NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Di sisi lain kota, jauh dari kehangatan tawa seorang gadis kecil, udara pagi di dalam markas rahasia The Dragon Black terasa sekental darah yang mengering.

Gudang bawah tanah yang biasanya dipenuhi gelak tawa para berandal dan suara dentingan botol bir itu kini diselimuti keheningan yang mematikan. Asap rokok murahan dan cerutu Kuba mengambang di udara yang lembap, bercampur dengan aroma anyir ketakutan yang menguar dari pori-pori para penjaga.

Di tengah ruangan, di bawah pendar lampu neon yang berkedip menyilaukan, Alan berdiri mematung. Pria yang biasanya selalu tampil tenang dengan setelan rapi dan kacamata intelektualnya itu kini terlihat kacau. Kemeja putihnya kusut, lengan bajunya digulung kasar, dan urat-urat di lehernya menonjol hingga kulit pucatnya memerah.

Di seberang meja baja, Maxim—pemimpin klan Sinaloa—berdiri dengan dada naik-turun menahan murka yang siap meledak. Matanya yang liar menatap nyalang pada empat kantong mayat hitam berbahan terpal yang baru saja dilemparkan ke tengah ruangan oleh anak buah mereka.

Air hujan bercampur darah kotor masih menetes dari kantong-kantong itu, menggenang di lantai beton.

"Jelaskan padaku..." suara Alan keluar seperti desisan ular berbisa, sangat rendah dan mengancam, saat ia menatap anak buahnya yang berlutut gemetar di dekat kantong mayat. "Bagaimana bisa empat mata-mata terbaik yang kutanam untuk mengawasi apartemen kumuh itu, kini kembali dalam keadaan leher terpelintir seratus delapan puluh derajat?!"

Pria bertato yang berlutut itu menelan ludah kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. "K-kami tidak tahu, Tuan Alan! S-semalam, kami kehilangan kontak dengan mereka sekitar pukul dua dini hari. Saat tim penyapu kami datang ke lokasi pagi ini untuk mengeksekusi rencana penculikan... k-kami menemukan van mereka kosong. Mayat mereka dibuang begitu saja ke dalam selokan seperti... seperti sampah."

Brak!

Maxim menendang meja baja di depannya dengan kekuatan penuh hingga meja seberat ratusan kilogram itu tergeser dan menimbulkan decit logam yang memekakkan telinga.

"Penculikan keparat!" raung Maxim, urat di dahinya berdenyut gila. Ia menarik pistol Desert Eagle dari sarung di pinggangnya, mengarahkannya tanpa ragu ke kepala anak buah yang berlutut itu. "Lalu di mana wanita dan anak itu, hah?! Jangan bilang padaku mereka kabur?!"

"T-tidak, Tuan Maxim! Ampun!" Pria itu meringkuk ketakutan, menutupi kepalanya dengan kedua tangan. "Mereka tidak kabur! Rekaman CCTV jalanan yang berhasil kami retas pagi ini menunjukkan iring-iringan tiga SUV antipeluru kelas militer! Itu... itu konvoi Unit Delta dari The Iron Crown!"

Kata-kata itu bagaikan bom waktu yang meledak tepat di tengah ruangan.

Udara seketika tersedot habis. Pistol di tangan Maxim perlahan menurun. Rahang bajingan berwajah penuh luka itu menganga, matanya membelalak tak percaya.

Alan memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak pilar beton. Kacamata berbingkai tipisnya merosot, namun ia bahkan tidak berniat membetulkannya. Pria yang mengira dirinya adalah dalang utama dari permainan ini, baru saja disadarkan bahwa ia hanyalah badut di atas papan catur sang Raja Iblis.

"Aldebaran..." bisik Alan, suaranya bergetar antara amarah, frustrasi, dan... kengerian yang murni. "Dia tidak memakan umpan provokasi itu. Dia tidak menunggu kita membuat kesalahan. Dia..."

"Dia menjemput mereka lebih dulu," potong Maxim, suaranya kini terdengar kosong. Kepanikan mulai merayapi nada bicaranya. "Iblis gila itu mendobrak masuk ke wilayah kita, membunuh mata-mata kita dalam diam, dan membawa wanita serta anak itu masuk ke dalam Mansion Utamanya? Tanpa suara tembakan sama sekali?!"

"Sialan! BEDEBAH!" Alan meledak. Ia meraih asbak kaca kristal yang tebal di atas meja dan melemparnya sekuat tenaga ke arah dinding beton hingga hancur berkeping-keping. Pecahannya berhamburan ke segala arah.

Napas Alan memburu cepat. Topeng pria kantoran yang tenang dan memikat telah sepenuhnya hancur lebur. Ia mengacak rambut cokelatnya yang tertata rapi hingga berantakan. "Kita meremehkannya! Aku pikir dengan mengirimkan foto kedekatanku dengan anak dan wanitanya, Aldebaran akan kehilangan akal sehatnya, membuat pergerakan ceroboh, lalu kita bisa menyergapnya di jalanan!"

Alan mencengkeram tepi meja baja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh dendam dan kekalahan. "Tapi monster itu... dia tidak pernah bermain mengikuti aturan. Dia mengambil kelemahannya sendiri, dan mengamankannya di dalam benteng paling tak tertembus di dunia ini sebelum kita bisa menyentuh sehelai pun rambut mereka."

Maxim memijat pangkal hidungnya yang bengkok, mondar-mandir seperti harimau yang terkurung dalam sangkar. Keberaniannya untuk menghancurkan The Iron Crown kini terasa seperti lelucon bunuh diri.

"Kau sadar apa artinya ini, Alan?" geram Maxim, menatap tajam rekan aliansinya. "Sekarang, kelemahan Aldebaran berada di dalam sangkar emas yang dijaga oleh ribuan anjing pembunuh. Kita tidak bisa menyentuh wanita itu lagi. Dan yang lebih parah... kita baru saja membangunkan naga yang sedang tidur. Mengiriminya ancaman sama saja dengan memancingnya untuk membantai kita!"

Keheningan yang mencekam kembali turun. Para penjaga di ruangan itu saling bertukar pandang dengan wajah sepucat mayat. Semua orang di dunia bawah tahu, jika Aldebaran Hendrick sudah bergerak dalam diam, maka pembantaian massal hanyalah masalah waktu.

Alan menegakkan tubuhnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan kepanikan yang nyaris menelan akal sehatnya. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan jari yang masih sedikit gemetar, lalu merapikan kerah kemejanya. Matanya yang gelap memancarkan determinasi yang lahir dari rasa putus asa.

"Kalau kita tidak bisa menembus benteng itu untuk mengambil kelemahannya..." ucap Alan pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "...maka kita harus membuat kelemahannya itu keluar dengan sendirinya dari dalam sangkar."

Maxim mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"

Sebuah senyum miring, licik dan beracun, terukir di wajah Alan. "Wanita itu, Amanda... dia mencintai ibunya. Ibu kandungnya yang bernama Sofie, yang tinggal di panti jompo, bukan? Aldebaran mungkin bisa mengurung Amanda, tapi dia tidak bisa memutuskan ikatan batin seorang anak dengan ibunya."

Alan menoleh menatap anak buahnya yang masih bergetar di lantai. "Bawa Sofie Millen ke mari. Sekarang. Kita gunakan ibu kandungnya sebagai tiket masuk. Kalau Aldebaran tidak mau menyerahkan takhtanya, maka kita akan membuat ratunya sendiri yang datang menyerahkan diri kepada kita."

1
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!