Setiap rumah tangga pasti memiliki yang namanya masalah begitu pun dengan rumah tangga Dian dan Andara.
Karena sebuah kejadian Dian harus menerima kenyataan, bahwa kemungkinannya kecil untuk dia bisa memiliki anak atau bisa hamil lagi! Bagai disambar petir di siang bolong, saat Dian mendengar kenyataan itu.
Tetapi wanita itu tidak kehilangan semangat hidupnya, dia percaya usaha dan doa pasti tidak akan mengkhianati hasil.
Tapi sayang, ujian rumah tangganya tidak sampai di situ, karena saat mertuanya meminta dia untuk mengizinkan suaminya menikah lagi, dia pun dengan terpaksa mengiyakan hal itu.
Sakit, kecewa dan hancur! Tentu saja Dian rasakan, tetapi Dian berusaha tegar menghadapi setiap keadaan sampai pada akhirnya ia lelah dan merelakan semuanya.
Kenapa? Karena dunianya menuntut dia untuk berdamai dengan keadaan, sementara keadaan membunuhnya secara perlahan. Dengan menangis di tengah malam dan tersenyum serta tertawa di pagi hari. Walaupun dia tahu semuanya tidak akan seindah dulu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan.
Tiga hari telah berlalu setelah ketuk palu perceraian Dian dan Andara, masih teringat dengan jelas di benak Dian saat Andara memohon untuk menggendong Gio tetapi Dion tidak mengijinkan hal itu bahkan Dion tidak peduli saat mantan kakak iparnya itu berlutut dan memohon di hadapan mereka.
Dan sampai detik ini pun Andara masih sering datang ke rumahnya untuk bertemu dengan Gio tapi seperti hari-hari sebelumnya baik papanya maupun Dion tidak mengijinkan lelaki itu untuk menginjakkan kaki di halaman rumah mereka.
Terkadang Dian merasa iba kepada mantan suaminya itu tetapi dia tidak dapat melakukan apa-apa di bawah perintah adik dan papanya.
Ketegasan Dion dan papanya tidak hanya sampai di situ mereka bahkan mengganti semua nomor ponsel Dian yang dapat dihubungi oleh Andara, awalnya dia menolak tetapi adik dan papanya itu terlalu keras untuk dilawan saat ini, toh semua yang mereka lakukan itu untuk kebaikan dia dan Gio. Walaupun Dian sering merasa bersalah karena memisahkan ayah dan anaknya.
Dan semua ini bisa terjadi karena sikap mantan mertuanya hari itu, sehingga Dion tidak bisa memaafkan keluarga Bagaskara begitu saja.
" Kakak mau kemana?" Tanya Dion saat melihat Dian berjalan menuju pintu gerbang halaman rumah mereka sambil menggendong Gio. Dimana Andara selalu menunggu mereka di sana. Lelaki itu seakan lupa kalau ia memiliki anak dan istri yang harus di perhatikan.
" Dek sebentar aja." Pinta Dian.
" Tidak, masuk." Tegas nya. membuat Dian tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti ucapan Adik nya dengan sesekali menatap kearah gerbang.
" Maaf ya mas! aku tidak dapat membantah mereka lagi, sebab mereka sudah banyak terluka karena aku." Ucap Dian di dalam hatinya, seakan Andara dapat mendengar kata-katanya.
Wanita itu melangkahkan kakinya dengan begitu berat, seolah ada yang menahannya. " Dek." Panggilannya ke pada Dion. Ia berharap Dion sedikit luluh dan memberikan dia kesempatan untuk bertemu dengan Andara.
Sebab Kekecewaan keluarga Xavier bukan tanpa alasan. Sindiran mama Andara waktu di persidangan, membuat Dian mau tak mau harus menceritakan sikap keluarga mantan suaminya tanpa harus ada yang di tutup-tutupi lagi.
Dan alhasil beginilah jadinya, Dian dilarang bertemu keluarga Bagaskara tidak hanya itu bentuk kemarahan Dion dan papanya. Keduanya bahkan memutuskan beberapa kontrak kerja sama dengan perusahaan Bagaskara, walaupun tidak semuanya! dan semua itu bisa terjadi karena Dian memohon kepada adik dan papanya.
" Kalau ada yang masih ingin kakak bicarakan sama dia, silahkan temui dia! tapi hanya untuk kali ini saja." Ucap Dion, membuat kedua sudut bibir Dian tertarik ke atas.
" Terima kasih Dek." Ucap Dian, langsung berbalik untuk menemui Andara, sebelum adiknya itu berubah pikiran.
" Kak." Panggil Dion menghentikan langkah Dian.
" Ya." Dian berbalik menatap Dion dengan perasaan cemas.
" Maaf kak yang aku izinkan hanya kakak tidak dengan Gio." Ucap Dion sembari mengulurkan tangannya kepada kakaknya itu.
" Tapi_"
" Kalau kakak tidak mau silahkan masuk dan jangan berharap ke depan kakak bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk menemui nya lagi."Tegas Dion sebelum Dian melanjutkan ucapannya. " Maaf ya kak, jika karena hal ini kakak ingin membenciku dan tidak menganggap aku adik, aku tidak akan marah karena apa yang aku lakukan saat ini hanya untuk membalas rasa sakit kakakku. " Lanjutnya sembari mengambil Gio dari Gendongan Dian dan melangkah meninggalkan Dian yang masih tidak bergeming di tempatnya.
" Dian aku mohon berikan aku satu kesempatan dan akan memperbaiki semuanya, aku mohon." Suara teriakan Andara menyadarkan Dian.
Wanita itu pun menghampiri pintu gerbang rumahnya. Dimana Andara selalu menunggu belas kasih darinya untuk bertemu dengan Gio selama tiga hari ini.
" Pak buka gerbangnya." Pinta Dian kepada security yang sedang berjaga.
" Maaf mbak Dian! Tuan melarang kita untuk membukakan pintu kepada keluarga Bagaskara." Jelas sang security hanya di angguki Dian, wanita itu tidak dapat berbuat banyak jika papanya sudah menunjukkan ketegasannya seperti ini.
Pada akhirnya Dian yang keluar menemui Andara, melewati pintu kecil yang berada di samping gerbang. Entah terbuat dari apa hati Dian sehingga wanita itu masih sanggup memberikan maaf dan bersikap baik kepada Andara sehebat apapun luka yang Andara berikan kepadanya dan baiknya seorang Dian, ia tidak menaruh benci ataupun dendam kepada Mantan suami dan mertuanya.
" Dian, sayang kamu Disini." Ucap Andara sambil meraih kedua tangan Dian dan kembali berlutut di hadapan Dian. " Sayang tolong Maafkan aku. Berikan aku satu kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya." Lanjutnya seraya mencium kedua punggung tangan Dian yang berada dalam genggamannya.
" Mas jangan seperti ini, Ayo bangun dan pulanglah. El dan anak-anak kalian pasti sedang menunggu mas sekarang." Ucap Dian.
Sesungguhnya wanita itu begitu tidak tega melihat Andara seperti ini. bayangkan saja, Andara yang dulunya selalu rapi dan tidak suka sesuatu yang berbau alkohol dan nikotin kini berbanding terbalik dari Andara yang Dian kenal. Penampilan acak-acakan belum lagi bau Alkohol yang menyengat dari tubuhnya.
" Aku tidak peduli, Jika mereka ingin meninggalkan aku, Asal jangan kamu dan anak kita Di. Sebesar itukah kebencian kamu sama aku Di, sampai kamu tidak memberitahu aku tentang kehadiran nya bahkan kamu tidak memberi aku kesempatan untuk menggendong dia. " Ucap Andara, lelaki itu tidak malu menangis di hadapan Dian. Syukurnya, rumah Dian berada di kawasan elite sehingga tidak banyak yang melihat Andara seperti ini.
" Aku tidak membencimu mas." Dian mengusap kepala Andara. " Alasan aku tidak memberi tahu kamu tentang dia, karena aku takut kalian tidak mempercayai aku. Apalagi saat itu kamu dan mama begitu yakin kalau aku ini wanita mandul, Sekali saja aku tertekan atau stress aku bisa kehilangan Gio. Dan soal kesempatan, aku terus memberikan kamu kesempatan tapi kamu tidak pernah datang, berapa banyak kesempatan yang aku berikan kepada kamu." Entah Andara akan mengerti atau tidak, Dian tetap berusaha menjelaskan semuanya.
" Maafkan aku, aku salah tolong kasih aku kesempatan yang terakhir." Pinta Andara dengan tidak tahu malunya.
" Maaf mas! sudah terlalu banyak kesempatan yang aku berikan dan kali ini tidak ada lagi, sebaiknya kamu pulang temui istri dan anak-anak kamu mas."
" Di aku mohon jangan berbicara seperti itu, aku cinta sama kamu bukan Elana." Ucap lelaki itu. sementara Dian menanggapi nya dengan gelengan kepala.
" Tidak mas! Dulu mungkin iya, kamu mencintai aku tapi sekarang tidak. entah kamu sadar atau pura-pura tidak menyadarinya di dalam hati kamu sudah ada Elana di sana. karena jika masih ada aku di sana! sehebat apapun seorang Elana, kamu tetap akan menemui aku di saat aku minta, bukan memberi alasan atas dasar kepedulian. pergilah mas, kembalilah bersama El dan anak-anak kalian dan berbahagialah bersama mereka. lupakan aku dan anggap aku tidak pernah hadir dalam hidup kamu. Soal Gio aku telah memberikan nama keluarga kalian, bukan untuk mengenang aku yang pernah kamu sakit tetapi untuk membuktikan kalau keluarga Bagaskara tidak akan berakhir hanya sampai di ketiga anakmu sama seperti yang di khawatir kan mama. Pulanglah bila semuanya telah membaik, aku akan mempertemukan kalian, aku janji." Itulah kata-kata terakhir yang di ucapkan Dian kepada Andara.
Dan setelah hari itu Tuan Xavier mengirim Dian dan Gio ke Landon. untuk tinggal bersama Adik Perempuannya tentunya tanpa sepengetahuan Andara dan keluarganya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💔💔...
...Aku lagi khilaf. 🤣...
...harusnya kan libur. 🤔...
sekarang nikmati saja penyesalanmu...itu gk sebanding dg penderitaan Diana selama ini