Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Bersama
"Di mana kesopananmu sebagai bangsawan dan Ratu, Izzy?!" murka Aran.
Perkelahian antara keduanya sungguh membuat malu sang raja. Izzy memukuli Sara babak belur dan membuat ratu baru itu harus mendapat perawatan dari dokter.
Wajah Sara lebam, beberapa rambutnya rontok karena Izzy menariknya. Semua kekesalan, Izzy luapkan kepada Sara. Ya, itu semua salah Aran juga yang terlalu terlena pada ratu baru.
"Kesopanan? Aku memukulinya sebagai seorang istri yang suaminya direbut, bukan sebagai ratu," kata Izzy.
Aran mengepal geram mendengarnya. "Ada apa dengan kalian? Jessica dan kamu seolah iri pada Sara. Aku tegaskan sekali lagi. Aku bukan milik kalian, tetapi kalian adalah milikku! Aku yang memutuskan untuk bermalam bersama wanita mana saja!"
"Yang Mulia!" Izzy berlutut memohon ampun. "Maafkan hamba."
"Ini istana, Izzy! Ayahmu pun punya banyak selir dan apa ibumu marah? Tidak, kan? Aku memperlakukan kalian sesuai keinginanku," kata Aran, lalu melangkah pergi dari kamar.
"Kamu melupakannya. Kehidupan harem lebih kejam, Aran. Istana harem saling menghabisi untuk menjadi yang nomor satu di hati raja," isak Izzy.
Siapa yang terkuat, licik, maka dialah yang menjadi penguasa sebenarnya. Kecantikan, kemolekan bukanlah yang pertama, tetapi keahlian dalam merayu, membawa sang penguasa takluk, maka itu yang akan menjadi kesayangan sang raja.
...****************...
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aran kepada Ophelia.
"Ratu sudah diberi obat, dan beberapa hari ini, biarkan untuk beristirahat. Wajah bengkaknya akan berkurang setelah beberapa hari," jawab Ophelia.
"Kalian tinggalkan kami berdua," titah Aran.
"Baik, Yang Mulia," ucap Ophelia dan dayang dari Sara.
Aran mengusap lembut wajah Sara yang bengkak. Istrinya tengah tertidur pulas setelah dioleskan obat pada wajahnya. Sara juga meminum ramuan pereda nyeri yang dibuat oleh Ophelia.
"Kamu sudah cukup menderita, Sara. Maafkan aku yang telah membuatmu berada dalam situasi yang sulit," ucap Aran.
Aran ikut merebahkan diri di samping Sara yang tertidur. Ia memeluk sang istri, ikut memejamkan mata hingga kantuk mendera.
Seminggu kemudian, kondisi Sara membaik. Luka lebam di wajahnya tidak tampak lagi. Setiap hari Ophelia selalu datang untuk mengoleskan obat untuknya.
Lagian, Sara memang harus segera pulih karena dalam dua hari lagi, utusan dari kerajaan tetangga akan datang ke istana. Pelayan sibuk membersihkan istana, ruang jamuan, kamar bagi para tamu untuk menginap nantinya.
Aran juga berencana untuk mengajak para tamunya berburu sebagai pertandingan antar kerajaan. Kuda, arena untuk berburu, panah, dan juga alat pelengkap semua telah disiapkan.
Sara juga telah bersiap-siap untuk ini. Dory dan Esme mengajarkannya banyak hal untuk menyambut tamu yang hadir nanti. Aran telah berjanji bahwa Sara yang akan menjadi ratu penyambut para utusan kerajaan tetangga.
"Aku sangat gugup," kata Sara.
"Mereka sama saja dengan ratu lainnya. Jika kamu ingin disukai, kamu harus tahu apa yang disukai oleh utusan kerajaan itu," ucap Dory.
"Jika kamu memuji hal-hal mengenai kerajaan mereka, sudah pasti utusan itu sangat senang," tambah Esme. "Buku ini berisi sejarah dari lima kerajaan yang akan kemari. Kamu baca dan pelajari."
"Rupanya, menjadi kepala negara itu sangat sulit," kata Sara melemah saat melihat tumpukan buku di hadapannya.
"Ini masih sedikit." Dory meraih tangan Sara, lalu menepuknya pelan. "Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jika kamu ingin berhasil, maka berusahalah."
Sara mengangguk, tersenyum mendengar ucapan Dory. "Aku akan berusaha."
Sara mengikuti saran-saran dari dua dayangnya. Ia banyak belajar untuk membuat para tamu nantinya senang, dan membaca merupakan salah satu prioritasnya untuk saat ini.
Aran juga takjub akan perubahan Sara. Setiap ia membahas masalah kerajaan, Sara bisa memberi saran dan obrolan mereka menjadi sangat serasi. Jika biasanya Aran datang hanya untuk menunaikan hasratnya, sekarang Aran datang untuk bercerita bersama Sara.
"Kamu sudah siap?" tanya Dory.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Sara saat ia memakai baju untuk latihan.
Pagi ini, Aran mengajaknya untuk belajar mengunakan pedang. Sang raja mengabulkan keinginan ratu, dan itu membuat Sara sangat antusias.
"Cantik, Ratu," jawab Dory dengan menekuk kaki.
Sara terkekeh, "Bagaimana menurutmu, Esme?"
"Sudah pasti raja akan semakin jatuh cinta kepadamu."
"Itulah yang aku inginkan," kata Sara.
...****************...
"Ayunkan pedang itu dengan hatimu," kata Aran.
Aran dan Sara sudah berada di tempat latihan. Sara harus menguasai teknik berpedang dulu sebelum ia benar-benar memegang pedang asli.
Sara merasa tangannya penat. Padahal yang ia pegang adalah pedang buatan dari kayu. Saat ia memegang pedang asli, Sara harus mengunakan dua tangan. Aran memang benar. Kelihatannya saja mudah ketika melihat kesatria mengayunkan pedang mereka, tapi kenyataan, sangat berbeda dari khayalan.
"Bukannya mengayunkan pedang pakai tenaga?" tanya Sara.
"Pedang bagi ksatria itu, merupakan jiwa mereka. Setiap kstaria memiliki pedang mereka masing-masing. Kamu harus menanamkan hal itu pada pikiran dan hatimu. Anggap pedang itu adalah jiwamu sendiri," kata Aran.
Sara baru mengerti perkataan Aran. Pantas saja ksatria sangat menyayangi pedang mereka, bahkan pedang dianggap segala-galanya bagi hidup mereka karena memang pedang itu memiliki jiwanya sendiri.
Sara menyerap apa yang diajarkan Aran. Menganggap pedang itu adalah jiwanya, lalu mencoba mengayunkannya ke manusia kayu.
Praakk ... !
"Astaga! Apa aku mematahkan tangannya?" tanya Sara.
Tangan manusia kayu patah terkena ayunan pedang dari Sara. Pengawal kembali memperbaiki manusia kayu itu. Sara mendapat tepuk tangan dari dua dayangnya, pengawal dan juga Aran.
"Bagus, Ratu. Kamu belajar dengan cepat," puji Aran.
Sara membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih, Yang Mulia. Ini semua berkat Anda."
Aran melambaikan tangan agar dayang dan pengawal meninggalkan mereka berdua. Ia mendekat, memeluk pinggang Sara.
"Kamu luar biasa," kata Aran.
"Ini semua berkat dirimu."
"Aku ingin lihat kemampuanmu dalam memanah. Jika kamu berhasil membawa kemenangan pada kompetisi nanti, maka aku akan mengabulkan keinginanmu," kata Aran.
"Yakin?" tanya Sara memastikan.
"Aku berjanji padamu."
"Aku akan membawa kemenangan pada kompetisi berburu nanti," ucap Sara berjanji.
Aran menundukkan wajah, menyentuh bibir Sara dengan lembut. Sesaat keduanya hanyut dalam buaian kecupan manis.
"Kita lanjutkan latihannya," kata Aran.
Sara mengangguk, "Iya."
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara