Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Mata-Mata "Operasi Semak Belukar"
Malam itu juga, aliansi bisnis kami langsung mengadakan operasi perdana.
Target: Damian von Hart. Lokasi: Taman Mawar Timur. Status: Galau Brutal.
Menurut informasi intelijen (hasil nguping pembicaraan pelayan dapur), Damian sedang berdiri sendirian di taman, menatap bulan sambil merenung. Ini adalah konten emas. Di pasar gosip ibu kota, foto Duke yang sedang kesepian dan terluka hatinya bisa dijual dengan harga premium kepada para gadis muda yang punya sindrom 'I can fix him'.
Masalahnya cuma satu: Rekan kerjaku.
"Vivienne!" desis Bianca, suaranya terdengar seperti ketel uap yang mau meledak. "Gaunku nyangkut lagi!"
Kami sedang merayap di balik deretan tanaman hedge (pagar tanaman) setinggi dada. Aku memakai gaun malam berwarna biru tua yang cukup praktis. Sudah kupotong sedikit rendanya diam-diam. Tapi Bianca?
Dia memakai gaun sutra berwarna kuning kenari cerah dengan rok yang lebarnya bisa menampung tiga orang pengungsi.
"Ya ampun, Bia," bisikku sambil berusaha melepaskan ujung gaunnya dari duri mawar. "Kita ini mau jadi ninja, bukan mau ke pesta dansa. Kenapa kamu pakai baju warna kuning stabilo begini? Kamu mau ngasih sinyal ke Damian? 'Halo, saya di sini, tolong tembak saya'?"
"Ini gaun Taffeta sutra impor!" protes Bianca, menepis tanganku. "Dan warnanya Canary Yellow, bukan stabilo! Lagipula, seorang lady harus selalu tampil prima, bahkan saat sedang... merayap di tanah."
"Terserah. Geser pantatmu ke kiri. Kamu ngalangin view."
Aku memberi kode pada orang ketiga di tim kami malam ini. Bukan, bukan kamera. Kamera di zaman ini ukurannya segede lemari dan butuh waktu 5 menit buat ambil satu foto. Kalau kami pakai itu, Damian keburu tua.
Sebagai gantinya, kami menyewa seorang pelukis sketsa kilat. Namanya Pak Leo. Dia biasanya melukis sketsa buronan polisi, jadi tangannya cepat dan akurat. Aku membayarnya pakai sisa uang jajan Bianca.
"Pak Leo," bisikku pada pria tua kurus yang sedang memegang papan sketsa dengan gemetar. "Siap? Target di arah jam 12."
Pak Leo mengangguk patah-patah, matanya melotot ketakutan. "Ta-tapi Nona... itu Duke Hart. Kalau saya ketahuan melukis beliau tanpa izin, tangan saya bisa dipotong."
"Nggak bakal," potongku. "Kalau ketahuan, bilang aja Bapak lagi melukis pemandangan malam, terus Duke nggak sengaja lewat. Udah, buruan! Itu momennya lagi bagus!"
Kami mengintip dari celah dedaunan.
Di sana, di bawah sinar rembulan yang dramatis, berdiri Damian.
Dia bersandar pada sebuah pilar batu kuno. Satu tangannya di saku celana, tangan lainnya memegang segelas anggur yang entah dia dapat dari mana, mungkin dia bawa sendiri dari kamar. Wajahnya mendongak menatap jendela kamar Freya di kejauhan. Ekspresinya... chef's kiss. Campuran antara rindu, obsesi, dan sedikit rasa ingin membunuh seseorang.
"Oke, Pak Leo," instruksiku layaknya sutradara film. "Tangkap ekspresi matanya yang kosong itu. Bikin lebih dramatis. Tambahin efek angin di rambutnya biar kelihatan makin sad boy."
"Nona, saya pelukis realis, bukan pelukis dongeng..."
"Kerjain aja! Saya bayar bonus kalau Bapak bisa bikin dia kelihatan kayak butuh pelukan."
Sementara Pak Leo menggoreskan arangnya dengan kecepatan cahaya, Bianca sibuk mengamati tunangannya dengan teropong opera kecil yang dia bawa.
"Lihat dia," gumam Bianca, nada suaranya bukan lagi cemburu, tapi kalkulatif. "Dia benar-benar terlihat menyedihkan. Berapa harga pasaran untuk sketsa 'Duke yang Patah Hati'?"
"Kalau kita jual ke majalah 'Lady's Weekly', mungkin 200 ribu perak. Tapi kalau kita lelang terbatas di klub janda kaya raya, bisa tembus 5 ribu emas," jawabku sambil tetap memantau situasi.
"5 ribu emas..." Mata Bianca berbinar di kegelapan. "Vivienne, suruh Pak Leo gambar otot tangannya juga. Para Nyonya suka yang berotot."
"Siap, Bos. Pak Leo! Perbesar bagian lengan! Bikin kemejanya agak ketat!"
"Nona, saya tidak bisa melihat sedetail itu dari jarak ini, mata saya bukan teropong..."
"Imajinasi, Pak! Gunakan imajinasi!"
Tiba-tiba, Damian bergerak. Dia meneguk habis anggurnya, lalu membanting gelas kristal itu ke tanah. PRANG!
Bianca terlonjak kaget. Gaun kuningnya yang super lebar bergerak, menyenggol pot bunga di sebelah kami.
GUBRAK!
Pot bunga itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Suaranya di malam yang sunyi terdengar seperti ledakan bom.
Jantungku berhenti berdetak. Pak Leo menjatuhkan arangnya. Bianca membeku dengan pose aneh.
Di kejauhan, Damian menoleh tajam ke arah semak-semak kami. Matanya memicing.
"Siapa di sana?" suaranya dingin dan tajam, seperti pisau yang diasah.
Mampus. Tamat riwayat kita.
"Meong," kataku spontan.
Hening.
Bianca menatapku horor. 'Kau gila?' tatapannya berteriak.
"Meooong..." ulangku, berusaha terdengar seperti kucing yang sedang birahi. "Mraww...?"
Damian terdiam. Dia menatap semak-semak itu curiga. Lalu, dia menghela napas panjang, seolah lelah dengan segala hal di dunia ini, termasuk kucing.
"Sebastian," panggil Damian pada kepala pelayan yang tiba-tiba muncul dari bayangan. Sumpah, pelayan di sini kayak ninja semua. "Usir kucing liar itu. Suaranya mengganggu."
"Baik, Tuan Duke."
Damian berbalik dan berjalan pergi, kembali masuk ke mansion.
Segera setelah pintu tertutup, kami bertiga merosot ke tanah. Napasku ngos-ngosan. Bianca mengipasi wajahnya dengan tangan gemetar. Pak Leo sepertinya kena serangan jantung ringan.
"Kau..." Bianca menunjukku dengan jari telunjuk yang goyah. "Kau baru saja mengeong pada Duke Hart."
"Dan itu berhasil, kan?" balasku sambil menyeka keringat dingin. "Kita selamat. Dan yang lebih penting..." Aku menoleh ke Pak Leo. "Dapet gambarnya, Pak?"
Pak Leo, dengan tangan gemetar, menyerahkan kertas sketsanya.
Di sana, tergambar sketsa Damian yang sempurna. Dia terlihat tampan, tragis, dan sangat brooding. Bonus: Pak Leo benar-benar menuruti perintahku dan menggambar lengannya sedikit lebih kekar dari aslinya.
"Sempurna," bisikku. "Ini mahakarya."
Bianca merebut sketsa itu. Dia menatapnya di bawah sinar bulan. "Hmm. Ekspresinya bagus. Sangat menjual. Ini pasti laku keras di kalangan para Nyonya yang bosan dengan suami tua mereka."
Dia melipat sketsa itu dan menyimpannya di balik korsetnya. Tempat paling aman.
"Kerja bagus, Tim," kata Bianca, aura bos-nya kembali. "Besok kita cetak lima salinan. Vivienne, kau tulis narasi yang puitis dan menyayat hati untuk menyertainya. Judulnya: 'Sang Elang yang Terluka: Ketika Harta dan Takhta Tak Mampu Membeli Cinta'."
Aku tersenyum lebar. "Judul yang norak. Aku suka."
Malam itu, kami kembali ke kamar masing-masing dengan gaun kotor, lutut lecet, dan hati yang berbunga-bunga. Bukan karena cinta, tapi karena aroma uang.
Siapa sangka, menjual penderitaan orang lain ternyata se-menyenangkan ini?