NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mualaf

"Stop! Enggak usah nanya kenapa Arini yang dipilih Arnold. Jangan tanya juga kenapa Arini enggak menolak." Arini menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya saat memasuki ruang tengah Mansion Chandra Abimana, dan melihat Uncle, Aunty, serta kedua sepupunya tengah menatapnya.

Devano yang melihat sikap defensif Arini langsung berdiri menghampiri adik sepupunya, "Kita enggak nanya, cuman kita mau dengar penjelasan versi Lo!"

"Kak! Lo gak marah kan?" Arini bertanya dengan mengerutkan keningnya.

"Buat apa gue marah? Seharusnya yang marah disini itu tunangan Lo dan keluarga besarnya."

Arini menganggukkan kepala, "Lo bener juga sih Kak. Tapi marahnya dia itu diem. Dia mendiemi gue bahkan enggak negur dan cuma natap gue sebelum pergi mengikuti Tuannya."

"Kira-kira dia bakal mengundurkan diri dari pekerjaannya enggak?" Devano kembali bertanya.

"Kenapa? Udah ngincer dari dulu ya?" Arini memicingkan matanya.

Devano menganggukkan kepala tanpa menutupi, "Kinerja dia bagus. Sangat kompeten di bidangnya. Perusahaan gue bakal tambah maju dan pekerjaan gue bisa sedikit ringan."

"Mimpi aja deh Kak. Jangan berharap lebih dulu."

"Enggak ada yang enggak mungkin, Arini. Kayak Lo yang tiba-tiba dipilih pria lagi padahal Lo udah dalam lamaran orang lain dalam jarak kurang dari sebulan."

"Gue juga enggak mau kali, Kak. Apalagi dipilih oleh Arnold. Gue cinta banget sama tunangan gue."

"Oke! Udah waktunya Lo cerita sama Daddy dan Mommy!"

Arini menganggukkan kepala lalu berjalan mengikuti Devano dan duduk tepat di sebelah Delima--adik Devano yang juga kakak sepupunya walaupun usianya lebih muda darinya.

Chandra dan Luna mendengarkan Arini bercerita dari awal hingga ia dipilih Arnold menjadi calon istrinya tanpa memotong dengan pertanyaan apapun.

Dua insan dewasa yang belum pernah mempunyai menantu itu sadar jika Arini sedang tidak baik-baik saja, dan meminta keponakan yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri itu segera membersihkan diri dan istirahat adalah pilihan terbaik agar Arini bisa sedikit merilekskan pikirannya tentang Arnold yang memilihnya menjadi calon istrinya secara tiba-tiba disaat Arini sudah berstatus tunangan orang lain.

Satu hal yang tidak mudah, mengingat Arini tidak bisa begitu saja menerima Arnold.

****

Tak perlu menunggu lama untuk Arnold benar-benar merealisasikan ucapannya pada Arini dimana ia akan masuk agama Islam dan menjadi seorang mualaf agar bisa menikahi gadis pilihannya tersebut.

Sepulangnya dari pesta ulang tahunnya dengan ditemani Bagas selaku asisten pribadinya yang mengurus semuanya dan sebagian pengawalnya, Arnold mendatangi Masjid Istiqlal dan bertemu seorang Ustadz.

Setelah beberapa kali mencoba dan akhirnya berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat secara lancar yang diajarkan oleh Ustadz tersebut, Arnold tiba-tiba menghembuskan napas lega saat Ustadz tersebut menyatakan ia sudah resmi jadi mualaf.

Hal yang ia kira akan sulit prosesnya karena baru pertama kali dilakukannya dalam hidupnya.

Dengan menekan segala kewarasannya, Arnold pun dengan sabar dan tenang mendengarkan penjelasan demi penjelasan dari Ustadz tersebut tentang agama Islam.

Tidak lupa, Ustadz tersebut pun mengajarkan Arnold pertama kali melakukan wudhu untuk sholat Isya berjamaah karena waktu menunjukkan pukul dua belas malam.

Sebelum melakukan sholat berjamaah, Ustadz itupun mengajari Arnold niat sholat isya terlebih dahulu disertai setiap gerakan dalam sholat beserta bacaannya dengan begitu sabar dan telaten.

Tidak langsung hafal, tapi Arnold sedikit cepat mengerti karena ia sering melihat asisten pribadinya melakukan sholat di sela-sela kesibukannya.

Dengan bacaan sholat Arnold yang masih terbata, Ustadz tersebut pun akhirnya mulai sholat berjamaah dengan Arnold.

"Tunggu sebentar, Tuan." cegah Ustadz tersebut saat melihat Arnold dengan cepat-cepat berdiri setelah melakukan sholat berjamaah dengannya.

"Apalagi, Ustadz?" Arnold bertanya dengan mengerutkan keningnya.

"Sertifikat atau surat ikrar masuk Islam anda belum saya berikan. Itu bukti tertulis jika ada yang meragukan Anda saat Anda mengatakan sudah menjadi seorang mualaf."

Arnold menganggukkan kepalanya, dan untuk pertama kali lagi dalam hidupnya ia menunggu seseorang memberikan surat untuknya.

Biasanya, semua itu ia serahkan pada Bagas dan ia hanya terima beres. Jika ada yang tidak beres, Bagas harus siap dengan segala konsekuensinya.

Tapi kali ini, ia tidak bisa begitu saja percaya pada Bagas, karena ia tau telah melukai perasaan asisten pribadinya itu.

****

Mansion Graham

"Arnold Graham! Apa maksudmu? Hal gila apa lagi yang kamu lakukan?" Dad Graham menatap tajam Arnold yang baru saja masuk ke dalam mansion. "Dad tunggu di ruang kerja sekarang!" Titahnya sebelum Arnold menjawab pertanyaannya.

"Sayang! Kenapa kamu begitu ceroboh memilih gadis?" Madam Sinta menatap cucunya sembari meneteskan air mata.

"Oma! Arnold tahu gadis yang cocok untuk Arnold. Tugas Oma percaya dan tetap di pihak Arnold oke." Arnold mencium pipi Omanya lalu melangkah mengikuti mom-nya yang sedari tadi menatapnya sengit menuju ruang kerja Dad-nya.

"Mom enggak setuju kamu menikah dengan Arini." Mom Celia menatap suaminya dan Dad Graham pun menganggukkan kepala, menyetujui perkataan istrinya.

"Karena berbeda agama?" Arnold menatap sinis kedua orang tuanya.

"Bukan karena itu saja, Arnold. Ada sesuatu hal yang tidak kamu ketahui." Mom Celia menatap tajam putra bungsunya.

"Apa? Memang apa yang tidak aku ketahui Mom?" Arnold menantang balik mom-nya.

"Gadis pilihanmu itu tunangan asisten pribadimu."

"Aku sudah tahu. Dan aku tidak peduli itu." Arnold menjawab acuh, padahal jawabannya membuat Mom Celia tiba-tiba migrain. "Ka--kamu tau dan kamu tetap mau perempuan itu? Apa enggak ada gadis lain, Arnold?" Mom Celia menghela napasnya sejenak. "Dari kemarin Jessica di sini, bahkan tadi dia juga ikut hadir di pesta ulang tahun kamu, kenapa bukan dia saja yang kamu pilih? Dia pewaris Diamond Grup, Arnold."

"Mom-"

Sanggahan Arnold terhenti saat Mom Celia tidak memberikannya waktu untuk membela diri, "Diamond grup lebih besar dan lebih hebat dibanding Mega News, kantor redaksi milik gadis itu."

"Dan Arnold lebih suka gadis yang mau juga merintis usaha daripada hanya mewarisi. Kelihatan sekali kalau gadis pilihan mom itu wanita manja."

"Dia pantas menjadi wanita manja, Arnold. Dia punya uang yang banyak yang enggak akan habis tujuh turunan." Mom Celia dengan bangga memuji gadis pilihannya.

"Kalau begitu, suruh dia menikah dengan uangnya saja mom."

"Arnold!" teriak Mom Celia sembari membulatkan matanya lalu beralih menatap suaminya, "mom enggak tau lagi mom harus gimana menghadapi anak kamu ini, Dad."

"Arnold!" teriak Dad Graham, "minta maaf sama Mom-mu."

"Minta maaf?" Arnold menatap mom dan Dad-nya bergantian. "Arnold enggak salah apa-apa sama Mom."

"Kamu enggak salah. Tapi kamu sudah menolak gadis pilihannya. Jadi, kamu harus minta maaf."

"Dad!" Mom Celia melotot, "Dad mendukung Arnold?"

"Dad tidak mendukung. Tapi Arnold ada benarnya."

"Dad! Dad tidur di luar malam ini." Mom Celia histeris, lalu berlari menuju kamarnya meninggalkan suami dan putra bungsunya yang menatapnya sembari menggelengkan kepala.

"Dad bisa tidur di ruang kerja. Kamu tidak usah mengasihani Dad karena justru yang perlu dikasihani kali ini adalah diri kamu sendiri."

"Bagas tidak akan bisa keluar begitu saja dari perusahaan Arnold kalau sedari tadi Dad mengkhawatirkan itu."

"Dad tidak khawatir. Dad hanya tidak mau modal yang Dad kasih tidak bisa berkembang."

"Dad sedang tidak meragukanku bukan?"

Dad Graham beralih dari menatap tembok menjadi menatap putranya, lalu hanya bisa menghela napasnya dalam tanpa menjawab pertanyaan Arnold, dan sedetik kemudian berkata, "Kamu harus pastikan kalau Arini juga menerimanya." pintanya yang membuat Arnold berpikir sejenak, namun juga akhirnya menganggukkan kepala.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!