NovelToon NovelToon
CROSSLINE

CROSSLINE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Iblis
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Niskala Cakrabuana

Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE CLEANUP

Pagi itu, aktivitas di Scientists City berjalan seperti biasa. Para peneliti memenuhi laboratorium, beberapa unit keamanan berpatroli di sepanjang koridor utama, sementara berbagai kendaraan pengangkut keluar masuk area fasilitas.

Namun di salah satu ruang briefing, suasananya jauh lebih serius.

Adrian berdiri di depan layar besar yang menampilkan peta Nexoria. Beberapa titik telah ditandai pada sejumlah wilayah.

Noah berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan layar tanpa banyak bicara.

“Bagaimana persiapannya?” tanya Adrian.

Seorang Scientist di hadapannya membuka laporan. “Seluruh unit pengawasan sudah ditempatkan. Kami juga sudah mengumpulkan sebagian besar data mengenai jaringan Syndicate.”

Adrian mengangguk. “Bagaimana dengan Four Kings?”

“Mereka masih berada di wilayah masing-masing.”

Adrian terdiam sejenak. Kemudian pandangannya beralih pada satu titik di layar. “Conman?”

“Masih berada di salah satu fasilitas Syndicate.”

Noah memperhatikan Adrian. “Jadi dia target pertama kita?”

Adrian mengangguk. “Dia adalah penghubung antara Vincenzo dan Four Kings. Selama dia masih bekerja, jaringan mereka akan lebih sulit dipisahkan.”

Noah menatap layar. “Kalau begitu kita menyerang sekarang?”

“Belum.”

Jawaban Adrian membuat Noah menoleh.

Adrian mematikan sebagian tampilan pada layar. “Kita belum tahu seluruh jaringan mereka.”

Noah terdiam.

“Kita akan mengawasi mereka lebih dulu. Aku tidak ingin melakukan serangan terbuka tanpa mengetahui apa yang akan kita hadapi.”

Seorang Scientist kemudian menyerahkan dokumen lain kepada Adrian.

“Dan mengenai Artificial Esper…”

Adrian membuka dokumen tersebut. Beberapa data dan foto muncul di layar.

Noah langsung memperhatikan. “Artificial Esper juga?”

Adrian menatap layar tanpa ekspresi. “Mereka tetap menjadi hasil eksperimen Scientists yang melarikan diri.”

“Tapi mereka bukan bagian dari Syndicate.”

“Aku tahu,” Adrian menutup dokumen itu. “Tapi mereka tetap merupakan potensi ancaman.”

Noah tidak langsung menjawab.

Adrian kemudian kembali melihat peta Nexoria. “Kalau operasi ini dimulai, mereka juga harus dibersihkan.”

Ruangan menjadi hening.

Noah menatap Adrian beberapa saat, sementara layar di hadapan mereka kembali menampilkan beberapa titik lokasi.

Di salah satu hanggar bawah tanah Scientists City, beberapa unit Project 3 berdiri dalam keadaan diam.

Destroyer berada di tengah ruangan. Di belakangnya, Sentinel dan Executor sedang menjalani pemeriksaan sistem.

Noah berdiri di depan ketiganya bersama Eira.

Seorang Scientist berjalan mendekati mereka sambil membawa sebuah tablet.

“Semua sistem sudah diperiksa. Destroyer siap digunakan.”

Noah mengangguk. “Sentinel dan Executor?”

“Siap.”

Pandangan Noah beralih kepada Seraphim yang berada di sisi lain hanggar. “Eira?”

Eira mengangkat tangan kecil. “Aku juga sudah siap.”

Noah tersenyum tipis. “Bagus.”

Pintu hanggar kemudian terbuka.

Adrian masuk bersama beberapa Scientist. “Bagaimana perkembangannya?”

“Seluruh unit siap diaktifkan.”

Adrian berjalan melewati mereka satu per satu. Ia berhenti di depan Destroyer. “Jangan aktifkan sebelum ada perintahku.”

“Baik,” Adrian kemudian menatap Noah. “Kamu ikut dalam operasi ini.”

Noah mengangguk.

Adrian menyerahkan sebuah data kepada Noah. Ia melihat layar tersebut. Sebuah nama muncul.

CONMAN.

Noah terdiam beberapa saat.

Kemudian Adrian berjalan pergi. “Persiapkan dirimu.”

Di tempat lain, jauh di bawah kompleks utama Scientists City, dua Scientist berjalan menyusuri sebuah koridor yang dipenuhi lampu putih. Salah satu dari mereka membawa tablet, sementara rekannya membawa perangkat pemeriksaan.

“Kita langsung ke ruang penyimpanan?”

“Ya. Pemeriksaan rutin hari ini belum selesai.”

Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Salah satu Scientist memasukkan kartu akses ke panel, lalu pintu perlahan terbuka. Udara dingin langsung terasa begitu mereka memasuki ruangan.

Beberapa mesin beroperasi di sepanjang dinding, menjaga kondisi fasilitas tetap stabil. Di tengah ruangan terdapat sebuah tabung transparan yang terhubung dengan sistem pendingin.

Scientist yang membawa tablet mendekati panel. “Bagaimana suhunya?”

“Stabil.”

Ia memeriksa data pada layar. “Tekanan?”

“Normal.”

Scientist satunya mengaktifkan perangkat pemeriksaan dan mengarahkannya ke tabung. “Struktur pembekuan tidak berubah.”

“Bagaimana kondisinya?”

“Masih sama.”

Keduanya memperhatikan sosok yang berada di dalam tabung. Seluruh tubuhnya terperangkap dalam lapisan es yang tebal. Rambut hitam panjang terlihat di antara es yang membekukan tubuhnya.

Scientist pertama kembali melihat tablet. “Sudah berapa lama dia disini?”

“Cukup lama untuk membuat sebagian besar orang menganggapnya tidak akan pernah bangun.”

“Kita tidak ditugaskan untuk menebak kapan dia bangun.”

Scientist itu mematikan perangkat pemeriksaan. “Aku tahu.”

Ia memasukkan hasil pemeriksaan ke dalam sistem. “Semua normal. Kita pergi.”

Keduanya meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup setelah mereka keluar.

Beberapa saat kemudian, suara langkah mereka menghilang dari koridor.

Ruangan kembali sunyi.

Mesin tetap bekerja.

Sosok di dalam tabung masih tidak bergerak.

Kemudian, salah satu jarinya bergerak sedikit di balik lapisan es.

Beberapa detik berlalu. Bibirnya perlahan bergerak.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Sementara itu, Raga dan Albert masih berada di Esper City sejak kemarin. Setelah beberapa jam mencari informasi mengenai Dafa, keduanya kembali menyusuri jalan utama yang semakin ramai.

Albert berjalan santai di samping Raga sambil memperhatikan orang-orang yang mereka lewati. “Kita sudah bertanya ke beberapa tempat, tapi belum ada yang tahu keberadaannya.”

Raga tetap berjalan. “Berarti kita belum bertanya pada orang yang tepat.”

“Kamu masih yakin Dafa ada di kota ini?”

“Aku tidak yakin.”

Albert menoleh. “Lalu?”

“Bisa saja dia sudah pergi sebelum kita datang.”

Albert menghela napas. “Kalau begitu pencarian kita akan sulit.”

Raga berhenti ketika melihat sebuah toko di seberang jalan. “Kita coba tempat itu.”

Mereka menyeberang dan masuk ke dalam toko. Raga kembali menanyakan hal yang sama kepada penjaga toko, tetapi jawabannya juga tidak berbeda.

Tidak ada yang melihat Dafa.

Setelah keluar, Albert memasukkan kedua tangannya ke saku. “Sepertinya dia memang sedang tidak berada di sekitar sini.”

Raga diam beberapa saat. Kemudian ia melihat ke arah jalan yang membentang menuju bagian lain kota. “Belum tentu.”

Albert menatapnya. “Kamu punya ide?”

“Tidak,” Raga kembali berjalan. “Tapi Artificial Esper sedang dicari Scientists, Dafa pasti lebih berhati-hati berinteraksi dengan orang lain.”

Albert mengangguk. “Dan kalau dia sedang bersembunyi, kita justru semakin sulit menemukannya.”

“Karena itu kita harus mencari jejaknya, bukan menunggunya muncul.”

Mereka melanjutkan pencarian, menyusuri jalan-jalan lain di Esper City tanpa mengetahui bahwa keberadaan Dafa sebenarnya masih berkaitan dengan beberapa tempat yang pernah mereka datangi.

Di pinggiran Esper City, jauh dari jalan utama yang dipenuhi aktivitas warga, Dafa duduk di sebuah bangku kayu di depan bangunan kosong yang sudah lama tidak digunakan. Tempat itu cukup jauh dari pusat kota sehingga suara kendaraan hanya terdengar samar dari kejauhan.

Alicia berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan jalan yang sepi. “Kita sudah cukup lama di sini. Sebenarnya kamu menunggu siapa?”

Dafa menatap layar kecil di tangannya. “Tidak ada.”

Alicia mengernyit. “Kalau tidak menunggu siapa-siapa, kenapa kita harus datang ke tempat sejauh ini?”

Dafa mematikan layar tersebut lalu memasukkannya ke saku. “Aku hanya tidak ingin ada terlalu banyak orang di sekitar ketika membicarakan Lucia.”

Ekspresi Alicia langsung berubah serius. “Kamu mendapatkan informasi baru tentang Lucia?”

Dafa mengangguk. “Informanku sudah menemukan jejak keberadaan Lucia.”

Alicia langsung menoleh kepadanya. “Di mana?”

“Dia belum memberitahuku.”

Alicia terdiam sesaat. “Belum memberitahumu? Kenapa?”

“Katanya dia masih menunggu waktu yang tepat.”

Alicia terlihat tidak puas dengan jawaban itu. “Kalau dia sudah tahu keberadaannya, kenapa tidak langsung memberitahumu saja?”

“Aku juga menanyakan hal yang sama.”

“Lalu apa jawabannya?”

“Dia hanya bilang informasi itu belum cukup aman untuk diberikan.”

Alicia menyilangkan tangan di depan dada. “Berarti dia takut ada yang mengetahui kalau dia sedang menyelidiki keberadaan Lucia.”

“Mungkin,” Dafa kembali memandang jalan di depan mereka. “Informanku bekerja di dalam Scientists. Kalau dia bergerak sembarangan, bukan hanya informasi tentang Lucia yang bisa hilang. Keberadaannya sendiri juga bisa hilang.”

Alicia menghela napas pelan. “Jadi sekarang kita hanya menunggu?”

“Untuk sementara.”

Alicia duduk di sampingnya. “Aku sudah menunggu Lucia beberapa hari. Sekarang harus menunggu lagi.”

Dafa menoleh kepadanya. “Setidaknya sekarang kita tahu dia masih bisa hidup dan berada di suatu tempat.”

Alicia menatap lurus ke depan. “K yakin informanmu bisa dipercaya?”

Pertanyaan itu membuat Dafa diam sejenak. “Aku sudah mempercayainya sejak lama.”

Jawaban Dafa terdengar tenang, tetapi Alicia menangkap keraguan kecil yang muncul sebelum kalimat itu selesai.

“Kalau begitu, kita tunggu.”

Dafa mengangguk.

Di kejauhan, suara aktivitas Esper City masih terdengar samar. Mereka tetap berada di tempat itu, menunggu informasi berikutnya tanpa mengetahui kapan informan Dafa akan mengirimkan lokasi Lucia.

Sementara itu di tempat lain Raga dan Albert meninggalkan jalan utama Esper City setelah pencarian mereka kembali tidak menemukan petunjuk. Mereka berjalan menuju sebuah area yang lebih sepi, jauh dari kerumunan warga dan bangunan-bangunan pusat kota.

Begitu sampai di antara beberapa bangunan kosong, Albert berhenti. “Di sini cukup sepi.”

Raga menoleh. “Kamu menemukan sesuatu?”

“Belum. Tapi aku ingin mencoba cara lain.”

Albert melepaskan jaketnya dan meletakkannya di atas sebuah batu. Tubuhnya mulai berubah. Rambut putih tumbuh menutupi tubuhnya, kedua tangannya berubah menjadi cakar, dan bentuk tubuhnya membesar hingga menyerupai manusia serigala.

Raga berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Berapa lama?”

“Tidak lama.”

Albert menundukkan tubuhnya dan menarik napas dalam-dalam. Indra penciumannya meningkat drastis. Bagi manusia biasa, udara di sekitar mereka tidak memiliki sesuatu yang berbeda. Namun bagi Albert, setiap aroma membawa jejak yang berbeda.

Ia bisa membedakan aroma Aether manusia normal, Aether Esper, hingga karakteristik Aether yang berasal dari Artificial Esper.

Albert kembali mengendus udara. “Banyak orang.”

Ia bergerak beberapa langkah ke arah lain, lalu berhenti. “Ada beberapa Esper di sekitar sini.”

Raga mendekat. “Artificial Esper?”

Albert menggeleng. “Bukan.”

Ia kembali menarik napas panjang. Kali ini ekspresinya berubah lebih serius. “Sebentar.”

Albert memejamkan mata dan memusatkan penciumannya. Beberapa aroma yang sebelumnya bercampur mulai terpisah dalam indranya.

Kemudian ia membuka mata. “Aku menemukannya.”

Raga langsung menatapnya. “Dafa?”

“Mungkin,” Albert menunjuk ke salah satu arah. “Aromanya masih samar, tapi jelas. Dia pernah melewati daerah ini.”

Raga mengamati arah yang ditunjuk Albert. “Seberapa jauh?”

“Tidak terlalu jauh. Tapi ada aroma lain yang ikut menempel pada jejaknya.”

Raga menoleh. “Aroma siapa?”

Albert kembali mengendus udara.

Kali ini ia tidak langsung menjawab. “Esper.”

Ia mengambil beberapa langkah mengikuti jejak tersebut, lalu berhenti lagi. “Bukan Esper biasa.”

Raga menunggu.

Albert menoleh kepadanya. “Aku mengenal aroma ini.”

“Siapa?”

Albert memandang ke arah pusat kota. “Alicia Vania.”

Raga terdiam sejenak. “Jika Alicia bersama seorang Artificial Esper, itu pasti Dafa.”

“Sepertinya begitu,” Albert kembali mencium udara di sekitarnya untuk memastikan. “Jejak mereka belum terlalu lama.”

Raga mulai berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan Albert. “Kalau begitu kita ke sana.”

Albert mengambil jaketnya dan kembali mengikuti Raga. “Kita langsung menemui mereka?”

Raga mengangguk. “Ya. Kita sudah menemukan jejak orang yang kita cari dari kemarin.”

1
Niskala Cakrabuana
Gasssd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!