NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Baru dan Kebahagiaan yang Kembali

​Dalam perjalanan menuju bandara, Aira duduk bersisian dengan Pandu sepupu yang juga merupakan putra dari Om Gus. Pemuda itu sengaja diboyong dari desa untuk berkuliah di Surabaya sekaligus memantau dan menjaga Aira atas amanat keluarga besar.

​"Pak, tolong nanti mampir ke tempat kost Tia sebentar, ya. Kita jemput dia, soalnya dia juga mau berangkat ke Surabaya hari ini," ujar Aira pada pengemudi di balik kemudi.

​"Baik, Mbak Aira," sahut sang sopir ramah.

​Setibanya di depan indekos Tia, Pandu yang sigap langsung turun dari mobil untuk membantu membawa koper dan ransel milik gadis itu.

​"Sudah siap semua? Tidak ada barang yang tertinggal, kan?" tanya Pandu sembari memasukkan koper ke bagasi.

​"Sudah aman, Pandu. Yuk, kita berangkat!" seru Tia tersenyum lega.

​Sepanjang perjalanan menuju bandara, ketiganya saling bertukar cerita dengan antusias. Mereka sibuk merancang berbagai rencana sederhana, mulai dari memilih tempat tinggal sementara hingga membayangkan masa-masa perkuliahan yang akan segera dimulai.

​Sesampainya di bandara, mereka menyempatkan diri untuk menyantap makan siang di sebuah kedai karena masih memiliki waktu sekitar dua jam sebelum proses check-in penerbangan dibuka.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Sementara itu, di sebuah sudut lorong rumah sakit di kota asal mereka, suasana terasa amat sunyi. Arkan yang masih mengenakan jas putih kedokteran dan kacamata berbingkai tipisnya terduduk melamun di bangku panjang. Tatapannya kosong, memikirkan sosok gadis riang yang baru saja melangkah pergi meninggalkannya dengan jarak ratusan kilometer.

​Ada himpitan penyesalan, kepedihan, dan rasa kehilangan yang teramat sangat menumpuk di dadanya. Kendati ada secercah kebahagiaan luar biasa karena adik kecilnya yang hilang belasan tahun lalu akhirnya ditemukan, ia tak sanggup memungkiri bahwa kehilangan keberadaan Aira membuat separuh poros hidupnya mendadak hampa.

​Bayu, yang baru saja kembali dari kantin membawa bungkusan makanan, tak sengaja melihat abang sepupunya duduk tertunduk lesu.

​"Bang... Kenapa duduk menyendiri di sini?" tanya Bayu, melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Arkan.

​Arkan hanya mendongak sejenak menatap sepupunya, lalu kembali menundukkan kepala tanpa bersuara. Bayu lantas mengambil tempat duduk di sampingnya.

​"Abang memikirkan Aira?" tebak Bayu pelan.

​Kediaman Arkan menjadi jawaban yang paling mengonfirmasi tebakan itu.

​"Bang, apa pun yang terjadi, sejauh apa pun jarak yang memisahkan kalian... kalau memang sudah ditakdirkan bersama, pasti akan dipertemukan kembali," tutur Bayu mencoba menghibur. "Aira pergi ke Surabaya murni untuk mengejar pendidikannya dan menemani kakaknya, jadi Abang tidak perlu risau."

​Arkan menarik napas berat, suaranya terdengar parau saat bersuara. "Saya menyesal, Adrian... Saya pernah meminta dia untuk tidak menaruh harapan pada saya. Hanya karena saya takut kehilangan lagi... hanya karena trauma masa lalu selalu membayangi hidup saya."

​Bayu mendengarkan dengan helaan napas panjang. "Penyesalan memang selalu datang belakangan, Bang. Tapi kalau tidak melewati kejadian ini, Abang mungkin tidak akan pernah sadar seberapa pentingnya keberadaan Aira dalam hidup Abang."

​Bayu menepuk-nepuk bahu sepupunya dengan hangat. "Aku yakin Aira tidak benar-benar pergi meninggalkan Abang. Dia hanya memberi Abang waktu untuk menata perasaan, sekaligus memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk fokus meraih cita-cita."

Dalam diam Arkan mulai memikirkan perkataan dari sepupunya, mungkin benar ini adalah cara yang terbaik untuk menata diri agar menjadi lebih baik lagi.

​"Saya akan menunggunya," ucap Arkan penuh ketegasan yang tertahan. "Saya akan menunggu sampai dia kembali."

​Bayu tersenyum lega mendengar tekad itu. "Nah, itu baru abang sepupuku! Ayo, Bang... Zara dan Papa sudah menunggu di dalam. Oh ya, pesawat Aira sudah lepas landas beberapa saat lalu. Dia sempat mengirim pesan pamit di grup."

​Arkan mengangguk pelan. Ia bangkit bersama Bayu, melangkah berdampingan menyusuri lorong rumah sakit meski sisa-sisa kehampaan di dadanya belum sepenuhnya sirna.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Di Surabaya, matahari pagi bersinar cukup terik. Bu Windy menatap putri bungsunya yang tengah merapikan beberapa berkas di meja makan.

​"Aira, kamu benar-benar sudah mantap mau melanjutkan kuliah dan tinggal di sini bersama Kakakmu?" tanya Bu Windy memastikan.

​Usai tiba di kediaman Nadia kemarin sore, Aira memang langsung terlelap karena kelelahan menempuh perjalanan. Sementara Pandu ditemani Reyhan pergi mengurus beberapa hal di luar, dan Tia sudah berada di rumah ibunya disambut hangat oleh keluarga barunya.

​"Iya, Ma. Kasihan Kak Nadia kalau tinggal sendirian di sini. Lagipula Aira tidak sendiri, ada Pandu dan Tia yang juga kuliah di kampus yang sama," jawab Aira mantap.

​Nadia yang baru keluar dari kamar membawa cangkir teh mengukir senyum tipis. "Tidak apa-apa, Ma. Biar Nadia ada temannya di sini. Toh Mama juga harus segera pulang ke rumah untuk membantu Dinda menjaga si kembar. Kasihan Dinda yang sedang hamil muda."

​Bu Windy menghela napas pasrah namun lega. "Baiklah kalau begitu. Fokus belajar di sini, ya. Kalau ada waktu luang, jangan lupa memberi kabar. Tidak lama lagi Mama dan Abangmu juga akan pulang. Kasihan mertua Reyhan kalau harus menjaga si kembar sendirian terlalu lama."

​Melihat suasana yang berangsur tenang usai diterpa badai masalah, Bu Windy berniat mengajak kedua putrinya keluar rumah. Beliau tak ingin Nadia terus-menerus larut dalam duka pasca-keguguran dan proses perceraian. Kendati sempat ada penolakan halus, atas desakan Aira yang menggebu-gebu, mereka akhirnya pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Sesampainya di Mall mereka menyempatkan diri mampir ke toko perlengkapan alat tulis untuk melengkapi kebutuhan kuliah Aira. Saat Galang putra kecil Nadia minta bermain di area playground, Aira dengan sigap menemani sang keponakan, sementara Bu Windy dan Nadia memilih bersantai di kedai kopi terdekat.

​"Mama tidak melarang kamu sedih, Nad... Mama paham betapa beratnya menerima kenyataan kehilangan calon buah hati, ditambah perlakuan mantan suamimu yang seperti itu," tutur Bu Windy lembut, menggenggam jemari putri sulungnya. "Tapi sayang... lihatlah Galang. Dia masih sangat membutuhkan perhatianmu. Kamu tidak sendirian. Ada Galang, Aira, Mama, dan Reyhan yang selalu ada di belakangmu. Jangan sampai kamu menutup diri dan mengabaikan Galang yang masih ada di depan matamu."

​Nadia menundukkan kepala, air matanya menetes pelan. Kata-kata sang ibu menghantam kesadarannya hampir saja ia terpuruk hingga melupakan peran utamanya sebagai seorang ibu.

​"Nadia janji akan bangkit dan fokus membesarkan Galang, Ma," janji Nadia tegas sembari mengusap air matanya.

​"Mami! Galang lapar, mau makan pizza!" seru Galang kecil yang berlari menghampiri meja mereka, disusul Aira yang berjalan terseret-seret dengan wajah lelah.

​"Ya ampun... Anak gadis Mama baru menemani anak kecil bermain sebentar saja sudah kapok begitu," goda Bu Windy terkekeh.

​"Cucu Mama ini aktifnya luar biasa! Aira yang jago olahraga saja sampai kehabisan napas!" keluh Aira menjatuhkan diri di kursi.

​"Tante Aira saja yang lemah! Baru diajak lari sebentar sudah menyerah!" ledek Galang polos.

​"Hei, anak nakal! Tante begini karena kamu larinya seperti atlet maraton, ya!" balas Aira tak mau kalah.

​Gelak tawa Nadia dan Bu Windy pecah menyaksikan tingkah jenaka Bibi dan keponakan itu. Duka di hati Nadia perlahan terkikis oleh kehangatan keluarga.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Malam harinya, suasana santai tercipta di ruang keluarga usai makan malam. Berkumpul Bu Windy, Reyhan, Nadia, Aira, dan Pandu, sementara Galang sudah terlelap di kamarnya Akibat kelelahan bermain.

​"Aira, Mama sudah cerita sama Abang kalau kamu memutuskan melanjutkan kuliah di sini," kata Reyhan memulai pembicaraan dengan raut serius.

​Aira meletakkan ponselnya, menatap sang kakak lurus-lurus. "Iya, Bang. Kasihan Kak Nadia kalau sendirian. Lagipula di sini ada Pandu yang menjaga Aira, dan kami juga kuliah di universitas yang sama."

​Reyhan mengangguk-angguk paham. "Baiklah. Besok Abang antar kalian berdua untuk mengurus berkas pendaftaran kampus."

​"Asyik! Terima kasih, Bang!"

​"Tapi ingat pesan Abang," potong Reyhan tegas. "Selama di sini, fokus pada kuliahmu. Kurangi sifat manja dan tingkah konyolmu. Mama tidak tinggal di sini, lusa Mama dan Abang sudah harus pulang ke kota. Jangan merepotkan Kak Nadia karena dia juga harus fokus bekerja dan membesarkan Galang."

​Pandu yang duduk di samping Reyhan hanya menyeringai kecil menahan tawa.

​"Lusa Abang sudah pulang?" tanya Aira.

​"Iya, Abang tidak bisa meninggalkan Dinda terlalu lama. Bawaan hamilnya sedang sensitif," jawab Reyhan. "Dan satu hal lagi... tepati janjimu. Pastikan kamu berhasil meraih target yang sudah kamu tetapkan sejak awal. Abang di sini cuma bisa membantu doa dan membiayai kuliahmu. Selebihnya, kamu harus belajar mandiri dan bertanggung jawab atas semua keputusanmu."

​"Siap, Bang! Aira janji bakal belajar sungguh-sungguh dan pulang membawa gelar sarjana!" seru Aira mantap.

​Malam itu berlanjut dengan diskusi hangat mengenai rencana perkuliahan Aira dan Pandu, serta perkembangan proses perceraian Nadia. Seluruh bukti perselingkuhan mantan suami Nadia telah diserahkan secara resmi ke pengadilan. Tak hanya itu, laporan pelanggaran kode etik yang dilayangkan Reyhan ke perusahaan tempat mantan suami Nadia bekerja telah membuahkan hasil pria itu resmi dipecat dari jabatannya.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Keesokan harinya, sesuai rencana, Reyhan mengantarkan Aira dan Pandu menuju kampus untuk menuntaskan administrasi pendaftaran. Tia turut bergabung karena ia pun belum sempat mendaftar akibat kesibukan bersama keluarga barunya.

​Usai seluruh proses pendaftaran tuntas dan almamater kampus sudah di tangan, ketiganya berjalan menyusuri pelataran kampus yang rindang.

​"Tidak terasa ya... kita akhirnya benar-benar akan jadi mahasiswa," ujar Tia dengan mata berbinar. "Padahal awalnya aku mengira bakal kuliah di kota asal kita, tahu-tahu malah menyusul kalian ke Surabaya."

​"Bagaimana tinggal di rumah baru? Mama dan keluarga barumu baik, kan?" tanya Aira.

​"Alhamdulillah, Ra... Papa tiri dan dua kakak tiriku menyambutku hangat sekali. Papa tiri senang bukan main karena dari dulu beliau memimpikan punya anak perempuan," pendar bahagia terpancar dari wajah Tia.

​"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu betah dan bahagia di rumah baru, ya," tutur Aira tulus.

​"Semoga perkuliahan kita lancar sampai lulus dan sukses bersama-sama!" timpal Pandu mengacungkan tinjunya.

​"Aamiin!" sahut Aira dan Tia serempak.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

​Di kota asal mereka, sore yang cerah menyambut kepulangan Zara dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih stabil, meski cedera di kepalanya masih memerlukan pemantauan rutin minggu depan. Arkan dan sang Papa merasa lega bukan main bisa memboyong kembali Shakila mereka yang sempat hilang selama 11 tahun.

​Di ruang rawat Zara yang luas dan nyaman, Bayu dan Panji tampak sibuk membantunya membereskan barang-barang.

​"Zar... bagaimana reaksi Papa dan Mama angkatmu waktu kamu pamit mau tinggal di sini?" tanya Bayu sembari mengupas buah mangga untuk Zara.

​"Mereka sedih banget... Tapi mereka bisa mengerti keadaan ini. Mereka bilang, kapan pun yang terjadi, aku tetap anak mereka dan pintu rumah mereka selalu terbuka lebar," terang Zara pelan.

​"Kalau Kak Bimo bagaimana?" selidik Panji.

​Zara menghela napas panjang, raut wajahnya berubah muram. "Jangan ditanya lagi... Kak Bimo kecewa berat. Dia bahkan sempat meracau, bilang lebih baik tidak usah sembuh dari operasinya kalau ujung-ujungnya aku harus pergi dari rumah."

​Bayu dan Panji mengangguk paham. Mereka tahu betul betapa protektif dan sayangnya Bimo kepada Zara selama kurang lebih 10 tahun ini.

​"Kamu jangan terlalu bersedih, Zar," tutur Bayu mengelus lembut punggung Zara. "Kak Bimo cuma butuh waktu untuk mencerna semuanya. Dia shock karena kamu mendadak harus pindah tepat saat dia baru pulih. Tapi bagaimanapun, ikatan kalian selama sepuluh tahun lebih tidak akan putus begitu saja. Kalian masih bisa terus berkomunikasi dan bertemu."

​Zara menatap Bayu tersenyum tipis. "Bayu... baru kali ini pemikiranmu terasa sangat dewasa dan berbobot. Biasanya kelakuanmu selalu di luar nalar."

​"Astaga! Dipuji tapi dianiaya di detik berikutnya!" sungut Bayu kesal yang langsung disambut tawa oleh Panji.

​"Tapi jujur, sepi ya tidak ada Aira..." gumam Zara mengalihkan pandangan. "Baru dua hari dia pindah, rasanya suasana langsung berubah cepat sekali. Lihat saja Kak Dirga, dari tadi lebih banyak diam dan melamun di kamar."

​Bayu dan Panji saling bertukar pandang. Mereka paham betul beban penyesalan yang kini bersemayam di dada sang dokter.

​"Tidak perlu risau. Kalau memang jodoh, pasti ada jalan untuk bersatu lagi," cetus Bayu optimis.

​"Tenang saja, Zar," tambah Panji menenangkan Zara yang tampak lesu. "Aira ke sana kan murni untuk menemani Kakak kandungnya dan mengejar pendidikan. Kalau urusannya sudah selesai dan waktunya tepat, dia pasti akan kembali ke sini."

​Tak lama kemudian, Arkan dan Papanya melangkah masuk ke dalam kamar.

​"Sudah siap berangkat ke rumah, Sayang?" tanya sang Papa lembut pada Zara.

​"Sudah, Pa. Barang-barang Zara sudah rapi dibantu Bayu dan Panji," jawab Zara tersenyum manis.

​"Bagus. Ayo kita pulang. Kamu harus banyak beristirahat," ujar Arkan mengelus lembut kepala adiknya yang berlapis hijab.

​Sebelum bertolak ke rumah baru mereka, Arkan dan Papanya telah berencana membawa Zara berziarah ke makam almarhumah ibunya. Kendati terisak duka saat mendengarkan kisah kepergian sang ibu kandung, Zara merasa sangat bersyukur. Kasih sayang dan perhatian berlimpah dari Arkan dan Papanya pelan-pelan menyembuhkan luka dan mengisi ruang-ruang hampa dari belasan tahun yang sempat hilang.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!