Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Cerita yang Sama Persis
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen mendadak terdengar begitu nyaring di telinga Doni. Setelah meneguk air putihnya sampai habis, Doni meletakkan gelasnya dengan sangat pelan, berusaha sekuat tenaga agar tangannya tidak gemetaran.
“Gimana sup iganya, Don? Pas nggak, bumbunya?” tanya Mama hangat, memecah keheningan singkat yang sempat tercipta.
“Enak banget, Ma”, jawab Doni yang buru-buru mengangguk, lalu memberikan senyum paling natural yang bisa dia bentuk. “Dagingnya empuk, kuahnya juga pas banget, gurih”, sambungnya memuji Mama.
“Nah, makanya dihabisin, Don”, timpal Papa yang kemudian mengeluarkan tertawa khasnya. Beliau lalu menoleh ke arah putri bungsunya. “Olivia juga sekarang makin mandiri dan bertanggung jawab, ya. Itu tumbler Papa beliin khusus loh, buat kamu. Untungnya sudah ketemu ya, Liv. Memangnya kamu ketemu dimana? Kamu yang salah naruhnya apa gimana?”
“Jadi gini, Pa”, Olivia tersenyum tipis, menyendok sisa kuah sup di piringnya. “Temen aku…” Olivia meninggikan sedikit nada suaranya, bermaksud menyindir. Wajahnya menghadap ke Papa, namun ekor matanya melirik ke pria yang sedang menyuap nasi di seberangnya.
Doni yang tersadar akan lirikan dan nada suara Olivia itu bergegas memasukkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya, lalu memilih untuk menghadap ke arah lain, pura-pura sibuk memperhatikan interior ruangan. Walaupun begitu, tatapan Olivia terasa seperti jarum halus yang menusuknya perlahan.
“Jadi, temen aku itu, Pa”, Olivia menyambung. “Jadi dia itu baru inget kalau dia yang masukin tumbler-ku ke tasnya. Tapi dia bukan mau maling. Dia ngambil karena dia kira punyanya, soalnya warna sama ukurannya mirip, beda di logonya doang dikit. Punyaku kan, limited edition!” seru Olivia bangga sambil menaikkan alisnya.
‘Wow!’ batin Doni takjub. Cerita yang keluar lancar dari mulut Olivia benar-benar sama persis dengan detail yang diceritakan Doni kemarin waktu Olivia datang ke kamar kosnya. Olivia hanya tidak menyebutkan nama Doni dan menggantinya dengan ‘temannya’.
“Oh gitu, Liv”, timpal Marcella yang juga baru pertama kali mendengar versi cerita ini. “Untung temenmu itu inget ya, Liv. Kalau nggak, mungkin sampai kalian lulus, tumbler kamu masih ada di rumahnya”, sambung Marcella sambil tertawa kecil.
Doni yang berada di antara mereka, terpaksa ikut tertawa juga, walaupun hatinya tidak ikut tertawa. Debaran jantungnya berdegup lebih cepat diantara anggota keluarga yang lain, karena yang mereka maksud dengan ‘teman’ itu adalah dirinya sendiri.
“Iya, Kak”, balas Olivia. “Makanya kemarin itu, aku pulangnya agak sore kan? Nah, itu karena aku abis bertamu ke… rumahnya dia!” seru Olivia antusias yang sekali lagi melirik Doni dengan ekor matanya, walaupun wajahnya dia hadapkan ke Marcella.
Doni yang sedang meneguk tetesan terakhir di gelasnya hampir saja tersedak dan menyebabkan air minum masuk ke hidungnya, saat dia sekali lagi dihujani oleh lirikan tajam Olivia.
“Dih, Dek. Baik banget sih, kamu”, puji Marcella kepada adiknya. “Ngapain coba kamu ke rumahnya? Harusnya dia yang dateng kesini dong, buat ngembaliin”, tambahnya.
Doni kembali tersentak kaget mendengar ucapan Marcella itu. Sangat tidak mungkin Doni sengaja datang ke rumah ini hanya untuk mengembalikan tumbler Olivia. Kalau itu bisa dilakukan, Doni tidak akan menyimpan barang itu di kamar kosnya sampai berminggu-minggu.
“Iya, nggak apa-apa kok, Kak. Mumpung aku lagi di luar juga kemarin itu, jadi sekalian aja”, balas Olivia santai, yang lagi-lagi diakhiri dengan melirik Doni sekali lagi.
Namun, sesi interogasi Marcella ke adiknya itu resmi berakhir di saat Papa beralih membahas rencana liburan singkatnya bersama Mama minggu depan. Tensi di dada Doni perlahan menurun, meski degup jantungnya belum sepenuhnya kembali normal.
Beberapa saat kemudian, satu per satu anggota keluarga beranjak dari kursinya, lalu membawa piring kotor ke bak cuci piring, dimulai dari Olivia yang paling cepat menghabiskan makan malamnya. Setelah hanya tertinggal Doni saja, Marcella dan Mama mulai merapikan piring-piring kotor lain di atas meja makan. Doni yang merasa tidak enak hanya duduk diam, berdiri membawakan dua gelas kosong ke arah bak cuci piring.
“Eh, Don. Nggak usah repot-repot, taruh di situ aja!” ujar Marcella manis sambil memegang spons cuci piring.
“Nggak apa-apa, Cell. Cuma bawa gelas doang kok”, balas Doni lembut.
Ketika Doni berbalik hendak kembali ke ruang tamu untuk berpamitan pada Papa, langkahnya tiba-tiba terhenti. Olivia berdiri bersandar di dinding dekat ruang tamu, posisi yang agak tersembunyi dari sudut pandang dapur tempat Marcella berada. Gadis itu sedang menggenggam beberapa butir kacang atom di telapak tangannya.
Doni menahan napas sejenak, lalu melangkah melewati Olivia dengan santai. Namun saat Doni berada tepat di sampingnya, Olivia mendekatkan kepala dan mengucapkan sesuatu dengan berbisik pelan.
“Akting diem-nya tadi bagus banget, Kak Don. Sangat mendukung cerita yang terpaksa ku buat tadi gara-gara diinterogasi dadakan sama Papa sama Kak Cella. Makasih, ya. Tapi… aku masih punya satu rahasia lagi, loh!” bisiknya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Doni menghentikan langkahnya seketika. Dia menoleh ke samping dengan tatapan terkejut.
Olivia sedang mengunyah kacang atomnya sambil menatap Doni dari balik bulu matanya yang lentik dengan tatapan menantang dan senyum tipis yang amat misterius. Dia menikmati sepenuhnya dominasi dan rahasia kecil yang kini berada di genggamannya.
Sebelum Doni sempat merangkai kata untuk membalas, Marcella sudah menyusul keluar dari arah dapur sambil mengeringkan tangannya dengan lap kain.
“Don, mau pulang sekarang atau nanti aja?” tanya Marcella hangat.
Doni dengan cepat menguasai dirinya, memutus kontak mata dengan Olivia lalu menoleh ke Marcella.
“Sekarang aja kayaknya, Cell. Udah mau jam sembilan juga, takut kemalaman. Ntar ada begal”, jawab Doni tampak serius.
“Hah? Begal?” tanya Marcella kaget menahan tawanya. “Iya, deh. Jam-jam segini… emang… rawan, sih”, mengira Doni bercanda, Marcella semakin berusaha keras menahan untuk tidak tertawa saat melihat wajah serius Doni.
“Aku pamit sama Papa sama Mama dulu, ya”, balas Doni tanpa mengetahui Marcella yang sedari tadi sudah menahan tawanya sekuat tenaga.
Setelah berpamitan, Doni pun sudah berada di atas motornya dengan helm yang sudah terpasang. Dia kemudian melambaikan tangan kepada Marcella, Mama, dan Papa yang masih berdiri di ambang pintu utama. Sedangkan Olivia? Dia sudah sedari tadi berada di kamarnya yang nyaman di lantai dua. Namun, dia sempat mengintip kepergian Doni setelah menyingkap sedikit tirai jendelanya.
Malam semakin dingin saat motor Doni menyusuri jalanan kota menuju kosannya. Di dalam helm, napas Doni terengah pelan. Dia lolos dari ancaman terbongkarnya rahasia di meja makan tadi. Namun, bisikan Olivia sebelum dia pulang terus bergema di ingatannya. ‘Rahasia apa lagi yang gadis kecil itu punya?’ gumamnya.