Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI DIMANA SIA DIKENALKAN
Usia 7 minggu 4 hari.
Hari arisan keluarga.
Di dalam rahim, Sia sudah 13 milimeter. Sebesar buah raspberry kecil. Jika kemarin jari tangannya baru terpisah, hari ini selaput di antara jari kakinya yang kemarin baru bercelah, juga sudah hilang. Jari kaki sudah terpisah sempurna. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, lengkap hari ini. Kelopak matanya yang kemarin baru menutup, hari ini menutup sempurna, akan tetap tertutup sampai usia 27 minggu nanti. Di dalam mulutnya yang masih sangat kecil, tunas gigi susu mulai terbentuk. Dan di antara kedua kakinya yang masih pendek, jenis kelaminnya mulai berdiferensiasi, tapi masih terlalu kecil untuk terlihat di USG mana pun.
Jantungnya hari ini 140 kali per menit. Tepat. Ritme yang stabil. Ritme yang akan ia pakai untuk beberapa bulan ke depan.
Di luar, Alya memakai gamis longgar berwarna sage yang sengaja dibeli Rafael dua hari lalu. Bukan gamis hamil, hanya gamis longgar yang tidak menekan perut. Perutnya masih rata, tapi ia merasa perutnya sudah sedikit lebih kencang, dan celana jeans lamanya sudah tidak nyaman di kancing.
Di tasnya, ada kotak krem.
Di dalamnya: 4 foto USG yang berurutan, flashdisk hitam kecil berisi file audio 8 detik bernama *SIA-134bpm-7w0d.wav* dan file terbaru *SIA-140bpm-7w4d.wav* yang direkam tadi pagi di klinik saat USG ke-5 kilat 5 menit hanya untuk memastikan detak masih ada sebelum pengumuman, dan sepasang kaus kaki bayi putih sebesar jempol.
Rafael memakai kemeja putih bersih. Tangannya dingin karena gugup. Sejak tadi pagi ia bolak-balik ke kamar mandi.
"Fa, kamu kenapa bolak-balik kamar mandi?" tanya Alya.
"Aku yang hamil kayaknya," jawab Rafael, mencoba bercanda tapi suaranya bergetar. "Jantungku 110 kali per menit. Kalah sama Sia yang 140."
Pukul 10.30, mereka tiba di rumah Mama.
Rumah sudah ramai. 20 orang. Tante Rina, Om Budi, sepupu-sepupu, Mama, Papa. Aroma rendang, ayam goreng, dan sambal ati yang kemarin mereka takutkan, hari ini menyambut dari pintu.
Alya langsung mual. Level 6. Naik dari 4.
Ia menutup hidung pelan dengan ujung hijabnya. Rafael langsung menggandengnya, membawanya ke samping, jauh dari meja makan, ke dekat jendela yang terbuka.
Mama melihat. "Alya kenapa? Pucat lagi? Tadi Mama sudah bikinin sop bening loh di dapur, khusus buat kamu, tidak pedas."
Alya ingin menangis di situ juga. Sop bening. Mama sudah bikinin tanpa tahu alasan sebenarnya.
Acara arisan dimulai. Kocokan arisan, laporan keuangan, tawa-tawa. Alya duduk di pojok, makan sop bening dingin sedikit demi sedikit, minum air lemon yang ia bawa dari rumah. Rafael duduk di sampingnya, tangannya tidak lepas dari punggung Alya, mengusap pelan.
Pukul 12.15, arisan selesai. Saatnya makan.
Semua orang mengambil piring. Alya tetap di pojok. Rafael berdiri.
Ini saatnya.
Rafael berdeham. Suaranya tidak keras, tapi cukup membuat semua orang yang mengenalnya sebagai orang yang jarang bicara di forum keluarga, langsung diam.
"Ma, Pa, Tante, Om, semua... boleh minta waktunya sebentar? Aku sama Alya ada sesuatu."
20 pasang mata menatap.
Mama yang pertama curiga, tangannya langsung menutup mulut. Papa yang duduk di kursi kayu jati langsung duduk lebih tegak.
Alya berdiri, dengan kotak krem di tangan. Tangannya gemetar hebat. Gemetar yang sama seperti saat ia menahan mual pagi tadi, tapi kali ini karena menahan tangis.
Rafael membuka kotak itu.
Ia mengeluarkan foto USG pertama. Kantong hitam kecil.
"Ini 3 minggu lalu," kata Rafael, suaranya mulai bergetar. "Waktu itu cuma kantong. Usia 5 minggu."
Ia mengeluarkan foto kedua. Titik putih.
"Ini 5 hari setelahnya. Sudah ada titiknya. 5 milimeter."
Foto ketiga. Ada kedipan yang dilingkari dokter.
"Ini 7 hari setelahnya. Usia 6 minggu 1 hari. Jantungnya sudah berkedip. 112 kali per menit."
Foto keempat. Bentuk bayi C yang jelas.
"Ini 2 hari lalu. Usia 7 minggu 0 hari. Sudah berbentuk bayi. 10,1 milimeter. Detak jantungnya 134 kali per menit dan sudah ada suaranya."
Sunyi.
Tante Rina sudah menangis duluan, padahal belum dengar suaranya.
Rafael mengeluarkan flashdisk dan ponselnya. Ia menatap Alya. Alya mengangguk, air matanya sudah mengalir deras.
Rafael memutar file audio itu. Ia sambungkan ke speaker bluetooth kecil yang sudah ia bawa.
_Dug-dug-dug-dug-dug-dug-dug._
Suara 140 kali per menit yang direkam tadi pagi, memenuhi ruang tamu yang tadi penuh aroma rendang.
_Dug-dug-dug._
Mama menjerit pelan. Bukan jeritan kaget. Jeritan seperti orang yang sudah menunggu sesuatu selama bertahun-tahun dan akhirnya mendengarnya.
"Ya Allah..." Mama berdiri, kedua tangannya menutup mulut, air mata langsung jatuh deras. "Ya Allah, Alya..."
Papa tidak berkata apa-apa. Matanya merah. Ia hanya mengusap matanya dengan ujung lengan kemejanya, berulang-ulang.
Alya akhirnya bisa bicara, dengan suara yang hancur karena tangis dan mual dan lega yang jadi satu.
"Ma, Pa... usia 7 minggu 4 hari hari ini. 13 milimeter. Sudah punya 10 jari tangan sama 10 jari kaki lengkap hari ini. Detak jantungnya 140 kali per menit tadi pagi. Namanya Sia. Kami simpan 24 hari sebagai rahasia. Maaf baru bilang sekarang. Kami mau pastiin jantungnya kuat dulu sebelum kasih tahu semua orang."
Kalimat itu selesai, Mama sudah berlari memeluk Alya. Pelukan yang sangat erat, sangat lama, pelukan yang membuat Alya yang tadinya mual, mendadak merasa aman.
"Sudah Mama duga! Sudah Mama duga dari mimpi itu! Mama mimpi gendong bayi dua kali! Ya Allah, kenapa baru bilang sekarang, Nak? Mama bikinin sop bening beneran buat Sia ternyata!"
Papa menyusul, memeluk keduanya, memeluk Rafael juga. "Fa, kamu jaga Alya ya. Kamu jaga Sia ya. Ya Allah, jadi kakek aku..."
Tante Rina mengambil alih speaker, memutar ulang suara detak jantung itu sekali lagi, lebih keras.
_Dug-dug-dug._
Satu ruang tamu menangis. Sepupu-sepupu yang masih muda merekam dengan ponsel. Om Budi tertawa sambil menyeka air mata.
Rafael mengeluarkan benda terakhir dari kotak: kaus kaki putih kecil sebesar jempol.
Ia letakkan di telapak tangan Mama.
Mama mengambilnya, menatapnya, lalu menangis lagi lebih keras. "Sekecil ini? 13 milimeter? Ya Allah sekecil ini kakinya sudah lengkap?"
Alya mengangguk di dalam pelukan Mama. "Sudah lengkap, Ma. 10 jari kaki. Hari ini lengkapnya."
Setelah tangis pertama reda, Mama langsung menarik Alya ke dapur, menjauhkan dari aroma rendang dan sambal ati.
"Duduk sini, Nak. Di sini dekat jendela. Mama sudah bilang, sop beningnya di sini. Makan yang kamu bisa ya. Jangan paksa. Sia butuh apa? Kentang dingin? Telur rebus dingin? Mama bikinin sekarang."
Alya tertawa di tengah tangis. "Mama kok tahu?"
"Mama kan pernah hamil kamu. Mama tahu. Dulu Mama juga tidak bisa cium bau rendang pas hamil kamu 7 minggu. Makanya Mama langsung bikinin sop bening pas kamu bilang tidak tahan bau."
Rafael berdiri di pintu dapur, menatap istrinya yang dipeluk ibunya, dengan kotak krem kosong di tangannya dan suara detak jantung yang masih diputar pelan di ruang tamu oleh Tante Rina yang tidak mau mematikannya.
Malamnya, di apartemen, ritual kalender dilakukan untuk terakhir kalinya sebagai ritual rahasia.
Rafael menulis dengan tulisan yang besar dan lega:
*25 Okt 2026 - 7 minggu 4 hari / 7w4d - 13 mm - Sia - FHR 140 bpm - 10 jari tangan + 10 jari kaki LENGKAP HARI INI, kelopak mata tertutup, tunas gigi susu mulai, ekor hilang total. Pengumuman resmi di arisan keluarga - kotak krem dibuka - rekaman suara diputar - Mama nangis - Papa nangis - semua nangis. Rahasia 24 hari SELESAI. Sekarang Sia adalah kebahagiaan 20 orang, bukan rahasia 2 orang lagi. Foto USG ke-5 (7w4d) didapat pagi sebelum arisan.*
Alya menambahkan di bawahnya, dengan tulisan yang basah karena air mata yang masih sisa dari siang:
_Sia, hari ini kamu dikenalkan ke semua orang. Nenekmu langsung peluk Ibu lama sekali pas dengar detakmu. Kakekmu usap-usap mata terus. Tante Rina putar suara detakmu 4 kali. Kaus kakimu yang putih sekarang dipegang nenek terus, tidak dilepas. Hari ini kamu 13 milimeter dan sudah lengkap 10 jari kaki. Ibu bangga sekali sama kamu. Mulai besok, kamu bukan rahasia lagi. Kamu adalah Sia, cucu pertama, yang ditunggu 20 orang. Ibu masih mual, tapi mual Ibu hari ini bahagia. Selamat datang di keluarga besar, ya, Nak._
Pukul 22.30, Alya berbaring di pangkuan Rafael. Kotak krem kosong tergeletak di atas meja, isinya sudah berpindah tangan: foto-foto USG dipegang Papa, kaus kaki dipegang Mama, suara detak jantung ada di semua ponsel keluarga.
Rafael memutar rekaman detak jantung itu sekali lagi, pelan.
_Dug-dug-dug._
"Selamat malam, Sia yang sudah punya 10 jari kaki lengkap," bisik Alya, mengelus perutnya yang masih rata tapi kini terasa penuh oleh 20 doa baru, "hari ini kamu sudah tidak jadi rahasia Ayah dan Ibu lagi. Sekarang kamu punya 20 orang yang jaga kamu sama-sama. Tidur yang nyenyak ya. Besok Nenek mau bikinin kentang dingin banyak."
Di luar, Jakarta cerah tanpa hujan.
Di dalam, seorang bayi sebesar raspberry dengan 10 jari tangan dan 10 jari kaki yang baru saja lengkap hari ini, berdetak 140 kali per menit, tanpa tahu bahwa hari ini, detaknya telah membuat satu ruang tamu penuh orang dewasa menangis bersama, dan mengubah sebuah kotak krem kecil menjadi kotak paling berharga di rumah itu.
Bersambung...