Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.
Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.
Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Sahabat
Sinta masih terisak di pelukan Vina. Rasa gugup, malu dan senang bercampur dalam tangisan. Sebenarnya Sinta merasa malu terhadap para sahabatnya. Selain itu, Sinta juga merasa lega karena para sahabatnya masih bisa menerima bahkan memberi dukungan untuk kehamilannya.
Tangisan itu perlahan berhenti. Sementara Vina dan yang lainnya masih enggan bertanya seputar pernikahan Sinta. Mereka takut Sinta tersinggung. Tini yang sedari tadi penasaran masih menopang dagu di tempat duduknya. Cici masih mengusap bahu Sinta lembut.
"Terima kasih friends," kata Sinta lagi pelan dan menunduk.
"Sin, cerita donk tentang pernikahanmu. Biar kita kita tidak penasaran," pinta Tini yang tidak sabaran ingin mendengar cerita Sinta.
Setelah menarik nafas panjang, akhirnya Sinta menceritakan tentang pernikahannya. Mulai dari awal pernikahan sampai detik suaminya menolak janin di rahimnya. Hanya saja Sinta tidak memberitahu identitas suaminya walau Vina dan yang lainnya berkali kali bertanya siapa suaminya.
Vina dan yang lainnya merasa sedih mendengar cerita Sinta. Di saat Sinta berjuang mencari uang kuliah dan bahkan sampai menikah siri, Vina tanpa perhitungan menghamburkan uang orangtuanya. Vina memeluk Sinta lagi, andaikan waktu bisa diulang mungkin Sinta tidak akan pernah menjadi seorang istri siri. Sinta juga tidak memberitahu bahwa dia dinikahi hanya untuk menjadi simpanan.
Ronal yang ikut mendengar cerita Sinta juga merasa sedih. Wanita yang dicintai sahabatnya itu ternyata mempunyai kisah hidup yang pahit.
"Sinta, apapun yang terjadi, calon anakmu harus lahir dengan selamat. Kami akan membantumu. Kamu tidak sendiri. Ini berat tapi kalau kamu ikhlas menjalaninya pasti terasa ringan," nasehat Cici dan yang lain mengangguk setuju dengan perkataan Cici.
"Betul Sinta, kamu harus semangat. Kalian adalah sahabat kekasihku. Maka aku juga sahabat kalian." Ronal berkata dan memandang keenam wanita itu. Semua mengangguk setuju menerima Ronal menjadi sahabatku mereka.
"Sin, kalau dipikir pikir, kamu itu menang banyak dari kami, jadi gak usah bersedih lagi ya!" kata Tini yang dari tadi otaknya gak fokus ke cerita Sinta. Kalau temannya yang lain sampai menangis mendengar cerita Sinta. Tini, otaknya memikirkan yang lain.
"Maksudnya?" tanya Cici dengan mata mendelik.
"Iyah... masa itu saja gak ngerti. Sinta sudah punya suami, sudah malam pertama dan tau rasanya bercinta, sudah hamil dan bentar lagi jadi ibu. Nah, kita?, pacar saja tidak punya. Hanya Vina tuh yang sudah punya gebetan." Tini berkata dengan mimik yang berubah ubah. Vina dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Tini. Gadis tomboi itu masih bisa bercanda di saat temannya bersedih. Elsa menyentil kening Tini.
"Ronal, tolong carikan cowok untuk Tini!. Dah pengen kali kayaknya dia punya gebetan," kata Indah dengan tersenyum. Tini memonyongkan bibirnya dan menggelengkan kepala.
"Ada, Anton mau?" tanya Ronal dengan santai.
"Anton yang mana?" tanya Elsa penasaran, karena setahunya, teman mereka satu kelas maupun kelas A tidak ada yang bernama Anton.
"Anton pak satpam," sahut Ronal masih dengan gaya santainya. Semuanya tertawa mendengar pak satpam kecuali Tini. Pak Anton adalah satpam senior di kampus mereka yang sudah berumur hampir enam puluh tahun. Pak Anton hampir tidak mempunyai gigi lagi alias ompong. Mahasiswa kalau berbicara dengan pak Anton selalu mengambil jarak dua atau tiga meter. Karena pak Anton kalau berbicara ludahnya bercipratan membuat lawan bicaranya harus menjaga jarak. Maka tak heran mahasiswa mempunyai semboyan untuk pak Anton. "Sediakan payung sebelum berbicara dengan pak Anton karena ada hujan lokal".
"Kalau pak Anton, gak mau ah. Mending tuh pak Andre, yang kedua pun ga apa apa. Ganteng dan mapan," balas Tini yang tidak mau kalah.
Seketika Sinta terdiam dan menunduk. Rasa marah itu muncul ketika mendengar nama Andre.
"Hus... bibit pelakor jangan dipelihara. Kalau sudah tahu laki laki itu punya istri atau pacar, jangan didekati atau mau didekati." Vina berkata menasehati Tini. Kesalahpahaman tadi membuat Vina tahu bagaimana sakitnya jika diduakan.
Sinta menunduk lagi. Kata kata Vina tepat mengena di hatinya. Bagaimanapun dia yang memberi kesempatan kepada Andre untuk membuatnya istri simpanan. Andaikan waktu itu dia menolak dan mencari kerja, dia tidak sesulit ini sekarang. Vina tidak bermaksud menyindir Sinta karena Sinta tidak menyebutnya istri kedua, dia hanya bercerita sudah menikah karena terpaksa butuh biaya kuliah.
"Iya, cuma bercanda kog," jawab Tini cuek.
"Ga apa apa juga lah Tini, pak Anton. Yang penting kan bertanggung jawab dan punya penghasilan. Daripada suami Sinta?. Katanya ganteng dan punya uang banyak. Pas hamil gini tidak tanggung jawab. Pilih mana hayo...." Indah berkata mengompori Tini. Gadis tomboi itu menjadi kesal.
"Gak tau ah. Kalau kamu mau. Pak Anton samamu aja. Ini juga cari gebetan yang ompong. Cari yang keren kek," kata Tini ketus dan menunjuk Ronal. Ronal tertawa begitu juga yang lain. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, termasuk Sinta. Wanita hamil itu seketika lupa dengan masalah hidupnya yang rumit.
"Hei, jangan ketawa kamu. Ingat hanya kamu cowok disini. Jangan pernah mencoba untuk menjadi seperti suami Sinta. Aku dengar, kamu nyakitin Vina, ku ulek kamu!. Tini berkata sambil menggulung bajunya dan mempraktekkan seperti menggiling cabe. Ronal mengernyitkan keningnya.
"Loh kog aku?" jangan samakan aku dengan suami Sinta. Jelas bedalah. Iya kan sayang?" jawab Ronal dan mengedipkan matanya ke Vina.
"Tau ah. Sekarang memang beda. Besok siapa yang tahu," kata Vina cuek. Ronal akhirnya bungkam. Mau meyakinkan Vina tentang cintanya waktu dan tempat tidak memungkinkan. Ronal melihat Tini dengan kesal.
"Sinta, kamu gak ngidam?, ingin makan sesuatu?" tanya Indah untuk mengalihkan pembicaraan Ronal dan Tini.
Dengan malu Sinta mengangguk. "Iya Indah. Ingin makan udang asam manis".
"Oke, tunggu sebentar!. Di kulkas ada bahannya." Indah berlalu dari ruang tamu dan memasak untuk Sinta dan juga untuk makan siang mereka bertujuh.
Hanya butuh beberapa menit bagi Indah untuk memasak apalagi Elsa membantunya di dapur. Indah menghidangkan masakannya di ruang tamu. Kursi mereka geser dan mereka duduk di lantai.
Sinta berbinar melihat udang asam manis. Sedangkan untuk yang lain, indah hanya memasak mie goreng instan.
"Wanita hamil muda, tidak bagus banyak makan seafood," kata Tini dan mengambil seekor udang dari mangkok.
"Bilang saja pengen," sahut Cici mendengus.
Setelah selesai makan, Ronal dan Vina pamit pulang duluan.
"Enak ya kalian SMP," kata Tini merasa kesal karena Vina dan Ronal langsung pulang.
"Apa itu SMP?" tanya Ronal yang tidak mengerti arti dari SMP
"Siap Makan Pulang," jawab Tini ketus, yang lain tertawa mendengar istilah SMP dari Tini.
Vina dan Ronal sudah pulang, mereka mau bersenang-senang dulu. Maklum baru pacaran dan masih hangat hangatnya. Sedangkan Sinta dan yang lainnya masih di rumah Indah. Sambil bercerita mereka main Ludo dan Cici sebagai juru tulis. Cici tidak suka main Ludo, karena setiap main Ludo, dia jarang dapat angka enam. Sinta merasa terhibur. Tidak terasa mereka bermain sampai sore hari.
Sinta dan para sahabatnya pamit ke Indah karena hari sudah mau gelap. Elsa berkali kali menggerutu karena mulai dari jam tiga dia sudah mengajak pulang. Tapi karena asyik main Ludo para sahabatnya tidak menggubris.
Sinta tiba di rumahnya, hari sudah gelap. Sinta membuka gerbang rumahnya dan memasukkan motornya ke samping rumah. Setalah masuk ke rumah, Sinta berjalan kearah sakelar lampu.
Setelah lampu menyala, Sinta terkejut melihat seseorang yang duduk santai di sofa.
.huuuuu dasar pellet lele