Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Aliansi Baru
Aura meremas kuat ujung selimutnya. Sosok Sofie memang telah menghilang dari hadapannya, namun sengatan kalimat beracun wanita itu masih terngiang jelas, menembus benaknya.
"Dia siapa sih, sok berkuasa banget? Kamu tidak apa-apa kan, Ra?" tanya Santi dengan raut penuh kecemasan.
Aura menggeleng pelan. "Aku mau pulang, Mbak..."
"Istirahat dulu, Ra. Nanti kalau sudah membaik pasti boleh pulang kok," bujuk Santi lembut seraya membimbing tubuh lemas Aura untuk kembali berbaring di atas ranjang medis.
Gadis itu tampak sangat gelisah. Ia mencoba memejamkan mata, namun kepalanya mendadak berdenyut nyeri luar biasa. Perasaannya mendadak kacau ketika pecahan-pecahan memori asing mulai berhamburan menyelimuti pikirannya.
Bayangan seorang gadis berpakaian seksi, duduk dikelilingi pria-pria berjas mahal, tertawa bersama di balik tebalnya asap rokok, gelas-gelas minuman alkohol, ciuman, dan sentuhan liar yang seolah menjadi hal lumrah.
Aura serta-merta memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Telinganya seolah menangkap gema dentuman musik jazz kelab malam yang memekakkan, suara tawa riuh, serta aroma pekat alkohol yang menyengat.
‘Aku Clara, bukan Aura yang lugu dan lemah!’ suara itu gaung memekakkan telinga Aura dari dalam batinnya.
Aura yang lemah...
Kata-kata ejekan itu tanpa sadar terucap dari bibir Aura sendiri. Clara adalah bagian dari dalam dirinya. Dan kini, makin banyak obat yang ia telan, memori kelam tentang aksi Clara yang selama ini terkunci perlahan terkuak satu per satu—memori yang perlahan akan terkikis dengan sendirinya seiring proses penyembuhan.
Sensasi memori itu perlahan pudar. Kini, pendengarannya samar-samar menangkap suara panggilan cemas dari Santi dan Dokter El yang terus memanggil namanya.
Aura berusaha membuka kelopak matanya, namun rasanya terlalu berat. Ia ingin berteriak meminta pertolongan, tetapi tenggorokannya seolah terkunci rapat.
‘Sekarang... giliranku, Aura!’ bisikan lain bergaung tegas di benaknya.
Aura ingin menoleh untuk melihat siapa yang berbicara padanya, namun bukannya melihat sosok itu, tubuh Aura justru merasa terpental jauh meluncur ke dalam ruang yang gelap gulita dan tak berdasar. Di hadapannya, berdiri sosok kepribadian lain dalam dirinya—Clara tengah bersedekap seraya mengulas senyum sinis yang dingin, sebelum akhirnya seluruh penglihatan Aura padam menjadi gelap dan hampa.
"Aura, bangun... Aku masih butuh kamu, Ra..." isak Santi seraya menepuk-nepuk pelan pipi Aura yang masih tak sadarkan diri.
Sementara itu, Dokter El sibuk mengecek ritme jantung Aura menggunakan stetoskopnya. "Detak jantungnya stabil, tapi kenapa belum sadar juga ya?" gumam Dokter El dengan kerutan cemas di dahi.
Tak lama setelah Dokter El menyesuaikan posisi selang infus Aura, kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Manik matanya bergulir liar mengamati sekeliling, hingga pandangannya mengunci selang infus yang menancap di punggung tangannya.
"Sialan..." umpatnya kasar sesaat setelah menatap selang tersebut.
Santi seketika menghentikan tangisnya, menatap Aura dengan raut bingung. "Ra... kamu kok..."
"Aku bukan Aura!" bentak gadis itu tajam.
Dokter El menggelengkan kepala, mengambil tindakan cepat. "Clara, dengar baik-baik. Saya Dokter El, dokter kamu," ujar Dokter El seraya menusukkan jarum suntik ke botol injeksi penenang.
Mata Clara yang tajam mendapati pergerakan itu. Dengan gerakan refleks yang sigap, ia mencabut paksa selang infus dari tangannya hingga darah menetes, lalu meloncat turun dan berlari sekencang mungkin keluar kamar!
Santi dibuat kaget setengah mati dan berusaha mengejarnya, sementara Dokter El yang sudah berusia senja tak lagi sanggup mengimbangi kecepatan lari gadis itu.
Clara berlari di koridor rumah sakit, jari-jarinya menekan tombol lift dengan tidak sabar. Dengan rambut acak-acakan, kaki telanjang tanpa alas, darah yang mengalir melumuri punggung tangannya, serta baju pasien, ia berdiri di sana dengan amarah yang menggerogoti seluruh jiwanya.
.
.
Restoran Mewah RS Swasta Medika.
"Siapa wanita itu sebenarnya, Kak?" tanya Lyora seraya duduk santai di sofa panjang, meraih cangkir teh yang tergeletak di meja marmer.
"Penulis tanpa nama. Cewek kelas bawah yang terobsesi ingin kaya mendadak. Kakek tidak akan pernah sudi punya cucu menantu seperti dia," balas Sofie yang duduk berhadapan dengan Lyora.
Lyora meletakkan kembali cangkir tehnya perlahan, lalu menyilangkan kakinya yang jenjang. Sebelum berucap, ia sempat terkekeh pelan. "Sudah kuduga, Darrel tidak akan pernah sanggup mencari calon istri yang sepadan denganku."
Sofie ikut tertawa sinis. "Kamu memang yang terbaik, Lyora. Tapi jujur... aku sedang mencurigai wanita itu sebagai penggoda Daffa."
Lyora tersentak kaget. Matanya membulat sempurna. "Kak Daffa?!"
Sofie mengangguk yakin. "Aku pernah menyewa orang untuk membuntuti Daffa sampai ke apartemen wanita jalang itu."
"Kak! Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Kita harus mengusutnya sampai tuntas!" seru Lyora penuh penekanan.
Sofie menggeleng kuat. "Aku sudah berjanji pada Daffa untuk tidak mengungkitnya lagi. Kurasa aku hanya—"
"Kak, wanita itu berbahaya! Kita tidak bisa membiarkannya tetap hidup santai dan bebas! Dia sudah hampir membuat Kakak bercerai!" potong Lyora tajam, memutus keraguan Sofie.
Sofie membisu. Pikirannya mulai terpengaruh. Perkataan Lyora ada benarnya. Jika ia terus-terusan mengalah dan menuruti Daffa, wanita itu akan dengan mudah terus memikat suaminya.
"Ayo... kita beri pelajaran padanya" lanjut Lyora seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rencana licik.