"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Happy Reading Guys! 😍😍
Ini Bab adegan 21++
Harap waspada ketika membaca!
Disarankan untuk membaca didampingi pasangan, bagi yang sudah menikah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menghabiskan waktu dengan menangis membuat Laura jatuh tertidur hingga pulas. Matanya terbuka dengan malas, memandang nanar pada kamar yang terasa dingin dan sepi. Dari jendela kamar yang masih terbuka, Laura melihat langit sudah menghitam. Siang ternyata sudah berlalu tanpa gadis itu sadari. Angin bertiup membelai mesra helaian gorden hijau lumut. Udara dingin mulai mengusik tubuh ringkih Laura.
Gadis bermata coklat itu memilih bangun dari tidurnya, dan mulai menyadari akan ketiadaan Sabiel di kamar itu. Sejak Laura mengatakan ingin istirahat, lelaki itu tak juga kembali ke kamar. Di dalam hati, Laura merasa bersyukur akan hal itu.
Gadis cantik itu berjalan menghampiri jendela, melihat pemandangan gelap gulita yang dihadirkan pegunungan dipelupuk matanya. Bunyi jangkrik dan kumbang terdengar nyaring memecah keheningan malam, ditambah gemerisik daun yang saling bersinggungan membuat malam semakin terasa sendu. Laura merapikan rambutnya yang tertiup angin, kemudian menutup jendela itu perlahan. Pandangannya tampak kosong, nanar memandang kamar asing dengan nuansa homy yang kini dan seterusnya akan menjadi tempatnya beristirahat.
Ayah? Paman? Bibi? Fajar?..... Bimasakti, kekasihku. Aku sudah menikah, apa yang harus aku perbuat?
Laura bersandar dengan lemah pada jendela yang sudah tertutup rapat. Ia menarik napasnya berat, dan menghembuskannya perlahan. Pikirannya masih berkelana memikirkan keluarga dan kekasihnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu mengejutkan Laura.
"Nyonya, apa sudah bangun?" suara seorang pembantu terdengar.
Tok tok tok
Tak ada jawaban membuat pintu kembali diketuk.
"Nyonya?"
Ceklek.
Pintu dibuka Laura. Gadis itu melihat seorang wanita paruh baya berdiri sopan di ambang pintu. Laura belum bisa menghafal namanya.
"Ada apa mbok?" tanya Laura.
"Anu..itu.. Nyonya sejak siang belum makan apapun. Apa ingin Mbok antarkan makanan kemari?" suara gugup mbok Suti membuat Laura merasa canggung.
"Tidak perlu mbok, siapkan saja dibawah. Nanti saya akan kesana." ucap Laura. "Mbok, Sabiel.. maksudku Tuan ada dimana?" tanyanya kemudian.
"Tuan sedang pergi dengan Ical, katanya ingin membeli beberapa barang dikota. Mungkin sebentar lagi akan datang." Mbok Suti tersenyum menatap Nyonya mudanya.
"Baiklah kalau begitu, mbok boleh pergi."
"Baik Nyonya." Mbok Suti membungkuk sopan sebelum berjalan kembali menuju dapur.
🍁🍁🍁
Derap langkah kaki terdengar dari arah luar pondok, Laura mendengarnya namun memilih untuk tetap diam dan fokus melahap sepiring nasi goreng hangat yang tadi ia pesan pada Mbok Yayu.
Mbok Suti datang menghampiri meja makan dengan segelas jus jeruk hangat di atas nampan yang ia bawa.
"Minumnya nyonya." ujarnya tersenyum pada Laura.
Laura membuka mulutnya hendak mengucapkan terima kasih, namun ucapannya terpotong oleh sapaan hangat Sabiel dari ambang pintu.
"Sayang.." ucapnya senang. Lelaki itu melangkah menghampiri istrinya dengan raut wajah sumringah. "Belum habis makannya?" Sabiel mencium bibir Laura mesra, rasa minyak bercampur bawang terasa di mulut Sabiel. Mbok Suti dan Mbok Yayu yang menyaksikan ciuman itu memalingkan muka dengan segan.
"Jangan lakukan itu, Sabiel!" sergah Laura, matanya menatap kedua pembantu yang berdiri canggung di dekat mereka. Sabiel tersenyum menggoda, melihat Laura menggosok-gosokkan bagian punggung tangannya pada bibir yang tadi Sabiel cium.
"Maaf, aku tak tahan jika sudah melihatmu."
Laura mendelik tak suka mendengar ucapan Sabiel, gadis itu menatap jengah ketika Sabiel bergerak untuk duduk di sebelahnya.
"Kau tak menghabiskan makananmu?" Sabiel melihat Laura yang mengelap bibirnya dengan tisu makan setelah sebelumnya meneguk hampir habis jus jeruk hangat.
Laura melirik Sabiel dengan ekor matanya, kemudian berdiri dan keluar dari meja makan sambil berucap.
"Nafsu makanku hilang tiba-tiba." nada suara ketus Laura membuat lelaki yang baru saja kembali dari perjalanan panjang menyeringai.
Dia membiarkan Laura melewatinya untuk kemudian berjalan dengan langkah dibuat-buat menuju tangga. Laura hendak kembali ke dalam kamar, meninggalkan Sabiel yang memakan sisa nasi goreng dalam piringnya.
"Tuan.." Mbok Yayu menghampiri dengan membawa sepiring nasi goreng utuh untuk Tuannya. Dia merasa tak tega melihat Sabiel memakan sisa makanan Laura.
Sabiel merentangkan tangannya ke hadapan Mbok Yayu yang hendak menaruh nasi goreng itu di meja.
"Aku sudah makan tadi diluar." ucapnya seraya berdiri dan langsung meninggalkan dua pembantu yang terdiam menyaksikan apa yang terjadi.
Langkah kakinya santai ketika menaiki tangga, siulan bahkan keluar dari mulut yang ia buat mengerucut. Sikap Laura tadi tentu memancing Sabiel untuk bersikap lebih keras kepadanya. Lelaki itu mengingatkan dalam hati, bahwa malam ini Laura harus benar-benar tahu akan posisinya sebagai istri. Dia rasa berjam-jam membiarkan Laura sendiri cukup untuk memberinya waktu merenungi apa yang sudah terjadi. Kini, Laura sudah tidak bisa menolaknya lagi.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit ketika Sabiel sudah berada di dalam kamar. Laura keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur yang sudah Sabiel sediakan sebelumnya. Gaun tidur sebatas lutut bertali satu dengan bagian dada berenda, tampak pas di tubuh Laura. Warna merah delima membuat Laura tampil sangat menggoda malam itu. Lekukan pinggang yang ramping dengan besaran bokong yang tampak menantang, membuat Sabiel menaikkan alis matanya. Bergairah. Lelaki itu memandang penuh gairah gadis muda yang kini telah resmi menjadi teman tidurnya.
Binar gairah di mata Sabiel tak sama dengan binar yang ada di mata Laura. Gadis itu jelas masih ingin menghindari Sabiel, sorot matanya waspada memperhatikan Sabiel yang datang menghampirinya di depan pintu kamar mandi.
"Apa?!" tanya Laura gugup, ketika Sabiel terus saja menatapnya dari jarak dekat. Tubuhnya sudah bersiap untuk melangkah mundur perlahan.
Sabiel tersenyum, rasa kesal akibat sikap Laura tadi di meja makan terbang sudah entah kemana. Kini yang melingkupi diri Sabiel adalah perasaan romantis penuh hasrat ketika matanya tak bisa berhenti dari memandangi istri mudanya.
Lengannya bergerak lebih cepat daripada tubuh Laura, ia memeluk rapat tubuh mungil itu. Sabiel memejamkan mata. Penciumannya serasa dimanjakan dengan aroma wangi segar yang menyeruak dari tubuh Laura.
Sementara itu Laura yang memang di takdirkan menjadi gadis pembangkang, menggerakkan kedua bahunya keras agar Sabiel melepaskan pelukan itu.
"Sa-biel, ah lepas!" Laura meronta dalam pelukan. Rambutnya terombang ambing kekanan dan kiri mengikuti gerakan bahunya.
Sabiel tak bergeming, ia tak menghiraukan rontaan Laura. namun setelah puas merasakan kehangatan tubuh Laura, Sabiel memilih untuk melepaskannya dengan terpaksa. Laura menghembuskan nafasnya kasar ketika terbebas dari pelukan Sabiel.
"Aku akan membersihkan diri dulu." ucapnya setelah mencium kening Laura. Laura langsung mengusap bekas ciuman Sabiel dengan kasar. Dia tidak sudi.
🍁🍁🍁
Sabiel melucuti pakaiannya hingga hanya tersisa celana pendek sebelum akhirnya ia menyusup masuk dalam selimbut.
Sehabis urusannya di kamar mandi, Sabiel melihat Laura tampak tertidur, atau pura-pura tertidur, dengan selimbut menutupi seluruh tubuhnya. Sabiel menggerakkan gumpalan tubuh atletisnya untuk menjadi semakin dekat dengan Laura. Dari balik punggung Laura, lelaki itu bisa merasakan aura bahu telanjang yang halus ketika ia kecup.
Laura tak bergeming, tubuh Sabiel yang merangsek mendekatinya tak membuatnya membuka mata, dia terlalu pandai untuk berpura-pura tertidur. Tujuannya satu, menghindari Sabiel dengan segala yang ia bisa.
Sabiel menarik tubuh Laura untuk berbalik menghadapnya, namun Laura terasa bagai batu. Tubuhnya kaku ketika Sabiel tarik pelan.
Lelaki itu menyeringai. Tubuh kaku Laura adalah tanda penolakan bagi dirinya. Gadis ini masih ingin menolak untuk menjadi milik Sabiel. Dengan sorot mata licik, Sabiel menarik lengan Laura kuat-kuat, hingga posisinya menjadi telentang. Sabiel langsung mengambil posisi berada di atas Laura dengan kedua lutut menjadi tumpuan.
"Akh!" pekik Laura antara sakit dan kaget.
"Rupanya kau masih ingin menolakku, Laura." nada suara peringatan membuat mata Laura gugup seketika.
"Aku hanya ingin tidur. Tubuhku letih Sabiel." ucapnya terbata.
Sabiel sudah muak mendengar alasan Laura. Tanpa banyak kata, lelaki itu mencium paksa Laura. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Laura di atas kepala. Menyusupkan jemarinya di sela jemari Laura hingga ia bisa menggenggam erat jemari mungil itu.
Laura membelalakan matanya. Dia berusaha melawan dengan menggoyangkan kepalanya kuat-kuat. Sabiel semakin murka, ia cabik gaun tidur Laura dengan buas. Lalu melempar bra hitam yang menutupi kedua bukit Laura sembarang. Pandangannya menggelap ketika melihat Laura mencoba meronta sekuat tenaga. Bahkan gadis itu berusaha menggigit lengan Sabiel yang menggenggam sebelah tangannya. Sungguh, keberanian yang membuat Sabiel merasa tertantang.
"Aku tidak mau! Lepaskan!" bentak Laura ketika Sabiel berusaha mencumbui tubuhnya. "Brengsek kau! Dasar bajingan! Lepaskan!" Laura semakin hilang kendali ketika Sabiel berhasil mel*mat p*tingnya yang mengeras. Lelaki itu menjilati tubuh Laura, meresapi kenikmatan yang tersuguh indah dalam tampilan bugil istri mudanya.
"Berhenti! Aku bilang berhenti Sabiel!" teriak Laura menggema dalam suasana kamar yang temaram. Sabiel tak sebaik itu hingga harus rela melepaskan mangsanya.
Tangan Sabiel bergerak turun dengan cara yang menggoda, jemarinya menyusup pada celana dalam Laura. Sabiel tak tahan ingin menyiksa Laura dengan permainan jemarinya di bawah sana. Tubuh Laura melengking merasakan jemari Sabiel yang bergerak kurang ajar pada pusatnya. Pandangan mata Laura menjadi gelisah. Gadis itu tak rela jika harus melepas keperawanannya pada lelaki yang tidak ia cintai. Laura harus melawan!
Diliriknya sebelah tangan Sabiel yang mulai terlepas. Dengan kekuatan seribu kali lipat, Laura sedikit mengangkat tubuhnya dan menggigit kencang lengan Sabiel. Sabiel yang merasa telah lengah, menjerit menahan sakit. Ditengah jeritan Sabiel, Laura merasa memiliki kesempatan untuk menyingkirkan Sabiel dari posisinya. Gadis itu mendorong tubuh Sabiel dengan kakinya, lalu melompat dari tempat tidur.
Sabiel menatap geram pada kenekatan Laura. Lelaki itu dengan cepat menyusul langkah kaki Laura. Menarik lengannya hingga membentur dada bidang Sabiel.
"Kau istriku Laura!" bentak Sabiel menatap murka pada penolakan Laura.
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan. Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku, Sabiel. Tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu menutup matanya rapat, ketika Sabiel terus menciumi tubuhnya dengan buas.
Sabiel kehilangan kendali. Bibirnya tidak bisa berhenti berlabuh disemua sisi tubuh istrinya. Ia menciumi wajah Laura yang terpejam. Disesapnya air mata Laura dengan halus. Bibir basah nan merekah itu terus menyusuri leher, dada, perut dan berlabuh pada area sensitif Laura. Dengan perlahan dibukanya celana dalam Laura, hingga terlihatlah rambut halus tipis yang menutupi gundukan kecil tempat ia membenamkan benihnya sebentar lagi. Sabiel bermain-main disana. Lelaki itu dengan keahliannya, mengoyangkan jemarinya dengan lincah di pusat Laura. Merasa tak cukup mempermainkan Laura dengan jemarinya, Sabiel merundukkan kepala tepat pada pusat Laura yang berwarna merah muda, dia segera mempermainkan Laura kembali dengan lidahnya. Menjilat sepenuh hasrat, meresapi keutuhan diri Laura yang menggodanya hingga tiada batas.
Laura menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi asing ditengah kesedihannya. Sabiel akan melakukannya. Dia akan melakukannya. Lelaki itu akan merampas hal paling berharga dari dirinya. Linangan air mata semakin deras keluar, nafasnya tersenggal menahan isak yang sejak tadi bercongkol dalam dadanya.
Puas bermain di area sensitif Laura, Sabiel merangkak kembali menemui paras cantik istrinya yang basah oleh air mata. Lelaki itu memandangnya sendu. Kedua kakinya sudah siap dalam posisi yang seharusnya.
"Maafkan aku sayang, aku harus menyakitimu." ucap Sabiel sebelum ia membenamkan kej*ntanannya pada pusat Laura yang basah sambil mencium kembali bibir mungil istrinya itu dengan rakus.
🍁🍁🍁