Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temenin Bukan......
"Mas, kedip deh, dari tadi ngeliatin aku terus" protes Adel melihat Dokter Vikky menatap Adel dengan tangannya menopang dagu.
"Cantik, tapi gak jaim"
"Makasih, tapi aku gak punya recehan" jawab Adel dengan terkekeh
Hening, kedua saling diam, hanya tatapan mata yang saling mengisyaratkan
"Han....Honey....Mas boleh tanya?"
"Tanya aja, dari tadi kan kita udah ngobrol Mas"
"Kenapa tadi siang gak langsung terima lamaran Mas?"
"Adel udah punya pacar? kalau iya, Mas tungguin sampe kalian putus"
Adel menghela nafas "Sebelum aku jawab pertanyaan Mas, aku tanya Mas dulu, jika ada seseorang yang sudah lama tidak bertemu lalu datang kembali, kemudian mengatakan akan melamar terus perasaan Mas gimana?"
"Mas gak tau, kaget pastinya"
Dokter Vikky belum sadar jika pertanyaan yang diucapkan Adel itu telah di ucapkannya tadi siang.
"Nah, Mas aja gak tau, kaget juga, begitu juga dengan aku, kita tiba tiba ketemu setelah lama berpisah dan Mas melamarku, aku kan jadi bingung dan kaget juga, ah pokoknya gitu lah Mas"
"Mau nolak gak bisa, mau terima kecepetan dan mendadak"
"Jadi....???" tanya Dokter Vikky memastikan
"Kita jalanin aja dulu Mas, aku juga takut kalau Mas sendiri punya pacar, atau malahan punya istri"
"Sumpah sayang Mas masih lajang, masih perjaka ting ting loh, lagian jika Mas punya pacar atau punya istri, Papi Surya pasti gak merestui Mas ma kamu"
"Percaya ya, hatiku hanya ada namamu"
Lagi lagi tangan Adel di genggam erat oleh Dokter Vikky, kemudian di kecupnya singkat.
Adel mengangguk lalu tersenyum, walaupun dia belum terima lamaran Dokter Vikky secara resmi tetapi dalam hatinya sudah dipenuhi oleh nama Dokter ganteng itu
"Udah malam, pulang yuk Han, besok sekolah kan?"
"Iya Mas, besok pertama masuk sekolah, setelah kemarin MOS selama tiga hari"
"Besok Mas anterin, jangan menolak"
Pukul 21.30 Adel dan Dokter Vikky sudah kembali lagi ke Rumah Sakit Permata. Kebetulan malam ini Dokter Vikky tidak berjaga, jadi bisa menemani Adel dan juga Papi Surya
Ceklek
Pintu ruang inap Papi Surya di buka. Terlihat di sana Papi Surya sudah tertidur dan juga tidak adanya Om Roy
"Adel bobok gih, Mas mau ngecek ke ruangan sebentar, nanti Mas temenin"
Adel melotot pikirannya sudah aneh aneh
Pletak, Dokter Vikky menyentil kening Adel
"Au....Papi......Pak Dokter KDRT" teriak Adel namun tidak begitu kenceng
"Hm....gak sekalian bilang aja, Papi.....Mas Vikky mau pe*kosa Adel, biar kita langsung dikawinin"
"Jangan ngeres pikirannya, Mas temenin bukan Mas tidurin"
Adel yang malu langsung mendorong tubuh Dokter Vikky hingga keluar dari ruang inap Papi Surya, dan menutup pintunya dengan keras
Au....untung aku sayang ma kamu, tapi awas nanti habis kamu sayang
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dokter Vikky kembali ke ruang inap Papi Surya, dan tampak di sana, sang pujaan hati sudah tidur dengan lelapnya
Dokter Vikky mengecek infus Papi Surya, membenarkan selimutnya, kemudian langkahnya tertuju ke Adella
Dengan telaten, Dokter Vikky membenarkan posisi tidur Adel, dan mengambil ponsel di tangannya, yang masih menampilkan sebuah drama korea, setelahnya menarik selimut hingga batas dada Adel
"Mimpi indah sayang, Mas akan menjagamu"
Cup
Satu kecupan hangat berhasil mendarat di kening Adella. Lama Dokter Vikky memandangi wajah cantik Adel, setelah itu melihat ke arah Papi Surya. Seperti membanding bandingkan antara wajah Adel dan Papi Surya
"Hm.....benar benar mirip" gumam Dokter Vikky dengan gelengan kepala.
"Papi bener bener niat banget buat Adel dulu" Vikky terkekeh sendiri, dia sudah tau cerita tentang Adel, dan itu tak masalah baginya
Setelah puas memandangi Adel, Dokter Vikky merebahkan tubuhnya di sofa, bukan sembarang sofa, karena sofa di ruang khusus ini didesain agar penggunanya nyaman untuk tiduran
"Mas temenin, bukan tidurin" Dokter Vikky terkekeh mengingat ekspresi Adel saat itu begitu lucu dan menggemaskan. Lalu memejamkan matanya, berharap besok bisa bangun pagi sebelum Adel terbangun