Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Dia!
Mutia menguap beberapa kali, kerjaan yang super banyak hari ini membuatnya amat lelah. Belum lagi, angin malam yang menerpa wajah dan tubuhnya, membuat matanya ingin meredup saja. Biasanya Mutia harus berkonsentrasi agar bisa selamat sampai tujuan, tapi sekarang dia cuma duduk manis dan menunggu tiba di rumahnya.
Entah hanya perasaan Mutia atau memang benar adanya. Mutia merasa hari ini rumahnya amatlah jauh. Dia sudah jalan daritadi tapi kenapa belum sampai juga? Mau mendongak dan memastikan perasaanya, hanya saja Mutia terlalu lelah hingga akhirnya dia tertidur di punggung lebar Denis.
Diam-diam, sang pengemudi di depan tersenyum semringah. Dia memang sengaja mencari jalan memutar agar bisa berlama-lama dengan Mutia, tapi ternyata dia justru mendapatkan bonus sebuah pelukan dari Mutia.
Mutia yang terbiasa tidur dengan memeluk guling akhirnya melingkarkan tangan ke pinggang Denis. Pria itu bersorak dalam hati, andai saja tidak di posisi seperti ini ingin rasanya dia berbalik saja dan menbiarkan Mutia tidur di dada bidangnya.
Denis menarik tangan Mutia lebih rapat, dengan sebelah tangannya dia memegang erat tangan gadisnya itu, takut-takut kalau dia jatuh karena saking lelapnya.
Denis tiba di depan rumah Mutia. Dia mematikan mesin motor dan menahan motor dengan kedua kakinya. Dia tak tega ingin membangunkan Mutia, tapi menggendongnya ke dalam pun tak mungkin, posisinya tak mendukung untuk itu.
Hampir sepuluh menit mereka diam di situ, tapi Mutia bukannya bangun tapi malah makin nyaman dengan tidurnya. Denis tetap berdiam, menikmati pelukan hangat dari Mutia, pikirannya melayang pada kejadian yang iya-iya, andai saja Mutia memeluknya erat seperti ini di atas ranjang, aaah ... Denis bahkan siap jika harus menikahi Mutia besok pagi.
"Mas, ini jam berapa?"
Denis berjingkat kaget, seseorang menepuk bahunya disaat dia membayangkan adegan mesra. Dia menoleh, terlihat seorang security berdiri di sampingnya dengan menatap tajam.
"Ini jam sebelas, pak? Kan bapak pakai jam tangan, ngapain tanya?" jawab Denis sembari menatap balik.
"Lah, saya ini lagi nyindir, malah dijawab balik."
"Lah bapak nyindir toh? kirain tanya jam," jawab Denis sembari terkekeh.
"Ngapain di sini? anak muda jaman sekarang, peluk-pelukkan di depan umum, gak malu?"
Securitu itu mengamati Denis dan Mutia. Gadis itu meletakkan wajahnya ke sisi kiri, wajar jika si security tak bisa mengenali dan melihat wajahnya.
"Istri saya lagi hamil muda, Pak. Lagi ngidam pingin jalan keluar malam, sebagai suami yang baik, ya saya turutin, Pak. Meskipun sebenarnya saya lebih suka pelukan di dalam kamar. Lagi-lagi Denis terkekeh, Security yang awalnya terlihat garang mendadak melunak.
"Oalah istrinya, toh? ngidam? maaf, ya, saya gak tahu. Masih mending istrinya ngidam begini, istri saya dulu, masa saya disiruh keliling kampung jam dua belas malam, suruh lepas baju lagi. Untung gak ada yang ngira lagi ritual pesugihan." Denis terbahak mendengar cerita si security.
Merasa mendengar ada suara, tidur Mutia terusik. Dia ingin bergerak tapi tangannya tertahan. Dia mengerjab beberapa kali, merasa aneh saat membuka mata pertama kali. Dia mencium aroma parfum yang sangat dikenal, hingga akhirnya dia sadar ada di mana sekarang.
"Iihh, kamu ngapain sih? nyari kesempatan, ya?" omel Mutia dengan menarik paksa tangannya.
Denis dan security itu sontak menoleh, melihat Mutia yang mengerucut akibat tingkah Denis.
"Eh, udah bangun, Yang? aku gak tega bangunin kamu, jadi tak biarin aja tidur di pelukanku."
"Ah, kamu aja yang emang nyari kesempatan."
"Mbak, mbok ya, jangan marah-marah. Suaminya udah baik gini nurutin ngidamnya, malah diomelin, kan kasihan." Mutia menatap ke sumber suara. Pasti dia security baru, mangkanya tak mengenal Mutia.
"Suami?" Ulang Mutia, dia melihat ke depan, di sana ada Denis yang cengar-cengir tanpa dosa.
"Iya, masnya ini suami kamu kan? yawes dilanjutin aja, saya mau bertugas dulu." Security itu menyalami Denis dan berlalu dari sana.
"Apa maksudnya ngaku-ngaku jadi suami?"
"Ya, gak ada maksud apa-apa? kan aku memang calon suami kamu."
"Ish, jangan ngayal! ngambil kesempatan aja."
"Siapa yang ngambil kesempatan? buktinya kamu juga gak mau turun kan dari motor, pingin peluk-peluk aku lagi? ayook!"
Mutia melihat posisinya, dan benar saja dia masih duduk di belakang Denis dengan antengnya. Gadis itu lantas berdiri, menghentakkan kaki sembari ingin berjalan pergi.
"Eh, mau kemana?" tanya Denis seraya menahan lengan Mutia.
"Masuk!" jawab Mutia sekenanya.
"Pamitan dulu kek sama calon suami. Cium tangan atau cium pipi gitu, nyelonong aja."
"Jangan ngarep! sudah aku ngantuk."
"Ya, sudah. Besok aku jemput, ya? Mimpi indah sweetheart. Jangan lupa bawa aku kemanapun kamu pergi, termasuk ke mimpimu," ucap Denis sembari mengerling.
Mutia memutar bola matanya malas. Usai cekalannya dilepas, gadis itu berbalik dan melangkah pergi.
Beberapa langkah berjalan, dia berhenti dan berbalik, Denis masih menatapnya, tapi sedikit terkejut melihat Mutia berhenti dan berbalik menatapnya.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut," ucap Mutia dengan suara sedikit lembut, membuat Denis bahagia bukan kepalang.
"Tentu, Sayang. Aku akan selalu menjaga diriku, untukmu, untuk kita, dan untuk masa depan anak-anak kita nanti."
Mutia kembali menatap jengah, niat awal hanya ingin mengingatkan, tapi malah mendapat rayuan gombal yang tak ada habisnya.
Mutia masuk ke rumahnya, sebelum melihat sekali lagi ke arah Denis. Lelaki itu masih menatapnya dengam senyum terkembang. Diam-diam bibir Mutia tersungging, merasa takjub dan terharu akan perhatian Denis yang luar biasa padanya.
Denis pulang ke rumahnya dengan senyum yang terus terkembang. Dia yakin, perlahan tapi pasti Mutia akan menerimanya, dan jika saat itu tiba nanti, dia akan langsung melamar Mutia, menjadikan gadis itu miliknya, dalam ikatan suci dan penuh berkah.
Denis memakirkan motor di bagasinya. Mobilnya terparkir di sana. Arga benar-benar menginap di rumahnya.
Dia masuk dan hendak menuju kamar, jam segini tentu mamanya sudah terlelap. Denis menuju dapur, terlalu banyak senyum tanpa sadar bibirnya menjadi kering, dia butuh air.
"Motor siapa, Om? warna pink gitu, motor cewek, ya?"
Entah datang dari mana, Arga tiba-tiba saja berdiri di pintu dapur sembari melihat Denis yang sedang mengambil air minum di dalam kulkas.
"Kamu gak ada sopan-sopannya. untung gak kesedak ini," omel Denis yang menbuat Arga terkekeh.
"Kan aku cuma tanya, Om aja yang nanggepinya berlebihan."
Denis tak menggubris, dia berjalan keluar dapur, melewati Arga yang berdiri dengan menatapnya.
"Om, Mutia manis, ya? Boleh gak aku berteman dekat sama Dia?" tanya Arga tiba-tiba, membuat Denis seketika berhenti melangkah.
"Untuk kali ini, jangan pernah mengusiknya," jawab Denis datar sembari melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
Arga menatap punggung Denis dengan senyuman. Entahlah, dia merasa ada hal khusus antara Mutia dan Omnya itu. Dia memang tak punya bukti kuat, tapi melihat jawaban Denis barusan, dia makin bersemangat untuk mengetahu hal yang sebenarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamaaat pagi, Selamat tahun baru😍😍
Postingan pertama di tahun 2020. Denis dan Mutia menyapa kalian dengan harapan agar mereka bisa seramai kisah Damar dan Saras😅
Jangan lupa untuk terus bersyukur dan jangan lupa bahagia.
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa