Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Hanis tahu ini sudah mendekati jam makan malam. Aroma makanan juga sudah menguar hingga ke hidungnya ketika ia membuka pintu kamar. Namun langkahnya terhenti karena mendengar suara pertengkaran dari bawah.
Sean dan Jinny sedang berdebat dengan emosi tingkat tinggi. Suara mereka meninggi. Menggema ke seluruh sudut rumah.
“Aku nggak mau, Sean! Aku udah ngalah buat berangkat setelah gala dinner!”
“Aku minta tunda sehari aja, Jin. Cuma buat menemani aku ke rumah sakit nengok istri kolega bisnis. Dia customer besar, Jin,” balas Sean.
“Nggak bisa, Sean. Aku sudah ada planning sama teman, flight juga sudah di booking, dah sama hotelnya. Nggak bisa cancel. No refundable.”
Hanis sama sekali tidak tahu soal rencana kepergian Jinny. Baru mempelajarinya dari perdebatan mereka.
“Terserah kamu lah! Aku capek!”
Terdengar suara langkah kaki yang dihentak-hentakan kasar, disusul suara pintu rumah yang dibuka dan ditutup dengan sebuah bantingan keras. Selanjutnya terdengar suara mobil meninggalkan carport. Hanis berasumsi Sean sudah pergi.
“Hanis! Kamu makan sendiri aja, aku mau pergi!” teriak Jinny.
Tak lama, terdengar suara pintu dan mobil kembali. Menandakan Jinny juga pergi, menyisakan hanya Hanis dan seorang asisten rumah tangga di bagian belakang bangunan.
***
Setelah sarapan dan makan siang seorang diri, malam harinya Hanis tidak lagi sendiri. Jinny dan Sean ada di meja makan. Formasinya tetap sama, mereka masih bersebelahan. Namun kali ini keduanya tidak saling berbicara.
Suasana makan malam sangatlah canggung. Hanis makan dalam diam. Bahkan terus menunduk agar tidak perlu melihat raut wajah marah keduanya.
Tiba-tiba Sean meletakkan sendoknya dengan kasar, Hanis dan Jinny otomatis mengangkat wajah. Piring Sean sudah kosong, dan pria itu bangkit begitu saja. Naik ke lantai dua. Menyisakan hanya Hanis dan Jinny disana.
Meski hanya berdua, Hanis tetap diam dan menunduk. Menyesali keputusannya yang menyendok nasi dan lauk terlalu banyak hingga tidak bisa cepat kabur dari ruang makan ini.
“Hanis,” panggil Jinny.
Hanis kembali mendongak. “Ya?”
“Aku pergi besok malam. Habis acara sama Sean, aku langsung ke bandara. Mungkin seminggu baru pulang,” ucap Jinny dengan nada datar.
Sejujurnya, Hanis tidak tahu harus menjawab atau merespon apa. Tapi yang ia tahu, informasi ini penting untuk mereka. Untuk transaksi mereka yang akan segera berlangsung.
“Nanti, Sabtu mungkin Sean akan langsung ke kamu. Kalian bisa mulai transaksinya. Jadwal ovulasi kamu hari Minggu.”
Hanis mengangguk.
“Tolong seperlunya saja, biar kalau selesai, Sean langsung kembali ke kamarnya. Kalian nggak perlu tidur bareng,” lanjut Jinny.
“Baik…”
“Itu aja. Tolong profesional, kontak fisik seperlunya saja, yang penting anaknya. Kami butuh anak, kamu butuh uangnya. Biar hubungan kalian tetap transaksional.”
“Iya, Jin.”
“Ingat, kamu juga punya suami di rumah.”
“Iya, saya ingat.”
“Bagus kalau begitu.” Jinny bangkit dari duduknya, merapikan sedikit bagian bawah dasternya dan melangkah menaiki tangga, meninggalkan Hanis.
Sendirian di meja makan, Hanis melanjutkan makannya perlahan. Nafsu makannya menghilang sudah sejak dari awal makan malam dimulai, tapi ia berprinsip tidak boleh membuang-buang makanan. Apalagi sejak kecil Hanis hidup dalam kondisi yang selalu kekurangan sesuatu untuk dimakan.
Bahkan saat makan seperti ini, Hanis selalu teringat pada suami dan anaknya di rumah itu. Apakah mereka sudah makan? Apakah mereka makan dengan lauk yang layak?
...****************...