Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ciiittt!
Mobil sedan hitam itu berhenti mendadak tepat di depan pintu lobi UGD rumah sakit, menyisakan kepulan asap tipis dari ban yang bergesekan kasar dengan beton. Belum sempat sopir memutari mobil untuk membukakan pintu, Ethan sudah menendang pintu penumpang dari dalam dengan kakinya.
Sambil mendekap erat tubuh Bella yang kian terasa kaku dan mendingin, Ethan melompat keluar. Ia berlari menerobos pintu otomatis lobi UGD tanpa memedulikan tatapan kaget dari orang-orang di sekitar.
"Dokter! Suster! Tolong adik saya!" teriak Ethan histeris. Suaranya yang menggelegar dan parau seketika memecah kesunyian malam di area rumah sakit.
Pria yang biasanya selalu tenang dan penuh wibawa itu kini tampak hancur berantakan. Rambutnya acak-acakan, matanya merah bengkak oleh air mata, dan napasnya memburu layaknya orang yang kehilangan arah. Ia menggendong Bella seolah-olah sedang mendekap separuh nyawanya sendiri yang sedang sekarat.
"Tolong! Cepat bawa brankar! Dia tidak bernapas dengan benar!" jerit Ethan lagi, suaranya naik satu oktav saat menyadari tubuh Bella sama sekali tidak memberikan respons.
Mendengar teriakan penuh kepanikan tersebut, beberapa perawat dan seorang dokter jaga langsung bergerak cepat. Mereka berlari mendorong sebuah brankar besi ke arah Ethan.
"Baringkan di sini, Pak! Apa yang terjadi sebelumnya?!" tanya dokter jaga dengan nada tegas namun tenang sembari memeriksa pupil mata Bella.
"Dia pingsan di rumah... badannya dingin, dan detak nadinya sangat lemah," jawab Ethan terbata-bata saat memindahkan tubuh ringkih Bella ke atas brankar.
Ketika tangan mereka terlepas, Ethan merasa seolah-olah ada bagian dari dirinya yang ikut tercerabut pergi. Ia hanya bisa berdiri mematung dengan tangan yang gemetar hebat, menatap nanar saat brankar Bella didorong dengan tergesa-gesa memasuki ruang tindakan darurat, meninggalkan dirinya sendirian di balik tirai putih yang tertutup rapat.
Begitu pintu ruang tindakan darurat tertutup rapat dan lampu indikator di atasnya menyala merah, seluruh kekuatan yang sejak tadi menopang tubuh Ethan lenyap seketika. Lututnya melemas. Pria itu merosot turun, terduduk lemas di atas lantai koridor rumah sakit yang dingin dan kaku.
Ethan menyandarkan punggungnya pada dinding putih yang pucat. Ia menekuk kedua lutut, lalu menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengan. Bahunya berguncang hebat. Suara isak tangis yang selama belasan tahun ini selalu ia kekang, kini pecah menjadi raungan pilu yang menyayat hati di tengah keheningan lorong rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Ethan mengangkat kepalanya dengan tatapan kosong. Matanya yang memerah dan bengkak perlahan turun, tertuju pada jas kantor abu-abu yang masih melekat di tubuhnya.
Di bagian dada jas itu, terdapat noda samar yang terasa lembap dan teramat dingin—bekas air mata Bella yang sempat luruh dan sisa kehangatan tubuh adiknya yang berpindah saat ia dekap erat di dalam mobil tadi. Noda itu seolah menjadi cap dosa yang nyata, membakar nuraninya dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
“Ini ... pasti halusinasiku saja, kan?”
Bisikan lemah Bella sebelum kehilangan kesadaran kembali terngiang di telinga Ethan, lebih tajam daripada belati mana pun. Adiknya begitu terbiasa diabaikan, begitu terbiasa disakiti, hingga saat dirinya datang membawa rasa khawatir, anak itu mengiranya sebagai sebuah halusinasi menjelang kematian.
Ethan mencengkeram kain jas di dadanya dengan kasar, meremasnya erat-erat seolah ingin mencabut rasa sesak yang kian mencekik parunya. "Maafkan Kakak, Bella... Maafkan Kakak..." ratapnya parau. Air matanya menetes di atas noda dingin tersebut, menyatu dengan jejak penderitaan adik perempuan yang selama ini ia telantarkan di gudang lantai tiga.
Di lorong yang sunyi itu, Ethan menyadari satu hal yang paling mengerikan: jika Tuhan tidak memberikan Bella kesempatan kedua, maka noda dingin di jasnya ini akan menjadi satu-satunya kenangan terakhir yang tersisa dari adik yang telah ia hancurkan hidupnya.
Suara berdecit dari pintu ruang tindakan yang terbuka seketika memutus raungan tangis Ethan. Ia langsung menyentak tubuhnya bangkit dari lantai koridor, mengabaikan kakinya yang masih terasa lemas dan bergetar.
Dokter jaga keluar dengan wajah yang teramat tegang, perlahan melepas masker medisnya sembari mengembuskan napas berat.
"Dokter! Bagaimana kondisi adik saya?!" seru Ethan mendesak, mencengkeram lengan jas putih sang dokter dengan tatapan penuh keputusasaan.
Dokter itu menatap Ethan dengan pandangan yang sarat akan keprihatinan. "Kami sudah melakukan bilas lambung dan memberikan penanganan darurat untuk menstabilkan jantungnya. Namun, kondisi organ dalam adik Anda... sangat memprihatinkan. Ini bukan penyakit yang baru terjadi satu atau dua hari."
Ethan tertegun, cengkeramannya perlahan melonggar. "Maksud Dokter?"
"Dari hasil pemeriksaan, terjadi kerusakan parah menahun pada organ dalamnya. Lambung dan paru-parunya mengalami peradangan kronis akibat paparan udara yang teramat dingin dan lembap dalam jangka waktu yang sangat lama. Tubuhnya juga mengalami malnutrisi parah," jelas dokter itu, membuat setiap kalimatnya terasa seperti hantaman godam di dada Ethan.
Dokter itu menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang agak ragu. "Selain itu, ada sesuatu yang tidak bisa kami jelaskan secara medis. Saat kami memeriksa pergelangan dan telapak tangan pasien, ada jaringan pigmen hitam pekat yang membentuk garis lurus yang aneh. Garis itu tampak menyerap pasokan oksigen di nadinya setiap kali berdenyut. Secara medis, kami hanya bisa menyimpulkan ada zat toksin misterius yang perlahan menggerogoti vitalitas tubuhnya dari dalam, seolah... tubuhnya memang sudah dipaksa bersiap untuk mati."
Mendengar penjelasan itu, dunia di sekitar Ethan terasa berputar. Udara dingin dan lembap yang parah? Kamar gudang di lantai tiga. Jendela yang bocor ditambal koran bekas yang tidak mampu menahan angin malam. Malnutrisi? Karena adiknya hanya bisa memakan sisa makanan di sepertiga malam secara sembunyi-sembunyi.
Dan garis hitam itu... Ethan teringat bagaimana tanda itu redup sesaat setelah ia berjanji akan pulang di telepon.
"Saat ini pasien berada dalam kondisi koma," ucap dokter memutus lamunan hitam Ethan. "Masa kritisnya belum lewat. Kita hanya bisa berdoa agar tubuhnya punya keinginan untuk bertahan hidup, karena secara fisik... nona Bella seolah sudah menyerah sejak lama."
Keesokan harinya, pancaran sinar matahari pagi menembus jendela kaca lorong rumah sakit, namun tidak sedikit pun mengurangi ketegangan di wajah Ethan. Begitu melihat dokter jaga keluar dari ruang ICU, ia langsung bergegas menghampiri dengan tatapan penuh harap.
"Bagaimana kondisi adik saya sekarang, Dokter?" tanya Ethan dengan suara serak, sisa dari malam panjang yang ia habiskan tanpa tidur.
Dokter itu tersenyum tipis, gumpalan lelah di wajahnya sedikit berkurang. "Tuan Ethan, putri sulung keluarga Anda akhirnya berhasil melewati masa kritisnya. Detak jantung dan napasnya sudah mulai stabil. Sekarang, kita hanya perlu menunggu dia sadar dari komanya."
Mendengar kalimat itu, separuh beban berat yang menyumbat dada Ethan seolah terangkat. Air mata haru menyembul di sudut matanya yang menghitam. "Syukurlah... Syukurlah tidak terjadi hal buruk," ucap Ethan dengan nada bergetar penuh syukur. Dosa belasan tahun itu setidaknya tidak berubah menjadi penyesalan abadi hari ini.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan Ethan. Jika putri sulung sudah sadar dan menunjukkan respons, segera panggil saya atau perawat di depan," ucap dokter tersebut sambil mengangguk sopan.
"Terima kasih banyak, Dokter," balas Ethan tulus, membungkukkan kepalanya sedikit saat melepas kepergian sang dokter.
Ethan membalikkan badan dan menatap ke dalam ruangan melalui kaca pembatas ICU. Di dalam sana, Bella terbaring lemah dengan berbagai selang medis yang menopang tubuh ringkihnya. Meskipun dokter bilang masa kritisnya sudah lewat, Ethan tahu perjalanan mereka masih panjang. Terutama saat matanya tidak sengaja menangkap jemari Bella yang bebas dari jarum infus; di sana, garis hitam misterius di telapak tangan adiknya masih tercetak samar, seolah menyembunyikan sebuah rahasia besar yang belum terungkap.
Setelah kepergian dokter tersebut, Ethan melangkah masuk ke dalam ruang ICU yang sunyi. Suara ritmis dari mesin bedside monitor menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan. Ethan berjalan mendekati brankar, menatap Bella yang masih terpejam dengan wajah pucat kelelahan.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh kehati-hatian, Ethan mengulurkan tangan untuk merapikan selimut yang membungkus tubuh ringkih adiknya. Saat kulitnya merasakan hawa dingin dari kain selimut itu, benak Ethan mendadak ditarik mundur ke belasan tahun yang lalu.
Memori kelam yang selama ini ia kunci rapat di dasar ingatan kini menyeruak kembali.
“Dulu, Bella bisa melihat tanggal kematian di telapak tangan orang lain. Pada Kakek, dan juga Papa-Mama ... dan semuanya terbukti benar,” bisik Ethan lirih, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dalam dada. Ia terus mengusap pinggiran selimut Bella dengan tatapan nanar. “Mengabaikanmu adalah langkah terpaksa demi melindungi keluarga Adipta, Dek.”
Ethan memejamkan mata sesaat, meresapi rahasia besar yang selama ini menjadi beban terkutuk bagi jajaran kakak-kakaknya. Dunia luar hanya tahu mereka membenci Bella, tanpa pernah tahu bahwa mengurung dan menjauhkan anak itu dari interaksi keluarga adalah satu-satunya cara yang mereka pahami untuk memutus rantai ramalan kematian berikutnya.
Namun, di tengah lamunan hitam Ethan, sebuah keajaiban kecil terjadi tanpa ia sadari.
Tepat di bawah selimut yang baru saja dirapikannya, ujung jari-jari pucat Bella mendadak berkedut pelan. Gerakan itu teramat tipis, nyaris tak terlihat, namun bersamaan dengan itu, garis hitam misterius di telapak tangan Bella yang semula pekat kini tampak berdenyut halus—seolah-olah kata-kata Ethan baru saja memicu sesuatu yang tertidur di dalam tubuhnya.
Baru saja Ethan hendak menarik kursi besi di samping brankar untuk duduk, sepasang matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Di bawah remang lampu ruang ICU, garis-garis hitam di telapak tangan Bella yang semula acak kini mulai merapat, bergerak, dan membentuk barisan angka serta huruf yang terbaca jelas.
Jantung Ethan mencelos seketika. Itu adalah deretan tanggal kematian.
"Dua puluh Juni ...?" Ethan terengah, dadanya mendadak terasa sesak saat membaca tulisan di kulit adiknya. "Itu kan tanggal kemarin? Kenapa di tangan Bella ada tanggal kemarin?!"
Dengan kepanikan yang kembali membubung, Ethan menyambar tangan dingin Bella. Menggunakan ibu jarinya, ia mengusap telapak tangan itu berulang kali dengan kasar, mencoba menghapus noda hitam yang tampak mengerikan tersebut. Namun, usahanya sia-sia. Angka-angka itu justru tercetak semakin pekat, seolah-olah telah menyatu ke dalam aliran darah Bella dan menolak untuk hilang.
Pada detik yang sama saat Ethan terus memaksa mengusapnya, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah mencekam.
Uhuk!
Ethan terbelalak. Tenggorokannya tiba-tiba terasa bagai tercekik oleh seutas tali tak kasat mata yang teramat kuat. Pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang, membuatnya terbatuk-batuk parau sembari mencengkeram lehernya sendiri. Sensasi mistis yang dingin dan pekat itu mengunci seluruh pergerakannya.
Jangan-jangan ... ini terkait dengan tanggal kematian yang sering diucapkan Bella? batin Ethan panik di tengah rasa sakitnya.
Pikirannya berputar liar, mencoba menyatukan kepingan teka-teki yang selama ini mereka abaikan. Apakah kemarin seharusnya adalah tanggal kematiannya? Dan selama belasan tahun ini ... dia menahan semua siksaan rasa sakit dari kutukan ini sendirian tanpa ada satu pun dari kami yang tahu?
Skenario mengerikan itu menghantam kesadaran Ethan. Jika kemarin adalah batas waktu Bella, itu berarti adiknya seharusnya sudah meninggal di lantai ruang makan tadi malam. Namun, karena suatu alasan—atau karena janji Ethan yang bersumpah akan pulang—Bella berhasil mencuri waktu dari kematian, meski konsekuensinya, ia harus menanggung beban sakral yang kini mulai menular dan mencekik siapa saja yang mencoba mengusik takdirnya.
Rasa tercekik di tenggorokan Ethan semakin menjadi-jadi. Wajahnya mulai memerah keunguan akibat kekurangan oksigen. Dengan sisa tenaga yang ada, Ethan terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Bella.
Uhuk! Uhuk!
Begitu skin-to-skin contact itu terputus, udara langsung berebut masuk kembali ke dalam paru-parunya. Ethan jatuh berlutut di lantai samping brankar, terbatuk-batuk hebat sambil mencengkeram dadanya yang kembang kempis. Keringat dingin bercucuran membasahi keningnya.
Ia mendongak dengan tatapan ngeri sekaligus tak percaya. Angka "20 Juni" di telapak tangan Bella tiba-tiba berkedip, memancarkan aura hitam tipis yang perlahan-lahan merembes masuk ke dalam jarum infus adiknya.
Kutukan itu ... benar-benar nyata, batin Ethan bergetar hebat.
Ethan menyadari satu hal yang mengerikan. Selama belasan tahun ini, keluarga Adipta mengasingkan Bella di gudang lantai tiga dengan harapan kemampuan mistis itu akan melemah jika Bella diisolasi dari dunia luar. Namun, mereka salah besar. Alih-alih melemah, kutukan itu justru berbalik memakan tubuh Bella dari dalam karena dia tidak memiliki tempat untuk menyalurkan atau membagi beban takdir tersebut. Bella menanggung semuanya sendirian hingga organ dalamnya rusak parah.
Tiba-tiba, mesin bedside monitor di atas brankar berbunyi nyaring dan tidak beraturan. Grafik detak jantung Bella di layar melonjak tajam, lalu mendadak turun drastis.
Tet ... Tet ... Tet ...
Ethan panik. Ia segera bangkit berdiri dan hendak menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. Namun, gerakannya terkunci ketika ia melihat kelopak mata Bella mulai bergetar hebat. Garis hitam dan angka kematian di telapak tangan adiknya perlahan-lahan memudar, bergerak mundur dan terserap kembali ke dalam pori-pori kulitnya sampai bersih tak berbekas.
Bersamaan dengan hilangnya tanda misterius itu, suara erangan lirih bin tipis keluar dari bibir pucat Bella.
.."K-Kak ... Ethan ...," bisik Bella sangat samar. Kedua matanya yang sayu perlahan-lahan terbuka, menatap langsung ke arah Ethan yang sedang membeku di sampingnya.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~