NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

"Pasti kesukaan mereka jelek. Robot ini kan jelek," cibir Nero tetap keras kepala.

"Ini sudah cukup bagus. Anak-anak di tempatku pasti sangat suka robot seperti ini," ujar Asia meyakinkan. Mencoba membuat bocah itu sadar bahwa mainan tersebut masih punya nilai.

"Ya. Nanti kamu nangis nyariin robotnya, Nero." Sersan Gilang ikut menimpali. Pria itu meletakkan nampan makanan dengan rapi di atas meja. Mencoba ikut meredam potensi drama baru dari anak atasannya.

"Tidak. Aku bisa beli yang lain yang lebih bagus!" Nero menyombongkan diri. Tapi dengan cara lucu. Bocah itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan ekspresi sok keren yang justru terlihat menggemaskan.

"Aku mau makan. Aku lapar." Mood bocah ini langsung berubah. Dia bahkan tidak peduli robot itu diambil Asia atau tidak. Dengan cepat dia langsung meraih sepotong ayam goreng di depannya tanpa beban.

Nih bocah. Ingin aku pites dia. Sejak tadi aku sudah lapar tahu! Batin Asia. Dia menatap tajam ke arah ayam goreng. Menahan diri sekuat tenaga agar tidak merebut makanan di depan anak kecil itu karena cacing di perutnya sudah berdemo.

"Silakan dimakan," ujar Hugo mempersilakan. Pria itu menyadari tatapan kelaparan dari wanita di depannya dan memberikan izin dengan nada bicaranya yang tetap formal.

Padahal tadi Asia minta dibungkus. Tapi karena sudah dihidangkan dia memilih untuk langsung makan. Tidak baik menolak makanan apalagi sudah tersaji. Ditambah lagi, kondisi perutnya memang sudah sangat lapar dan aroma makanan di depannya benar-benar menggugah selera. Menunggu sampai tiba di rumah hanya akan menyiksa dirinya sendiri.

"Terima kasih," ujar Asia sebelum melahap makanan di depannya. Tanpa membuang waktu atau memedulikan gengsi di depan dua pria berseragam dan satu bocah di dekatnya, dia langsung menyuap makanannya dengan lahap.

Baginya, urusan mengisi perut yang kosong jauh lebih penting daripada memikirkan pandangan orang lain saat ini.

Hening sesaat karena Asia mulai makan dengan lahap. Nero juga sibuk dengan makanannya. Mereka berdua larut dalam kegiatan masing-masing tanpa memedulikan hal lain di sekitar mereka. Fokus mereka sepenuhnya tertuju pada piring dan makanan yang harus segera dihabiskan.

Hugo dan Gilang hanya diam memperhatikan pemandangan itu. Suasana di meja yang tadinya tegang karena tangisan Nero kini berubah menjadi tenang karena kedua orang yang paling berisik itu sudah sibuk mengunyah.

Nero menyeka mulutnya menggunakan punggung tangan dengan gerakan kasar khas anak kecil. Matanya kembali menatap Asia, bersiap mencari celah untuk kembali mendebat wanita di depannya.

Hugo yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara. Pria di kursi roda itu menatap Asia dengan pandangan menyelidik.

"Siapa nama kamu?" tanya Hugo.

"Nama saya Asia, Tuan."

Hugo mengangguk pelan. Mengingat nama itu sebelum kemudian menawarkan bantuan hukum yang bisa dia berikan melalui posisinya. "Aku bisa membantumu melaporkan mereka pada polisi. Aku lihat mereka memukulimu."

Asia sempat tertegun mendengar perhatian dari pria itu. Sifatnya yang tidak terbiasa berbasa-basi membuat kalimatnya sempat meluncur begitu saja.

"Maaf, Tuan. Sebenarnya bukan salah mereka juga, tapi murni ... Ah sudahlah. Terima kasih, Tuan. saya tidak apa-apa."

Asia menghentikan ocehannya. Untuk apa bercerita pada orang baru. Kesadarannya langsung kembali bahwa dia tidak boleh terlalu santai dan mengumbar masalah pribadinya kepada orang asing. Asia langsung memotong kalimatnya sendiri secara tegas.

"Kenapa tidak dilaporkan? Biar mereka ditangkap seperti penjahat di televisi!" timpal Nero tiba-tiba. Bocah itu menyilangkan kedua tangan di dada, ikut campur dengan wajah sok serius yang justru terlihat lucu.

Asia melirik Nero sekilas dan tersenyum, lalu beralih kembali pada Hugo. Melihat Asia yang mendadak menahan diri dari pertanyaan hukum tadi, Hugo tidak memaksa putranya untuk diam. Pria itu justru mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang sempat mengusik perhatiannya sejak awal.

"Maaf sudah mengajakmu makan disini padahal kamu tadi minta untuk di bungkus saja." Hugo masih ingat soal itu rupanya. Dia tahu bahwa awalnya Asia menolak makan di tempat karena ada hal lain yang harus segera wanita itu urus.

"Tidak apa-apa sya juga lapar. Kalau begitu, saya permisi pulang," jawab Asia dengan nada bicara yang tetap tertata, sopan, dan formal. Dia langsung berdiri dari kursinya agar tidak memperpanjang obrolan.

"Hei, kamu mau pulang ke mana? Memangnya punya rumah?" sahut Nero lagi dengan nada menantang, menatap Asia dari bawah ke atas. Kenakalan alaminya langsung keluar begitu tahu wanita yang menundukkannya tadi akan pergi.

"Nero, jaga bicaramu. Sopan santun itu nomor satu," tegur Hugo dengan suara rendah namun terdengar sangat dalam dan tegas. Sorot matanya menajam. Memberikan peringatan langsung yang membuat nyali bocah itu seketika menciut.

Nero langsung membungkam mulutnya, menunduk dalam sambil memainkan jarinya karena takut melihat kilatan marah di mata ayahnya.

Gilang yang melihat situasi mulai menegang langsung berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana agar Asia tidak merasa tersinggung dengan ucapan polos nan tajam dari anak atasannya itu. "Nero ini kalau bicara memang suka blak-blakan, Mbak Asia. Mohon dimaklumi," ucap Gilang dengan senyum tidak enak hati.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti," sahut Asia sambil tersenyum palsu untuk menutupi geregetannya. Lalu beralih pada Nero. "Hei, tentu saja aku punya rumah. Kamu bisa main ke rumahku, banyak anak-anak kecil disana." Tentu saja Asia basa basi.

Mendengar tawaran Asia, Gilang langsung menoleh ke arah Nero dengan tatapan menggoda. Memancing bocah itu. "Wah, seru itu, Nero. Kamu kan suka punya banyak teman."

"Enggak!" sahut Nero acuh tak acuh.

Asia hanya mendengus geli tanpa niat meladeni tantangan bocah itu. "Terima kasih banyak atas makan malamnya, Tuan," lanjut Asia, memberikan anggukan kecil sebagai tanda hormat.

"Sama-sama, Mbak Asia. Hati-hati di jalan," balas Gilang ramah, sementara Hugo hanya mengangguk pelan melepas kepergian wanita itu.

Setelah berpamitan, Asia berbalik. Asia berjalan pulang sendirian, menyusuri trotoar jalan raya yang mulai sepi di bawah sorot lampu kota.

Sementara itu di meja makan, sisa-sisa tenaga Nero langsung habis setelah Asia menghilang dari pintu keluar. Rasa kantuk yang luar biasa akibat kekenyangan mendadak menyerangnya secara instan. Matanya terpejam-pejam, dan kepalanya perlahan jatuh terkulai ke arah lengan kursi roda ayahnya.

""Biar saya gendong, Kapten," bisik Gilang pelan agar tidak mengagetkan si kecil.

Hugo mengangguk.

Gilang dengan sigap langsung bergerak maju untuk menggendong tubuh kecil bocah itu yang mulai lemas tak bertenaga untuk membawanya masuk ke dalam mobil. Nero benar-benar tertidur pulas sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!