"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Lu yakin Tar mu cerai sama Mas Arka?" tanya Ulan yang tiba-tiba masuk setelah kedua orang tua mereka keluar.
Mentari menatap Ulan yang tiba-tiba masuk ke kamarnya, "Lu udah sembuh Kao?" Mentari tidak menjawab pertanyaan Ulan karena ia 0un kaget dengan kedatangan Ulan, bahkan ia tidak tahu kalau Ulan sudah kembali ke rumah, "Kapan lu balik?" Mentari malah balik bertanya kepada Ulan.
"Pagi tadi," jawab Ulan, ia menutup pintu kamar Mentari dan duduk di sisi ranjang, di mana Mentari juga duduk bersila di atas ranjang.
"O....." Mentari mengangguk, karena ia memang tidak tahu akan kepulangan Ulan dari rumah sakit.
"Lu ada masalah sama Arka?" tanya Ulan sambil menatap Tari dengan serius.
"Iya, gw kesel banget tau Kak....." jawab Mentari sambil mengingat wajah Arka yang menyebalkan itu
Ulan diam dan ia menatap wajah Mentari dengan cukup lama, ia menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan, "Kenapa?" tanya Ulan.
"Gw nggak siap banget nikah muda Kak, dan ini semua gara-gara lu!" Mentari malah kesal melihat wajah Ulan di hadapannya.
"Maaf....." kata Ulan menatap Mentari dengan rasa bersalah, "Apa yang kamu mau sekarang, untuk menebus kedalam aku?" tanya Rembulan dengan serius karena ia memang membutuhkan maaf dari Mentari.
Mentari menatap Ulan dengan serius, ia merasa memiliki ide yang cukup baik, "Gw mau pisah sama Kak Arka, bantuin gw dong Kak, buat Kak Arka bisa balikan lagi sama lo!" jawab Mentari yang mulai mengutarakan pendapatnya.
Ulan sejenak menarik nafas, "Lu yakin Tar?" Rembulan bukan tidak ingin bisa bersatu dengan Arka, namun kini keadaannya memang sudah berbeda.
"Lu nggak mau Kak?" Mentari dapat melihat wajah Rembulan yang terlihat ragu dan itu membuatnya kesal, "Kalau lu nggak ikhlas nolong gw kagak usah!" Mentari memutar bola matanya dengan jenuh.
"Ok.....gw setuju, tapi lu yakin nggak Tar?" tanya Rembulan yang juga ingin Mentari serius dengan kata-kata nya.
"Yakin Kak," Mentari mengangguk dengan cepat dan ia sangat setuju dengan yang di katakan oleh Ulan, ia tersenyum bahagia karena bisa menemukan cara untuk pergi dari hidup Arka.
"Makasih ya Tar, lu udah baik banget....bahkan lu mau balikin Arka ke gw," Rembulan terharu dan ia langsung memeluk Mentari dengan erat.
"Kan Kak Arka emang seharusnya nikah sama ku Kak," jelas Mentari yang merasa tidak memiliki rasa pada Arka, apa lagi kini ia harus menikah
"Ok....kalau gitu lu udah siap buat bantuin gw buat balikan sama Arka??" tanya Rembulan dengan penuh bahagia.
"Siap Kak!" Mentari lagi-lagi mengangguk dengan penuh keyakinan.
Setelah itu keduanya mulai berbincang tentang rencana yang akan mereka lakukan, keduanya terlihat begitu antusias dalam rencana-rencana tersebut hingga sesekali Rembulan tertawa karena bahagia.
"Ok....Tar gw harap lu nggak berubah dengan kata-kata lu tadi," kata Rembulan setelah keduanya selesai berbincang.
"Kagak! Lu bawa aja tuh si Arka gw mah ogah....." ketus Mentari.
"Ok....." Rembulan tersenyum dan ia mulai keluar dari kamar Mentari sebelum ada yang melihat, sebab ia tidak mau ada yang curiga dengan apa yang akan mereka lakukan kedepannya.
Malam harinya Arka hanya duduk diam di ruang kerjanya, hingga Linda masuk dan menghampirinya.
"Arka kamu belum makan Nak," kata Linda dengan penuh kelembutan.
Arka menatap Linda dan ia baru sadar jika Linda ada di ruangannya, "Arka belum lapar Mi," jawab Arka dengan wajah yang tidak bergairah sedikit pun.
"Arka....kalau ada masalah itu sebaiknya di selesaikan dengan baik, dan dengan cepat....ayo sekarang kamu jemput Mentari ke rumah mertua mu," perintah Linda yang ingin Arka menjemput Mentari.
Arka diam dan ia terlihat tidak perduli pada apa yang di pinta oleh Linda, ia bahkan lebih memilih menyelesaikan semua pekerjaannya dari pada menemui Mentari.
"Arka......" Linda menggelengkan kepalanya karena ia tahu Arka tidak perduli, "Kamu itu gimana sih......udah di sekolah tinggi-tinggi tapi nggak ada dewasanya!" kesal Linda.
"Ada apa ini?!" tanya Anggara yang baru saja masuk ke ruangan Arka, tadinya ia tidak ingin masuk ke ruangan itu. Tapi karena ia mencari istri nya dan kata Art Linda di sana maka dari itu Anggara menyusul ke sana, namun ia malah mendengar jika Arka dan Mentari tengah bertengkar.
Linda menatap Anggara, "Ini lho Pi, Arka sama Tari bertengkar....dan sekarang Tari pulang ke rumah jeng Ranti," kelas Linda agar suaminya tahu.
"Ya udah Mi, itu urusan rumah tangga mereka, sebaiknya kita tidak ikut campur," kata Anggara yang tidak ingin tahu urusan rumah tangga putranya.
"Tapi Pi, Arka ini udah keterlaluan.....Mami nggak mau mereka pisah, karena tadi Tari udah bilang dia mau pisah sama Arka," kata Linda dengan wajah kesal karena Anggara terlihat tidak perduli.
"Apa benar begitu Arka?" Awalnya Anggara memang tidak perduli, tapi karena Linda mengatakan hal cerai ia mulai ingin tahu dan Anggara pun sama ia tidak ingin ada perceraian.
"Em....." Arka bersandar di kursinya sambil mengangguk, dan ia membenarkan apa yang di katakan oleh Linda.
"Kenapa?" tanya Anggara dengan serius.
"Karena dia tidak bisa di atur, dan dia mau hidup bebas!" jawab Arka dengan jelas.
"Apa kau mau menceraikannya?"
Arka diam tanpa menjawab pertanyaan Anggara, ia memang kesal pada Mentari namun ia pun tidak tahu masalah permintaan Mentari yang ingin bercerai.
"Arka apa kau mendengar Papa?!" tanya Anggara lagi, karena Arka hanya diam saja.
"Dia itu memang terlalu kekanak-kanakan, usianya sudah 17 tahun, sudah akan lulus SMA, tapi dia tidak bisa mencoba menjadi istri yang baik," jawab Arka karena ia tidak ingin di salahkan.
"Arka kamu tidak bisa menyalahkan Mentari, dia itu memang masih anak-anak.....pahami sedikit saja Arka, dia itu pengganti dan memang tingkahnya sangat jauh dari kata dewasa dan kamu yang sudah dewasa yang seharunya mengarahkan mentari agar lebih baik, jika nanti dia sudah berumah tangga bertahun-tahun dengan mu dan dia melakukan kesalahan kamu baru memarahinya, Papi kecewa sama kamu!" Anggara menasehati Arka dengan begitu jelas dan ia pun kecewa pada Arka yang tidak bisa membimbing istrinya.
"Entah lah Pi," Arka menunduk dan terlihat begitu, pusing.
"Kamu jemput Mentari sekarang!"
"Biarkan saja Pi, nanti kalau dia mau pulang dia akan pulang sendiri," jawab Arka dengan asal.
"Arka kamu jangan kurang ajar ya! Jemput Mentari sekarang!" titah Anggara tanpa ingin di bantah.
Arka bangun dari duduk nya,dan ia melangkah menuju pintu.
"Arka Mami ikut ya, Papi juga harus ikut!" Linda menarik lengan Anggara.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.