Kisah seorang Anak yang di tinggal pergi Ayahnya untuk selama-lamanya, membuat Ia kecewa pada Ibunya, dan berubah sikap dari anak yang penurut dan perhatian jadi anak yang cuek dan melawan Ibunya bahkan tega mengusirnya di masa tua.
Akan kah sang Anak bisa kembali menjadi penyayang? dan bagaimana nasib Ibunya setelah di usir oleh putranya? lalu apa sebenarnya yang terjadi kenapa si Anak bisa berubah sikapnya? penasaran kita langsung saja ke TKP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakso Gratis Di Sekolah.
Setelah semua sudah siap tertata rapih dan kuah bakso pun sudah mendidih ayah siap untuk berangkat kesekolah membagikan bakso gratis di hari jumat yang berkah.
"Semua sudah siap, Ayah berangkat dulu ya," pamit ayah pada keluarga.
"Iya, Ayah hati-hati di jalan," kata ibu dan Anak-anak melambai kan tangan.
Ibu dan kedua putrinya melihat ayah dari depan pintu, dan menunggu saat ayah pergi hingga tak terlihat mata baru mereka semua masuk ke dalam rumah melanjutkan rutinitas harian ibu di rumah.
Segudang kerjaan telah mananti untuk di kerjakan oleh ibu, dari menyapu, mengepel, mencuci baju, dan masih banyak lagi yang ga mungkin di sebutin satu persatu.
*****
Ayah sampai di sekolah dan segera memarkir motornya deket gerbang yang masih terkunci karena masih jam pelajaran, ayah masih menata motornya ke posisi yang lebih nyaman agar tidak goyang saat di standar.
Saat di rasa sudah mendapat posisi yang benar ayah pun istirahat di dekat motor menantikan anak-anak keluar untuk istirahat, ayah berharap baksonya habis hari ini, walau tau tidak akan dapet uang tapi harapan ayah bisa membuat senyum bahagia di wajah Anak-anak karena bakso gratis ayah.
Tiga puluh menit kemudian bel istirahat berbunyi semua anak berhanburan keluar halaman sekolah yang semula sepi kini ramai oleh murid sekolah, ada yang berlari jajan di kantin, ada yang keluar sekolah, dan ada juga yang hanya duduk-duduk saja di taman.
"Bang, beli baksonya tiga ribu!" seorang siswa datang menghampiri gerobak ayah.
"Ok, siap bentar ya," kata ayah melayani anak tersebut.
Saat si anak hendak membayar dengan uang sepuluh ribuan ayah menolak dan berkata kalo baksonya gratis setiap hari Jumat.
"Ini, Bang duitnya kembali ya," pinta anak tadi.
"Eh ... ga usah bayar, Nak ini bakso gratis kok buat kamu aja." Kata ayah menolak duitnya.
"Ah!! beneran nih bakso gratis! emang kenapa, Bang?" tanya anak tersebut tak percaya.
"Iya, kalo setiap hari Jumat baksonya gratis, saya mau bagi-bagi rejeki," kata ayah menjelaskan.
"Oh gitu makasih ya, Bang! kalo gratis boleh ga kalo saya panggil anak-anak yang lain buat kesini?" tanya anak tersebut ragu.
"Boleh lah, sini panggil saja emang sengaja kok dateng kesini biar semua nikmati bakso gratisnya," kata ayah lagi senang.
Anak yang tadi asyik mengbrol sama ayah pun langsung berlari ke halaman kelas dan memanggil seluruh siswa sekolah di situ, dengan lantang ia berteriak.
"Hai teman-teman ada kabar gembira!! hari ini ada tukang bakso yang sedang bagi-bagi bakso gratis di sekolah, siapa yang mauu ...," teriak anak tadi dengan suara keras posisi tangan di mulut.
"Hah! bakso gratis dimana? boong kali jangan bercanda, jangan dengerin tar tipu doang?!" kata seorang siswa yang lain.
"Enggak boong kok ini beneran, nih buktinya saya dapet bakso gratis ga bayar, kalo ga percaya sono keluar aja!" ujar anak tersebut.
"Boong ... boong jangan percaya! tar sampai sono kita suruh bayar cuma bikin malu aja," kata siswa yang tidak percaya tadi.
"Ya udah kalo ga percaya terserah! emang gue pikiran udah di kasih tau ini," kata anak yang berteriak tadi.
Saat anak yang omongannya tidak di percaya mau pergi tiba-tiba ada seorang siswa lagi yang datang membelanya, mengatakan bahwa uncapannya benar tidak bohong.
"Bener kok, dia ga bohong emang ada bakso gratis di depan gerbang ini buktinya aku juga dapet, tadi pas dia teriak aku langsung cari tau, ehh ternyata bener ada," kata siswa lain membela.
"Eh, beneran yu kesana yu kita coba!" ajak siswa yang tadi tidak percaya.
"Ayo ...."
"Ayo ... ayo."
Semua anak yang tadi tidak percaya berlari menuju gerbang sekolah untuk membuktikan omongan kedua siswa tadi. Sampainya mereka semua di gerbang, langsung melingkari ayah untuk meminta bakso gratisnya.
"Bang, bener nih bakso gratis! tar bohongan lagi, udah di makan suruh bayar," seorang siswa masih tak percaya.
"Iya, benar gratis setiap hari Jumat pokonya akan ada bakso gratis di sekolah ini, Insa Allah," kata ayah berharap. "Ayo siapa yang mau bakso gratis baris yang rapi semua kebagian kok." Sambung ayah sambil melayani mereka semua.
Dengan waktu singkat gerobak ayah di kerumunin banyak siswa yang minta bakso gratis dan sedikit yang berkerumun di tukang dagang lainnya, aksi ayah ternyata ada saja yang iri dan tidak suka, mereka menilai ayah sombong banyak gaya, dan belagu tapi ayah anggap semua itu hanyalah bagian dari pujian mereka.
"Huh, lihat tuh si Herman belagu banget pake sok-sokan bagiin bakso gratis kaya banyak duit aja dia!" hardik seorang pedagang.
"Iya, yah sombong banget tar bangkrut baru tahu rasa dia," sumpah pedagang di sebelahnya.
Ayah mendengar percakapan mereka tapi ayah hanya tersenyum tidak mengurusinya orang yang punya penyakit iri sangat mudah terpancing emosinya, jalan satu-satunya untuk mencegahnya ialah dengan mendiaminnya, angap angin lalu.
"Biarlah mereka mau bicara apa tentang saya, toh ini juga tidak merugikannya saya hanya ingin berbagi sedikit dengan rejeki yang saya punya," kata ayah dalam hati.
*****
Sekitar jam sembilan lebih dua puluh menit bel masuk berbunyi setelah melayani bakso gratis buat semua siswa sekolah SD, ayah pun bersiap untuk pindah tempat ke sekolah SMP disana ayah juga akan membagikan bakso gratis soalnya masih banyak juga baksonya sengaja ayah bawa semua yang di rumah sudah habis tidak tersisah.
Ayah sudah mengira sebelumnya tadi di rumah kalo bakso gratisnya bakalan di minati hari ini jadi sengaja ia bawa semuanya supaya habis tak tersisa, agar esuk ayah bisa giling bakso yang baru lagi.
Kedua pedagang yang tadi membicarakan ayah masih saja melirik ayah dengan tatapan tidak suka, untung saja hari ini Supri tidak jualan dia setiap hari Jumat libur istirahat di rumah, kalo saja ada Supri kedua pedagang tadi sudah di labrak karena membicarakan ayah.
*****
Sampainya ayah di sekolah SMP ayah langsung memarkir motornya dan kebetulan sedang pada istirahat, di awali seorang siswa yang menghampiri ayah untuk membeli dan ingin membayar, tapi ayah tolak dan akhirnya memanggil teman-teman yang lain. Kejadiannya hampir sama dengan kejadian saat di SD tadi.
Lagi!! ayah di keruminin banyak Siswa yang ingin mengantri bakso gratis, membuat rasa iri dari pedagang lain, mereka berbisik-bisik di belakang ayah, yaa!!! memang ayah orangnya cuek dia hanya diem, bukan karena ayah takut, tapi selama ayah masih nyaman ia tidak akan menegurnya dengan catatan kecuali merugikan ayah baru bertidak.
Hanya sekumpulan orang-orang yang punya sifat iri, tidak boleh melihat temannya sukses, atau berbuat kebaikan pasti langsung memandang sebelah mata, di setiap daerah, kota, kampung, Desa di dimana pun itu pasti ada orang yang sifatnya seperti ini.
Ayah sibuk melayani sampai tak terasa hari sudah siang sekitar jam setengah sebelas ayah pulang pas berbarengan dengan bel masuk karena ini hari Jumat, ayah ingin melakukan ibadah Jumatan di masjid lingkungan rumahnya.
Ayah pun pulang dengan hati puas bisa melihat senyum di wajah anak-anak yang mendapat bakso gratis, bakso ayah masih tersisah lumayan, dan ini akan ayah bawah nanti habis solat Jumat ke pangkalan biasa tempat para anak jalanan dan parkir miskin.
BERSAMBUNG ...
*****
Terima kasih sudah baca jangan lupa like dan komennya vote author nya agar lebih semangat lagi nulisnya.
❤Tambahkan ke faforit yach❤
SELAMAT ULANG TAHUN NAJUA
semoga panjang umur sehat selalu. Jadi anak berbakti. kebanggaan orang tua. Amin.
🎊🎊🎊🎁🎁🎁🎈🎈🎈🎉🎉🎉
tetep semangat selalu pokoknya ya, love you kak 😘