Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
Follow IG Author : @smiling_srn27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smiling27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. SAKIT PERUT
"Lama banget lo, pake drama perpisahan dulu. Kayak mau ditinggal merantau aja!" cibir Handa saat Zia tengah berjalan mendekati dirinya.
"Berisik!" balas Zia ketus. Handa tidak tahu saja apa yang terjadi tadi, Zia saja masih sangat shock dengan apa yang dilakukan Heaven. Menurutnya itu terlalu berlebihan, tapi sudahlah, Zia tidak ingin memikirkannya lagi.
"Mana sih Icha, nimbang buka pintu aja lama banget!" ketus Handa yang sudah lelah berdiri.
"Lo udah ketuk pintunya belom?"
"Ya udah lah, lo pikir dari tadi ngapain gue di sini? Ciuman sama pintu?" jawab Handa kesal. Moodnya sedang turun drastis setelah lama menunggu Zia tadi.
"Heh, kalau ngomong tuh ya!" Zia mencomot mulut Handa yang suka asal bicara. Handa yang diperlakukan seperti itu langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ketuk lagi coba, siapa tahu Icha belum denger tadi!" saran Zia.
Belum sempat Handa mengetuk kembali, pintu sudah lebih dulu terbuka. Menampilkan seorang gadis berwajah pucat dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan, dan jangan lupakan dress warna putih yang bisa membuat orang salah paham.
"Aaa... emph!" Teriakan Handa mendadak lenyap, saat dengan cepat Zia membekap mulutnya.
"Sssttt... jangan teriak-teriak, dia Icha!" Zia melepaskan bekapan saat melihat Handa yang sudah mulai tenang.
"Sialan lo, bikin kaget aja!" umpat Handa. Cewek itu kini menatap kesal pada Icha yang tengah meringis memegangi perut.
Melihat Icha yang hampir terhuyung ke belakang, Zia segera menangkapnya. "Icha! Lo kenapa?"
"Bantuin gue ke kamar ya!" pinta Icha dengan suara begitu lirih seperti menahan sakit.
Zia dan Handa segera membawa Icha ke dalam kamar, sebelumnya Handa sudah lebih dulu menutup pintu rumah. Direbahkannya Icha di atas ranjang. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat, kedua tangannya terus memegangi perutnya sambil meringis.
"Sakit perut lagi? Bi Inah kemana?" tanya Handa yang sejak tadi tidak melihat pembantu rumah tangga Icha.
"Bi Inah udah pulang, katanya mau ngurus surat penting apa gitu! Icha juga nggak tahu!"
"Lagian lo sih suka nggak teratur makannya, giliran makan makanannya nggak ada yang bener!" ucap Handa. Memang terdengar ketus, namun sebenarnya ia sedang sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.
Icha mengerucutkan bibir, memang benar apa yang dikatakan Handa. Sejak dulu pola makannya sangat tidak beraturan, Icha akan makan hanya ketika merasa lapar. Makanannya pun tidak selalu nya bergizi seimbang, Icha lebih menyukai makanan instan yang sudah jelas itu akan merusak tubuhnya. Icha tahu itu salah, namun Icha tetap melakukan hal itu. Lagi dan lagi.
Icha hanya ingin menarik perhatian Ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnis, saking sibuknya bahkan sampai melupakan Icha. Sedangkan kakaknya, Cakra? Icha juga jarang sekali mendapat perhatian dari kakak satu-satunya itu. Semua yang ada di keluarga Icha hanya sibuk dengan urusan bisnis, karena itu Icha sangat haus akan perhatian dan kasih sayang.
"Handa! Icha capek jadi orang lain!" Air mata mendadak meluncur bebas di pipi Icha, sungguh ia sudah sangat lelah dengan kehidupan yang seperti ini.
"Cha, nggak ada yang nyuruh lo jadi orang lain! Gue terima lo apa adanya, meskipun lo bego sekalipun!" ucap Handa serius. Namun terdengar seperti sebuah candaan di telinga Icha.
"Tuh kan Handa ngatain Icha bego!" ucap Icha cemberut.
"Ya mau gimana lagi, lo kan emang bego!" Handa terkekeh melihat wajah Icha yang di tekuk. "Dengerin gue! Kalau lo capek gue saranin ke panti pijit aja biar capek lo hilang!"
"Handa ih, Icha serius!" Icha mendengus kesal, padahal tadi ia sudah sangat serius untuk mendengarkan apa yang akan Handa katakan. Tapi ternyata apa Handa malah bercanda.
Handa tertawa ngakak, namun hanya sesaat karena Zia dan Icha tidak tertawa sama sekali mendengar ucapan konyolnya. "Lagian siapa yang nyuruh lo jadi orang lain heh? Mending lo lupain itu Kak Gala, cowok datar kayak gitu nggak pantes buat lo suka. Buat apa lo berubah jadi dewasa cuma gara-gara ditolak sama dia!" kata Handa.
"Tapi Kak Gala bilang Icha kayak anak kecil, manja, cengeng lagi!" Icha kembali menitikkan air mata.
"Cha, jangan buat hidup lo nggak nyaman cuma gara-gara omongan cowok yang lo sukai. Kalau dia emang jodoh lo, dia pasti akan datang ke lo suatu saat nanti! Kalau bukan jodoh lo, ya lo harus ikhlasin dia!" ucap Zia yang kini mulai paham dengan situasi Icha.
Icha mengangguk membenarkan ucapan Zia, tapi hatinya masih tidak siap jika suatu saat harus melihat Gala hidup bersama cewek lain. Ya meskipun belum pernah sekalipun Icha melihat Gala dekat dengan yang namanya perempuan.
"Ingat kata orang! Jodoh nggak akan kemana!" sambung Handa.
Icha menghela nafasnya, memejamkan mata saat merasakan perutnya semakin terasa sakit. "Icha pengen tidur, Handa tolong buatin susu ya!"
"Nggak boleh!" Bukan Handa yang melarang, melainkan Zia. "Lo lagi sakit perut, nggak boleh minum susu!"
"Tapi Icha nggak bisa tidur kalau belum minum susu!" rengek Icha.
"Bener! Pokoknya kalau malam ini Icha nggak minum susu, gue mending tidur di sofa aja!" ucap Handa menggebu.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pernah sekali Handa tidur dengan Icha yang malam itu kehabisan stok susu. Dan apa yang terjadi? Malam-malam Handa tidak bisa tidur karena Icha terus mengigau meminta susu sambil jungkir balik dalam tidurnya. Handa jadi kewalahan sendiri. Tapi herannya, kalau sudah minum susu sebelum tidur, Icha pasti akan tidur dengan sangat tenang.
"Tapi lo lagi sakit perut Cha! Nggak boleh minum susu, mending minum air putih aja ya!" tawar Zia.
"Nggak mau, Icha mau susu!" Bagi Icha, tidur tanpa minum susu itu seperti makan roti tanpa selai. Tetap akan kenyang namun tidak bisa memuaskan.
"Nggak boleh Icha, ntar kalau perut lo tambah sakit gimana?" ucap Zia menakuti.
Setelah lama berpikir akhirnya Icha mengangguk menyetujui, daripada perutnya tambah sakit. "Ya udah deh!"
Zia mengambil air minum di atas nakas, namun pandangannya menangkap sebuah bingkai foto berukuran sedang di samping gelas air minum. Zia terus mengamati foto itu, terdapat gambar tiga orang di dalam sana. Dan dua di antaranya Zia merasa seperti pernah melihat sebelumnya, tapi entah di mana.
"Zia! Malah ngelamun, mikirin apa lo? Jangan bilang lagi mikirin Kak Heaven!" sentak Handa asal menebak.
"Berisik!" ketus Zia. Menyerahkan air putih pada Icha sambil bertanya, "Cha itu foto siapa?"
Icha melihat ke arah nakas, tepat pada foto yang ditunjuk Zia. "Itu foto Papa, Icha sama Kak Cakra dua tahun lalu, pas Icha lulus SMP!" jawab Icha.
Itu adalah foto keluarga satu-satunya milik Icha, ia sangat menyayangi foto itu. Karena sejak dulu, Ayah dan Kakaknya sangat tidak suka mengambil gambar satu keluarga. Icha juga tidak tahu kenapa, bahkan foto ibunya pun Icha tidak punya. Hingga saat ini, hanya wajah Ibu yang belum pernah Icha ketahui.
"Ouh lo punya Kakak ternyata, gue pikir lo anak tunggal!" ucap Zia berusaha terlihat santai setelah mengingat semuanya.
"Iya, Icha anak ke du... akhh!" Icha meringis, memegangi perutnya yang tiba-tiba bertambah sakit.
"Cha, lo kenapa?" tanya Zia dan Handa panik bersamaan.
"Perut Icha sakit banget akhh!" lirih Icha kembali menitikkan air mata sambil meringis.
"Mending bawa Icha ke rumah sakit aja Nda, gue khawatir keadaannya makin buruk!" ucap Zia.
"Ya udah ayok!"
"NGGAK, ICHA NGGAK MAU KE RUMAH SAKIT! AKHH...."
*********
Icha mau ke rumah sakit nggak yah? 🤔
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇...