"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 Syawal
Sepulangnya kami dari shalat id, goreng gemblong dan kuah semur daging kerbau sudah menungguku.
Ada yang tahu gemblong? Makanan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak menjadi nasi ketan lalu ditumbuk bersama kelapa hingga halus dan dicetak sesusai keinginan. Bisa juga dimakan langsung atau digoreng lebih enak. Orang-orang Jakarta biasa menyebut uli.
Seperti sudah menjadi adat untuk kami, akan bersalaman dengan para tetangga. Kudengar membasuh kaki kedua orang tua adalah menjadi bakti untuk anaknya.
Sesampainya di rumah, kuambil sebaskom kecil air dan membawanya ke rumah. Kuletakkan di hadapan kedua orang tuaku.
Mereka saling memandang satu sama lain sebelum memberikan kaki mereka padaku. Kuraih kaki kanan abah, membasuhnya dengan perlahan, lalu mengeringkannya menggunakan lap. Bergantian dengan kaki kirinya. Aku pun melakukan hal yang sama dengan kaki mak.
Usai melakukan ritual membasuh kaki, aku meraih tangan keduanya dan menciumnya bolak-balik sembari menghaturkan kata maaf pada mereka.
Perasaan haru tiba-tiba saja datang dan membuatku ingin menangis. Aku, adalah tipe orang yang tidak gampang menangis di hadapan abah dan mak saat sedih. Aku hanya akan menangis saat sendiri di dalam kamar.
Mak dan abah memelukku sambil menangis. Mereka pun mengatakan hal yang sama padaku.
"Maafin Mak dan Abah, belum bisa bahagiain kamu, Nur. Masih kecil udah ngerasain sulitnya hidup, mau jajan aja susah gak kaya anak lain. Maafin Mak sama Abah, ya!" ucap mak bergantian dengan abah pula.
Kenapa harus membahas ini? Apakah selama ini aku terlihat menyedihkan karena susah jajan? Aku hanya mengangguk, tak dapat berkata apa pun.
Aku hanya ingin lebih lama memeluk mereka, terutama abah. Ada perasaan takut kehilangan saat abah membelai rambutku. Apa lagi saat aku mendengar suaranya yang serak meminta maaf. Hatiku teriris sakit.
Kupeluk lebih lama abah, sementara mak memeluk Aceng dan teteh menunggu kami selesai. Aku menangis dalam pelukan abah, hatiku semakin takut dia akan pergi meninggalkanku.
"Udah, teteh mau juga," kata mak membuatku melepas pelukan dan mundur sembari menghapus pipiku.
Kunyalakan saja televisi untuk mengusir sedih. Film serial liburan biasanya akan diputar saat liburan seperti ini.
"Nur!" panggil Puji dari luar. Aku bergegas berdiri dan menghampirinya. Bersama Aceng kami bergabung dengan anak kecil lainnya untuk menjelajah kampung ke rumah-rumah tetangga.
Bersalaman dengan mereka dan jika beruntung, akan ada yang memberi uang yang kami sebut dengan persenan. Usai bersalaman dengan seluruh tetangga barulah kami akan bermain.
"Nur, kerudung kamu dipake aja," celetuk Puji tiba-tiba. Aku mengangguk.
"Iya, disuruh abah. Katanya anak perempuan harus menutup aurat," jawabku jujur. Puji hanya menjawab oh saja.
"Jajan, yuk!" ajaknya. Aku mengangguk. Tadi ada tetangga yang memberi kami uang jajan sebesar lima ratus rupiah masing-masing anak.
"Teteh, ikut!" teriak Aceng seraya berlari mendekati kami menuju warung. Selepas jajan kami kembali ke rumah, aku lupa belum makan.
"Mak, pengen gemblong," kataku seraya mengikuti mak menuju dapur. Mak meletakkan dua potong gemblong dalam piring, lalu menuangkan kuah semur beserta daging kerbaunya.
Ini adalah hidangan istimewa saat lebaran di kampung kami. Yah, bukan ketupat dan opor ayam. Tapi, gemblong dan kuah semur daging kerbau.
Kumandang takbir masih bergema di seluruh mushola. Suasana ramai pun terlihat di jalan. Anak-anak yang berlalu-lalang bermain dengan mengenakan pakaian baru juga sandal baru. Termasuk Aceng di sana.
Tak lupa ingin berziarah ke makam kakek. Ini pun sudah menjadi adat kami setiap lebaran.
Hingga sore hari, kami hanya berkumpul bersama saudara di rumah. Kadang ada tetangga yang ke rumah untuk saling bersalaman. Rindu suasana Idul Fitri zaman dulu.
________*
"Abah, mau sahur nanti malam?" tanya mak pada abah. Malam hari kami berkumpul di depan televisi. Sahur lagi?
"Iya, mak, tapi biar abah sendiri aja gak usah dirawatin," jawab abah.
"Abah mau puasa lagi?" tanyaku. Abah memang selalu berpuasa di tanggal dua Syawal, tapi aku tidak tahu itu puasa apa. Ia mengangguk sebagai jawaban.
"Emang harus puasa lagi, ya, Bah? Kenapa Abah selalu puasa kalau habis lebaran?" cecarku ingin tahu. Abah tersenyum.
"Itu disebut puasa sunnah Syawal selama enam hari. Di hari ke tujuh kalau di Jawa ada lebaran ketupat, tapi di sini gak pake," jawab abah.
Puasa sunnah Syawal? Aku baru dengar.
"Emang ada puasa sunnah Syawal, Bah?" tanyaku lagi. Abah mengangguk.
"Di dalam setiap bulan, kita disunnahkan untuk berpuasa selama tiga hari pertama atau kapan saja. Hanya tiga hari, tapi untuk bulan Syawal sunnahnya enam hari," jawab abah lagi.
Aku mengangguk mengerti. Apa aku boleh puasa?
"Apa Nur boleh puasa?" tanyaku antusias. Abah menggeleng.
"Ini tidak wajib, Nur masih kecil dan baru kemarin sebulan full berpuasa. Jadi, nanti saja kalau Nur sudah baligh puasa seperti Abah," jawab abah lagi.
Benar juga, aku baru selesai puasa selama sebulan. Aku mengangguk saja dan tidak ikut puasa.
Jadilah, keesokan harinya abah kembali puasa dan akan selama enam hari lamanya. Itu sudah menjadi kebiasaan abah setiap tahunnya. Abah akan berada di dalam kamar shalatnya sepanjang hari untuk berdzikir. Dan kami tidak akan mengganggunya.
Suasana lebaran masih terasa dengan berdatangannya orang yang diluar kampung ke kampung kami.
Aku tetap mengenakan kerudungku. Sebenarnya kerudung teteh karena aku belum punya kerudung. Teteh memberiku tiga buah kerudung.
Rasanya nyaman meski panas sedikit, tapi aku suka memakainya. Aku akan mendawamkannya hingga tua nanti. Insya Allah. Aku tidak ingin abah mendapat siksa karena anak gadisnya yang mengumbar aurat.
Abah akan keluar kamar saat waktu shalat saja, dan saat akan berbuka puasa. Kami ikut mengelilingi abah yang sedang berbuka. Tidak, teteh tidak ikut. Dia berada di kamar shalat Maghrib.
"Kok, malah liatin Abah? Bukannya shalat," ucap abah menatap kami dengan dahinya yang berkerut.
"Iya, Bah ... lupa," jawabku seraya berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudu.
Di hari ketiga Syawal pun, abah masih berpuasa. Dan masih baik-baik saja. Masih bercengkrama bersama kami. Bercanda dan tertawa bersama anak-anaknya.
Kebahagiaan yang tak akan pernah datang kembali, sebisa mungkin kuteguk sebanyak-banyaknya. Agar aku tidak mudah melupakannya. Aku ingin selalu bersama abah. Bercerita tentang apa pun, tentang bagaimana aku menjalani hari-hari di sekolah dan saat bermain.
Abah selalu menjadi mendengar setia untuk cerita kami. Begitu pun dengan teteh, abah selalu bertanya tentang belajarnya di pondok.
Abah tak pernah lepas pengawasan terhadap anak-anaknya. Walau pun jarang di rumah, tapi abah selalu memantau perkembangan anak-anaknya di rumah dan di pesantren. Abah selalu berkunjung ke pondok teteh untuk sekedar mengobrol dengan kyai.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥