Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANCUR YANG KEMBALI
Keesokan harinya, tanpa membuang waktu lebih lama, Bu Maya langsung membawa Maira pergi meninggalkan rumah yang telah menjadi neraka tersebut. Mereka pergi tanpa melibatkan Yudi. Di sepanjang perjalanan di dalam bus umum yang bising, tidak ada obrolan hangat antara ibu dan anak. Bu Maya sengaja memalingkan wajah ke jendela, seolah enggan melihat lebam batin yang baru saja ia goreskan di wajah putri kandungnya sendiri. Kepergian Maira ini dibungkus dengan alasan klasik yang manipulatif: Maira ingin membantu mengurus neneknya di kampung halaman almarhum ayahnya.
Rumah tua bernuansa kayu milik nenek Maira menyambut mereka dengan atmosfer yang sunyi namun menenangkan. Nenek Maira, seorang wanita yang sudah sangat sepuh dengan rambut yang memutih seluruhnya, membuka pintu dengan langkah yang gemetar. Meskipun fisiknya sudah digerogoti usia, wajah keriputnya memancarkan ketulusan yang sudah lama tidak Maira lihat pada ibunya.
“Bu... ini, kalau Ibu berkenan, boleh gak Maira tinggal di sini sama Ibu? Ibu kan sudah sepuh, biar ada Maira di sini yang menemani Ibu sehari-hari,” ucap Bu Maya membuka percakapan, mencoba terdengar seperti seorang anak yang berbakti, padahal ia hanya sedang membuang beban yang tidak diinginkan suaminya.
Sang nenek tersenyum lebar, matanya berbinar haru. “Oh, boleh banget, May. Toh ini juga cucu saya sendiri, darah daging anak saya. Saya malah senang loh, seenggaknya saya jadi gak kesepian lagi di rumah besar ini,” jawab sang nenek dengan suara yang serak namun menyejukkan hati.
Bu Maya tampak bernapas lega, seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari pundaknya. “Makasih ya, Bu. Kalau begitu, saya pulang dulu sore ini. Untuk urusan kepindahan sekolah Maira ke sini, nanti biar saya yang urus dari kota,” ucap Bu Maya terburu-buru.
Maira hanya terdiam membisu di sudut ruangan, tangannya meremas tali tas ranselnya. Ia menatap lekat wajah neneknya. Di tengah rasa hancur karena dibuang oleh ibunya, ada setitik rasa syukur yang menyeruak di dadanya. Setidaknya, di rumah tua ini, ia merasa jauh lebih aman. Ia berada sangat jauh dari jangkauan dan bayang-bayang Yudi yang biadab.
“Loh, kok gak mau menginap dulu, May? Rumahmu kan jauh, ini sudah mau magrib,” ucap sang nenek heran melihat gelagat menantunya yang seperti dikejar setan.
“Ah... enggak usah, Bu, gak apa-apa. Takut kemalaman di jalan. Nanti sesekali kalau ada waktu luang, saya pasti tengok Maira ke sini,” ucap Bu Maya berbohong. Ia bahkan tidak berani menatap mata Maira saat mengucapkan kalimat itu.
Setelah Bu Maya pergi melenggang tanpa pernah menoleh ke belakang lagi, Maira dituntun oleh neneknya masuk ke dalam sebuah kamar kosong yang cukup luas. Begitu pintu kamar ditutup dan ia ditinggal sendirian untuk merapikan barang, pandangan Maira langsung tertuju pada sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu, berdiri sebuah bingkai foto usang yang berdebu.
Maira melangkah mendekat dengan dada yang mendadak sesak. Ia mengambil bingkai tersebut. Di dalam foto itu, tampak wajah seorang laki-laki paruh baya yang sedang tersenyum lebar sembari merangkul Maira kecil. Itu adalah ayahnya. Ayah kandungnya yang sangat ia rindukan.
Pertahanan Maira runtuh seketika. Air matanya kembali lolos deras, membasahi pipinya yang masih terasa sedikit perih akibat tamparan ibunya tadi siang. Ia memeluk bingkai foto itu erat-erat ke dadanya, meratapi nasibnya yang begitu malang setelah ditinggal pergi oleh pelindung sejatinya.
“Andai Papah gak cepat pergi... hidup Maira pasti gak bakal kayak gini, Pah,” ucap Maira dengan suara yang parau dan tersendat-sendat oleh isak tangis. “Maira kangen Papah... Maira sendirian di sini...”
Tok... tok...
Suara ketukan lembut di pintu kamar mengejutkan Maira. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok neneknya yang sudah sepuh, datang untuk memanggilnya makan malam. Langkah sang nenek terhenti saat melihat bahu cucunya bergetar.
“Loh, Maira... kenapa nangis, Cu?” tanya sang nenek dengan nada penuh rasa penasaran dan kekhawatiran yang tulus.
Maira buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, mencoba melempar senyum tipis yang dipaksakan. “Ah... enggak apa-apa, Nek. Ini... Maira cuman tiba-tiba kangen sama Papah,” ucap Maira lirih.
Mendengar nama anaknya disebut, mata sang nenek berkaca-kaca. Ia melangkah mendekati Maira, lalu dengan penuh kasih sayang diusapnya kepala Maira dengan tangannya yang sudah keriput. “Cucu Nenek sayang... doain Papahnya ya, biar tenang di sana. Papahmu pasti sedih kalau lihat putri cantiknya menangis begini,” ucap nenek menenangkan. “Ya sudah, sekarang ayok kita makan malam dulu ya? Nenek sudah masak makanan kesukaanmu.”
Maira hanya bisa memberikan anggukan kecil, mengikuti langkah lambat neneknya menuju meja makan.
Tahun-tahun pun berlalu di rumah nenek. Waktu berjalan dengan kejam, membongkar semua janji manis yang pernah diucapkan oleh ibunya. Sejak hari kepindahannya itu, Bu Maya tidak pernah sekalipun datang menengok Maira. Jangankan datang berkunjung, mengirimkan uang sepeser pun untuk biaya hidup dan sekolah Maira tidak pernah ia lakukan lagi. Ibunya benar-benar telah melupakannya, tenggelam dalam kehidupan barunya bersama Yudi. Kebutuhan hidup, uang jajan, hingga biaya sekolah Maira sepenuhnya ditanggung oleh neneknya yang mengandalkan uang pensiunan almarhum kakek yang pas-pasan.
Bahkan ketika Maira akhirnya lulus SMP dan masuk ke jenjang SMA, neneknyalah yang dengan setia mendampinginya, duduk di kursi wali murid menggantikan posisi orang tuanya yang telah mati secara fungsi. Di bawah asuhan neneknya yang penuh kasih sayang dan kesabaran, perlahan-lahan trauma masa lalu Maira yang kelam mulai sedikit terobati. Ia mulai menemukan kembali senyumnya, meskipun bayang-bayang malam jahanam itu terkadang masih menyergapnya di kala sepi.
Namun, kedamaian itu lagi-lagi hanyalah sebuah jeda sebelum badai baru menghantam. Tak berselang lama setelah Maira menginjak kelas dua SMA, sang nenek tiba-tiba jatuh sakit keras. Kondisi fisiknya menurun drastis dalam hitungan minggu hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang tua rumah itu.
Nenek meninggal dunia, meninggalkan Maira seorang diri di dunia ini. Karena Maira adalah cucu satu-satunya dan tidak ada kerabat lain yang peduli, ia kini benar-benar sebatang kara.
Kepergian sang nenek telak membuat Maira kembali merasa hancur sehancur-hancurnya. Jiwanya yang baru saja mulai bertunas kembali dipatahkan secara paksa oleh takdir. Maira meratapi tubuh kaku neneknya dengan rasa frustrasi yang memuncak. Ia merasa hidup ini sangat, sangat tidak adil baginya. Kenapa? Kenapa takdir selalu mengambil orang-orang berharga dalam hidupnya? Kenapa tidak menyisakan satu pun ruang untuknya merasa bahagia?
Sehari setelah pemakaman selesai, rumah itu terasa seperti kuburan yang dingin. Dengan langkah gontai, Maira masuk ke dalam kamar mendiang neneknya. Ia membuka lemari baju kayu yang masih menyisakan aroma minyak kayu putih khas nenek. Diambilnya salah satu pakaian neneknya, lalu didekapnya kain itu kuat-kuat ke dadanya, menghirup sisa-sisa aroma tubuh satu-satunya orang yang tulus menyayanginya.
“Kenapa... kenapa saat Maira sudah mulai merasa aman di sini, Nenek malah pergi ninggalin Maira sendiri? Maira harus sama siapa lagi, Nek?” ucapnya dengan suara parau, air matanya menetes membasahi kain pakaian tersebut.
Saat hendak merapikan kembali isi lemari, mata Maira menangkap sebuah kotak beludru kecil yang terselip di antara tumpukan kain paling bawah. Dengan rasa penasaran, ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terdapat seuntai perhiasan kalung emas sederhana dan selembar kertas yang dilipat rapi—sebuah surat tulis tangan dari neneknya sebelum wafat.
Maira membuka lipatan kertas itu, membaca deretan tulisan tangan yang agak gemetar:
Maira, cucu Nenek sayang. Maafin Nenek ya kalau selama ini Nenek sering nyusahin Maira. Nenek tahu Nenek sudah sakit-sakitan, dan waktu Nenek di dunia ini kayaknya gak bakal lama lagi. Nenek sengaja nulis surat ini buat Maira, biar nanti kalau Nenek sudah gak ada, Maira gak boleh larut dalam kesedihan.
Simpan tulisan ini dan perhiasan kecil ini ya, Cu. Kalau Maira lagi ngerasa sedih atau kesepian, baca surat ini. Selalu ingat ya, Cu... sampai kapan pun, Nenek bakal selalu ada di manapun Maira berada, menjaga Maira dari atas sana. Dan satu pesan Nenek, jangan pernah lupa sholat ya, Cu. Cuma itu pesan Nenek. Nenek sayang banget sama Maira.
Maira membaca tulisan tangan itu dengan perasaan yang hancur lebur berkeping-keping. Surat itu bukannya menguatkan, justru membuat dadanya semakin koyak oleh rasa kehilangan. Ia memeluk kertas itu di bawah dadanya, menangis sejadi-jadinya di lantai kamar yang sepi.
Sepeninggal neneknya, fondasi hidup Maira runtuh total. Tidak ada lagi yang menasihatinya, tidak ada lagi yang memasakkannya sarapan, dan tidak ada lagi alasan baginya untuk bersikap baik. Hidup Maira berubah drastis menjadi tidak beraturan dan berantakan.
Di sekolah, Maira berubah menjadi murid yang apatis. Ia lebih banyak melamun di dalam kelas, menatap kosong ke luar jendela dengan tatapan mata yang mati. Kehampaan hidupnya yang kentara itu rupanya dimanfaatkan dengan baik oleh Rayn—seorang remaja nakal, pentolan sekolah yang sudah lama mengincar Maira karena parasnya yang cantik namun terlihat rapuh.
Rayn mulai gencar mendekati Maira di saat titik terendah gadis itu. Dia memberikan perhatian-perhatian semu, membelikan Maira makanan, dan selalu ada untuk menampung keluh kesah Maira. Kehadiran Rayn yang agresif perlahan-lahan membuat Maira merasa tidak kesepian lagi. Maira yang sedang haus akan kasih sayang dan pelukan hangat, langsung mencengkeram sosok Rayn sebagai sandaran barunya, tanpa peduli siapa pria itu sebenarnya.
Namun, keputusan itu justru menjadi awal dari babak baru kehancurannya. Perasaan nyaman yang semu itu malah membuat Maira tenggelam semakin dalam ke dalam dunia kenakalan remaja yang gelap. Di bawah pengaruh buruk Rayn, Maira mulai merusak dirinya sendiri sebagai bentuk pelarian dari rasa sakit.
Ia menjadi lebih sering bolos sekolah di jam-jam pelajaran, bersembunyi di warung belakang sekolah bersama geng Rayn. Ia mulai mencoba menghisap rokok, membiarkan asap beracun itu memenuhi paru-parunya demi sensasi ketenangan sesaat. Hubungan pacarannya dengan Rayn pun berjalan di luar kendali, melintasi batas-batas norma remaja sewajarnya.
Maira mengabaikan semua pesan terakhir neneknya di dalam surat, termasuk perintah untuk sholat. Di dalam kepalanya yang sudah telanjur rusak, ia merasa bahwa melakukan hal-hal liar dan terlarang apapun bersama Rayn adalah satu-satunya hal yang menyenangkan dan bisa membuatnya lupa bahwa ia adalah produk gagal dari sebuah keluarga yang hancur.