NovelToon NovelToon
CROSSLINE

CROSSLINE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Iblis
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Niskala Cakrabuana

Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A FALLEN KINGDOM

Di hari berikutnya, Dafa mengumpulkan Leon, Michele, Mikael, dan beberapa anggota Artificial Esper di ruangan utama persembunyian mereka. Pertemuan tersebut diadakan untuk membahas tawaran Raga yang bersedia memberikan perlindungan kepada Artificial Esper di Mutant Village jika konflik antara Scientists dan Syndicate meluas.

Dafa menyampaikan kembali tawaran itu, kemudian meminta pendapat anggota lain yang sebelumnya tidak hadir. Mereka sepakat bahwa Mutant Village bisa menjadi tempat perlindungan jika keadaan memburuk. Namun, selama persembunyian mereka masih aman dan konflik belum meluas, tidak ada alasan untuk memindahkan seluruh anggota sekarang.

“Kalau begitu, kita tetap di sini untuk sementara,” ujar Leon. “Aku akan memastikan penjagaan berjalan seperti biasa. Kalau ada perubahan, kita bisa segera mengambil keputusan.”

Mikael menyandarkan punggungnya ke kursi. “Asalkan jangan sampai kita menghabiskan waktu berjaga tanpa alasan. Kita belum tahu kapan Scientists akan bergerak.”

“Justru karena kita belum tahu, penjagaan tidak boleh dikurangi,” balas Leon.

“Aku tidak bilang dikurangi. Aku hanya tidak ingin semua orang tegang sepanjang hari.”

Michele menahan senyum melihat Leon menatap Mikael dengan ekspresi tidak terkesan. Dafa membiarkan keduanya berdebat sebentar sebelum menutup pertemuan.

“Keputusan kita sudah jelas. Kita belum pindah, tetapi tawaran Raga tetap terbuka. Leon, koordinasikan penjagaan dan pastikan semua anggota tahu apa yang harus dilakukan jika persembunyian ini tidak lagi aman.”

Leon mengangguk. “Serahkan kepadaku.”

Anggota lain mulai meninggalkan ruangan untuk kembali menjalankan tugas masing-masing. Dafa mengambil hoodie-nya dari sandaran kursi, lalu menghampiri Michele yang sedang merapikan beberapa dokumen.

“Aku akan menemui Raga untuk menyampaikan keputusan kita secara langsung.”

Michele mengangkat wajah. “Aku ikut.”

Dafa melirik dokumen di tangannya. “Pekerjaanmu sudah selesai?”

“Sebagian besar. Sisanya bisa menunggu.”

“Kamu tidak harus ikut hanya untuk menyampaikan keputusan ini.”

“Aku tahu.” Michele meletakkan dokumen itu di atas meja. “Aku ingin ikut. Sudah lama aku ingin melihat tempat tinggal para Mutant dari dekat.”

Dafa tidak mempermasalahkannya. Mereka berpamitan kepada Leon dan Mikael sebelum meninggalkan persembunyian.

“Jangan lupa bawakan oleh-oleh!” seru Mikael dari dalam ruangan.

“Kami hanya menemui Raga, bukan berwisata!” balas Michele.

“Siapa tahu mereka punya makanan yang lebih enak daripada persediaan kita!”

Michele menggeleng sambil mengikuti Dafa menjauh. Dari belakang, ia masih mendengar Mikael tertawa kecil sebelum kembali mengobrol dengan anggota lain.

Jalan menuju Mutant Village cukup jauh. Michele berjalan di samping Dafa, sesekali memperhatikan lingkungan yang mereka lewati.

“Menurutmu, Raga akan menerima keputusan kita tanpa masalah?” tanyanya.

“Dia menawarkan perlindungan karena khawatir konflik akan meluas. Selama kita menjelaskan alasan kita, aku rasa dia bisa memahaminya.”

“Dia juga sudah menyiapkan tempat untuk kita, bukan?”

“Sepertinya begitu. Tapi untuk sekarang kita belum membutuhkannya.”

Michele mengangguk. Ia memahami alasan Dafa tidak ingin memindahkan semua orang terlalu cepat. Persembunyian mereka sudah menjadi tempat tinggal bagi banyak Artificial Esper, dan perpindahan sebesar itu tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan kemungkinan.

Beberapa langkah kemudian, Michele kembali menoleh kepadanya.

“Kamu sudah sarapan?”

Dafa meliriknya. “Sudah.”

“Benar-benar sudah, atau kamu hanya menjawab supaya aku tidak bertanya lagi?”

“Aku sudah makan.”

“Baiklah kalau begitu. Aku percaya.”

Dafa menghela napas pendek, sementara Michele tersenyum kecil. Percakapan itu berakhir dengan sendirinya ketika jalan mulai menanjak dan pepohonan di sekitar mereka semakin rapat.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju Mutant Village.

Sementara itu ditempat lain. Ruang kendali utama Scientists City dipenuhi cahaya dari deretan monitor yang menampilkan laporan operasional dan pergerakan personel di berbagai wilayah Nexoria.

Adrian Veyron berdiri di hadapan layar utama. Di sana terpampang sejumlah nama yang telah masuk dalam daftar target operasi pembersihan Syndicate. Salah satunya adalah Conman, tangan kanan Vincenzo Aldoric sekaligus pengatur berbagai operasi organisasi tersebut.

Noah berdiri di samping meja kendali, membaca berkas target yang baru saja dikirimkan kepadanya.

“Lokasi Conman telah dikonfirmasi,” lapor seorang Scientist. “Dia berada di kantor operasional Syndicate, di kawasan pergudangan wilayah Vincenzo. Pengamanan gedung masih berjalan seperti biasa. Belum ada indikasi bahwa mereka mengetahui rencana kita.”

Adrian mengamati denah gedung yang muncul di layar.

“Pastikan jalur pergerakan dan informasi target sudah diperiksa kembali. Kita tidak boleh memberi mereka kesempatan untuk mengantisipasi operasi ini.”

“Seluruh pemeriksaan telah selesai.”

Adrian kemudian menoleh kepada Noah.

“Target pertamamu adalah Conman. Eliminasi dia dan jangan biarkan operasi ini gagal.”

Noah menutup berkas digital di hadapannya. “Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”

“Jangan meremehkannya hanya karena dia bukan petarung utama Syndicate. Conman adalah orang yang mengatur banyak pergerakan mereka. Selama dia masih hidup, Vincenzo tetap memiliki seseorang yang mampu mengoordinasikan perlawanan.”

Noah tidak memberikan tanggapan panjang. Ia sudah memahami tugasnya.

Salah satu Scientist menampilkan status kesiapan Project 3. Destroyer, Sentinel, Executor, dan Seraphim telah melewati pemeriksaan terakhir. Seluruh unit siap dikerahkan apabila diperlukan, tetapi Adrian tidak memerintahkan pengerahan mereka untuk misi ini.

“Untuk tahap pertama, Noah akan bergerak sendiri dan dibantu oleh beberapa tentara kita,” putus Adrian. “Unit lainnya tetap dalam kesiapan operasional sampai ada perintah berikutnya.”

“Dimengerti,” jawab Scientist tersebut.

Adrian mengalihkan pandangannya kembali kepada Noah.

“Berangkat. Operasi pembersihan dimulai sekarang.”

Noah berbalik dan meninggalkan ruang kendali. Ia menuju area persiapan tanpa menunda waktu, sementara para Scientist mulai memantau pergerakan operasional melalui layar mereka.

Di ruang kendali, status misi berubah menjadi ACTIVE.

Nama Conman tetap terpampang pada layar utama, ditandai sebagai target eliminasi pertama dalam operasi pembersihan Syndicate.

Siang itu, aktivitas di kawasan pergudangan wilayah Vincenzo berlangsung seperti biasa. Kendaraan pengangkut keluar masuk melalui jalur distribusi, sementara para anggota Syndicate mengawasi transaksi yang tersebar di beberapa bangunan operasional.

Di antara gedung-gedung tersebut, sebuah bangunan berlantai dua belas menjadi pusat pengelolaan informasi dan perdagangan Syndicate di wilayah itu. Di lantai teratas, Conman sedang memeriksa laporan dari sejumlah jaringan yang berada di bawah koordinasinya.

“Laporan pengiriman dari sektor timur sudah masuk?” tanya Conman tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

“Sudah, Tuan. Tidak ada masalah dalam distribusi minggu ini.”

“Bagaimana dengan transaksi material langka?”

“Masih menunggu konfirmasi dari pihak pembeli.”

Conman mengangguk, lalu menandatangani persetujuan pada dokumen digital di hadapannya. Pekerjaannya belum selesai ketika seorang anggota Syndicate mengetuk pintu dan masuk dengan ekspresi serius.

“Tuan, ada laporan gangguan di pintu masuk gedung.”

Conman mengangkat pandangan. “Gangguan seperti apa?”

“Seorang penyusup menerobos penjagaan. Petugas di lobi sedang berusaha menghentikannya.”

Conman menutup dokumen yang sedang diperiksanya. “Identitasnya?”

“Belum diketahui. Dia tidak merespons peringatan kami.”

Sebelum Conman sempat memberikan instruksi berikutnya, suara benturan keras terdengar dari arah luar ruangan. Beberapa detik kemudian, komunikasi internal gedung dipenuhi laporan yang masuk bertubi-tubi.

“Lantai dasar kehilangan kendali!”

“Penyusup sudah melewati lift utama!”

“Semua personel, hentikan target sebelum mencapai lantai atas!”

Conman berdiri. Ia berjalan menuju monitor pengawas yang menampilkan lorong-lorong gedung. Satu per satu kamera memperlihatkan anggota Syndicate yang berusaha menghadang seorang pemuda berambut putih. Namun, setiap upaya mereka berakhir dengan kegagalan.

Conman mengenali wajah itu dari berkas intelijen yang pernah diterimanya.

“Noah Veyron,” gumamnya.

Nama tersebut cukup untuk membuatnya memahami bahwa ini bukan serangan dari kelompok pesaing yang mengincar wilayah atau persediaan mereka.

Scientists telah bergerak.

“Hubungi kantor pusat. Beri tahu Vincenzo bahwa Scientists menyerang gedung ini.” Conman mengambil senjata dari laci mejanya. “Minta seluruh personel mengamankan data dan menjauh dari jalur penyusup.”

“Bagaimana dengan Anda, Tuan?”

“Aku akan menemuinya.”

Anggota itu tampak hendak membantah, tetapi Conman sudah melangkah keluar. Ia tidak berniat membiarkan Noah mencapai ruang operasional tanpa menghadapi dirinya terlebih dahulu.

Di lantai delapan, Noah keluar dari tangga darurat. Beberapa anggota Syndicate yang berjaga segera mengarahkan senjata kepadanya.

“Berhenti! Satu langkah lagi dan kami akan menembak!”

Noah tidak berhenti.

Rentetan tembakan memenuhi lorong. Ia bergerak menghindari serangan, menerobos barisan penjaga, lalu melumpuhkan mereka sebelum mereka sempat mengatur posisi kembali. Ia tidak membuang waktu untuk mengejar anggota yang mundur atau memeriksa ruangan-ruangan yang dilewatinya.

Targetnya hanya satu.

Ketika Noah mencapai lantai dua belas, pintu lift di ujung lorong terbuka. Conman keluar bersama dua anggota Syndicate yang masih mengikutinya.

Keduanya segera mengambil posisi di depan Conman.

Noah menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju langsung kepada pria yang berdiri di belakang mereka.

Conman mengangkat satu tangan, memerintahkan kedua anak buahnya untuk mundur.

“Jadi, Adrian akhirnya mengirimkan senjatanya.”

Noah tidak menjawab. Ia hanya menatap Conman dengan ekspresi datar.

Conman memperhatikan pemuda itu sesaat, kemudian menghela napas pendek. “Kalau begitu, tak ada gunanya membuang waktu.”

Ia mengangkat senjatanya.

Noah bergerak lebih dahulu.

DUGHH!

Pukulan Noah menghantam sisi tubuh Conman, membuat pria itu terlempar ke samping dan menabrak meja. Peralatan di atasnya berjatuhan, sementara Conman segera berguling untuk menghindari serangan berikutnya.

Dua anggota Syndicate yang berada di dekatnya langsung menyerang Noah dari kedua sisi.

WHAM!

Noah menangkis pukulan pertama, lalu menghantam perut penyerangnya dengan lutut. Sebelum anggota kedua sempat melayangkan serangan, Noah memutar tubuh dan melancarkan tendangan ke dadanya.

BAMM!

Keduanya terlempar ke arah berlawanan dan jatuh tak sadarkan diri.

Conman memanfaatkan kesempatan itu untuk mengangkat senjatanya.

DOR! DOR!

Noah bergerak menyamping, menghindari kedua tembakan yang menghantam dinding. Ia menerobos kepulan debu dan melesat mendekati Conman sebelum pria itu sempat menarik pelatuk untuk ketiga kalinya.

Conman membuang senjatanya dan melayangkan pukulan ke wajah Noah. Noah memiringkan kepala, membiarkan pukulan itu melewati sisi wajahnya, lalu membalas dengan hantaman keras ke rahang.

BUKK!

Conman terhuyung. Namun, ia masih berusaha melawan dengan menyerang tubuh Noah secara bertubi-tubi. Noah menangkis dua pukulan, lalu menangkap lengan Conman dan memutarnya hingga pria itu kehilangan keseimbangan.

BRAKK!

Tubuh Conman dibanting ke atas meja. Permukaannya retak akibat benturan, tetapi Conman masih berusaha bangkit. Ia menyapu kaki Noah dengan tendangan, memaksanya mundur beberapa langkah, kemudian segera berdiri.

“Adrian mengirimmu sendirian?” Conman bertanya dengan napas berat. “Dia benar-benar menganggapmu cukup untuk menghadapi Syndicate?”

Noah tidak menjawab.

Conman kembali menerjang. Ia melayangkan pukulan ke arah kepala Noah, disusul tendangan ke bagian tubuhnya. Noah menahan tendangan itu dengan lengan, kemudian mendorong kaki Conman hingga pria tersebut kehilangan pijakan.

WHAM!

Pukulan Noah menghantam perut Conman.

Pria itu membungkuk menahan benturan. Noah segera mencengkeram kerahnya dan melayangkan pukulan lain ke wajahnya.

DUGH!

Conman terlempar ke lantai. Ia berusaha meraih senjatanya yang terjatuh beberapa meter dari tempatnya, tetapi Noah menginjak senjata itu hingga bergeser menjauh.

“Kalau kalian pikir membunuhku akan membuat Syndicate berhenti bergerak, kalian salah besar,” ujar Conman sambil berusaha berdiri.

Noah menatapnya tanpa ekspresi. “Aku tidak ditugaskan untuk membubarkan Syndicate. Aku hanya ditugaskan untuk membunuhmu.”

Conman mengertakkan gigi dan kembali menyerang, kali ini dengan pukulan lurus yang diarahkan ke wajah Noah.

Noah menepis lengannya, memutar tubuh, lalu melancarkan tendangan keras ke dada Conman.

KRAAASH!

Conman menghantam dinding hingga permukaannya retak. Ia jatuh berlutut, kehilangan kemampuan untuk melanjutkan perlawanan.

“Adrian tidak akan berhenti di sini,” ucapnya dengan suara melemah. “Vincenzo akan mengetahui apa yang dilakukan Scientists.”

“Itu bukan urusanku.” Noah melangkah mendekat dan mengakhiri perlawanan Conman dengan satu serangan terakhir.

BUKK!

Tubuh Conman terkulai dan tidak bergerak lagi.

Noah berdiri sejenak untuk memastikan targetnya telah tewas, lalu mengaktifkan komunikator.

“Target utama telah dieliminasi. Identitas terkonfirmasi.”

Suara Adrian terdengar dari seberang sambungan. “Tinggalkan lokasi. Jangan memperpanjang operasi.”

“Dimengerti.”

Noah memutus sambungan dan berbalik menuju tangga darurat. Ia tidak tertarik pada dokumen atau barang berharga yang tertinggal di ruangan itu. Misinya telah selesai.

Namun, sebelum mencapai ujung lorong, ia mendengar langkah kaki mendekat dari arah berlawanan.

Seorang perempuan bertopeng muncul di antara anggota Syndicate yang berusaha mencapai lantai tersebut. Begitu melihat Noah, langkahnya terhenti. Tatapannya kemudian beralih ke ruangan di belakang pemuda itu.

Conman tergeletak tak bergerak di lantai.

Perempuan itu kembali menatap Noah. “Apa yang kamu lakukan pada Tuan Conman?”

Noah tidak menjawab. Ia mengenali sosok tersebut sebagai Zodiac, anggota Syndicate yang pernah ditemuinya dalam operasi sebelumnya.

Zodiac mengepalkan tangan. Ia mengambil esensi Shio Macan, meningkatkan kekuatan dan kecepatannya. Gerakannya seketika berubah agresif ketika ia menerjang Noah.

DRAKK!

Noah mengangkat kedua lengan untuk menahan serangan tersebut. Benturan keras membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang.

Zodiac tidak memberinya waktu untuk memulihkan posisi. Ia melesat maju dan melayangkan pukulan bertubi-tubi, memaksa Noah terus bertahan.

BUKK! BUKK!

Noah menangkis dua pukulan pertama, tetapi serangan ketiga menghantam bahunya. Ia segera membalas dengan pukulan ke arah wajah Zodiac.

Zodiac menunduk menghindarinya, lalu memutar tubuh dan menyapu kaki Noah.

WHAM!

Noah kehilangan keseimbangan, tetapi berhasil menopang tubuhnya dengan satu tangan sebelum kembali berdiri. Zodiac langsung menyusul dengan tendangan menyamping.

BOOM!

Noah menahan tendangan itu, lalu mendorong kaki Zodiac menjauh. Ia melangkah masuk dan melayangkan pukulan keras ke arah tubuhnya.

Zodiac memiringkan badan. Pukulan itu hanya menggores sisi pakaiannya. Ia membalas dengan tendangan berputar yang memaksa Noah mengangkat kedua lengan untuk menahannya.

DRAAANG!

Benturan menggema di lorong. Keduanya terpental beberapa langkah, lalu kembali mengambil posisi bertarung.

Noah mengamati gerakan Zodiac dengan saksama. Perempuan itu memiliki kecepatan dan kekuatan yang berbeda dari anggota Syndicate biasa. Setiap serangannya juga semakin sulit diprediksi.

Sementara itu, Zodiac menatap Noah dengan kemarahan yang belum mereda. Di belakangnya, tubuh Conman masih terbaring di lantai.

“Kamu tidak akan bisa meninggalkan tempat ini begitu saja,” katanya.

Noah merendahkan posisi tubuhnya. “Kalau begitu, coba hentikan aku.”

Zodiac kembali menerjang.

DUGHH!

Keduanya bertabrakan di tengah lorong, melanjutkan pertarungan yang semakin merusak bangunan di sekeliling mereka.

DRAAANG!

Benturan berikutnya mengguncang lorong lantai dua belas. Noah menahan tendangan Zodiac dengan kedua lengan, tetapi tekanan serangan itu tetap mendorongnya mundur hingga menghantam dinding.

Zodiac segera menyusul. Ia memanfaatkan esensi Shio Macan untuk mempertahankan kecepatan dan kekuatan serangannya, melancarkan pukulan bertubi-tubi tanpa memberi Noah kesempatan mengambil jarak.

BUKK! BUKK! BRAKK!

Noah menangkis dua pukulan, lalu menghindari serangan ketiga dengan memiringkan tubuh. Ia membalas melalui tendangan ke arah pinggang Zodiac.

Zodiac menyilangkan lengannya untuk menahan serangan tersebut. Benturannya membuatnya bergeser beberapa langkah, tetapi ia segera mengangkat tangan dan memanipulasi unsur Kayu. Akar-akar tebal menerobos celah lantai, menjalar cepat ke arah kaki Noah.

KRAK!

Noah melompat sebelum akar-akar itu membelit kakinya. Ia mendarat di dekat dinding, lalu menerjang Zodiac dengan pukulan lurus.

Zodiac menghindar. Pada saat yang sama, ia mengubah unsur yang dimanipulasinya menjadi Logam. Beberapa bilah logam terbentuk di udara dan melesat menuju Noah.

SYAAAT! SYAAAT!

Noah memutar tubuh untuk menghindari bilah-bilah tersebut. Salah satunya menggores pakaiannya, sementara sisanya menghantam dinding dan meninggalkan bekas dalam pada permukaannya.

Zodiac tidak berhenti. Ia kembali mendekat dengan serangan jarak dekat, mengombinasikan kecepatan Shio Macan dengan manipulasi Logam untuk memperkuat pukulannya.

DUAGH!

Pukulan Zodiac menghantam pertahanan Noah dan membuatnya terdorong ke belakang. Noah segera membalas dengan sikutan, tetapi Zodiac menunduk dan menyapu kakinya.

Noah terjatuh ke satu lutut. Sebelum Zodiac sempat melanjutkan serangan, ia menghantam lantai dengan telapak tangannya dan mendorong tubuhnya menjauh, menciptakan jarak di antara mereka.

Keduanya kembali berdiri.

Noah mengamati Zodiac dengan saksama. Kemampuan perempuan itu bukan sekadar manipulasi unsur. Perubahan karakteristik gerakannya menunjukkan bahwa ia juga dapat mengambil esensi kekuatan dari hewan-hewan dalam sistem zodiaknya.

Zodiac sendiri tidak mengendurkan serangannya. Ia kembali memanipulasi unsur Air, membentuk arus deras yang menyapu lorong.

SHUUUAAASH!

Noah melompat ke sisi lorong, menghindari arus tersebut. Namun, Zodiac telah memperkirakan gerakannya. Ia mengubah Air menjadi es yang menjalar di sepanjang lantai, berusaha membatasi ruang gerak Noah.

Noah mendarat dan segera melompat kembali ketika permukaan di bawah kakinya membeku.

Zodiac mengambil kesempatan itu untuk menerjang.

BUKK!

Pukulannya mengenai sisi tubuh Noah. Pemuda itu terlempar ke arah pintu darurat dan menghantamnya hingga terbuka.

Zodiac hendak menyusul, tetapi suara komunikasi dari anggota Syndicate terdengar melalui alat di telinganya.

“Nona Zodiac! Pasukan Scientists mulai bergerak menuju gedung. Kita harus segera meninggalkan lokasi!”

Zodiac tidak mengalihkan pandangan dari Noah. “Amankan orang-orang yang masih berada di dalam gedung. Jangan biarkan mereka membawa data Syndicate.”

“Dimengerti!”

Noah memanfaatkan jeda tersebut untuk berdiri tegak. Ia tidak tampak hendak melanjutkan pertarungan. Dari komunikatornya, ia menerima laporan singkat bahwa personel Scientists mulai mendekati lokasi.

Misi utamanya telah selesai. Conman sudah jatuh, dan bertahan lebih lama hanya akan meningkatkan risiko terjebak dalam pertempuran yang tidak diperlukan.

Zodiac menyadari perubahan sikapnya. “Kamu pokir kamu bisa melarikan diri setelah membunuh Tuan Conman?”

“Aku sudah menyelesaikan tugasku.”

Noah berbalik menuju tangga darurat.

Zodiac segera mengangkat tangan. Unsur Api berkumpul di sekelilingnya, membentuk semburan yang melesat ke arah Noah.

FWOOSHH!

Noah menghindar ke samping. Semburan api menghantam dinding dan meledak, memenuhi lorong dengan panas serta debu.

Ketika Zodiac hendak mengejarnya, beberapa personel Scientists muncul dari ujung koridor. Mereka memberikan tembakan perlindungan untuk membantu Noah mundur.

Zodiac terpaksa berlindung di balik dinding ketika rentetan tembakan menghantam permukaan di sekitarnya.

DOR! DOR! DOR!

Saat suara tembakan mereda, Noah sudah menghilang melalui tangga darurat bersama personel pendukungnya.

Zodiac tidak mengejar lebih jauh. Ia kembali ke ruangan tempat Conman terbunuh dan berdiri di hadapan tubuh pria itu.

Kemarahan di balik topengnya belum mereda. Namun, kali ini ia tidak membiarkan dirinya bertindak gegabah.

Ia mengaktifkan komunikator dan menghubungi pusat Syndicate. “Hubungkan aku dengan Tuan Vincenzo. Aku harus melaporkan sesuatu.”

Beberapa saat kemudian, sambungan tersambung.

“Bicaralah,” ujar Vincenzo dari seberang.

Zodiac menatap tubuh Conman sekali lagi sebelum menjawab. “Scientists telah menyerang wilayah kita. Tuan Conman tewas di tangan Noah Veyron.”

Hening sejenak menyelimuti sambungan.

“Siapkan ruang pertemuan,” perintah Vincenzo. “Panggil seluruh Four Kings. Kita akan membahas ini secara langsung.”

Zodiac mengakhiri panggilan. Ia berdiri beberapa detik sebelum berbalik meninggalkan ruangan.

Kematian Conman bukan sekadar kehilangan seorang anggota penting. Bagi Syndicate, serangan itu menandai dimulainya perang terbuka dengan Scientists.

Malam itu, suasana di salah satu gedung pusat Syndicate terasa berbeda dari biasanya. Para penjaga memenuhi koridor, sementara anggota organisasi memastikan tidak ada pihak luar yang dapat mendekati ruang pertemuan utama.

Di dalam ruangan, Vincenzo Aldoric duduk di ujung meja panjang. Empat kursi di kedua sisinya ditempati para pemimpin jaringan Syndicate: Mei-Ling Xue, Lev Arden Volkov, Raiden Kurogawa, dan Lucien Varell.

Tidak ada yang memulai percakapan sebelum Zodiac tiba.

Perempuan bertopeng itu memasuki ruangan, lalu berhenti di hadapan Vincenzo.

“Tuan Vincenzo.”

“Duduklah, Zodiac.” Vincenzo menunjuk kursi kosong di dekatnya. “Ceritakan apa yang terjadi.”

Zodiac duduk. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi.

“Scientists menyerang kantor operasional di wilayah kita. Mereka menerobos pengamanan gedung dan menghabisi anggota yang menghalangi jalan mereka. Target utama mereka adalah Tuan Conman.”

Raiden menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Bagaimana Anda tahu bahwa ini operasi Scientists?”

“Saya melihat pelakunya secara langsung. Noah Veyron.”

Lev menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Jadi Adrian akhirnya mengambil tindakan terhadap kita.”

“Bukan sekadar mengambil tindakan,” ujar Mei-Ling. “Mereka menyerang pusat operasional kita dan membunuh orang yang mengoordinasikan banyak jaringan Syndicate. Ini serangan yang sudah diperhitungkan.”

Lucien menatap Zodiac. “Apa yang terjadi ketika anda menemukannya?”

“Saya tiba setelah Taun Conman tewas. Saya bertarung dengan Noah, tetapi dia mundur setelah pasukan Scientists tiba. Dia tidak berusaha mengejar saya atau menyelesaikan pertarungan. Tujuannya hanya memastikan Tuan Conman jatuh.”

Vincenzo terdiam sejenak, mencerna laporan tersebut. “Apakah ada kemungkinan Conman membocorkan informasi sebelum dibunuh?”

“Belum ada bukti ke arah sana,” jawab Zodiac. “Namun, kita harus memeriksa semua jalur komunikasi yang digunakan kantor itu.”

Vincenzo mengangguk kepada salah satu petugas di dekat pintu. “Periksa seluruh catatan komunikasi dan amankan data yang tersisa. Jangan mengambil tindakan sendiri terhadap pihak luar sebelum kita mengetahui cakupan operasi mereka.”

Petugas itu segera meninggalkan ruangan.

Raiden mengetuk meja dengan satu jari. “Kalau Noah Veyron sudah dikirim untuk membunuh Tuan Conman, kemungkinan besar ini baru permulaan. Adrian tidak akan mengirim senjatanya untuk satu target tanpa tujuan yang lebih besar.”

“Setuju,” kata Lev. “Kita perlu menganggap seluruh jaringan kita berada dalam risiko.”

“Dan kita tidak bisa lagi bergantung pada pola operasi lama,” tambah Mei-Ling. “Scientists sudah mengetahui lokasi kita dan mungkin akan menyerang kita secara langsung.”

Vincenzo membiarkan mereka menyampaikan pendapat masing-masing. Setelah itu, ia meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Mulai malam ini, seluruh jaringan Syndicate berada dalam status siaga. Perketat pengamanan, amankan informasi penting, dan hentikan sementara transaksi yang berisiko membuka lokasi kita. Aku ingin laporan dari setiap wilayah secepatnya.”

Four Kings menerima instruksi tersebut. Mereka memahami bahwa kematian Conman telah mengubah situasi, dan tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menganggap serangan tersebut sebagai insiden biasa.

Namun, masih ada satu persoalan yang belum dibahas.

Vincenzo mengalihkan pandangannya kepada Zodiac.

“Conman adalah orang yang selama ini mengoordinasikan banyak operasi bersamaku. Kepergiannya meninggalkan posisi yang tidak bisa dibiarkan kosong.”

Zodiac menatapnya tanpa menyela.

“Aku akan mengangkatmu sebagai Vice Don Syndicate untuk menggantikan Conman.”

Ruangan itu hening sesaat.

Zodiac tidak langsung menjawab. Ia mengetahui tanggung jawab yang menyertai posisi tersebut. Conman bukan hanya tangan kanan Vincenzo, melainkan juga penghubung antara Don dan Four Kings, orang yang memastikan berbagai jaringan tetap bergerak tanpa harus menunggu perintah langsung dari Vincenzo.

“Apakah Anda yakin, Tuan?” tanya Zodiac.

“Aku tidak membuat keputusan ini tanpa pertimbangan.” Vincenzo menatapnya tegas. “Kamu sudah bekerja di bawah Conman dan memahami cara dia menjalankan tugasnya. Kamu juga mengenal situasi di lapangan. Mulai sekarang, kamu akan mengambil alih tanggung jawabnya.”

“Saya mengerti.”

Vincenzo kemudian memandang keempat Kings.“Apakah ada keberatan?”

Mei-Ling menjadi orang pertama yang menjawab. “Saya menerima keputusan Anda. Selama Nona Zodiac mampu menjalankan tanggung jawab tersebut, saya tidak punya alasan untuk menolak.”

Lev mengangguk. “Tuan Conman sendiri yang membimbingnya. Setidaknya, dia tidak memulai dari nol.”

“Yang terpenting, keputusan ini tidak menghambat koordinasi kita,” ujar Raiden. “Saya menerimanya.”

Lucien menyusul, “Saya juga.”

Vincenzo kembali menatap Zodiac. “Kalau begitu, mulai malam ini kamu adalah Vice Don Syndicate. Kamu akan mengoordinasikan jaringan bersama Four Kings dan melaporkan perkembangan penting langsung kepadaku.”

Zodiac berdiri dari kursinya. “Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Anda, Tuan Vincenzo.”

“Bagus. Kita tidak punya banyak waktu untuk berkabung. Adrian sudah memulai langkahnya, dan kita harus bersiap menghadapi langkah berikutnya.”

Zodiac mengangguk. Di balik topengnya, ia menyimpan kemarahan atas kematian Conman, tetapi ia tidak membiarkan perasaan itu menguasai keputusannya.

Pertemuan berlanjut dengan pembagian tugas untuk mengamankan jaringan Syndicate. Di luar gedung, para anggota mulai menerima instruksi baru, sementara kabar kematian Conman menyebar melalui jalur internal organisasi.

Malam itu, Syndicate kehilangan tangan kanan Don mereka.

Namun, posisi yang ditinggalkan Conman tidak lagi kosong.

Sementara itu, di tempat lain, Dafa dan Michele tengah melanjutkan perjalanan menuju Mutant Village untuk menemui Raga. Namun, ketika perjalanan mereka membawa keduanya melewati persimpangan menuju Esper City, sebuah keputusan tak terduga membuat perjalanan mereka harus berakhir dengan arah yang berbeda.

Dafa melirik jalan menuju Mutant Village, lalu menoleh kepada Michele. “Kalau kita langsung ke Mutant Village sekarang, sepertinya kita baru akan sampai tengah malam.”

Michele mengangguk. “Perjalanannya memang cukup jauh.”

“Bagaimana kalau kita singgah di Esper City dulu? Kita bisa beristirahat di sana, lalu melanjutkan perjalanan besok pagi.”

“Boleh juga,” jawab Michele santai. “Lagi pula, sudah lama aku tidak berkunjung ke sana.”

“Kalau begitu, kita cari penginapan begitu sampai. Besok kita bisa berangkat lebih awal untuk menemui Raga.”

Mendengar perkataan itu, langkah Michele mendadak terhenti. “Penginapan?”

Dafa menoleh, sedikit heran. “Iya. Memangnya kita mau tidur di jalan?”

“B-bukan begitu!” Michele buru-buru menggeleng. “Aku cuma… kupikir kita akan langsung menemui Raga.”

“Kalau kita memaksakan perjalanan, kita justru bisa tiba terlalu larut. Lebih baik berangkat lagi besok pagi.”

Michele terdiam. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat wajahnya perlahan memerah.

Tidak, tunggu dulu. Menginap berdua?

Michele segera memalingkan wajah dan berpura-pura memperhatikan pepohonan di pinggir jalan. Namun, semakin ia berusaha bersikap biasa, semakin canggung pula gerak-geriknya.

Dafa mengernyit. “Kamu kenapa, Michele? Wajahmu merah.”

“P-panas! Cuaca malam ini panas sekali!”

Dafa mendongak menatap langit. “Bukankah tadi kamu baik-baik saja?”

“Aku bilang panas, ya panas!” Michele menjawab cepat, lalu langsung menyesali nada bicaranya sendiri.

Dafa menatapnya beberapa saat sebelum mengangkat bahu. “Baiklah. Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan.”

“Tunggu!” Michele spontan mengangkat tangan, membuat Dafa kembali menoleh kepadanya.

“Aku berubah pikiran. Aku akan kembali ke persembunyian saja.”

Dafa terdiam. “Apa? Kenapa tiba-tiba?”

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan!”

“Bukankah tadi kamu bilang sisanya bisa menunggu?”

Michele membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia mengalihkan pandangan, memainkan ujung lengan hoodie-nya, lalu berdeham kecil.

“Pokoknya, aku harus kembali. Kamu saja yang pergi ke Esper City.”

Dafa memandangnya dengan ekspresi bingung. “Kamu yakin?”

“Y-yakin!”

Michele segera berbalik, seolah takut Dafa akan mengajukan pertanyaan lain. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh setengah badan.

“Jangan lupa makan malam! Dan… jangan tidur terlalu larut!”

Dafa mengangguk pelan. “Iya. Hati-hati di jalan.”

Michele membalas dengan anggukan cepat, lalu buru-buru melanjutkan langkahnya menuju persembunyian. Wajahnya masih terasa panas, sementara ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya tadi memang masuk akal.

Di persimpangan, Dafa hanya bisa menggeleng.

“Dia benar-benar aneh hari ini.”

Dafa kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri menuju Esper City. Ia masih harus mencari tempat beristirahat sebelum meneruskan perjalanan ke Mutant Village keesokan harinya.

1
Niskala Cakrabuana
Gasssd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!