mabuk perjalanan ya. Cukup dimabuk cintaku saja jangan yang lainnya."

"Terserahmu lah, Om. Kesel aku lama-lama!"

"Jangan kesel, Sayang. Oh ya? Kamu kesel kenapa, hm? Apa karena belum aku sun-in?" ujar Zafran asal.

"Haaa? Apa? Mimpimu!" balas Ceisya sedikit berteriak, menatap Zafran tajam.

"Hahahaa... ngegemesin banget sih kamu, Sayang. Jadi kepengen nyium beneran deh. Tunggu ya? Sebentar lagi kita sampai." ujar Zafran tidak sabaran.

"Apa? Mau apa?"

"Tidak. Sudah, kamu duduk santai saja. Atau mau bobok juga tidak apa. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai rumah."

"Hemmm..." Ceisya hanya bergumam.

Sepanjang perjalanan, Ceisya tidak tidur. Gadis itu terlihat fokus menatap layat ponselnya. Sesekali dia menscroll layar ponselnya.

Tidak terasa kini kendaraan Zafran sudah berada di halaman rumahnya. Pria itu tidak segera turun begitu juga dengan Ceisya. Gadis itu tidak turun lantaran Zafran menahannya.

"Apa, Om?"

"Tidak. Hanya mau menatap gadis pujaan sebelum masuk ke rumah."

"Gombal."

"Aku tidak gombal, Sayang. Tapi itu fakta. Fakta yang tidak bisa aku ubah."

"Udah ih, Om."

"Tunggu dulu."

"Apa lagi?"

"Ini...!"

"Mesum banget!" Ceisya memukul lengan pria itu.

"Ayo dong, Sayang. Sekali aja ya? Bentaran doang deh." bujuk Zafran memasang muka memelas.

"No!" Ceisya menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.

"Sekali saja."

"Aku tetap tidak mau!"

"Yasudah. Kita di sini saja sampai besok. Ah ya, sekalian sampai bulan depan... tahun depan... atau abad depan?"

"Ternyata Om itu suka memaksa ya?"

"Aku? Tentu saja. Aku kali ini sangat memaksa."

"Om menyebalkan."

"Memang. Dan kamu menggemaskan."

"Om, buka pintunya. Aku tidak bisa keluar." rengek Ceisya.

"Tapi ini dulu, Sayang."

"No!"

"Yasudah."

"Om."

"Apa?"

"Jangan gini."

"Apa?"

Ceisya menghela nafasnya berat.

"Bentaran tapi ya?"

Wajah Zafran langsung sumringah. "Serius mau?"

"Yasudah, tidak jadi."

"Eh! Iya, iya. Bentaran tidak apa-apa."

"A-aku... malu, Om. Nanti ada orang."

"Tidak akan. Percaya saja. Oh ya. Ini jendela kacanya juga gelap jadi tidak kelihatan."

Zafran sedari tadi tetap di posisinya. Memajukan wajahnya.

"Ayok! Katanya mau cepat masuk ke dalam." pancing Zafran.

"Om, tutup matanya."

"Baiklah." Zafran menurut.

Ceisya menarik nafasnya dalam sebelum memulai aksinya itu. Jantungnya berdetak tidak karuan.

Cup

Sekilas. Tapi...

"OM!" teriak Ceisya kesal dengan nafas yang tersengal-sengal.

Zafran hanya tersenyum puas. Dia mengelap sudut bibirnya yang basah menggunakan jari jempolnya.

Klik

"Silahkan, Tuan Putri. Pintunya sudah bisa dibuka." ujar Zafran dengan tampang wajah tanpa dosa.

1
Nhierwana Bundanya Al
bab ini q ngerasa baca di ulang2
Dewi Kasinji
ijin baca kak
JANE ARDIANA
Luar biasa
JANE ARDIANA
Lumayan
Zahra Nadira
aku ktwa dibagian ini ,🤣🤣🤣🙏
Dilalisa Lisa
Biasa
Dilalisa Lisa
Kecewa
Dela Sapitri
Masya Allah👍
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
pedagang berkaki lima,,maksudnya pedagang kaki lima ya kak??😂
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜: ampun dah 😂
ok lanjut baca
total 2 replies
Trisna Savitri
babag tamvan 🥰🥰🥰🥰
Santy Susanti
bari berapa ban udah suka sama alurnya semngat i
yustina arie
Luar biasa
Irfan Nona Vanessa
menarik😍😍😍
Bungsu_Fii: makasih udh mampir kak🤗 semoga suka 🥰
total 1 replies
Eka Kurniawati
😘😘😘
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Tri Susanti
wkwkwkw.... kapan thor disatuin mereka udah gak sabar
Tri Susanti
lanjut thor
Lena Kasenda
thoor masa selama Ceisya di rawat sampai sdh pesantren pacarnya yg polisi tdk ada kabar
Bungsu_Fii: hehe, itu ceritanya om polisi lagi nugas kak dan waktunya cukup lama 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!