NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Satu Meja di Kantin

Bel istirahat siang baru saja berbunyi ketika Nayla melangkah keluar kelas dan menyusuri lorong.

Koridor segera dipenuhi suara. Beberapa siswa berlalu-lalang dengan seragam setengah rapi, tawa dan keluhan soal panas bersahutan. Di tengah keramaian itu, langkah Nayla melambat tanpa ia sadari.

Keenan baru saja keluar dari ruang kelas.

Rambutnya sedikit berantakan, bukan karena gaya, melainkan seperti seseorang yang sempat memejamkan mata sebentar lalu bangun terlalu cepat. Sebotol minum tergenggam di tangannya. Bahunya turun sedikit—bukan lelah yang mencolok, hanya sisa capek yang belum sepenuhnya hilang.

Biasanya, suara Keenan sudah lebih dulu terdengar sebelum orangnya terlihat.

Tapi kali ini, tidak.

Ia berdiri di sana tanpa banyak gerak, tenang dengan cara yang asing—bukan dingin seperti Rakha, hanya… lebih sunyi dari biasanya.

Nayla menunduk, berniat langsung berbelok menuju kelasnya. Namun Keenan keburu menangkap keberadaannya.

"Oh—Nayla!"

Sapaan itu ringan, hampir ceria.

Nayla mengangkat tangannya sedikit. "Pagi."

"Pagi," balas Keenan. Senyumnya muncul begitu saja—lebar, tanpa beban.

Ada jeda di antara mereka.

Bukan canggung. Lebih seperti sesuatu yang sempat disadari, lalu dilewatkan begitu saja.

Keenan melirik jam di pergelangan tangannya, mendengus kecil.

"Eh," katanya sambil melangkah mendekat. "Makan bareng, yuk. Perutku dari tadi udah ribut sendiri."

Nayla terkekeh kecil. "Baru juga bunyi bel."

"Justru itu." Keenan menyeringai. "Sebelum antrean kantin jadi panjang, mending kita datang duluan."

Nayla menghela napas kecil, pura-pura pasrah. "Iya, iya."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju arah kantin. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak menjaga jarak. Keenan kembali mengoceh—tentang guru yang masuk telat, latihan sore nanti, hal-hal kecil yang biasanya Nayla dengarkan sambil lalu.

Namun kali ini, Nayla benar-benar mendengarkan.

Sekilas, ingatannya melompat ke kemarin. Ruang rumah sakit. Nada suara Keenan yang tiba-tiba lebih pelan. Tangannya yang sempat ragu sebelum diselipkan ke saku jaket.

Versi Keenan yang jarang muncul.

Sekarang, ia berjalan di sampingnya, ramai dan hidup seperti biasa seolah tak ada apa pun yang tertinggal.

Langkah mereka terhenti oleh sebuah suara keras dari depan.

"WOI."

Dimas.

Olan muncul di sampingnya, senyum lebarnya nyaris refleks. "Lah? Kalian barengan?"

Nayla baru membuka mulut, tapi Keenan sudah lebih dulu mengalihkan pandangan.

Ke satu sosok yang baru muncul di sisi Olan.

Rakha.

Tasnya tersampir di satu bahu. Langkahnya tenang. Wajahnya datar seperti biasa.

Begitu menyadari kehadiran Rakha, ekspresi Keenan berubah.

Alisnya terangkat tipis.

"Eh."

Tanpa banyak pikir, Keenan berbelok dan melangkah cepat. Gerakannya spontan, sedikit berlebihan—khas dirinya. Lengannya melingkar di leher Rakha dari samping, santai tapi mendadak.

Rakha tersentak. Pikirannya yang sempat melayang langsung kembali seketika.

"WOI—lepas!"

Keenan tertawa lepas. "Muka lu tegang amat."

Rakha menepis lengannya, tapi tidak benar-benar menjauh. "Minggir. Tangan lu berat."

"Biasanya juga nggak protes," balas Keenan enteng.

"Ngaco."

Olan terkekeh kecil. "Tumben akur."

"Enggak," sahut Rakha cepat, tatapannya mengeras ke arah Keenan.

Keenan hanya mengangkat bahu, senyumnya miring—jelas sengaja. "Yakin?"

"Nah kan," sela Dimas. "Cocok."

Nayla menahan senyum. Sekarang ia bisa melihatnya lebih jelas—cara Keenan otomatis jadi lebih jahil setiap kali berada di dekat Rakha, dan cara Rakha mengomel tanpa pernah benar-benar menjauh.

Bukan karena terpaksa. Lebih seperti kebiasaan yang sudah terlalu lama terbentuk.

Dimas menghela napas kecil, lalu menatap mereka bergantian. "Jadi? Kantin bareng?"

Tak ada yang menjawab.

Namun langkah mereka berbelok ke arah yang sama, nyaris bersamaan. Seolah keputusan itu sudah diambil tanpa perlu diucapkan.

Di perjalanan menuju kantin, suasana perlahan hidup kembali.

Atau—lebih tepatnya—Keenan yang menghidupkannya.

"Eh," katanya sambil berjalan sedikit mundur, menoleh ke mereka satu per satu. "Kalian sadar nggak sih? Muka Rakha barusan kayak orang ditagih utang."

"Mulut lu," potong Rakha cepat.

Olan tertawa. "Baru juga jalan bentar, udah ribut aja."

Nayla berjalan di tengah-tengah mereka, membiarkan suara itu mengalir di sekelilingnya. Pertengkaran kecil yang tidak pernah benar-benar jadi masalah. Tawa yang muncul tanpa perlu dicari.

Keenan tetap yang paling berisik—banyak bicara, banyak gerak, sesekali berlebihan. Versi dirinya yang selalu muncul di tengah keramaian.

Sesekali, di sela keributan, Keenan melirik ke arahnya. Cepat. Hampir tak kentara. Sekadar memastikan Nayla masih ikut berjalan.

Nayla membalasnya dengan senyum kecil.

Mereka tiba di kantin bersamaan dengan arus siswa lain. Suara langsung bertumpuk—kursi diseret, nampan beradu, pesanan saling tumpang tindih. Aroma gorengan dan nasi hangat memenuhi udara.

Rutinitas yang biasa. Dan justru karena itu, terasa nyaman.

"Gue bilang juga apa," gumam Dimas sambil menatap sekeliling. "Rame. Padahal kita udah datang duluan."

Olan mengedarkan pandangan, menghela napas pendek. "Kalau nggak gercep cari meja, kita makan di tempat lain nih. Jauh, males."

Keenan, yang sejak tadi justru terlihat makin bersemangat, langsung menunjuk ke arah pojok kantin.

"Eh—itu. Meja pojok masih kosong."

Tanpa disuruh, mereka bergerak hampir bersamaan, menyelip di antara siswa lain yang berlalu-lalang. Tapi begitu sampai, kenyataannya menyusul pelan dan sedikit kejam.

Mejanya memang kosong.

Kursinya cuma empat.

Hening sepersekian detik jatuh di antara mereka.

Rakha menatap deretan kursi itu, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah-wajah di depannya.

"Ada yang rela berdiri?"

"Jangan lihat gue," sahut Dimas cepat.

Olan bahkan sudah setengah duduk. "Punggung gue lagi ngambek."

Belum sempat Rakha menghela napas lebih panjang, Keenan sudah menoleh ke meja sebelah. Ia menarik satu kursi kosong dan menggesernya ke samping Rakha.

"Nih."

Rakha melirik kursi itu, lalu menatap Keenan. "Ribet banget, ya."

Keenan nyengir, santai. "Tapi kepake, kan."

Rakha mendengus kecil. Tidak membalas.

Ia menurunkan tas ke lantai lebih dulu, lalu duduk dengan gerakan singkat. Keenan menyusul di sebelahnya tanpa ragu, seolah posisi itu memang sudah ditentukan sejak awal.

Nayla duduk di seberang mereka. Dimas dan Olan mengisi sisi lainnya.

"Seriusan deh," gumam Rakha sambil merapikan posisi duduknya. "Udah kayak rapat OSIS."

"Kurang notulen," timpal Olan sambil menyengir.

Dimas sudah berdiri, satu tangannya menarik lengan Olan. "Pesan dulu deh. Kalian mau apa? Sekalian gue pesenin."

"Mie ayam," jawab Rakha tanpa mikir.

"Samain," sahut Keenan cepat.

Rakha melirik sekilas ke arahnya. Ada senyum tipis di sudut bibirnya—cepat, nyaris tidak tertangkap kalau tidak benar-benar diperhatikan.

"Ngikut-ngikut lu."

Keenan menyandarkan punggung ke kursi, mendengus kecil. "Geer banget lu."

Dimas terkekeh, lalu menoleh ke Nayla. "Kamu mau apa, Nay?"

"Ayam bledek," jawab Nayla ringan. "Level lima."

Dua kepala langsung menoleh bersamaan, Keenan dan Rakha.

Tatapan mereka sama. Ngeri.

"Level… lima?" Keenan memastikan, alisnya terangkat. "Itu makanan apa tantangan hidup?"

Rakha ikut menimpali, datar tapi jelas skeptis.

"Perut kamu kebal, ya?"

Nayla cuma tertawa kecil. Santai. "Tenang. Ini bukan pertama kali."

"Ya mudah-mudahan juga bukan yang terakhir," gumam Keenan.

Beberapa menit kemudian, pesanan datang satu per satu. Mangkuk-mangkuk panas diletakkan di meja, uapnya mengepul, aroma mie, ayam, dan sambal langsung memenuhi udara di antara mereka.

Keenan menarik mangkuknya lebih dekat, matanya berbinar. "Oke, waktunya—"

"Doa," potong Rakha cepat.

Keenan mengangguk patuh. "Iya. Doa dulu."

Ia lalu menoleh ke Nayla. "Biar Nayla selamat."

Nayla menggeleng sambil tertawa kecil.

Mereka menunduk sejenak. Singkat. Sederhana. Tapi entah kenapa terasa pas.

Sendok-sendok mulai bergerak, beradu pelan dengan mangkuk. Olan langsung menyeruput kuah seblaknya, sementara Dimas sibuk menakar sambal ke dalam mangkuknya sendiri.

"Gila," ujar Keenan di sela kunyahannya. "Gue laper banget."

Rakha melirik sekilas sambil menyeruput kuah mienya.

"Kalau gue pingsan," lanjut Keenan santai, "itu murni salah jadwal latihan lu."

"Lu masih hidup aja udah syukur," balas Rakha.

Olan tertawa, Dimas ikut nimbrung. Nayla hanya memperhatikan dengan perasaan berada di tempat yang tepat, di waktu yang tepat.

Di meja yang penuh suara, candaan, dan hal-hal kecil yang entah kenapa terasa penting.

Rakha melirik Keenan. Sekilas.

"Lu kenapa hari ini?"

Keenan mengangkat alis. "Kenapa apanya?"

"Lu emang rese," kata Rakha datar. "Tapi nggak serese biasanya."

Keenan berhenti mengunyah sesaat, lalu nyengir. "Cie. Merhatiin."

Rakha mendengus pelan. Tidak menimpali. Tapi sudut bibirnya bergerak tipis—nyaris tak terlihat.

Obrolan lalu mengalir ke hal-hal receh. Jadwal pelajaran yang mendadak berubah, guru olahraga yang katanya bakal bawa peluit baru, sampai gosip kecil soal pertandingan antar sekolah yang entah jadi atau tidak.

Topik-topik ringan. Yang biasanya lewat begitu saja.

Di tengah semua itu, Nayla merasa nyaman.

Bukan karena semuanya rapi atau sempurna. Justru karena tak ada yang perlu diatur.

Sesekali Keenan melirik ke arahnya—bukan tatapan lama, hanya cek singkat. Seperti memastikan Nayla masih di sana, masih ikut dalam dunia kecil di meja itu.

Nayla menangkapnya sekali. Lalu cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk mengaduk minumannya.

Dimas menyenggol Olan pelan.

Olan cuma nyengir.

Rakha menyadari itu juga. Tapi memilih diam.

"Eh," Keenan bersandar ke kursinya, nadanya santai. "Latihan sore ini jangan berat-berat ya, Kapten."

Rakha menatapnya datar. "Lu minta?"

"Negosiasi," sahut Keenan cepat. "Bukan minta."

Rakha menghela napas pendek. "Kita lihat nanti."

"Oke," Keenan mengangguk sok paham. "Itu bahasa kapten yang artinya nggak."

Tawa kecil pecah di meja itu.

...----------------...

Bel istirahat hampir berbunyi ketika mereka mulai membereskan nampan. Gesekan kursi dan piring bercampur dengan riuh kantin yang tak pernah benar-benar sepi.

"Balik kelas, yuk," kata Dimas.

"Yuk," sahut Olan, sudah melangkah lebih dulu bersamanya.

Rakha berdiri, disusul Keenan. Nayla ikut bangkit beberapa detik kemudian.

Mereka keluar dari kantin bersama. Tapi begitu melewati pintu, arah langkah mulai terurai pelan. Dimas dan Olan lebih dulu menjauh. Rakha mengambil jalurnya sendiri.

Keenan justru berjalan sejajar dengan Nayla lagi, jaraknya sama seperti tadi di koridor. Tidak terlalu dekat. Tidak menjauh.

"Makasih ya," kata Nayla tiba-tiba. Pelan. Nyaris tenggelam oleh suara sekitar.

Keenan menoleh. "Buat apa?"

Nayla mengangkat bahu ringan. "Apa aja."

Keenan tersenyum kecil. Bukan senyum hebohnya. "Aneh."

Nayla terkekeh pelan.

Mereka berhenti di persimpangan lorong.

Lalu berpisah ke kelas masing-masing.

Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang perlu ditahan. Hanya langkah yang terasa sedikit lebih ringan dari biasanya.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!