21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, alkohol, kata-kata kasar, dan gaya hidup bebas]
Sebuah cinta segitiga yang menghadapkan Kenny Charlotte Cullen pada sebuah kisah yang penuh amarah, nafsu, cinta, tawa, dan tangis dengan dua pria yang benar-benar mencintainya dengan cara yang berbeda.
-Kau adalah kelemahanku-
~Scout Damian Sharp
-Aku bertahan karena tanpamu aku tidak tau bagaimana caranya hidup-
~Harry Julio Smith
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggoda.
Happy Reading. Like, koment, kasih bintang atuh... Biar makin semangat ngetik..
***
Kenny POV
"Ken... Saat sesorang mencari masalah padaku, hukumannya adalah mata ganti mata dan gigi ganti gigi..."
Aku segera menangis sesaat Scout menyelesaikan ucapannya. Aku mengerti. Ini konsekuensi yang harus kutanggung. Akan tetapi, bisakah Scout tidak semenakutkan ini?
Hari-hari yang kunikmati beberapa bulan ini, semua berkat Scout. Dia memberiku apa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, dan melihat dia di posisi ini, benar-benar menakutiku.
Aku segera duduk berlutut di lantai. Menunduk dan menangis, membasahi pahaku. Aku tidak ingin lagi merasakan sakit itu, aku tidak mau bergantung pada morfin sialan itu, dan aku tidak mau mimpi buruk apapun.
"Scout.... Please...."
****
Scout POV
Aku melihat Ken bersimpu di depanku. Hatiku hancur melihatnya.Seluruh tubuhya bergetar oleh perasaannya yang tidak kumengerti. Isak tangisnya yang di tahan membuatku semakin buruk. Sial. Ken... Sial.
Aku melempar sembarangan tali pingganggku dan segera mengangkat badannya ke dalam pelukanku. Aku melingkarkan tanganku pada tubuh mungilnya, mengelus rambutnya, mengecupnya penuh cinta.
"Menangislah....Jangan menahannya jika berat, Ken....." bisikku dan di sambut dengan tangisan Ken yang menjadi-jadi.
"Maafkan aku.... Maafkan aku...." dia berteriak dalam tangisnya.
Aku diam. Aku belum dapat memutuskan untuk memaafkannya. Belum.
"Scout... Maaf.... Maaf....Maaf...." begitulah Ken menghabis malamnya dengan menangis seraya memohon maaf dariku, akan tetapi aku hanya bisu.
Lama dia menangis, hingga terlelap dalam pelukanku. Aku membaringkannya di tempat tidur. Aku mengelus rambutnya. Setelahnya, aku bangkit berdiri meninggalkan Kenny di kamar. Aku tidak tau permohonan maafnya untuk apa. Atau mungkin dia mengucapkan itu hanya karena terdesak oleh kondisi. Saat ini, aku hanya bisa menunggu perkembangan kisah sialan ini.
****
Kenny POV
Cahaya matahari yang masuk dari celah-cela jendel membuatku menyergitkan mata. Aku menggerak-gerakkan badanku, lalu berusaha membuka mataku yang menempel karena kotoran mata yang mengering.
Aku berdiri dan menuju wastafel kamar mandi, memcuci wajahku, dan melihat diriku yang menyedihkan karena menangis semalam suntuk. Aku menekan-nekan kantung mataku yang membengkak secara mengerikan. Persetan dengan wajahku.
Aku keluar dari kamar mandi dan menatap tempat tidur. Apa Scout tidur di sini semalam? Aku melihat jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kelasku dimulai pukul dua belas ketika jumat.
Aku berpikir-pikir untuk absen, namun kuurungkan karena hanya akan membuatku semakin buruk jika mengingat kejadian kemarin. Scout lah yang kupikirkan saat ini. Bagaimana perlakuannya semalam begitu mengejutkanku.
Kupikir dia akan menyakitiku secara fisik, tapi dia menenangkanku walau dia tidak menjawab apa pun soal permintaan maafku. Lalu, soal Harry, aku belum bisa memutuskan apa pun tentang kami. Aku hanya butuh waktu menjernihkan pikiran dan setelahnya aku harus memperjelaskan apa yang perlu dijelaskan.
Itu bisa kulakukan nanti, sekarang aku harus mandi dan melakukan aktivitas pagiku. Aku menyelesaikan aktivitas pagiku dan berjalan keluar. Saat menyusuri tangga, aku melihat beberapa kurir membawa piano, harpa, gitar, dan alat musik yang lain ke sayap kanan rumah.
Aku menggigit bibir. Sial, apa ini perbuatan Scout? Apa dia tidak memperbolehkan aku keluar rumah lagi dengan membeli semua ini?
Aku berjalan ke dapur seraya melihat orang-orang yang sibuk itu, si dapur mendapati Sarah berdiri.. Oh Yess... Kupikir aku akan melihat si sin*ting Jenn.
"Pagi, Mrs."
"Pagi..." ucapku riang.
"Saya hanya ingin menyampaikan ini..." dia membriku kertas tebal berwarna biru lembut yang nampak keren.
"Apa ini?"
"Anda bisa membacanya sendiri, Mrs. Saya tunggu di mobil dan selamat menikmati sarapan Anda." Aku duduk di kursi-meja makan dan membuka lipatan kertas itu.
*Ken, nikmati waktu dan musikmu. Selesaikan apa yang perlu diselesaikan karena aku tetap menunggumu.
~Scout~
Aku tidak mengerti sepenuhnya maksud Scout, tetapi apapun itu, dia berusaha tidak marah padaku. Jujur, aku mulai malas dengan perasaanku yang membingungkan ini. Selalu plin-plan.
Sekarang, aku semakin bersalah pada Scout. Kenapa dia menungguku? Dia menyukaiku? Mana mungkin, bod*h... Kenapa dia membeli alat musik sialan itu? Padahal, tidak ada yang tau sampai kapan aku akan di sini.
Aku memilih memakan sarapanku, berusaha membuang segala pemikiran yang membuatku lemas setiap mengingatnya.
"Morning, Ken.." sial, aku kehilangam nafsu makan sekarang berkat Jenn. Thank you, Jenn. Dia sudah mulai berjalan normal, tetapi dengan tongkat tentunya. Kapan si sialan ini angkat kaki dari sini. Lalu dia duduk di depanku. Bagus. Bagus sekali, aku akan memuntahkan makanan segera.
"Bagaimana kencanmu kemarin dengan Scout? Atau dengan selingkuhanmu?" aku berusaha membuat wajahku datar dan mengabaikan si sialan ini. Tukang provokasi sialan.
"Scout pasti sangat menyanyangimu yah. Berselingkuh malah dapat hadiah..." dia tertawa riang dan suara jenakanya membuatku naik darah. Aku tidak memakan makananku lagi. Si b*rengsek ini mengacaukan semuanya.
"Kau mengabaikanku? Padahal kita teman."
Aku berjalan meninggalkan dapur. Persetan dengan omong-kosongmu.
"Ken... Scout memiliki batas kesabaran. Dan jika saat itu tiba, aku akan mengambil alih posisimu." aku berhenti dan memutar tubuhku padanya.
"Mengambil alih posisiku? Itu memang tepat untuk manusia sepertimu. Kau sangat cocok dengan segala bentuk yang berbau 'bekas'. Nikmati waktumu, sebelum kupatahkan lehermu, sialan." dengan itu aku segera pergi dan merasa lega setelah mengancam si rubah ini. Lain kali, aku harus menampar mulut sialannya itu.
****
"Mrs.Sharp....." pelatihku menggeram marah lagi. Aku menghentikan permainanku. Ini adalah kesalahanku yang kesekian kalinya. Aku benar-benar tak fokus.
"I'm sorry..."
"Lupakan, Mrs. Sharp.... Saya akan ke murid yang lain. Tolong perbaiki suasana hatimu.Ulangi lagi latihannya." Pelatihku segera bergerak keluar dari ruangan. Aku bangkit berdiri dan duduk di kursi yang memiliki senderan.
Aku melihat layar ponselku. Scout tidak membalas pesanku, bahkan pesan itu belum juga centang dua. Aku menelponnya beberapa kali sejak pagi, namun tak ada tanda-tanda.
Apa dia sesibuk itu?
Aku memilih tidak menghubungi Harry untuk sementara waktu. Tidak setelah aku menghancurkan hatinya. Aku sudah memutuskan bahwa yang terbaik untukku dan Harry adalah sebatas teman.
Aku tidak mau membuat dia bingung. Sebentar aku membuatnya melayang, lalu membuat jatuh. Kemudian mengangkat dia lagi dan membuatnya jatuh lagi. Begitulah proses itu terus terjadi. Dan itu hanya akan membuat dia semakin hancur.
Yah benar, jika aku mengakhiri apa pun di antara kami, dia akan hancur. Namun, itu lebih baik dibandingkan aku mengangkat dan menjatuhkannya berulang kali.
Dan Scout... Aku masih bingung. Dia selalu membuat perasaanku naik-turun. Sikapnya tidak terduga. Dia misterius. Sangat misterius. Ingin rasanya aku memiliki alat ajaib untuk membaca pikiran dan hatinya.
Akan tetapi, semakin ke sini,entah mengapa penilaianku tentang Scout semakin berubah. Aku dulu sangat takut padanya, tetapi sekarang aku melihatnya lebih baik dan lebih manusiawi. Dan pertanyaan kembali, kenapa dia berubah?
Itu membuatku frustasi. Aku menarik napas sebelum suara pintu terbuka mengejutkanku. Oh my.. Itu Edward, pemilik studio ini dan bukan pelatihku yang galak.
"Anda nampak sangat terkejut, Mrs." dia tersenyum sangat manis. Hell yah.. Siapa pun yang memiliki kekasih seperti dia, maka dia sangat beruntung.
"Kupikir, kau Pelatih Chou." dia bergabung duduk denganku dengan jarak aman. Lalu aku menyadari, aku berbicara non-formal padanya
"Dia orang paling kompeten di sini dan dia salah satu aset terbaik saya."
"Bicaralah yang santai denganku, pembicaraan formal bisa membunuhku. Umurku masih 27 tahun awal."
Dia terkekeh.... Tawanya sangat renyah.
"Saat bermain musik, suasana hati adalah yang terpenting."
"Kau benar..." aku berbisik.
"Kau mau secangkir kopi di ruanganku, kopi bisa memperbaiki sedikit suasana hati biasanya." Dia menatapku dan aku menatapnya. Senyum dan lesung pipinya begitu.... Err.... Aku ingin mencolek lesung pipi itu.
"Baiklah..."
Tidak ada salahnya untuk sebuah kopi bukan?
****
Mrs.Fox