NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Matahari mulai turun di balik pegunungan, mewarnai langit dengan jingga hangat yang menyusup lewat jendela kamar kecil Zaira. Udara sore yang sejuk membelai wajahnya saat ia duduk di depan meja kayu, menutupi muka dengan kedua tangan. Cahaya lembut menyinari lembaran-lembaran catatan yang berserakan, buku teks, dan secangkir kopi yang sudah dingin.

Kampus terasa begitu jauh. Dari tempatnya sekarang, mimpi menyelesaikan kuliah rasanya mustahil. Jemarinya menyusuri halaman buku matematika, tapi pikirannya melayang, tenggelam dalam kecemasan tentang masa depan.

Bagaimana ia akan membayar semester berikutnya? Utang yang menumpuk sudah mencekik hatinya, dan uang yang ia butuhkan untuk menuntaskan kuliah terasa seperti mimpi yang tak tergapai.

"Kenapa aku tidak bisa fokus?" bisik Zaira, menjatuhkan pulpennya ke atas buku dan menyisir rambutnya dengan tangan hingga makin berantakan.

Ia besar di lingkungan miskin, tempat uang bukan cuma tak pernah berlebih, melainkan barang langka. Di sana, mimpi biasanya mati bahkan sebelum sempat lahir—setidaknya begitu yang ia rasakan hampir setiap hari. Jalanan berdebu dan rumah-rumah bata setengah jadi adalah satu-satunya dunia yang ia kenal. Zaira memandang ke luar jendela, menatap anak-anak yang bermain bola di tikungan jalan, tersenyum penuh harapan, tak menyadari perjuangan yang ia jalani setiap saat.

"Aku harus bagaimana?" tanyanya lirih pada diri sendiri, menatap kedua tangannya, mengangkatnya perlahan seolah menunggu jawaban dari sana.

Ia berhenti berpikir sejenak, memunguti buku-bukunya, memasukkannya ke ransel usang, lalu memutuskan kembali ke kampus—tempat ia sudah tahu akan mendengar peringatan dari dekan.

Zaira mengembuskan napas dan berdiri perlahan. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, siap menghadapi getirnya hidup. Langkahnya lambat namun mantap, membuatnya sempat memperhatikan sekelilingnya—tempat tinggalnya, dan segala yang harus ibunya lakukan demi sesuap makan meski tubuhnya sakit.

Ingatan bahwa ia tak punya mobil menyentaknya dari lamunan dan memaksanya berlari, kalau tak mau ketinggalan angkutan. Sejam kemudian ia sudah tiba di kampus, tempat Tatiana menunggunya. Zaira mencoba tersenyum, meski nadanya membocorkan betapa lelah dirinya.

Tatiana mengenakan blus ketat yang memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sempurna oleh berjam-jam di gym. Rambut pirangnya yang lurus dan terawat jatuh menyapu bahu. Zaira memandanginya, diam-diam iri pada hidup sahabatnya yang begitu berbeda dari hidupnya. Kalau Tatiana selalu dikelilingi kemewahan, Zaira bahkan hanya sanggup membeli kopi dari kios kecil.

"Aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan, Tati," bisik Zaira, meremas tepi ranselnya yang lusuh seolah dari sana bisa ia peras sebuah solusi ajaib.

Riuh kafetaria kampus menyelimutinya: tawa, obrolan yang saling bersahutan, aroma kopi murah dan biskuit basi. Namun di meja mereka, dunia seakan berhenti, tergantung di antara kelelahan dan kecemasan.

Tatiana, sahabatnya sejak tahun pertama, menjatuhkan pulpennya sambil mengembuskan napas berlebihan.

"Zaira, kamu bakal ambruk!" serunya, menyilangkan lengan di atas meja. "Kamu tidak bisa terus menyiksa diri di toko itu semalaman demi gaji recehan, lalu kuliah seharian. Kamu bisa sakit."

Zaira tertawa hambar, menyibakkan rambut gelapnya ke belakang.

"Memangnya aku punya pilihan lain? Tiap bulan itu pertempuran. Sewa rumah, kuliah, ongkos..." Ia menghitungnya satu per satu sementara matanya berkaca-kaca. "Dan sekarang, dengan sakitnya ibuku..." Suaranya pecah.

Tatiana meraih tangannya erat-erat.

"Malam ini kita tidak akan memikirkan utang atau penyakit. Malam ini kamu keluar bersamaku."

"Keluar?" ulang Zaira, seakan kata itu asing baginya.

"Iya, keluar. Ada klub baru di kota. Bukan klub kelas kaki lima, aku janji. Tempatnya elegan, privat... dan kamu butuh hiburan." Ia mengedipkan mata jenaka.

Zaira ragu. Itu bukan gayanya, dan ia tahu itu. Tapi ada sesuatu dalam keyakinan Tatiana, dalam senyum penuh tekadnya, yang akhirnya membuatnya mengangguk.

"Baiklah... tapi cuma sebentar."

Malam turun seperti sutra hitam ke atas kota, ternoda cahaya dan janji-janji yang tak pasti.

Di depan Klub Eclipse, Zaira merasa dirinya begitu kecil. Barisan mobil mewah datang dan pergi, sementara pria berjas dan perempuan berdandan bak bintang film berbaris menuju pintu masuk.

"Tati... kamu yakin?" bisiknya, memeluk dirinya sendiri.

Tatiana, terbungkus gaun merah yang seolah meleleh di tubuhnya, tertawa geli.

"Percaya padaku. Lagi pula," tambahnya sambil menunjuk belahan dadanya sendiri, "kita tampil cantik, mereka terpesona, mentraktir kita minum, lalu kita pulang. Tanpa ikatan."

Di dalam klub, musik membungkus udara dengan irama yang menghipnotis, dan lampu temaram menciptakan suasana penuh misteri dan dosa. Zaira langsung merasa tak pada tempatnya. Gaun hitam sederhananya, yang baginya nyaris sebuah kemewahan, tampak sumbang di antara gemerlap dan kain-kain mahal.

Yang tak ia sadari, di salah satu area eksklusif klub itu, seseorang telah memperhatikannya. Dari balkon yang temaram, dengan segelas wiski di tangan, pemilik Eclipse mengamatinya dengan ketertarikan yang dingin.

"Kau lihat dia?" katanya sambil berpaling ke arah seorang pria berpakaian serba hitam di sampingnya.

Pengawal itu mengangguk.

"Gadis yang sempurna untuk Tuan Santos."

Sang pemilik tersenyum—senyum penuh perhitungan dan siasat.

"Pastikan dia tetap di sini. Belakangan ini Leonardo terlalu murung. Sudah saatnya menawarinya sebuah hadiah... hadiah yang tak bisa ia tolak, apalagi hari ini, saat ia berulang tahun."

"Segera saya kerjakan, Tuan."

Sementara itu, di lantai bawah, Zaira merasa seperti Alice yang jatuh ke Negeri Ajaib, tanpa membayangkan bahwa malam itu akan menjadi awal dari segalanya.

"Nah, begitu dong, teman! Lupakan semuanya malam ini!" seru Tatiana sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

Zaira tersenyum dan bergabung dengan sahabatnya.

Ia sama sekali tak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari kehancurannya. Atau keselamatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!