Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Snack yang Tak Tergapai
Di parkiran kafe, Doni menyerahkan helm cadangannya pada Olivia. Tanpa canggung, gadis SMA itu memakai helm tersebut lalu menaiki jok belakang motor Doni. Dan seperti saat pertama kali Doni memboncengnya malam itu, Olivia kembali meletakkan tas olahraganya yang besar itu tepat di pangkuannya, menjadi benteng pembatas alami di antara punggung Doni dan tubuh Olivia. Doni menghela napas lega dalam hati. ‘Setidaknya aman’, batinnya saat menyalakan mesin motornya. Dia lalu memacu motornya keluar menuju jalan raya.
Kecepatan motor Doni yang cukup pelan membuat Olivia tertawa kecil. Dia teringat akan cerita kakaknya yang bilang kalau Doni memang cukup memperhatikan keselamatan berkendara saat memboncengnya, atau yang biasa Marcella bilang: safety riding. Saat diceritakan oleh kakaknya itu, Olivia terkekeh geli. Dia bahkan menggoda Marcella dengan mengatakan kalau itu hanyalah akal-akalan Doni agar bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Marcella di perjalanan. Olivia mungkin menganggap itu lucu. Namun, dia tidak tahu kalau saat ini Doni memakai alasan yang sama itu saat memboncengnya sekarang.
Perjalanan ke supermarket seharusnya tak memakan waktu lama. Tapi sepertinya cengkeraman Olivia di jaket Doni seolah membuatnya betah berlama-lama di perjalanan. Olivia bahkan sesekali memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket Doni dengan santai, membuat debaran jantung Doni lebih cepat daripada kecepatan motornya.
Kurang lebih dua puluh lima menit kemudian, mereka baru sampai di dalam supermarket besar yang berpendingin udara. Olivia mengambil satu troli belanjaan yang cukup besar, menyerahkan pegangannya pada Doni, lalu mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rak sambil membaca catatan belanja dari sang Mama di ponselnya.
“Kak Doni dorong trolinya ya, aku yang milih barang”, perintah Olivia santai tanpa rasa bersalah.
“Siap, Tuan Putri”, sindir Doni halus, walau tangannya tetap patuh mendorong troli mengekor di belakang Olivia sambil tersenyum.
Melihat Olivia yang dengan cermat memilih sabun cuci, minyak goreng, hingga bumbu dapur, Doni tak bisa menahan kekagumannya. Ada aura dewasa yang manis terpancar dari gadis itu saat fokus belanja. Namun, sifat kekanak-kanakannya kembali muncul saat mereka sampai di lorong cemilan.
“Wah, diskon nih! Lumayan”, seru Olivia girang. Dia berjinjit, mencoba meraih kemasan keripik kentang ukuran jumbo di rak paling atas.
Melihat tinggi badan Olivia yang masih kurang beberapa sentimeter, Doni melangkah mendekat dari belakang. Dengan mudah, tangan Doni yang lebih panjang terulur melintasi atas kepala Olivia, lalu menggapai kemasan keripik itu.
“Yang ini, Liv? Katanya atlet basket, masa nggak nyampe?” ejek Doni sambil tertawa lepas. Namun, saat Olivia menoleh, tawa itu seketika menghilang dari bibir Doni. Dia hanya bisa terpaku, dikala tatapan mereka bertemu. Jarak mereka terlalu dekat, membuat Doni membeku saat mata cokelat Olivia yang berada tepat di atas dadanya menatapnya polos. Bagi Doni, waktu serasa terhenti saat itu juga. Doni terpesona oleh kepolosan wajah adik pacarnya sendiri, sebelum rasa bersalah yang menusuk cepat-cepat memaksanya untuk memutus kontak mata itu. Jarak mereka yang mendadak sangat dekat membuat Doni refleks mundur satu langkah, memegang dadanya yang berdebar tak beraturan.
“B-bener yang ini kan, Liv… snack-nya?” tanya Doni gelagapan setelah mundur beberapa langkah, dan hampir membentur troli dengan kakinya.
“Iya, bener. Makasih ya, Kak. Cus, masukin troli”, perintah Olivia cuek, menganggap tidak ada apa-apa yang terjadi tadi.
Sudah sekitar tiga puluh menit berlalu, troli mereka akhirnya sudah terisi penuh dengan bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Doni mendorong troli menuju kasir, sementara Olivia berdiri di sampingnya sambil mengayun-ayun tas olahraganya.
Ibu kasir yang paruh baya tersenyum ramah melihat mereka berdua. Sambil memindai barcode barang satu per satu, wanita itu terkekeh pelan.
“Pacarnya keren banget, Dek. Tipe mantu idaman banget, deh”, puji Ibu kasir ramah. “Jarang-jarang loh, ada cowok jaman sekarang yang mau sabar nemenin pacarnya milih bumbu dapur sama sabun cuci. Serasi banget kalian”
‘Waduh!’, batin Doni tersentak. Mata Doni membelalak seketika. Perasaan Doni campur aduk. Dia kaget, tapi ada rasa bangganya juga sedikit disana.
“Eh… Ng-nggak, Bu! Kami bukan…”
“Bener banget, Bu!” sela Olivia santai sambil tertawa renyah, sama sekali tak berniat meluruskan salah kaprah sang kasir. “Dari tadi dia emang sabar banget ngikutin saya terus”, sambung Olivia tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Doni agak keras.
Doni hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan wajah memerah padam, sementara si Ibu kasir makin tersenyum menggoda. Olivia yang polos itu sama sekali tidak sadar kalau candaannya baru saja membuat jantung Doni hampir copot.
Setelah selesai membayar dan mengemas barang belanjaan ke dalam tiga kantong plastik besar, Doni dan Olivia berjalan menuju pintu keluar area supermarket.
Drrt... Drrt…
Ponsel di saku rok Olivia bergetar. Olivia merogohnya, lalu menghentikan langkah.
“Eh, Kak Cella nelfon”, ucap Olivia santai saat melihat nama di layar ponselnya. “Halo? Iya, Kak?”
Doni yang berada di sampingnya mendadak tegang. Dia mencengkeram kantong plastiknya erat-erat.
“Liv, kamu masih di supermarket?” suara Marcella terdengar dari seberang telepon. “Ini aku udah selesai nih, di kampus. Kalau kamu masih disana, aku jemput, ya? Kamu udah selesai belum, belanjanya?”
“Iya, Kak. Udah selesai, sih. Ini barusan keluar dari supermarket”, jawab Olivia sambil melirik tiga kantong belanjaan besar yang dipegang Doni.
“Oh gitu… Oke, kalau gitu, kamu tunggu di sana bentar, ya. Ini aku udah di mobil”, kata Marcella.
“Oke, Kak!” jawab Olivia santai sebelum mematikan sambungan telepon. Dia menoleh ke Doni. “Kak Cella mau nyusul ke sini, Kak. Dia mau jemput aku katanya”
“Oh… bagus lah, kalau gitu”, Doni bernapas lega, lalu meletakkan kantong-kantong belanjaannya yang sejak tadi dicengkeramnya. “Nih, belanjaan kamu. Aku balik duluan, ya? Takutnya ntar ketem…”
Drrt... Drrt…
Getaran ponsel Doni memotong kalimatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya: Marcella ❤︎
“H-halo?” sapa Doni kagok dengan tangan agak gemetar. “K-kenapa, Cell?”
“Lagi dimana, Don?” tanya Marcella dari seberang telepon, suaranya terdengar bising dengan latar belakang suara mesin mobil. “Masih di kampus, atau udah di kosan?”
“Aku... udah… selesai kuliah, sih. Ini lagi di… jalan, Cell. Kenapa emang?” bohong Doni terbata-bata.
“Oh gitu… pas banget!” sahut Marcella cepat. “Ini aku lagi di jalan mau jemput Oliv di supermarket. Harusnya aku yang pergi, tapi aku lagi nggak bisa tadi, makanya aku nyuruh dia. Tadi aku lihat daftar belanjaan yang dikasih Mama banyak banget. Jadi, aku mau minta tolong kamu buat kesana bantuin ngangkat belanjaan, ya? Takutnya Oliv nggak kuat. Ini aku juga lagi otw kesana, kok.”
Doni membeku total di tempatnya berdiri. Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, matanya membelalak menatap Olivia yang sedang polos memperhatikannya. Marcella menyuruh Doni untuk pergi ke supermarket di mana dia sudah berdiri di sana bersama adiknya!