"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan Yang Berbeda
Labib dengan telaten melipat sprei bernoda merah itu dan memasukkannya ke dalam keranjang cucian kotor. Ia menggantinya dengan sprei baru yang bersih, merapikan setiap sudut kasur dengan cekatan. Tepat saat ia menyelesaikan tugasnya, pintu kamar mandi terbuka.
Yuna keluar dengan langkah yang masih agak canggung dan sedikit pelan, sudah rapi mengenakan pakaian kuliahnya—sebuah kemeja kasual dan rok panjang yang nyaman. Wajahnya tampak jauh lebih segar, meski semburat merah di pipinya langsung kembali muncul begitu matanya bertemu dengan tatapan Labib.
"Masih perih?" tanya Labib, melangkah mendekat dan merapikan kerah kemeja Yuna yang sedikit terlipat.
"Sedikit, Mas. Tapi udah mendingan banget setelah berendam tadi," cicit Yuna, menatap lurus ke dada suaminya, masih agak canggung dengan perubahan dinamika hubungan mereka yang mendadak sangat intim ini.
Labib tersenyum tipis, lalu mengecup puncak kepala Yuna dengan sayang. "Baguslah. Ayo turun, kita harus berangkat sekarang agar tidak terlambat. Saya tidak ingin mahasiswa saya membuat spekulasi aneh kalau dosennya datang terlambat bersama salah satu mahasiswinya sebelum berkas kita diserahkan."
Yuna mengangguk patuh. Mereka berdua melangkah turun ke garasi. Pagi ini terasa sangat berbeda bagi Yuna. Jika biasanya ia selalu bersikeras turun di halte dekat gerbang luar kampus agar tidak terlihat satu mobil dengan Labib, kali ini tidak ada lagi penolakan.
Di dalam mobil yang membelah jalanan kota menuju kampus, Labib mengemudikan setir dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Yuna di atas instrumen mobil, tidak membiarkan istrinya itu menjauh barang secenti pun. Jam sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi saat mobil SUV hitam milik Labib memasuki area parkir khusus dosen di fakultas teknik.
Mobil SUV hitam milik Labib berhenti dengan sempurna di slot parkir khusus dosen. Jantung Yuna mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Dari kaca mobil, ia bisa melihat beberapa anak arsitektur angkatannya sedang berjalan bergerombol menuju gedung kuliah.
"Mas... beneran kita turun bareng?" tanya Yuna, mendadak diserang rasa gugup yang luar biasa. Jemarinya meremas tali tas ranselnya.
Labib mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah istri kecilnya. Tatapannya begitu tenang, kontras dengan gemuruh di dada Yuna. "Yuna, apa yang kita bicarakan semalam? Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Turunlah."
Labib membuka pintu mobilnya, melangkah keluar dengan wibawa seorang dosen muda yang disegani. Ia berjalan memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk Yuna. Sikap ksatria itu langsung menarik perhatian beberapa mahasiswa yang berada di area parkir. Kasak-kusuk kecil mulai terdengar.
Yuna menghirup napas dalam-dalam, mencoba menetralkan rasa perih yang masih sedikit tersisa di tubuhnya, lalu melangkah turun.
Begitu kakinya menapak di aspal, Labib tidak serta-merta berjalan duluan seperti biasanya. Pria itu justru sengaja menyamakan langkahnya di samping Yuna, bahkan tangan kirinya sempat menuntun punggung Yuna dengan gestur protektif yang sangat kentara saat mereka melewati sekumpulan mahasiswa.
Di ujung koridor dekat tangga, Dinda sudah berdiri dengan mata membelalak sempurna dan mulut sedikit terbuka. Sahabatnya itu menatap Yuna dan Pak Labib bergantian dengan pandangan "Gue-butuh-penjelasan-sekarang-juga".
Labib yang menyadari keberadaan Dinda hanya mengangguk sopan khas seorang dosen, sementara Yuna memberikan kode lewat kedipan mata agar Dinda tetap tenang sampai kelas selesai.
Suasana di dalam kelas Struktur Bangunan pagi itu terasa jauh lebih tegang dari biasanya—setidaknya bagi Yuna. Sepanjang dua jam kuliah berlangsung, fokus Yuna terpecah. Setiap kali Pak Labib menulis di papan tulis atau menjelaskan materi dengan suara baritonnya yang tegas, ingatan Yuna justru melayang pada bisikan serak pria itu di telinganya semalam. Ditambah lagi, tatapan mata Labib beberapa kali tertangkap basah sengaja mengunci ke arah bangkunya dengan binar yang berbeda.
Teng.
Begitu bel tanda berakhirnya jam kuliah berbunyi tepat pukul 10.00, Labib langsung merapikan laptop dan berkas-berkasnya. Sebelum melangkah keluar pintu, ia sempat melirik Yuna sekilas, memberikan kode tak kasat mata bahwa ia akan langsung menuju ke ruang dekan untuk menyelesaikan urusan administrasi pernikahan mereka.
Begitu sosok tegas sang profesor menghilang di balik pintu, Dinda tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung menyambar tasnya, berpindah duduk ke kursi kosong di sebelah Yuna, lalu menarik lengan sahabatnya itu dengan heboh.
"Yuna! Sumpah demi apa pun, lo utang penjelasan super lengkap sama gue sekarang!" bisik Dinda dengan suara tertahan agar tidak memancing perhatian anak-anak lain yang masih berbenah di kelas.
Yuna menghela napas panjang, senyum tipis terukir di bibirnya. Rasa perih di tubuhnya sudah jauh berkurang, digantikan oleh kelegaaan yang luar biasa.
"Iya, Din. Yang lo liat di foto semalam itu 100% nyata," ujar Yuna jujur, menatap lurus mata sahabatnya. "Gue udah nikah sama Pak Labib sejak tiga bulan lalu. Pernikahan keluarga, dan awalnya gue yang minta buat dirahasiain karena gue takut mental gue nggak siap dicap yang enggak-enggak di kampus."
Dinda menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya. "Jadi... gosip Pak Labib mau tunangan sama Bu Citra yang bikin lo nekat minum semalam itu..."
"Cuma salah paham. Makanya, sekarang Mas Labib lagi ke ruang dekan buat ngajuin berkas pernikahan kami. Dia nggak mau gue sakit hati lagi karena rumor-rumor murahan kayak gitu," lanjut Yuna dengan rona merah yang kembali terbit di pipinya saat menyebut panggilan 'Mas Labib'.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya, masih syok sekaligus kagum dengan keberanian sahabatnya. "Gila, Yun... lo beneran jadi Ibu Dosen sekarang. Tapi jujur, gue lega banget dengernya. Berarti mulai besok, nggak bakalan ada yang berani macem-macem atau ngegosipin suami lo lagi di depan muka lo!"