NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada Malam Pertama

Tidak Ada Malam Pertama 

Alex, mengerjapkan mata, memindai sekeliling kamar hingga bola matanya berputar menurun ketika sesuatu yang berat terasa di atas tubuhnya. Sedetik Alex, melenguh — Essa, menindihnya. 

Setelah perdebatan semalam, mereka tidur bersama juga dengan tubuh Essa yang masih mengenakan gaunnya. Alex, menengadah, tubuhnya pun kaku tidak bisa bergerak, ia menatap kosong langit-langit kamar yang tampak polos. Atap polos itu pun tiba-tiba terhiasi bayangan Essa dan dirinya semalam.

Setibanya di apartemen, Alex, sama sekali tidak membantu gadis itu menyeret kopernya. Sambil menggerutu ia menyeret benda itu ke dalam. 

“Suami macam apa kamu Om, tidak pengertian. Istri kecilmu ini dibiarkan menyeret kopernya sendiri,” oceh Vanessa. Alex, tidak peduli ia langsung menyalakan lampu dan melangkah menuju kamarnya. 

Setelah melepas tuxedonya Alex, kembali keluar dan berkata “Masuklah simpan kopermu di dalam.” 

Essa tidak membantah, gadis itu langsung menyeret kopernya. Namun, ketika tiba di dalam ia bertanya, “Apa ini kamarku? Lalu di mana kamarmu?” 

“Di mana?” Alex mengerutkan keningnya. “Ini kamarku juga, di sini hanya ada satu kamar.” 

“What!” Essa terbelalak. “No! Aku tidak mau satu kamar, apa tidak ada kamar lain di sini?” 

“Jika kau tidak mau silakan cari tempat tidur sesukamu. Tapi jangan pernah memintaku keluar dari kamar ini, karena kamar ini milikku.” Alex, dengan tegas. 

Pria itu langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, acara pernikahan yang berlangsung membuatnya lelah. Essa, mendelik tajam ke arahnya, lalu keluar sambil menjinjing bawah gaunnya. Matanya terus memindai sekeliling apartemen, yang tampak rapi jika hanya seorang lelaki yang mengurusnya. Alex, sepertinya lelaki yang paling bersih, sangat tahu tata letak yang aman, untuk setiap barangnya. Namun, tidak ada tempat untuk dijadikannya kamar, karena apartemen yang kecil dan penuh barang membuat ruangan sempit. 

“Ya, sudah aku tidur di sini saja.” Pikir Essa melihat lantai kosong depan televisi. Ia pun kembali ke kamar untuk meminta sesuatu. 

“Aku akan tidur di luar, tidak masalah,” katanya yang menatap Alex. “Tapi aku minta satu kasur lantai, atau karpet dan selimut juga bantal,” imbuhnya.

Alex, yang sedari tadi tidur kini membuka matanya, dengan tangan yang dilipat di atas perut ia melirik ke arah Essa yang berdiri diambang pintu. 

“Aku tidak punya semua itu.” 

“Apa!” Essa kembali terbelalak. “Apa kau tidak punya selimut satu saja? Kasur lantai atau karpet bulu kau tidak punya? Apa kau semiskin itu, kenapa semua tidak punya.” Essa dengan kesal. 

“Aku hidup sendiri, dan aku pikir tidak membutuhkannya,” jawab Alex enteng. “Aku tidak suka membuang-buang uang untuk barang yang tidak berguna,” sambungnya yang kembali memejamkan mata.

“Ck, sial sekali sih aku menikah denganmu!” Umpat Essa, lalu berjalan ke arah dapur, membuka lemari es lalu mengambil satu buah apel yang ada di dalamnya yang langsung melahapnya. 

Masih dengan emosi dan amarah yang meluap Essa, menghabiskan apelnya lalu melemparkan sisa buah itu ke dalam tong sampah. 

“Ok, aku akan tidur dengannya. Dia pikir aku takut, siapa yang menang dia yang berhak memiliki kamar itu.” Dendamnya kepada Alex.

Essa, memasuki kamar. Berdiam sebentar di depan pintu menatap Alex dengan tatapan membunuh. 

Kedua tangannya mengangkat tinggi bawah gaunnya lalu ia naik ke atas kasur menggeser Alex yang berbaring di sampingnya. Alex, membuka mata ketika merasa sesuatu menggeser tubuhnya, ia pun melirik dengan mata yang membola.

"Hei, apa-apaan kau ini."

"Minggir! Aku juga mau tidur di sini. Kau bilang hanya satu kamar, kan? Ya, sudah aku tidur di sini denganmu." Essa, terus memepet tubuh Alex, ia sengaja melakukan itu agar Alex mengalah.

"Essa, kau bisa diam tidak. Jika mau tidur ... tidur saja jangan seperti ini," umpat Alex ketika Essa menindih kakinya. Ditambah gaun pengantin yang mekar itu membuat Alex semakin gerah.

"Apa kau akan tidur memakai gaun ini?"

"Tentu, kenapa? Aku tidak masalah mau tidur pakai baju ondel-ondel pun. Jangan harap aku akan membuka gaun ini dan kamu akan melihat tubuhku. Tidak akan pernah."

"Terserah kau saja tapi jangan menindihku."

 Mereka terus saja berdebat merebutkan wilayah di atas kasur. Entah, siapa yang mengalah tahu-tahu pagi ini Essa, tertidur nyenyak di atas tubuh Alex.

Alex menghela nafas pelan, lantas mendorong tubuh mungil itu agar menjauh dari atas tubuhnya. Namun, bukannya menjauh Essa semakin mempererat pelukannya seolah Alex sebuah guling.

Alex, hanya diam ketika sesuatu yang hangat menggesek di bawah sana. Alex, memijat pelipisnya, tingkah Essa benar-benar membuatnya kesal.

"Huh, gadis ini benar-benar ... Essa, menjauhlah sebelum aku menerkammu."

"Apa di sini ada seekor singa? Siapa yang mau menerkammu." Essa, malah bergumam.

Alex, sudah tidak tahan yang pada akhirnya ia mendorong paksa tubuh mungil itu hingga terlempar ke bawah lantai.

"Aww!" Essa, meringis tetapi matanya masih terpejam.

Alex, segera turun dari kasur sebelum benda pusakanya mengamuk. Pria mana yang bisa tahan, jika tidur bersama wanita apalagi ini pengalaman pertamanya, dan itu membuat kepalanya berdenyut.

Alex, langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower, sesuatu yang hangat dan berdenyut perlahan hilang, pusakanya sudah tenang karena didinginkan air shower.

***

"MMM .... Di mana aku."

Essa menggeliat, sambil merentangkan kedua tangannya. Ia memindai sekeliling kamar yang tampak asing, lantas bergumam.

"Di mana ini, ini bukan kamarku. Ibu ... Ibu kita ada di ...." Seketika matanya membola, Essa terpaku mengingat kejadian semalam.

"Tidak, semalam aku ...." Essa, menyentuh tubuhnya untuk memeriksa apa dia sedang full naked, tapi ternyata gaunnya masih menempel pada tubuh. Essa, pun bernafas lega.

"Kau sudah bangun?" tanya Alex tiba-tiba, Essa langsung menoleh. Ternyata Alex sudah berdiri di ambang pintu.

"Cepat bersihkan dirimu, dan gantilah pakaianmu. Aku simpan handukmu di atas nakas," ujar Alex, lalu kembali ke dapur.

Essa, mengintip sebentar apa yang dilakukan Alex, ternyata pria itu sedang memasak untuk sarapan. Setelah itu Essa, berjalan memasuki kamar mandi tapi sebelum itu ia mengunci rapat kamarnya.

***

"Om, tidak adakah lemari untukku?" teriak Essa dalam kamar. Ia ingin memindahkan baju-bajunya tetapi penuh oleh pakaian Alex.

"Oh my god, Om ini benar-benar miskin, pakaiannya saja hanya sedikit, dasar pria hemat," ejeknya menatap jengkel pada pakaian formal milik suaminya.

"Aish ... pakaiannya tidak bergaya sama sekali. Semua model sama, apa dia tidak tahu trend." Essa terus mengobrak-abrik pakaian Alex.

"Berhenti mengkritik pakaianku Essa!" Akhirnya suara bariton itu terdengar. Essa langsung menoleh.

"Hei, Om di mana aku menyimpan pakaianku. Kau membawaku kemari tapi tidak menyiapkan fasilitas untukku."

"Dengar Essa, aku akan membelinya nanti, sekarang keluarlah untuk sarapan."

"Ok."

Essa, menutup lemari lalu berjalan keluar dari kamar. Alex, membuang nafas berat sambil menatap punggung Essa, yang berjalan ke arah meja makan. Hari-hari yang penuh ketenangan kini ambyar setelah kedatangan istri kecilnya.

"Om, apa ini? Mmm ... ini enak, setidaknya di sini aku tidak sarapan telor ceplok lagi. Aku bosan, ternyata kamu pandai memasak juga Om."

"Oh Tuhan, gadis ini cerewet sekali," gumam Alex, lantas berjalan ke arah meja makan.

Mereka duduk saling berhadapan, Alex hanya diam selama sarapannya. Pria itu tidak bicara sepatah kata pun, tapi Essa, gadis itu terus mengoceh mengomentari masakannya, interior rumahnya, dan kembali membahas pakaiannya.

Lalu, Essa menanyakan tentang semalam. Apa mereka hanya tidur saja atau melakukan hal lain.

"Om, semalam kau tidak melakukan apapun, kan?" Tatapnya penuh curiga.

Alex, menghentikan sarapannya, menyimpan sendok dan garpunya lantas menatap intens ke arah Essa. Alex, memajukan tubuhnya agar mendekat kepada Essa, hingga membuat gadis itu sedikit mundur.

Alex, berkata "Jika semalam terjadi sesuatu apa itu salah? Bukankah kita suami istri."

Jantung Essa, berdetak lebih cepat. Matanya terbelalak.

1
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!