Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Membalik (1)
Jam setengah tiga sore.
Raka saat ini sedang berada di kamar bersama Reno kecil yang sudah selesai mandi. Sementara itu, Nadia sedang sibuk mencuci baju di belakang.
"Ayah, itu apa?" tanya Reno kecil sambil menunjuk ke arah atas lemari baju.
Raka bingung. Dia mencoba meraba-raba area yang ditunjuk dirinya versi kecil. Setelah mencari beberapa saat, tangannya menyentuh sebuah celengan kaleng yang terasa sangat berat.
"Gila, berat bener! Isinya apa nih? Punya siapa ya?" Raka menurunkan celengan tersebut.
"Leno mau lihat, Ayah!"
"Iya, bentar." Raka duduk di lantai diikuti oleh Reno yang langsung nemplok di pahanya.
Raka memperhatikan celengan kaleng itu dengan teliti. Di bagian depannya, ada tulisan cakar ayam: 'Untuk biaya kuliah Nadia'.
"Dari tulisannya sih jelas bukan tulisan Nyokap. Berarti ini tulisan Bokap? Diam-diam dia nabung buat kuliah istrinya? Sesayang itu kah Bokap sama Nyokap sampai diam-diam nabung begini tapi di luar sok cuek?" batin Raka terenyuh.
"Ayah, ada bunyi-bunyinya!" seru Reno girang saat celengan itu digoyang.
"Iya, Cil. Ada duitnya nih. Bokap gua—maksudnya Ayah ternyata rajin menabung juga, wkwk."
"Buka, ayo buka, Yah! Leno mau lihat!" rengek Reno kecil sambil mengguncang lengan Raka.
Raka terkekeh geli. "Sebentar, Jagoan."
Sembari menimang celengan itu, pikiran Raka melayang ke masa depan.
"Kalau nggak salah ingat, Bokap meninggal waktu gua umur enam tahunan. Berarti dua tahun dari sekarang dong? Tapi selain masa depan Bokap, yang paling penting itu kesehatan Nyokap. Gua harus cari duit sampingan secepatnya."
"Ayah! Ayo buka! Leno mau lihat, mau lihat!" Reno kecil mulai rewel.
Raka yang baru tersadar dari lamunannya langsung mengusap rambut Reno. "Iya, iya, sabar ya diri gua pas masih kecil."
Karena celengannya terbuat dari kaleng tebal, Raka membukanya secara perlahan menggunakan silet yang dia temukan di laci meja kamar. Begitu bagian atasnya terbuka, mata Raka langsung membelalak.
"Wah, banyak juga isinya. Ada pecahan seratus ribu, lima puluh ribu..."
Reno kecil ikut antusias melihat tumpukan uang di dalam kaleng. "Uang! Uang! Leno mau uang, Ayah!"
Raka mengambil selembar uang dua ribu dan memberikannya kepada Reno. "Nih, Cil. Dua ribu."
"Makasih, Ayah! Ini bisa buat beli mobil besal gak?"
"Bisa, tapi dua ribunya harus se-truk baru dapet, hehe," canda Raka.
Reno yang tidak paham maksudnya malah ikut tertawa renyah. "Hehe, dua libunya halis banyak ya, Yah!"
Raka memperhatikan cara bicara anaknya. "Coba bilang 'R' dulu, Cil. Errr."
"Ell."
"Errr."
"Ell."
Raka terpingkal-pingkal. Dia sendiri sudah lupa kalau waktu umur empat tahun ternyata dia secadel ini. "Haha, masih susah aja ya bilang huruf R. Payah lu, Cil."
"Susah, Ayah!" Ucap Reno cemberut.
"Iya, tahu kok."
Setelah itu, Raka merapikan kembali uang-uang tersebut dan menyimpan celengannya ke tempat semula.
"Walaupun sempat kepikiran buat minjem duit ini, tapi jangan deh. Ini kan uang tabungan Bokap buat Nyokap. Keliatannya dia udah nabung dari lama banget sebelum gua lahir. Gua bakal cari uang sendiri aja buat beli hape.
Eh, tapi kan zaman tahun 2015 gini masih banyak warnet. Kapan-kapan gua harus ke warnet ah, sekalian mantau tren apa aja yang bisa gua jadiin ladang duit," renung Raka dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Nadia masuk ke kamar setelah selesai mandi. Dia sudah berpakaian rapi dan tampak segar. Nadia langsung menggendong Reno dari pangkuan Raka.
"Kamu... mandi dulu sana," ucap Nadia dengan nada bicara yang masih agak canggung.
Raka hanya mengangguk tegak. Dia sudah berjanji akan membawa mereka jalan-jalan ke taman sore ini.
Saat sedang mandi, Raka mendadak memikirkan hal absurd. "Kalau dipikir-pikir, jiwa bokap gua yang asli sekarang ke mana ya? Apa jangan-jangan jiwa bokap malah masuk ke tubuh Reno kecil? Ah, nggak mungkin lah. Sifat si Reno polos dan bocah banget gitu."
Karena tidak mau ambil pusing, Raka buru-buru menyelesaikan mandinya.