Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 keputusan kecil
“Temuilah adik kamu sekarang Arkan.” Mira terus membujuk Arkan agar secepatnya menemui Alkina.
Sementara itu di kamar…
Alkina juga duduk di atas tempat tidurnya. Ia sedang melihat foto lama dirinya bersama Arkan sambil tersenyum kecil di tengah air mata, ia juga melihat foto abangnya yang sudah dewasa, pemberian Mira kemaren.
“Aku tidak salah orang, yang kemaren benar-benar bang Arkan.”
Lalu perlahan ia mengambil keputusan sederhana. Keputusan kecil yang sebenarnya sangat sepele namun cukup besar untuk mengubah semuanya.
Alkina membuka laci meja lalu mengambil buku catatan kecil, dengan tangan sedikit gemetar, ia mulai menulis.
“Aku tidak pernah marah sama bang Arkan...”
“Aku cuma kangen...”
“Kalau bang Arkan belum siap ketemu sama aku, nggak apa-apa...”
“Tapi jangan pergi lagi...”
“Karena sekarang aku tahu abang masih ada… itu aja udah lebih dari cukup, itu sudah bikin aku bahagia.”
Setelah selesai menulis, Alkina menggigit bibir pelan sambil menahan tangis lalu ia menyerahkan surat kecil itu pada salah satu penjaga rumah.
“Tolong kasih ke orang yang kemarin ngirim gelang…”
Penjaga itu sedikit terdiam namun akhirnya mengangguk hormat.
“Baik, Nona muda.”
Siang harinya surat kecil itu sampai di tangan Arkan.
Pria itu membeku saat melihat tulisan tangan Alkina Tangannya bahkan sedikit gemetar saat membuka lipatan kertas itu perlahan.
Dan begitu membaca isinya, napasnya langsung tercekat. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ditahan.
“Aku nggak pernah marah sama abang.” Kalimat sederhana itu menghancurkan seluruh pertahanan hatinya.
Selama bertahun-tahun Arkan hidup dengan keyakinan bahwa dirinya gagal total sebagai abang namun ternyata Alkina sangat merindukannya.
Pria itu tertawa kecil di tengah tangisnya sendiri. Tawa pahit penuh lega.
Dan di depan semua anak buahnya yang selama ini hanya mengenal Arkan sebagai sosok dingin dan menakutkan, mereka akhirnya melihat sisi lain pria itu. Seseorang yang ternyata hanya seorang kakak laki-laki yang sangat mencintai dan meyayangi adiknya.
“Siapkan mobil.” Perintah Arkan.
Semua orang langsung terkejut.
“Tuan muda mau ke mana?” tanya salah satu anak buahnya.
Tatapan Arkan perlahan berubah hangat setelah sekian lama.
“Pulang.”
Sore itu Alina sedang membantu Mira menyiapkan teh ketika suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Ia tidak terlalu memikirkan awalnya.
Namun kemudian ia melihat para penjaga rumah tiba-tiba berdiri lebih tegak.
Dan Mira perlahan tersenyum kecil.
Jantung Alkina langsung berdebar sangat keras. Langkah kaki terdengar mendekat dari luar.
Tok.
Tok.
Pintu rumah terbuka perlahan dan di sana Arkan berdiri kaku dengan mata merah samar seolah baru menangis. Tatapan kakak beradik itu langsung bertemu.
Sunyi.
Tidak ada suara, tidak ada kata-kata. Hanya dua orang yang terlalu lama saling kehilangan.
Bibir Alkina langsung bergetar.
“Abang…”Suara itu pecah begitu saja.
Dan dalam satu detik seluruh ketakutan Arkan runtuh saat melihat air mata adiknya jatuh sambil tersenyum bahagia.
“Abang…” lagi, ia mengulang kata yang sama di tengah air mata.
Tangannya gemetar hebat karena orang yang selama ini hanya hidup dalam mimpi dan kenangannya akhirnya benar-benar berdiri di depan matanya.
Arkan sendiri membeku di ambang pintu, dadanya terasa sesak. Semua keberanian yang ia kumpulkan selama perjalanan tadi mendadak menghilang saat melihat Alkina menangis sambil tersenyum seperti itu.
“Bang Arkan…” Air mata Alina jatuh semakin deras.
Dan detik berikutnya Alkina berlari memeluknya erat.
Tubuh Arkan langsung menegang namun hanya sesaat karena begitu merasakan tubuh kecil adiknya gemetar dalam pelukannya seluruh pertahanan pria itu runtuh. Tangannya perlahan membalas pelukan Alkina.
Sangat erat seolah takut kehilangan lag, takut tidak akan bertemu lagi.
“Maaf…” Suara Arkan pecah untuk pertama kalinya.
“Aku minta maaf, Nana…” ucap Arkan lembut
Tangis Arkan semakin keras.
“Abang jahat…” Kalimat itu membuat Arkan semakin hancur.
“Abang masih hidup tapi nggak nemuin aku sama sekli… kenapa bang?”
“Aku minta maaf…” hanya itu kata yang ia ucapkan.
“Kenapa abang tinggalin aku sendirian…” Suara Alkina penuh luka yang dipendam bertahun-tahun.
Dan setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk di dada Arkan berkali-kali.
“Aku takut…” Tangannya semakin erat memeluk Arkan.
“Aku takut kamu benci sama aku…”
Alkina langsung menggeleng kuat sambil menangis.
“Aku tidak pernah…” Dadanya sesak sampai sulit bicara.
“Aku tidak pernah benci Kakak…” Kalimat itu akhirnya benar-benar menghancurkan Arkan karena yang ia takutkan selama ini tidak pernah terjadi.
Pria itu menunduk sambil menangis diam-diam di rambut adiknya.
Mira yang melihat semuanya dari dekat hanya bisa memejamkan mata pelan.
Akhirnya setelah bertahun-tahun dua anak itu kembali saling menemukan.
Rian kecil bahkan ikut menangis bingung sambil memeluk kaki Mira.
“Kenapa Kak Alkina nangis? Apa abang Arkan jahatin kak Alkina” ya Rian tentu saja mengenal Arkan, Rian sudah sering bertemu Arkan.
Mira tersenyum kecil sambil mengusap kepala cucunya.
“Karena akhirnya dia pulang.”
Beberapa saat kemudian Alkina dan Arkan duduk berdampingan di ruang tengah. Meski sudah sedikit tenang, tangan Alkina masih terus menggenggam lengan abangnya erat.
Seolah takut pria itu menghilang lagi dan Arkan membiarkannya bahkan diam-diam ia merasa lega.
“Abang kurusan…”
“Kamu juga dek.”
Alkina menatap wajah Arkan sambil menahan tangis lagi.
“Ada luka…” Tangannya perlahan menyentuh bekas luka di pelipis Arkan.
Pria itu sedikit terdiam namun tidak menghindar.
“Masih sakit?” tanya Alkina lirih.
Arkan menggeleng kecil.
“Sudah tidak lagi.”
Padahal sebenarnya yang paling sakit bukan lukanya. Melainkan rasa bersalah selama bertahun-tahun.
“Aku lihat abang di toko buku kemarin.”
Tubuh Arkan langsung sedikit kaku. “Kamu tahu itu aku?” tanya Arkan.
Alkina langsung menatapnya tidak percaya.
“Mana mungkin aku nggak kenal Kakak…” Air matanya kembali menggenang.
“Aku selalu ingat abang, apagi wajah abang tidak terlalu berubah.” Kalimat itu membuat dada abang kembali terasa penuh.
Dan ini pertama kalinya setelah sekian lama ia mulai percaya bahwa dirinya mungkin masih pantas berada di sisi Alkina.
Malam semakin larut namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin berpisah. Alkina terus bertanya banyak hal kecil.
“Abang makan teratur nggak?”
“Abang tidur cukup?”
“Abang suka kopi sekarang?”
“Abang masih suka hujan?”
Dan Arkan menjawab semuanya dengan sabar.
Tatapannya yang dulu dingin perlahan melembut setiap kali melihat Alkina tersenyum kecil karena akhirnya setelah bertahun-tahun hidup hanya untuk membalas dendam, Arkan kembali mengingat bagaimana rasanya hidup untuk kebahagiaan seseorang.
Namun di balik suasana hangat itu… tatapan Arkan perlahan berubah dingin saat ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari anak buahnya.
“Hendro mulai bergerak lagi.” Senyum kecil di wajah Arkan perlahan menghilang.
Karena sekarang ia sudah menemukan kembali adiknya dan itu berarti ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Alkina lagi.