Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEPASKAN AK AKU ARIS
"Lepaskan aku, Aris! Jangan sentuh aku, iblis!"
Jeritan Sora memecahkan keheningan lorong bawah tanah yang dingin. Ia memberontak sejadi-jadinya, menghentakkan kaki dan memukul dada tegap Aris dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.
Namun, cengkeraman tangan Aris di pinggang dan pergelangan tangannya terlalu kokoh. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Dengan satu gerakan kuat, Aris mengangkat tubuh Sora ke dalam papahannya, membawanya melangkah kembali menuju kamar berdinding baja di lantai atas.
"Menangislah sepuasmu, Sora," ucap Aris dengan suara bariton yang tenang, hampir tanpa emosi, saat melangkah menaiki anak tangga darurat. "Tapi kemarahanku tidak akan berubah. Aku sudah memberimu kebebasan dan kasih sayang, tapi kamu memilih untuk mengkhianatiku."
Sora menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, merasakan keputusasaan yang luar biasa dalam mencengkeram jiwanya. Rasa dingin dari dinding beton tempat mereka melintas seolah meresap langsung ke dalam dadanya.
Aris mendorong pintu baja kamar dengan kakinya, lalu melempar Sora secara kasar ke atas ranjang king size. Sebelum Sora sempat merangkak bangun, Aris sudah berlutut di atas ranjang, menindih kedua pergelangan tangan Sora ke atas kepala dengan satu genggaman tangannya yang kuat.
Napas Aris memburu di atas wajah Sora. Sorot mata cokelat gelapnya tidak lagi memancarkan kehangatan manis seperti dulu, melainkan kegilaan murni dari seorang pria yang telah kehilangan akal sehatnya akibat obsesi.
"Aris, aku mohon... sadar, Aris!" cicit Sora dengan pendar air mata yang membasahi pipinya. "Ini salah! Kamu tidak bisa memaksaku seperti ini!"
"Aku bisa, Sora. Dan aku akan melakukannya," bisik Aris intim, menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyusuri garis rahang Sora yang halus.
Usapan bibir dan hawa panas dari napas Aris di perpotongan leher Sora mengirimkan gelombang ketakutan yang luar biasa. Sora memejamkan matanya rapat-rapat, memalingkan wajahnya sambil menahan histeris. Setiap sentuhan jemari Aris di gaun tidurnya terasa seperti belenggu yang siap merenggut sisa usianya.
Jemari Aris yang bebas bergerak menyusuri lekuk tubuh Sora, merobek kain tipis di bahu gaun tidur wanita itu. Sora melenguh pasrah, air matanya menetes makin deras membasahi bantal di bawah kepalanya.
Di dalam kegelapan pikiran yang mencekik itu, Sora teringat akan janji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah menyerah menjadi korban lagi.
Saat wajah Aris makin merapat ke lehernya dan cengkeraman pada tangannya sedikit melonggar karena terbawa gairah gila, Sora mengumpulkan seluruh fokus dan tenaganya. Dengan gerakan mendadak, Sora menekuk lutut kanannya sekuat tenaga, mengarahkannya tepat ke selangkangan Aris!
BUGH!
"ARGH!"
Aris mengerang kesakitan yang amat sangat. Pria itu refleks melepaskan genggaman tangannya, membungkuk dan berguling ke samping ranjang sambil memegangi bagian bawah tubuhnya.
Sora tidak membuang waktu satu detik pun. Ia meluncur turun dari ranjang, menyambar lampu tidur berbahan kuningan tebal di meja samping, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke arah kepala Aris!
PRANG!
Lampu kuningan itu menghantam pelipis Aris hingga pecah, membuat darah segar mengucur deras membasahi wajah pria itu. Aris terhuyung jatuh ke lantai, pandangannya menggelap dan sedikit oleng.
Dengan napas terengah-engah dan dada naik-turun hebat, Sora berlari keluar dari kamar baja, menerobos pintu yang masih terbuka lebar.
Sora berlari tanpa alas kaki menyusuri lorong penthouse yang temaram. Kakinya yang halus tergores oleh pecahan kaca dan semen kasar, namun rasa sakit fisik itu tak berarti apa-apa dibanding dorongan untuk bertahan hidup.
Ia tahu ia tidak bisa keluar melalui pintu utama karena pasti dijaga ketat. Satu-satunya jalan adalah turun ke area basement bawah tanah—tempat Danu menyeret Siska tadi. Jika ia bisa menemukan kunci mobil atau jalur luar dari ruang kontrol listrik, ia punya kesempatan untuk selamat.
Sora menuruni tangga darurat yang gelap dengan terburu-buru. Suara benturan langkah kakinya bergema nyaring.
Tiba-tiba, dari balik lorong bawah tanah yang remang-remang, sosok Danu muncul memegang sebuah senter besar. Wajah Danu yang tadi dingin mendadak terkejut melihat Sora yang berlari dengan pakaian terkoyak dan bercak darah di tangannya.
"Sora?!" teriak Danu panik, melangkah maju hendak mengadang. "Bagaimana kamu bisa keluar?!"
"Jangan mendekat, Danu!" jerit Sora. Ia meraih sebuah tabung pemadam api (fire extinguisher) yang tergantung di dinding koridor, melepaskan pin pengamannya, lalu menyemprotkan busa putih tebal tepat ke arah wajah Danu!
PSSSHHHH!
Busa kimia tebal memenuhi udara koridor, membutakan pandangan Danu seketika. Danu terbatuk-batuk hebat, mengusap matanya yang perih dan terhuyung mundur.
Sora memanfaatkan momen itu untuk menerobos melewati Danu. Di sudut lorong basement, ia melihat pintu ruang kontrol listrik terbuka sedikit. Di dalam ruangan itu, Siska terbaring terikat di kursi dengan mulut terplester.
Sora berlari masuk, memungut pisau pemotong kabel yang tergeletak di meja kerja, lalu dengan cepat memotong tali yang mengikat tubuh Siska.
"Sora... kamu..." cicit Siska lemas saat plester mulutnya dilepas.
"Kita harus pergi sekarang, Siska! Cepat!" tegas Sora, membimbing Siska untuk berdiri.
Namun, saat mereka berdua baru saja melangkah keluar dari pintu ruang kontrol—
BRAK!
Langkah kaki tegap yang berat dan tidak stabil terdengar membentur lantai semen dari arah tangga utama.
Aris berdiri di sana, di ujung koridor basement. Wajah kirinya bersimbah darah segar dari luka di pelipisnya, matanya merah menyala penuh murka dan kegilaan yang tak lagi memiliki batas akal sehat. Di tangan kanannya, Aris menggenggam sebuah pistol revolver hitam yang berkilat dingin di bawah lampu temaram.
Sora dan Siska membeku di tempat. Seluruh darah di tubuh Sora terasa menyusut habis.
Danu, yang masih terbatuk-batuk di sudut lain, menyadari keberadaan pistol di tangan Aris dan mendadak membelalakkan matanya ketakutan.
"Aris! Tahan! Jangan gunakan senjata itu!" teriak Danu berusaha mencegah adik angkatnya.
Namun Aris sama sekali tidak mendengarkan. Ia mengarahkan moncong pistol revolver itu lurus ke arah dada Sora dengan tangan yang gemetar oleh amarah gila.
"Aku sudah memberimu segalanya, Sora..." bisik Aris dengan suara parau yang amat sangat mengerikan, napasnya memburu. "Kalau aku tidak bisa memilikimu di dunia ini... maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikimu!"
Jemari Aris yang berdarah perlahan mulai menarik pelatuk senjata api tersebut.
Sora memejamkan matanya rapat-rapt, memeluk Siska di belakang tubuhnya, bersiap menghadapi takdir paling akhir dalam hidupnya.
DOAARRR!
Suara letusan senjata api yang memekakkan telinga menggelegar dahsyat di dalam lorong basement yang sempit!
Sora tersentak hebat, namun ia tidak merasakan rasa sakit menghantam dadanya.
Ketika ia membuka matanya perlahan, tubuh Aris tampak terhuyung ke depan. Sebuah lubang peluru tembus di punggung kemeja hitam pria itu. Pistol di tangan Aris terlepas, jatuh berdenting keras ke atas lantai semen.
Di belakang tubuh Aris yang perlahan roboh bersimbah darah, tim pasukan khusus kepolisian bersama puluhan petugas bersenjata lengkap menerobos masuk dari pintu basement luar yang berhasil didobrak!
Seorang perwira polisi maju cepat dengan senjata teracung, sementara tim medis berhamburan masuk mengamankan lokasi. Danu langsung berlutut mengangkat kedua tangannya ke udara tanpa perlawanan, wajahnya pucat pasi menyaksikan Aris tergeletak tak bergerak di lantai.
Sora terduduk lemas di lantai semen yang dingin, dipeluk erat oleh Siska yang menangis histeris karena lega. Polisi berdatangan menyelimuti bahu Sora dengan kain hangat dan membimbingnya berdiri keluar menuju ambulan yang meraung-raung di luar bunker.
Sinar lampu sirene merah-biru dari puluhan mobil polisi menerangi langit malam Bogor yang mulai cerah. Hujan badai telah reda, menyisakan udara segar pagi hari yang membasahi dedaunan.
Sora berdiri di ambang pintu ambulan, menatap bangkai bangunan bunker yang kini dipasangi garis polisi. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rasa sesak yang menghimpit dadanya benar-benar sirna. Belenggu obsesi, dendam, dan manipulasi dari Rian, Aris, dan Danu akhirnya hancur tak berbekas.
Seorang petugas medis wanita menyerahkan secangkir teh hangat ke tangan Sora yang gemetar.
Sora mendongak menatap fajar yang perlahan menyingsing di ufuk timur, menghangatkan kulit wajahnya yang pucat. Ia menarik napas dalam-dalam—sebuah helaan napas kebebasan sejati yang telah lama ia perjuangkan.
Ponsel di saku jubah petugas medis yang mendampinginya tiba-tiba berdering, dan petugas itu menyerahkannya pada Sora.
"Mbak Sora... ini dari pengacara keluarga Anda. Beliau ingin menyampaikan sesuatu."
Sora menempelkan telepon ke telinganya dengan jemari yang kini mantap dan tenang.
"Halo, Sora?" suara pengacaranya terdengar begitu legak di ujung telepon. "Semua tersangka sudah diamankan dan seluruh aset serta hak waris almarhum ayahmu telah resmi dipulihkan sepenuhnya oleh negara."
Sora tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang memancarkan kedamaian dari jiwanya yang telah sembuh.
"Terima kasih, Pak... Tolong siapkan lembaran baru untuk hidupku."