Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kejar-Kejaran di Ruang Keluarga
Sarapan pagi itu berlangsung dengan tenang dan hangat. Telur orak-arik, roti panggang, dan segelas susu hangat menemani mereka berdua. Alex makan dengan lahap, sesekali tersenyum dan memuji masakan Liora. Liora sendiri merasa sedikit lebih ringan setelah pagi yang penuh dengan kebingungan dan ciuman tak terduga.
Setelah selesai, Liora membereskan meja makan. Ia mencuci piring dan gelas di wastafel, mendengar suara air mengalir yang menenangkan. Alex, seperti biasa, pergi ke ruang keluarga untuk bermain atau membaca.
Namun, saat Liora selesai mengeringkan tangannya dan melangkah ke ruang keluarga, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup cepat.
Alex sedang duduk di sofa. Di tangannya, ia memegang sebuah buku yang sudah sangat dikenalnya.
Buku biru itu.
Buku tentang hubungan suami istri.
Buku yang sama yang ia sembunyikan di atas lemari beberapa hari lalu.
Liora membelalak. Ia tidak tahu bagaimana buku itu bisa kembali ke tangan Alex. Apakah Alex mengambilnya saat ia tidak melihat? Ataukah buku itu kembali muncul secara misterius?
Alex sedang membuka halaman-halaman buku itu. Matanya fokus pada ilustrasi yang ada di dalamnya. Liora bisa melihat dari jarak jauh—ada gambar dua orang sedang berciuman, persis seperti yang Alex tunjukkan beberapa hari lalu.
Liora merasa wajahnya memanas. Ia tidak bisa membiarkan Alex membaca buku itu lagi. Terlalu banyak hal yang tidak seharusnya ia ketahui.
Dengan langkah cepat, Liora mendekati sofa. Alex baru saja akan membalik halaman berikutnya ketika tangan Liora dengan cepat meraih buku itu dari tangannya.
"Jangan baca buku itu, Alex!" seru Liora, suaranya sedikit tinggi.
Alex mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung. "Kenapa Liora ambil buku Alex? Alex baru saja membaca!"
"Buku ini bukan untuk kamu, Alex. Kamu tidak perlu membaca hal-hal seperti itu," kata Liora sambil menyembunyikan buku di balik punggungnya.
Alex mengerutkan kening. Wajahnya berubah dari bingung menjadi kesal. "Tapi Alex ingin tahu! Liora janji mau melakukan apa saja! Kenapa Liora selalu mengambil buku Alex?"
Liora menggeleng. "Maaf, Alex. Tapi buku ini tidak baik untukmu."
Alex tidak mendengar. Ia bangkit dari sofa dan mencoba mengambil buku itu kembali. Liora mundur, tetapi Alex lebih cepat. Ia mengejar Liora di sekitar meja kopi.
"Kembalikan, Liora! Itu buku Alex!" teriak Alex.
"Tidak, Alex! Buku ini akan aku simpan!" jawab Liora sambil berlari ke sisi lain ruang keluarga.
Terjadilah kejar-kejaran di ruang keluarga. Alex berlari mengejar Liora, sementara Liora berusaha menghindar sambil tetap memegang buku itu erat-erat. Mereka mengitari meja kopi, sofa, dan kursi-kursi kayu. Alex tertawa kecil meskipun ia sedang mengejar, dan Liora juga tidak bisa menahan tawanya meskipun ia panik.
"Liora, Alex akan menangkapmu!" teriak Alex dengan semangat.
"Tidak akan!" balas Liora sambil tertawa.
Namun, akhirnya, kejar-kejaran itu berakhir. Saat Liora mencoba berbelok di dekat sofa, kakinya tersandung kaki kursi. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas karpet tebal yang ada di ruang keluarga. Buku biru itu terlepas dari tangannya dan mendarat di lantai.
Alex yang melihat Liora jatuh, langsung mendekat. Ia tidak mengambil buku itu. Sebaliknya, ia menjatuhkan dirinya di samping Liora, lalu dengan cepat, ia mulai menggelitiki pinggang Liora.
"Kreeek! Kreeek! Liora kalah! Alex menang!" teriak Alex sambil terus menggelitiki Liora.
Liora tertawa terbahak-bahak. "Ampun, Alex! Ampun! Stop! Hahaha!"
Alex tidak berhenti. Jari-jarinya bergerak lincah di sisi tubuh Liora yang paling sensitif. Liora berguling-guling di atas karpet, mencoba melindungi dirinya, tetapi Alex terus menggelitikinya dengan penuh semangat.
"Alex... ampun... hahaha... Liora sudah menyerah!" teriak Liora sambil menangis—bukan karena sedih, tetapi karena tertawa terlalu keras. Air matanya mengalir di pipinya.
Melihat Liora menangis, Alex akhirnya berhenti. Ia menatap Liora yang terbaring di atas karpet, napasnya tersengal-sengal, dan air matanya masih mengalir.
"Liora menangis?" tanya Alex, suaranya berubah menjadi khawatir.
Liora menggeleng sambil masih tertawa kecil. "Bukan menangis sedih... hahaha... Liora menangis karena terlalu banyak tertawa!"
Alex tersenyum lega. "Jadi Liora tidak sedih?"
"Tidak, Alex. Liora tidak sedih," jawab Liora, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Alex tersenyum. Lalu, ia berbaring di samping Liora, di atas karpet yang sama. Tubuhnya meregang, dan kepalanya menempel di bahu Liora.
"Alex lelah," gumamnya.
Liora juga merasa lelah. Kejar-kejaran dan gelitikan itu menguras tenaganya. Ia berbaring di karpet, menatap langit-langit ruang keluarga.
Mereka berdua berbaring dalam keheningan. Napas mereka mulai teratur, dan rasa lelah perlahan menguasai tubuh mereka.
Tidak lama kemudian, Liora mendengar suara napas Alex yang berubah menjadi lebih pelan dan teratur. Ia menoleh sedikit, dan melihat Alex sudah tertidur. Wajahnya polos, seperti anak kecil yang baru saja bermain sepuasnya. Ia tertidur di samping Liora, kepalanya masih bersandar di bahunya.
Liora tersenyum. Ia tidak bergerak, takut membangunkan Alex. Ia membiarkan Alex tidur di bahunya, sementara ia sendiri menatap langit-langit ruang keluarga.
Di atas mereka, lampu kristal yang tergantung di tengah ruangan berkilauan lembut. Cahayanya yang hangat menerangi ruangan, menciptakan suasana yang damai dan tenang. Liora memandang lampu itu, dengan butiran-butiran kristal yang memantulkan cahaya.
"Lampu kristal," bisiknya pelan.
Ia memikirkan semua yang telah terjadi. Tentang ciuman pertama. Tentang ciuman kedua. Tentang buku-buku yang selalu ia sembunyikan. Tentang Alex yang kadang-kadang terlihat sangat dewasa, tetapi kadang-kadang sangat polos.
Liora menatap Alex yang tertidur di bahunya. Pria itu terlihat begitu damai.
Mungkin, pikir Liora, hidup di desa ini tidak terlalu buruk. Mungkin, ia bisa belajar menerima Alex apa adanya.
Angin pagi berembus pelan dari jendela yang terbuka, membawa aroma dedaunan dan tanah. Dan Liora, untuk pertama kalinya, merasakan ketenangan yang tidak ia rasakan sejak tiba di desa ini.
Mereka berdua tertidur di atas karpet, di bawah lampu kristal yang berkilauan. Hari itu belum berakhir, tetapi keheningan mereka sudah cukup untuk mengisi hati Liora dengan rasa damai yang baru.
saling support sabi kali😉