Tara seorang wanita yang sudah dewasa tapi tidak percaya cinta. Bahkan dia kerap menyalahkan takdir atas apa yang menimpa dirinya. Kasih sayang menurutnya hanyalah kebohongan belaka.
"Orang bilang kasih sayang yang tulus dari orang tua, tapi kenapa aku di buang oleh mereka?"
Menjalani hidup seorang diri dan hanya mengandalkan diri sendiri itulah Tara dia kuat karena rasa sakit bukan karena rasa sayang.
Tapi semua berubah saat ia bertemu dengan pria bernama Awan.
Awan adalah pria dewasa yang baik dan taat agama. Memperlakukan semua orang dengan baik termasuk Tara. Sering terlibat pekerjaan yang sama dan melewati hari bersama menimbulkan perasaan yang lebih dari teman di hati Tara. Namun mereka berbeda keyakinan. Awan sudah di jodohkan orang tuanya dengan seorang wanita bernama Aini yang sholehah anak dari sahabatnya.
Apakah Tara dan Awan bisa bersatu?
Akankah Awan menerima perjodohan tersebut?
Antara cinta dan cinta
Saat rasa itu datang dan tak bisa di cegah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Diandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih tetap peduli.
Harusnya ia menerima tawaran Anton yang ingin mengantarnya tadi daripada ia harus menunggu sendiri seperti ini.
"Kenapa lama sekali? Apa dia lupa ya?" tanya Tara pada dirinya sendiri.
"Tara, kau masih di sini?"
Tara melihat ke arah sumber suara tersebut. Tak lama ia tersenyum lalu menjawab. "Iya, aku masih di sini."
"Ini sudah hampir jam lima sore. Ayo, aku antar pulang saja." Anton menawarkan bantuan kepada Tara.
Tara menggelengkan kepala. "Aku sudah janji menunggu Awan. Mungkin macet di jalan jadi dia telat menjemput."
"Baiklah kalau itu mau mu. Tapi, gue akan tetap nungguin lo di sini. Sampai dia datang. Anton enggan menyebut nama Awan.
Tara tersenyum ke arah Anton. Ia bersyukur mempunyai teman baik. Di saat dia butuh bantuan pria itu selalu memberikannya.
Anton tidak seperti biasanya, kalau biasanya ia bercerita ini itu, kali ini ia hanya diam sambil berselancar di media sosial miliknya. Entah lah apa yang di pikirkan pria tersebut.
"Kenapa dari tadi lihat ponsel terus sih. Ngobrol lah kayak biasanya." Ujar Tara yang menyadari diamnya Anton.
"Ngga apa-apa sedang ingin melihat berita di media sosial aja."
"Oh, yasudah."
Akhirnya Tara tidak menanyakan perihal diamnya Anton lagi. Walaupun ia sebenarnya tahu pasti apa yang di pikiran pria tersebut.
Setelah hampir dua puluh menit Awan tiba di depan kantor Tara. Dengan cepat ia keluar dan berlari mencari keberadaan Tara. Belum sampai di pintu masuk ia bernapas lega saat melihat wanita yang ia cari sedang duduk sambil menyesap minuman yang ia pegang. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri Tara.
"Maaf aku terlambat." Ucapnya menyesal setelah sudah sampai di hadapan Tara.
"Ngga di maafkan. Aku nunggunya baru satu jam lebih kenapa sudah datang? Harusnya dua atau tiga jam lah." Sindir Tara.
"Tadi sudah berkali-kali aku hubungi tapi ponsel kamu ngga aktif. Aku telepon Salma tanya kabar mu dia juga ngga tahu kamu udah pulang belum karena dia tadi sudah jalan duluan." Jelas Awan. Ia berusaha meyakinkan Tara bahwa dirinya telat memang karena macet.
Saat Awan tadi menghubungi Salma untuk menanyakan keberadaan Tara. Anton berada di samping Salma. Karena ia mengetahui Awan akan terlambat maka dari itu Anton sengaja membatalkan janjinya dengan Salma dan lebih memilih menemani Tara. Tentu saja Salma tidak keberatan dengan hal itu.
"Awan sudah datang, gue tinggal dulu," Anton segera meninggalkan Awan dan Tara berdua.
"Anton, makasih." Teriak Tara, karena Anton sudah berjalan cukup jauh.
Anton hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Tentu saja saat ini ia di bakar api cemburu. Dengan susah payah ia menutupi perasaannya. Walaupun ia sudah tahu tidak ada harapan untuk dirinya dan Tara Anton masih tetap baik dan memperlakukan wanita itu seperti dulu.
Sebagai seorang pria tentu saja Awan juga menyadari kalau Anton juga suka dengan Tara. Ia juga bisa bersikap tenang dan dewasa tanpa memperlihatkan rasa cemburu nya.
"Yuk, kita pulang!" Ajak Awan.
"Ayo." Tara segera mengikuti langkah Awan yang berjalan terlebih dahulu.
"Silahkan!" Ucap Awan dengan membentangkan tangan nya setelah membuka pintu mobil.
"Makasih," Tara segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamanan.
Kawasan Tangerang jam seperti ini tentu saja macet. Mereka harus sabar dengan orang padatnya kendaraan.
"Enak bawa motor." Celetuk Awan memecah keheningan di dalam mobil.
"Kenapa ngga bawa motor saja tadi?" Tanya Tara.
"Dari pagi sudah bawa mobil dan motor juga di kost jadi ya mau ngga mau pulang bawa mobil. Lagian ini fasilitas kantor emang harus di pakai." Jawab Awan.
"Yasudah, biasakan saja dengan suasana macet di jalanan. Nanti juga terbiasa.
" Iya akan sangat terbiasa jika ada kamu di sampingku setiap hari."
" Wah namanya gue nebeng dong? Lumayan juga bisa irit ongkos bensin dan hemat tenaga juga. Em... seperti punya sopir pribadi kayaknya." Goda Tara.
"Okay lah deal ya?" tanya Awan.
"Apanya yang deal?" Tara berbalik bertanya.
"Bukannya menjawab malah berbalik tanya. Deal setiap hari kita ke kantor bareng."
***
Anton yang sudah lebih dulu sampai di rumah langsung merebahkan tubuhnya di kamar. Rasanya hari ini ia sangat lelah. Bukan karena terlalu banyak pekerjaan. Tapi terlalu sakit melihat hubungan Awan dan Tara. Masih bertanya apa kurang nya dirinya sehingga tidak mampu mengetuk hati Tara. Sedangkan Awan yang baru saja di kenal sudah bisa sedikit masuk di hati wanita tersebut.
Berkali-kali ia menghemat napas panjang untuk sekedar meringankan rasa sesak di dadanya akibat rasa cemburu. Bukan kah hal wajar jika ia seperti ini? Bahkan Tara juga sudah kenal baik dengan keluarganya belum cukupkah kedekatan mereka?
"Apa yang lo lihat dari Awan, Tara? Belum cukupkah waktu yang kita habiskan bersama selama ini?" tanya Anton pada dirinya sendiri.
Di lain tempat.
Seorang wanita tengah melakukan panggilan video call dengan orang tuanya yang ada di kampung. Senyum manis tak surut dari bibir indah nya.
" Iya, Umi nanti Aini pulang kok. Jangan khawatir!" Ucapnya.
Wanita tersebut adalah Aini teman lama Tara yang bertemu di festival food beberapa hari yang lalu. Orang tua nya meminta dia untuk pulang ke kampung karena kakak nya akan menikah . Karena Aini kerja di Jakarta ia jarang sekali pulang, palingan enam bulan sekali. Dan bulan depan adalah acara pernikahan sang kakak ia harus pulang untuk menghadiri pesta tersebut.
"Awas saja kalau ngga pulang. Abah yang akan jemput kamu sendiri ke sana dan lihat saja, nanti kamu ngga di perbolehkan kerja lagi." Ancam sang Umi dari panggilan video call.
Aini menjulurkan lidahnya mengejek sang Umi. Ia bukannya bilang iya, justru malah semakin membuat Umi nya semakin mengomeli anak bungsu nya tersebut.
Setelah puas dengan panggilan video call yang berdurasi hampir enam puluh menit Aini mengakhiri panggilannya. Karena adzan isya sudah berkumandang dan waktunya ia menjalankan kewajiban nya sebagai seorang umat muslim.
"Tunggu di mobil saja, aku sholat isya dulu sebentar." Pamit Awan lalu meninggalkan Tara yang masih di dalam mobil.
Bukannya menurut di dalam mobil, Tara justru keluar mengikuti Awan tanpa sepengetahuan pria tersebut. Lalu ia mendudukkan dirinya di depan masjid.
" Aku tunggu di sini saja." Ucap Tara pada dirinya sendiri.
Tara menunggu Awan di depan sebuah masjid yang ada di daerah Kalideres. Ia baru saja selesai makan malam bersama Awan. Saat pria itu menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, Tara menunggu dengan setiap menunggu di depan masjid.
perkenalkan aku pocipan dari gc Bcm
mau mengundang kaka semua ini yang mau belajar menulis dasar bersama kami semua.
caranya mudah hanya wajib follow akun saya ya untuk saya undang masuk ke Gc Bcm..
kami di sini juga menyediakan mentor senior yang bisa kalian tanya jawab.
Terima kasih
Walapun sudah di putusin tapi masih mau terima Awan sebagai teman.☺☺
Dia yang awalnya begitu sulit untuk membuka hatinya, tapi disaat sudah membuka hatinya untuk Awan, malah kau putuskan si Tara.
jd ikut bergetar nih hatiku