AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 BALIK KE WONOREJO - WARISI RUMAH INDUK MBAH SARTI
Tujuh hari setelah Mbah Sarti wafat jam sembilan lewat sepuluh malam di kontrakan cat hijau nomor empat sembilan ratus ribu sebulan yang tidak bocor di tengah hujan deras dengan penyesalan sebelas tahun dan wasiat rumah induk Wonorejo, akhir Oktober dua ribu tiga puluh lima, kontrakan itu terasa kosong tanpa kursi roda kayu buatan Arga, tanpa tumpeng kecil pertama dan kedua, tanpa ayam goreng dua potong dan telur rebus tiga butir. Di dinding masih ada foto keluarga berbingkai kayu dengan pita hitam di foto Mbah Sarti kebaya coklat. Di lantai semen masih ada bekas roda kursi roda.
Pagi ini jam enam pagi, bukan jam lima pagi seperti biasanya ketika antar Salsa masuk SD dan Aisyah masuk TK B, karena hari ini bukan hari sekolah, hari ini adalah hari kepulangan ke Wonorejo untuk urus warisan rumah induk sesuai wasiat terakhir Mbah Sarti delapan puluh tahun di pangkuan Kirana. Wasiat itu jelas: rumah induk Wonorejo besar itu Mbah wariskan untuk Kirana, Salsa, dan Aisyah, bukan untuk Pak Karim, bukan untuk Arga, tapi untuk Kirana yang dulu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil yang membunuh Mira.
Kami berempat, aku Kirana tiga puluh satu tahun juragan daster tiga lapak omzet satu juta untung lima ratus ribu tabungan BRI dua puluh juta motor Beat hitam, Arga tiga puluh enam tahun koordinator keamanan Puskesmas gaji tiga setengah juta seragam coklat tiga stel peci hitam sama seperti akad KUA Jumat jam sembilan pagi di BAB 24, Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD juara kelas tas ransel hitam, dan Aisyah delapan tahun sembilan bulan TK B gigi ompong satu seragam biru putih, naik mobil pick up carteran Pak Karim enam puluh sembilan tahun sakit lutut yang kini jaga parkir Pasar Legi gaji satu juta dua ratus ribu. Di pick up juga ada Bu Minah enam puluh dua tahun rantang besar ciri khasnya, tapi rantang kali ini kosong, tidak berisi opor ayam dan sayur lodeh, karena hari ini kami mau masak di rumah induk Wonorejo yang sudah sebulan kosong sejak Mbah Sarti tinggal di kontrakan sembilan ratus ribu.
Perjalanan dari kontrakan sembilan ratus ribu di kota Jombang ke desa Wonorejo kebun karet satu jam naik pick up, lewat jalan berlubang, lewat kebun karet yang dulu tempat rumah bocor Mbah Wiryo berdiri yang kini rata dengan tanah dan tumbuh pohon pisang baru setelah dibakar enam tahun lalu, lewat warung Bu Lasmi yang dulu usir aku karena hamil duluan, lewat rumah Bu Tati ibu PKK yang dulu bawa tiga ibu PKK dengan sapu lidi usir aku dari rumah bocor karena nikah siri tanpa izin Mbah Sarti dan kini sudah minta maaf dan jadi pelanggan daster bunga biru gratis.
Sampai Wonorejo jam tujuh pagi, rumah induk Mbah Sarti terlihat dari jauh. Rumah induk itu besar, dinding tembok bata, atap genteng tidak bocor, lantai semen bersih, bukan lantai tanah lembab seperti rumah bocor Mbah Wiryo. Rumah itu dulu tempat Mbah Sarti tinggal bersama Pak Karim dan Bu Minah, tempat aku dulu tinggal sebelum diusir karena hamil duluan anak Rendo, tempat aku dulu tidur di kamar belakang dekat dapur. Rumah itu kini kosong, pintu depan terkunci, jendela tertutup, halaman penuh daun kering, karena sudah dua minggu tidak ada yang tinggal sejak Mbah Sarti pindah ke kontrakan dan wafat di sana.
Pak Karim buka pintu depan rumah induk dengan kunci besar yang dulu disimpan Mbah Sarti di dalam toples beras. Pintu terbuka suara berderit, debu beterbangan, bau kayu tua dan bau kemenyan samar masih ada, bau sama seperti di rumah bocor Mbah Wiryo sebelas tahun lalu.
Di dalam rumah induk, ruang tamu besar masih ada foto-foto lama Mbah Sarti di dinding, foto Mira almarhumah kecil yang meninggal pendarahan di rumah bocor sebelas tahun lalu, foto Arga kecil umur lima tahun, foto Rendo kecil umur tiga tahun kemeja putih bersih rambut gondrong yang kini sudah meninggal kecelakaan kerja di Kalimantan dan fotonya ada di dompet Mbah Sarti bersama foto Mira, foto Pak Karim muda, foto Bu Minah muda, dan foto aku Kirana umur sembilan belas tahun ketika masih perawan sebelum hamil duluan.
Di kamar tengah, ada lemari kayu besar terkunci, lemari yang dulu tidak pernah boleh aku buka ketika masih tinggal di rumah induk sebelum diasingkan. Mbah Sarti dulu bilang, lemari itu berisi harta karun keluarga Wonorejo, tidak boleh dibuka oleh orang luar seperti Kirana yang hanya menantu. Kini lemari itu jadi warisan untukku sesuai wasiat terakhir Mbah Sarti.
Arga buka lemari itu dengan kunci kecil yang ditemukan di bawah bantal kursi roda kayu Mbah Sarti delapan puluh tahun di kontrakan. Kunci kecil itu bertuliskan "Untuk Kirana" dengan spidol hitam, tulisan tangan Mbah Sarti yang sudah gemetar.
Di dalam lemari itu, bukan harta karun emas atau uang jutaan, tapi ada tiga kotak kayu kecil dan satu amplop coklat besar.
Kotak pertama bertuliskan "Untuk Salsa Humaira Karim, cicit kandung Mbah yang dulu Mbah kira anak yatim tetangga". Di dalam ada gelang emas kecil dua gram, kalung satu gram, dan surat: "Salsa, maafkan buyut ya Nduk, dulu buyut tidak tahu kamu cucu kandung buyut sendiri anak Arga dan Mira. Buyut kira kamu anak yatim tetangga. Buyut biarin Bu Minah titipkan kamu ke Kirana yang sedang hamil empat bulan di rumah bocor dengan telur dibagi dua. Sekarang kamu sudah kelas lima SD juara kelas, buyut bangga. Gelang dan kalung ini untuk kamu masuk SMP nanti Nduk."
Kotak kedua bertuliskan "Untuk Aisyah Humaira Karim, cicit tiri Mbah yang darahnya Rendo". Di dalam ada gelang emas kecil dua gram juga, kalung satu gram juga, dan surat: "Aisyah, maafkan buyut ya Nduk, dulu buyut pernah bilang kamu anak haram karena hamil duluan. Padahal kamu anak pembawa berkah, yang membuat Kirana jadi juragan daster tiga lapak omzet satu juta. Gelang dan kalung ini untuk kamu masuk SD nanti Nduk."
Kotak ketiga bertuliskan "Untuk Kirana, Nduk yang dulu diasingkan karena hamil duluan". Di dalam ada buku tabungan BRI atas nama Mbah Sarti saldo tiga puluh juta, sertifikat tanah rumah induk Wonorejo luas dua ratus meter persegi, dan surat wasiat resmi yang sudah ditandatangani Mbah Sarti di atas materai sepuluh ribu dan disaksikan Pak Karim dan Bu Minah: "Saya, Sarti binti Wiryo, umur delapan puluh tahun, mewariskan rumah induk Wonorejo dan tabungan tiga puluh juta untuk Kirana binti Slamet, Salsa Humaira Karim, dan Aisyah Humaira Karim, karena mereka yang merawat saya di kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu yang tidak bocor di akhir hidup saya. Rumah bocor Mbah Wiryo yang dulu membunuh Mira sudah dibakar, kutukan Kembang Kantil sudah hilang, sekarang rumah induk ini untuk Kirana yang dulu diasingkan."
Amplop coklat besar bertuliskan "Foto-foto lama yang harus dibakar". Di dalam ada puluhan foto lama Mbah Sarti, foto Mira yang meninggal di rumah bocor, foto rumah bocor Mbah Wiryo sebelum dibakar, foto-foto yang menurut wasiat harus dibakar biar kutukan Kembang Kantil hilang total.
Aku Kirana tiga puluh satu tahun juragan daster tiga lapak yang dulu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan yang membunuh Mira, kini nangis keras keempat kalinya setelah Mbah Sarti wafat, setelah Salsa masuk SD, setelah Aisyah masuk TK. Nangis karena warisan tiga puluh juta dan rumah induk dua ratus meter, bukan karena harta, tapi karena penyesalan Mbah Sarti yang begitu besar, karena Mbah Sarti yang dulu usir aku dengan sapu lidi dan tiga ibu PKK Bu Tati, kini wariskan rumah induk besar untukku yang dulu diasingkan.
Siang jam dua belas, setelah buka tiga kotak kayu dan amplop coklat besar, kami bakar foto-foto lama di halaman rumah induk Wonorejo, sesuai wasiat Mbah Sarti. Foto-foto Mira yang meninggal di rumah bocor, foto rumah bocor Mbah Wiryo sebelum dibakar, semua dibakar di halaman dengan api besar. Asap hitam membubung ke langit kebun karet Wonorejo, bau kemenyan terakhir hilang bersama asap.
Malam jam delapan, hujan turun deras lagi seperti tujuh hari lalu ketika Mbah Sarti wafat di kontrakan sembilan ratus ribu, seperti sebelas tahun lalu di rumah bocor. Tapi malam ini kami tidak makan di kontrakan, tapi makan di rumah induk Wonorejo yang baru diwariskan, yang atapnya tidak bocor, lantainya semen bersih, dinding tembok bata, bukan bilik bambu bolong. Kami makan malam berlima di ruang tengah rumah induk: aku Kirana tiga puluh satu tahun warisan rumah induk, Arga tiga puluh enam tahun koordinator keamanan, Salsa sebelas tahun lima bulan warisan gelang emas dua gram, Aisyah delapan tahun sembilan bulan warisan gelang emas dua gram, dan Pak Karim dan Bu Minah.
Lauk opor ayam kampung Bu Minah yang baru dimasak di dapur rumah induk, telur dadar lima butir dibagi enam, nasi banyak wangi, sambal terasi, krupuk, dan es teh manis. Tidak lagi telur satu butir dibagi dua seperti sebelas tahun lalu di rumah bocor.
Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah tidur di kamar belakang rumah induk yang dulu kamar aku Kirana sebelum diasingkan, kamar dekat dapur yang dulu tempat aku disuruh cuci piring dan nyapu halaman. Kini kamar itu sudah bersih, kasur spring bed dari kontrakan sembilan ratus ribu dibawa ke rumah induk, peluk boneka kain sobek sebelas tahun peninggalan Wonorejo.
Aku dan Arga duduk di ruang tamu rumah induk besar melihat sertifikat tanah dua ratus meter persegi dan buku tabungan BRI tiga puluh juta warisan.
Dari diasingkan karena hamil duluan sebelas tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi dan tiga ibu PKK Bu Tati, diusir warung Bu Lasmi, didobrak pagar bambu oleh Rendo yang lempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar dan kini sudah meninggal di Kalimantan, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar takut mati pendarahan seperti Mira, jadi juragan daster tiga lapak omzet satu juta untung lima ratus ribu tabungan BRI dua puluh juta motor Beat hitam, antar Salsa masuk SD favorit dan Aisyah masuk TK B, Mbah Sarti wafat di pangkuanku di kontrakan sembilan ratus ribu hujan deras dengan penyesalan dan wasiat rumah induk, sampai malam ini aku Kirana tiga puluh satu tahun yang dulu diasingkan kini mewarisi rumah induk Wonorejo besar dua ratus meter dan tabungan tiga puluh juta dari Mbah Sarti yang dulu mengusirku.
Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Kini Mewarisi Rumah Induk Dari Mbah Yang Dulu Mengusir.
Dan itu cukup untuk malam ini dan selamanya.
---